Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 244 - Kunjungan Tak Terduga


__ADS_3

“Apa kalian hanya akan berdiri saja dan tidak mempersilakan aku masuk?” tanya Mama kepada kami berdua. Aku segera mendekat.


“Ma-maafkan aku, Tante. Mari, silakan masuk,” ajakku. “Kami akan sarapan, apa Tante mau makan bersama kami?”


“Tentu saja,” katanya dengan riang. Aku menatapnya dengan bingung.


Kami sarapan bersama di ruang makan. Hadi menanyakan sesuatu kepadaku dan aku menjawab sebisaku. Kadang-kadang Mama ikut menambahkan. Perlahan putraku mulai berani mengajak neneknya bicara. Dira juga begitu.


Usai sarapan, Mama mengajak bicara berdua saja denganku, maka aku meminta Yuyun untuk menemani anak-anak di ruang keluarga. Aku mengajak Mama ke ruang tamu. Liando datang untuk menyajikan makanan ringan dan minuman hangat untuk kami.


“Kamu pasti terkejut dengan kedatanganku ini,” kata Mama dengan senyum di wajahnya. Ya, Tuhan. Sudah lama sekali rasanya aku melihat dia tersenyum selembut itu kepadaku. Ini pasti mimpi. Aku masih tidur dan belum benar-benar bangun.


“Iya. Apalagi Tante datang sepagi ini. Apa Tante tidak minum obat dan melakukan senam rutin?” tanyaku khawatir. Senyumnya semakin lebar.


“Mengapa kamu melakukan ini, Zahara?” tanyanya pelan. Aku menatapnya tidak mengerti. “Mengapa kamu tetap bersikap baik dan peduli kepadaku setelah apa yang aku lakukan kepadamu?”


“Tante adalah ibu kandung suamiku, pria yang sangat aku cintai. Bagaimana aku bisa tidak peduli kepada Tante yang sudah lama menjadi ibu bagiku?” tanyaku menahan haru. “Aku memahami amarah Tante karena aku yang bersalah. Aku sudah mengecewakan Tante dan Papa.”


“Iya, kamu sangat mengecewakan aku. Kita sudah enam tahun bersama sejak kamu menikah dengan putraku. Aku memiliki anak kedua yang tidak pernah bisa aku miliki karena kondisi kandunganku, itu sebabnya aku sangat sayang kepadamu. Itu juga alasan aku tidak mendesaknya untuk menceraikan kamu saat kamu tidak juga memberinya seorang anak.


“Walaupun kamu tidak juga mencintainya selama kalian bertahun-tahun bersama, aku percaya kamu akan jatuh cinta kepadanya suatu hari nanti. Kamu adalah menantu kebanggaanku. Ke mana pun aku pergi, siapa pun yang aku temui, aku selalu membicarakan tentang kamu. Dadaku dipenuhi rasa bahagia setiap kali melihat wajah iri mereka.


“Tetapi pengkhianatanmu telah menghancurkan hati putraku. Kamu juga menghancurkan aku. Apa yang kamu pikirkan pada saat itu, Zahara? Apa yang kurang pada putraku? Aku tahu bahwa dia tidak setampan mantanmu itu. Tetapi setelah dia memperlakukan kamu layaknya seorang ratu, kami menyayangi kamu seperti putri kami sendiri, kamu masih merasa kurang?”


“Maafkan aku, Tante,” ucapku lirih.

__ADS_1


“Aku tahu bahwa kamu menyesali perbuatan kamu itu. Aku juga tahu bahwa kamu tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Kamu setia kepada putraku sampai detik ini. Tetapi aku tidak bisa lagi percaya kepadamu. Karena itu aku mau kalian berpisah.


“Za, seumur hidupku, aku tidak pernah menyakiti putraku. Kamu adalah seorang ibu, kamu pasti mengerti betapa sakitnya aku melihat hati putraku hancur. Hendra adalah anak yang berbakti, tegar, dan tidak pernah menangis menghadapi masalah apa pun. Kamu satu-satunya orang yang sanggup membuatnya kesulitan untuk berhenti meneteskan air mata.


“Aku sangat membenci kamu karena perbuatanmu itu. Aku ingin kamu pergi dari hidup putraku selamanya. Karena dari antara banyak orang di dunia ini, hanya kamu yang berhasil menyakitinya. Dan aku tidak mau hal yang sama terjadi lagi.


“Sayangnya, seperti yang Hendra alami, aku juga tidak bisa membenci kamu selamanya. Aku melihat sendiri bagaimana kamu membayar kesalahanmu dengan setiap penderitaan yang harus kamu jalani. Ketika kamu ingin mengakhiri hidupmu pada hari itu, aku ingin sekali menyayangi kamu lagi. Aku ingin memulai segalanya denganmu dari awal lagi.


“Tetapi aku belum bisa percaya sepenuhnya kepadamu. Aku takut kamu akan menyakiti putraku lagi. Tidak. Aku takut kamu akan menyakiti aku lagi. Aku belum siap untuk terluka lagi.” Mama terdiam. Kami sudah sama-sama menangis dengan wajah bersimbah air mata.


Mama menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya perlahan. “Saat kamu membujuk aku untuk maju menjalani operasi itu. Aku tahu bahwa aku sudah siap untuk memaafkan kamu. Tetapi aku ingin menguji kamu lagi.


“Aku sengaja mendekatkan dokter itu kepadamu karena aku tahu dari tatapannya, dia menyukaimu. Tetapi kamu tidak tertarik kepadanya. Aku sengaja tetap berpihak kepada Nora, dan Hendra lebih memilih tetap bersamamu.


“Tante, apa yang Tante lakukan?” tanyaku yang segera mendekatinya.


“Tidak. Jangan dekati aku. Kembali ke tempat dudukmu,” perintahnya. Aku tidak peduli dan berlutut di depannya. Dia memberi sedikit dorongan ke tanganku. “Tolong, kembali duduk, Zahara.”


“Tidak. Tante adalah orang tua suamiku. Tante tidak boleh berlutut kepadaku. Aku mohon. Jangan lakukan ini, Tante,” pintaku yang masih berusaha untuk menolongnya berdiri.


“Aku harus melakukan ini, Zahara, atau aku tidak akan pernah merasa tenang,” katanya bersikeras. Aku tidak memedulikannya. “Dasar anak keras kepala.” Dia menepuk pelan kepalaku. Aku hanya cemberut melihatnya. Lalu dia menyeka air mata di wajahku.


“Maafkan aku. Maafkan mamamu ini. Aku sudah sengaja menyakiti kamu dan aku tidak bangga dengan itu. Aku juga minta maaf sudah sengaja menguji kesetiaan dan cintamu kepada putraku. Aku sudah sangat jahat kepadamu, tolong, maafkan aku. Apa kamu mau memaafkan aku dan menerima aku kembali?” tanyanya penuh harap.


Aku tidak bisa menjawab karena aku menangis meraung-raung layaknya anak kecil. Aku meletakkan kepalaku ke atas pangkuannya dan kami menangis bersama. Ya, Tuhan. Terima kasih. Aku tidak peduli dengan semua sakit yang aku alami. Aku juga tidak mau ambil pusing dengan semua kalimat yang menyakitkan yang pernah aku dengar. Mama mau menerima aku kembali, itu sudah cukup.

__ADS_1


“Mama!! Mama!!” Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Hadi, Dira, dan Ara serentak masuk dengan wajah khawatir. Ara menyalak keras ke arah Mama. Dira mendekati aku, sedangkan Hadi berdiri di anatar aku dan Mama.


“Nenek jangan marahi Mama. Kalau Nenek membuat Mama menangis, Nenek boleh pergi dari rumah ini!” kata Hadi sambil menunjuk ke arah pintu. Aku menatapnya tidak percaya. Apa suaraku begitu keras hingga terdengar sampai ke ruang sebelah?


“Hadi, jangan bicara begitu kepada Nenek. Kamu salah paham, Nak.” Aku memegang tangannya agar dia melihat ke arahku.


“Tetapi Nenek sudah membuat Mama menangis keras sekali. Apa Mama baik-baik saja?” tanyanya yang kemudian menatap marah ke arah Mama. “Nenek jahat, sudah membuat mamaku menangis.”


“Iya, nenek jahat. Nenek sudah sering membuat mama kamu sedih. Pukul saja nenek.” Mama memegang tangan Hadi dan mengarahkan ke badannya. Aku segera mencegahnya.


“Tidak. Papa bilang tidak boleh memukul perempuan. Aku hanya boleh memukul laki-laki jahat yang memukul perempuan.” Hadi segera menarik tangannya kembali.


“Ah, kamu mengingatkan nenek tentang tugas nenek selanjutnya.” Mama tersenyum penuh arti.


“Tugas apa, Tante?” Aku tersenyum saat dia menyentuh pipiku untuk menyeka air mataku. Hadi dan Dira juga ikut melakukan hal yang sama, kemudian kami membantu menyeka air mata Mama.


“Membawa anak bodoh itu untuk pulang.”


...*******...


    Sementara di suatu apartemen.


    Hendra merasakan angin dingin mendadak bertiup membuat bulu kuduknya meremang. Dia melihat ke arah pelatihnya yang menatapnya dengan bingung. Menyadari bahwa hanya dia saja yang merasakan angin itu, dia mengurung niatnya untuk bertanya.


    Kembali ke apartemennya, Hendra merasakan sepi. Dia merindukan istri dan anaknya, tetapi terlalu keras kepala untuk pulang. Dia hanya mau pulang bila istrinya datang menjemputnya. Lalu dia merasakan angin dingin itu kembali. Dan pada saat yang bersamaan, terdengar bunyi sinyal pertanda ada yang memasukkan kode pintu.

__ADS_1


__ADS_2