
~Hendra~
Laki-laki berengsek itu datang ke gedung perusahaan keluargaku dengan ekspresi mengejek. Dia yang duduk menunggu di lobi, segera berdiri ketika melihatku kembali dari janji makan siang. Aku tidak akan pernah melupakan wajahnya. Dia adalah pria yang masih dicintai istriku. Enam tahun pernikahan tidak bisa menggoyahkan perasaan Za kepadanya.
Kami tidak punya urusan apa pun lagi, jadi aku hanya mengabaikannya. Dia dengan berani berkata bahwa dia dan istriku telah bersama kembali. Aku terpaksa menariknya ke halaman agar tidak ada yang mendengarkan omong kosongnya itu. Saat dia menyebut mereka menghabiskan malam bersama pada hari di mana aku ingat aku sedang berada di London, aku tidak segera percaya.
Dia pergi dengan perasaan marah karena aku tidak memercayai omong kosongnya. Tetapi aku bertanya kepada Kafin untuk memastikan kebenaran hal itu. Dia tidak mengemudikan mobil istriku pada hari itu karena ada urusan keluarga. Maka aku menelepon Liando dan duniaku seketika itu juga hancur berantakan. Vivaldo berkata benar. Dia dan istriku ke hotel pada malam itu.
Setelah berhasil menghancurkan perasaanku dan hubunganku dengan istriku, laki-laki itu berani datang lagi siang ini ke perusahaan. Dia mengangkat sebuah amplop cokelat yang dia sebut sebagai bukti kebersamaannya dengan istriku. Kami tidak bisa bicara di tempat umum, jadi aku mengajaknya ke ruang kerjaku.
“Kamu meminta bukti. Ini bukti bahwa aku dan Ara sudah kembali bersama.” Dia meletakkan amplop tersebut di depanku. Aku mengambil dan membukanya. Ada beberapa lembar kertas foto di dalamnya. Saat aku mengeluarkannya, dugaanku benar. Itu adalah foto.
Mereka berdua sedang makan di sebuah restoran yang aku tahu ada di supermarket langganan istriku. Pada foto kedua, mereka berdiri begitu dekat di depan pintu masuk yang sepertinya sebuah mal. Foto ketiga adalah mereka sedang makan di restoran kesukaan istriku. Lalu sepertinya masih pada hari yang sama mereka berciuman di tempat parkir restoran tersebut, istriku duduk di jok belakang sebuah sepeda motor, dan beberapa foto mereka bersama di hotel.
“Kamu tidak bisa lagi menghalangi kami untuk bersama. Kami saling mencintai. Lepaskan Ara. Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu pasti ingin melihatnya bahagia, ‘kan? Kamu lihat sendiri bahwa dia tidak bahagia menikah denganmu. Dia hanya bahagia saat bersamaku,” katanya dengan nada sombong.
__ADS_1
“Sudah berapa lama kalian menikah? Enam, tujuh tahun? Lalu apakah selama itu dia akhirnya jatuh cinta kepadamu? Sepertinya tidak. Jadi, untuk apa kamu tetap menahannya? Apakah karena dia wanita yang cantik, maka kamu ingin terus menjadikan dia sebagai dekorasi?” ejeknya. Aku menahan diri untuk tidak meninju wajahnya itu. Aku tidak mau berurusan dengan polisi.
Pria ini belum tahu dia sedang berhadapan dengan siapa. Dia tidak akan bisa mendapatkan Za semudah itu. Hanya ada satu cara baginya untuk bisa mendapatkannya kembali. Jika aku yang menyerahkan wanitaku secara sukarela.
Aku sudah menyelidiki semua hal tentang dirinya begitu dia datang kemarin. Dia bisa membohongi istriku dengan kisah sedih hidupnya, tetapi aku tidak. Pria ini masih laki-laki yang sama yang hanya ingin mempermainkan perempuan dengan memanfaatkan perasaan mereka.
“Memangnya apa yang bisa kamu tawarkan kepadanya sebagai seorang laki-laki? Apa kamu yakin bahwa kamu bisa memenuhi seluruh kebutuhannya? Kamu ingin menikahi dia bukan karena ingin mendapatkan pengasuh gratis untuk anak-anakmu?” tantangku.
“Jaga mulutmu.” Wajahnya berubah menjadi merah padam.
“Istriku terlalu naif sampai dia tidak bisa melihat keburukan yang ada padamu. Dan tentu saja kamu akan selalu memanfaatkan kebaikannya untuk keuntunganmu sendiri. Dan kamu menyebut itu cinta? Suatu hari nanti istriku akan melihat pria seperti apa kamu ini sebenarnya.” Aku berdiri dan berjalan mendekati interkom.
“Sherry, Pak Vivaldo akan segera meninggalkan ruanganku,” ucapku kepada sekretarisku. “Tolong antar dia keluar.”
“Aku tidak hanya memiliki foto itu, Mahendra. Masih ada foto lain yang lebih … panas. Dan aku yakin banyak wartawan yang mau membayar mahal untuk menjadi yang pertama mendengar berita perselingkuhan seorang istri Mahendra Perkasa.” Dia tertawa kecil. “Perkasa apanya. Kamu bahkan tidak bisa memberinya seorang anak.”
__ADS_1
Pintu ruangan diketuk, lalu Sherry membukanya. Pria itu berdiri. “Aku memberimu waktu satu bulan. Ceraikan dia atau semua foto ini, plus foto-fotonya yang masih aku simpan, akan tersebar. Aku tahu bahwa keluarga terpandang seperti kalian sangat menjaga reputasi.” Dia berjalan dengan kepala terangkat dan pintu pun ditutup kembali.
Masih ada foto yang lain? Aku tidak peduli dengan reputasi. Tetapi aku tidak akan tinggal diam melihat dia berniat untuk menyebarkan foto-foto itu. Itu akan sangat menyakiti istriku. Oh, Tuhan. Foto apa yang dia simpan saat mereka bersama di hotel? Kata cinta apa yang baru saja dia ucapkan sampai tega mempermalukan wanita yang katanya dia cintai?
Aku segera menghubungi bagian IT dan meminta mereka meretas nomor telepon, surel, laptop, apa saja yang dimiliki oleh Vivaldo. Kemudian aku menelepon sahabat lama yang selalu membantuku berurusan dengan kriminal kecil yang berpikir bisa mengancamku dan keluargaku. Mereka yang menggunakan cara kotor, aku balas dengan cara yang lebih kotor.
Dalam waktu beberapa jam, bagian IT memberikan laporan lengkap dari mereka dan sahabatku mengirim anak buahnya langsung untuk mengantar setiap barang yang aku minta. Bagian IT telah menghapus semua hal yang ada hubungannya dengan istriku. Dia bahkan menyimpan foto dan video kebersamaan mereka di surelnya. Mungkin untuk berjaga-jaga andai yang asli hilang.
Sahabatku mengirim sebuah ponsel. Aku tidak akan bertanya bagaimana mereka bisa mendapatkan benda itu. Ada beberapa foto yang dia cetak. Lalu ada banyak kertas berisi catatan kegiatan istriku. Dia menguntitnya? Melihat laporan lain, ternyata dia menyewa orang untuk memotret saat dia bersama istriku dan mengikuti ke mana pun istriku pergi. Laki-laki ini sudah sakit.
Aku segera menelepon sahabatku dan memintanya menghancurkan semua bukti yang masih ada di tangan orang yang disewa tersebut. Juga yang terekam CCTV di tempat di mana mereka bertemu. Tidak boleh ada satu bukti pun yang tersisa. Lalu aku menelepon bagian IT untuk mencari tahu jika masih ada bukti lain sehubungan dengan kecurangan, baik yang dia lakukan sendiri atau pun bersama atasannya.
Keberaniannya menantangku secara langsung patut aku acungi jempol. Dia belum mengenalku karena itu dia pikir dia berada di atas angin hanya bermodalkan foto. Foto panas? Dia berani mengancamku menggunakan tubuh istriku? Laki-laki sialan!
Pintu ruanganku diketuk. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Maaf, Pak. Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Sherry. Aku bingung mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
“Apa maksud kamu?” Aku menoleh ke arahnya. Dia melihat ke arah mejaku. Aku memandang ke arah yang sama. Tidak ada masalah pada meja itu, tetapi aku melihat ke arah yang salah. Yang ditatapnya adalah tangan kananku. Rasa sakit yang amat sangat pun menjalar dari tangan itu.