Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 197 - Mamaku Sudah Pergi


__ADS_3

“Nenek Hadi tidak akan mati seperti mamaku, ‘kan?” tanya Colin terisak. “Kasihan Hadi. Dia baru kenal neneknya, neneknya malah mau pergi jauh.” Aku pikir ada apa? Membuat aku takut saja. Aku memeluk dan mengusap-usap rambutnya, mencoba untuk membantunya menenangkan diri.


“Semua orang sudah lapar. Ini saatnya untuk makan siang. Kamu juga pasti lapar, ‘kan?” tanyaku kepadanya. Dia mengangguk pelan. “Kita ke kamar mandi membersihkan wajahmu, lalu kita bersiap makan. Oke?” Dia kembali menganggukkan kepalanya.


Aku membawanya ke kamar mandi. Hadi mengikuti kami. Dia ikut membantu menghibur temannya agar tidak menangis lagi. Colin berhasil menenangkan dirinya setelah aku membersihkan wajahnya dan mereka sekalian mencuci tangan mereka.


Kami memasuki ruang makan dan semua orang sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Begitu kami duduk, makanan pun disajikan. Aku mendesah lega melihat Colin makan dengan lahap. Kehilangan seorang ibu pada usia semuda itu sangatlah berat. Apalagi dia hanya punya seorang ayah dan tidak ada sanak saudara lain yang memberinya kasih sayang yang cukup.


Hendra seharusnya tidak mempersulit Will untuk mengenal Gista. Mereka berdua adalah orang yang baik. Aku yakin bahwa mereka akan bisa menjadi pasangan yang serasi. Will akan memperlakukan Gista dengan hormat, sedangkan Gista akan menyayangi Colin seperti anaknya sendiri.


Ah, tetapi aku menyimpulkan hal ini terlalu dini. Usiaku sudah matang, wajar saja bila aku tidak keberatan dengan duda yang memiliki anak satu. Gista masih muda, belum tentu dia memiliki pemikiran yang sama denganku. Bisa jadi dia menginginkan pria yang jarak umurnya tidak terlalu jauh, sama-sama masih sendiri dan tidak punya masa lalu bersama wanita lain.


Apa kira-kira yang dia rasakan setiap siang berada di rumah kami? Apakah dia cemburu dengan Hadi yang mempunyai ayah dan ibu lalu menginginkan orang tua yang lengkap juga? Dia anak yang manis, jadi aku jarang melihat dia mengeluh. Melihat dia bertengkar atau memperebutkan mainan dengan Hadi adalah hal yang biasa, tetapi baru kali ini aku mendengar dia menyebut mengenai mamanya.


“Mengapa kamu tadi menangis, pria muda?” tanya Annora dengan senyum ramahnya. Kami sedang duduk santai di ruang keluarga usai makan siang.


“Nenek Hadi sakit kanker. Sama seperti sakit mamaku. Mama sudah pergi jauh tidak bisa kembali lagi. Bagaimana kalau Nenek Hadi juga pergi dan tidak kembali lagi?” ucap Colin pelan. Dia melihat ke arah Mama dengan wajah sedih.


“Jangan khawatir. Nenek Hadi sudah dioperasi dan segalanya berhasil. Semoga saja saat kunjungan berikutnya ke rumah sakit, dokter tidak menemukan adanya sel kanker yang baru. Nenek Hadi akan berumur panjang,” kata Annora meyakinkannya.

__ADS_1


“Benarkah? Syukurlah.” Colin terlihat lebih baik. Aku tersenyum melihatnya. Aku menatap Annora dan mengucapkan terima kasih lewat gerakan bibirku. Dia tersenyum.


“Kami harus pamit sekarang.” Xavier melirik jam tangannya. “Penerbangan kami jam enam dan kami harus sudah sampai di bandara dua jam sebelumnya.”


“Ah, iya. Kami juga perlu mampir ke satu tempat untuk membeli oleh-oleh. Ibuku bisa protes keras bila kami tidak membawa makanan khas dari sini.” Annora tertawa geli.


“Terima kasih atas kedatangan kalian. Kabari kami bila sudah sampai di London.” Mama ikut berdiri dibantu oleh Papa.


Aku memeluk Annora dengan erat. Mereka tidak tahu bahwa aku dan Hendra berencana berkunjung bersama pada kedatangannya nanti. Kami belum bisa memberitahu siapa pun karena kepergian itu baru bisa kami lakukan bila kondisi Mama sudah baik dan bisa aku tinggal. Kami tidak mungkin membiarkan Papa merawat Mama seorang diri sepanjang hari.


Setelah mereka pergi diantar oleh Sakti, aku bersama Mama ke kamarnya untuk melakukan senam ringan. Aku meninggalkannya di kamar ketika dia sudah tidur nyenyak. Papa sedang membicarakan tentang penyakit kanker ketika aku kembali bergabung bersama mereka di ruang keluarga.


“Apa semua orang punya penyakit kanker, Kakek?” tanya Hadi dengan polos.


“Tidak semua orang bisa terserang kanker, apalagi kalau keluarganya tidak ada yang sakit. Yang penting jaga kesehatan dan makan makanan yang sehat. Kurangi makanan yang manis atau cepat saji,” kata Papa. Kedua anak itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, sedangkan Dira hanya menatap mereka dengan bingung. Tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


“Mamaku sakit kanker, apa aku juga bisa sakit kanker?” tanya Colin dengan polos.


“Itu harus kamu periksa ke dokter. Apa kamu sudah pernah ke dokter?” Papa balik bertanya. Colin berpikir sesaat.

__ADS_1


“Aku sudah ke dokter bersama Papa, Mama, dan Dira, Kakek,” jawab Hadi dengan cepat. Papa tersenyum mendengarnya. “Dokter bilang, kami semua sehat.”


“Aku pernah ke dokter dengan Papa. Tetapi itu sudah lama. Nanti aku tanya Papa lagi,” jawab Colin.


“Anak-anak, sebaiknya kita pulang sekarang.” Aku menggendong Dira dan mengambil tasku yang ada di atas sofa. “Kakek perlu beristirahat bersama Nenek.”


“Oke, Ma. Oke, Tante.” Colin dan Hadi serentak berdiri. Mereka memeluk Papa secara bergantian, lalu mengambil tas mereka masing-masing.


Hadi dan Colin berlari ke pintu depan yang sudah dibukakan oleh kepala pelayan. Dia tersenyum ramah saat anak-anak mengucapkan terima kasih. Sakti langsung pulang ke rumah setelah mengantar Annora dan keluarganya ke bandara, jadi kami pulang bersama Liando.


Mereka baru bicara sebentar, sudah tertidur pulas di mobil. Keadaan jalan memang sedang ramai sehingga mobil kami bergerak mirip siput. Aku memanfaatkan keadaan itu untuk melihat-lihat keadaan di sekeliling kami. Kota ini tidak banyak berubah. Aku lahir dan besar di sini, tetapi ajaib, aku tidak bertemu secara tidak sengaja dengan mantan teman-teman sekolah setiap kali keluar.


Apa kabar mereka semua? Apa mereka menjalani hidup yang sama denganku? Menikah, memiliki keluarga baru, dan menghadapi masalah dalam rumah tangga mereka? Atau masih sendiri dan menikmati hidup bebasnya melakukan apa yang diinginkan?


Aku masih sangat muda saat memutuskan untuk menikah dengan Hendra. Aku baru beberapa tahun saja menikmati hidup sebagai karyawan. Pengalaman yang sangat menyenangkan karena aku bisa membeli apa saja yang aku butuhkan dengan uangku sendiri. Aku bahkan pernah berlibur bersama teman-teman kerjaku dari gaji yang aku tabung.


Ada apa denganku hari ini? Mengapa aku malah memikirkan teman-teman lamaku? Mereka sudah lama meninggalkan aku karena keputusanku untuk menikah dengan Hendra. Aku sudah punya teman yang lebih baik. Darla, Qiana, Lindsey, dan Claudia adalah teman yang tidak terganti.


“Nyonya, ada orang di depan gerbang.” Suara Liando membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya yang menatap aku lewat kaca spion depan. Aku mengikuti arah yang dilihatnya, lalu mendesah pelan. Seorang wanita berdiri di depan mobil, menghalangi kami untuk masuk. Mengapa dia datang ke sini? Apa lagi yang dia inginkan?

__ADS_1


__ADS_2