
Sesuai janji, aku membangunkan Hendra saat dia belum bangun juga beberapa menit menjelang kedatangan pelatihnya. Aku tersenyum melihat kepala botaknya. Mengapa aku tidak terpikir bahwa itu yang membuat putri kami kesulitan mengenalinya?
Tetapi dia tetaplah Hendra yang sangat aku cintai meskipun penampilannya berubah. Lagi pula rambut akan tumbuh kembali. Dengan begini, setidaknya para wanita yang suka mengincar dia akan menjauh untuk sementara waktu.
Setelah membantunya berganti pakaian, aku menolongnya turun ke lantai bawah. Gerakannya sudah lebih cepat dari biasanya, tidak lambat seperti hari pertama dia keluar dari rumah sakit. Aku yakin bahwa cepat atau lambat dia sudah bisa berjalan lagi tanpa bantuan kursi roda.
Ponselku bergetar saat aku baru saja duduk di ruang latihan. Aku tersenyum melihat anak-anak juga ikut melakukan apa yang papa mereka kerjakan. Nama Rasmi menghiasi layar, aku segera menjawab panggilan tersebut. Dia berteriak bahagia sehingga aku harus menjauhkan ponsel itu dari telingaku.
“Kak!! Pre-order ditutup pada pada angka lima ratus ribuan! Selamat, Kak! Ini penjualan terbaik pertama buku Kakak!!” serunya memekakkan telingaku. “Percetakan terpaksa mengutamakan mencetak buku Kakak selama beberapa hari ke depan agar bisa mencapat target pemesanan.”
“Ini semua berkat bantuanmu dan semua tim yang telah mendukung karyaku, Rasmi,” ucapku terharu. “Beritahu aku bila ada yang perlu aku lakukan.”
“Kami akan mengirim seratus buku untuk Kakak tanda tangani. Itu bonus untuk seratus pemesan pertama. Kami juga akan berikan pulpen khusus, jadi jangan gunakan yang lain. Mereka akan menghubungi Kakak untuk detail lainnya. Sekali lagi, selamat, Kak! Aku harus lanjutkan rapat. Sampai nanti,” ucapnya girang.
Aku tidak menyangka bahwa dengan mengambil tema permasalahan keluarga, antusias pembaca begitu besar. Tidak ada perselingkuhan, drama berlebihan, hanya konflik antara menantu dan mertua. Aku hanya memberi lima bab awal secara gratis sebagai promosi sesuai anjuran penerbit, dan respons pembaca lama juga pembaca baru sangat baik.
Lima ratus ribuan eksemplar dipesan dan dibayar di muka pada satu minggu khusus untuk pemesanan terlebih dahulu adalah rekor bagiku. Setelah bertahun-tahun menjadi penulis, diawali dari menulis blog hingga menjadi penulis novel, kerja kerasku terbayar sudah.
Hendra benar. Hanya dengan mengubah karakter pada buku keempatku, ceritanya terasa berbeda dari ketiga buku sebelumnya. Aku harus berterima kasih kepadanya yang telah memberikan usul tersebut. Dia memang fans terbaikku.
“Ada apa?” tanya Hendra saat aku membantunya mandi dan berpakaian usai terapi. “Kamu dari tadi terlihat sangat bahagia.”
“Pemesanan awal buku baruku ditutup pada angka lima ratus ribuan,” jawabku dengan bangga. “Kamu sekarang mempunyai istri seorang penulis terkenal.”
“Ah, pasti ceritanya jelek lagi,” ejeknya memasang wajah cemberut.
“Setelah bukunya datang, aku akan berikan satu untukmu. Silakan kamu baca dan serang aku sesukamu,” kataku dengan penuh percaya diri.
“Sepertinya kamu cukup yakin dengan buku keempatmu ini,” godanya.
“Dan aku sudah siap untuk menulis buku kelima. Aku sudah menyelesaikan beberapa bab awal. Sebenarnya aku berharap besar dengan kepergian kita ke Eropa. Tokohnya melakukan perjalanan ke sana dan bertemu dengan pria yang dia cintai,” kataku panjang lebar.
“Sebentar. Ini bukan cerita tentang perselingkuhan, ‘kan?” tanya Hendra penuh selidik.
“Tidak, sayang. Nah, kamu sudah rapi lagi. Kita turun ke bawah sekarang?” Aku menatapnya yang terlihat segar usai mandi.
__ADS_1
“Maafkan aku,” ucap Hendra pelan. Aku menelengkan kepalaku, tidak mengerti. “Karena emosiku, kita terpaksa membatalkan kepergian kita hari ini.”
“Tidak apa-apa, sayang. Kamu pulihkan diri, lalu kita bisa pergi kapan saja. Kesehatan kamu yang lebih penting.” Aku mengecup bibirnya. “Ayo, kita temui anak-anak.”
“Mengapa kamu terburu-buru sekali ingin kembali ke bawah? Apa kamu tidak suka berduaan sebentar denganku?” tanyanya curiga. Aku tertawa.
Baiklah. Rasa penasaranku bisa menunggu. Aku melingkarkan tanganku di lehernya, lalu mencium bibirnya. Dia tersenyum bahagia. Kedua tangannya memeluk tubuhku dengan erat, tidak mau mengakhiri ciuman kami.
Ketika kami kembali bergabung bersama anak-anak, aku segera menyalakan televisi. Aku bisa saja membaca beritanya lewat ponsel, tetapi menyaksikan pengumuman sepenting itu lewat layar yang lebih besar jauh lebih memuaskan.
Aku tidak perlu susah mencari siaran yang menayangkan berita yang aku cari, saluran yang aku pilih sudah menyajikan berita yang aku tunggu. Tulisan pada layar sudah menjawab semuanya. Wali kota itu ditetapkan sebagai tersangka. Yes!
“Ya, ampun, sayang. Ini yang membuat kamu ingin segera ke ruangan ini dari tadi?” tanya Hendra. Aku mengangguk cepat, lalu meletakkan kepalaku di bahunya.
“Aku ingin membalas perbuatannya kepadamu. Setelah dia dinyatakan turun dari jabatannya, maka Zach dan Pak Oscar akan mengajukan tuntutan kita atas kecelakaan yang kamu alami. Aku tidak akan membiarkan dia melenggang bebas dari kejahatan yang dia lakukan,” kataku. Aku tersenyum merasakan dia mencium kepalaku.
“Dicky dihukum cukup lama atas perbuatannya. Delapan tahun. Aku belum tahu apa hakim akan memberi hukuman yang berat juga untuk Vivaldo. Kita tunggu saja. Yang pasti, wali kota ini akan dihukum dengan berat karena pasal berlapis,” ucap Hendra.
Apa yang dikatakan oleh suamiku terjadi. Begitu wali kota turun dari jabatannya, dia tidak punya kuasa apa pun lagi. Kami bisa mengajukan tuntutan dan tidak ada lagi yang menghalangi kami untuk mendapatkan keadilan.
Dan kali ini, Vivaldo mendapatkan hukuman yang cukup berat. Tujuh tahun penjara. Hukuman paling berat berasal dari usahanya untuk mengakhiri hidupku pada hari ulang tahunku. Zach dan Pak Oscar benar-benar tidak mau memberi dia ampun.
“Mama cantik sekali!” puji Hadi saat aku berjalan menuruni tangga. “Papa! Papa, Mama sudah siap!” Dia segera berlari menuju ruang keluarga di mana papa dan adiknya menunggu.
Qiana mengundang kami semua untuk makan siang di rumahnya pada hari ini. Putra pertamanya baru saja diwisuda pagi tadi. Kami semua memakai baju berwarna senada, warna kesukaan Dira. Merah muda. Bahkan Ara pun aku beri pita berwarna pink di lehernya.
Hendra keluar dari ruangan bersama Hadi dalam gandengan tangannya dan Dira dalam gendongan, tetapi bukan itu yang membuat mataku membulat. Dia berjalan di atas kedua kakinya sendiri, tanpa bantuan tongkat yang beberapa hari terakhir menjadi penolongnya berjalan.
Aku segera berlari mendekat. “Sayang, apa yang kamu lakukan? Kamu bisa jatuh.” Aku memeluk tubuhnya dan melihat ke sekelilingku.
“Sayang,” ucap Hendra dengan senyum di wajahnya.
“Abdi! Liando! Tolong bawakan tongkat Hendra,” ucapku ketika melihat mereka datang dari arah bagian belakang rumah.
“Sayang, aku tidak apa-apa. Apa kamu tidak bisa melihat bahwa aku baik-baik saja?” kata Hendra. Aku melihat ke arahnya. Dia tidak terlihat kesakitan atau kelelahan. Aku melepaskan pelukanku dan melihat ke arah kedua kakinya.
__ADS_1
“Kamu sudah bisa berjalan?” tanyaku tidak percaya. Dia tertawa.
“Kejutan!” katanya dan Hadi serentak. Oh, Tuhan. Ini kabar yang membahagiakan.
“Selamat, sayang!!” Aku segera memeluknya. Dia tertawa bahagia. Aku merasakan tangannya, Dira, bahkan Hadi ikut memelukku. Aku mengangkat kepalaku dan berjinjit untuk mencium bibirnya, lalu aku mencium pipi putriku. Dan tentu saja aku mencium rambut putraku juga.
“Ayo, kita harus berangkat sekarang sebelum makanan habis,” ajak Hendra.
Pekarangan samping rumah sahabatku itu telah dipenuhi meja dan kursi, juga dihiasi dengan balon berbagai warna. Hadi segera menggandeng adiknya mendekati Zeph dan Charlotte yang sedang bermain bersama. Ara mengikuti mereka. Aku tenang karena anjing itu menjaga mereka.
Qiana mengundang begitu banyak orang. Sampai para anggota dewan juga diundang. Tetapi yang menarik perhatianku adalah para pemuda tampan yang aku yakin adalah teman-teman kuliah putranya. Waah. Aku jadi merasa tua berada di tengah-tengah mereka.
Tangan yang ada di pinggangku menarikku mendekat, lalu aku merasakan sentuhan di pipiku, dan sebuah bibir mendarat di bibirku. Terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba itu, aku tidak segera membalasnya. Begitu memahami bahwa ini adalah ciuman karena cemburu, aku tertawa.
“Sayang, kita sedang berada di depan banyak orang,” kataku saat dia menjauhkan diri sejenak.
“Aku tidak peduli,” katanya sebelum menciumku lagi. Kali ini, aku membalasnya dengan intensitas yang sama. Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan melupakan keadaan di sekitar kami.
“Kalian berdua ini benar-benar. Ada banyak anak kecil di tempat ini, kalian malah melakukan adegan dewasa,” protes Qiana yang berdiri di sisi kami. Darla dan Lindsey tertawa. Hendra menghentikan ciuman kami tetapi tidak melepas pelukannya.
“Hendra, kami senang melihat kamu sudah bisa berjalan lagi,” ucap Darla bahagia.
“Tetapi aku tidak senang melihat kalian pamer kemesraan,” ujar Qiana pura-pura marah.
“Kalian sebaiknya mengambil makanan sebelum kehabisan,” Lindsey mengajak kami semua menuju meja saji.
Antriannya cukup panjang, tetapi kami menggunakan waktu selama mengantri dengan mengobrol. Kami membiarkan Qiana bercerita pengalaman pertamanya mendampingi anak pada saat wisuda. Akulah yang nanti menjadi orang terakhir mendampingi anak pada hari wisuda.
Qiana menyediakan meja di mana kami semua bisa duduk bersama. Makanan yang disajikan enak sekali. Satu piring rasanya belum cukup untuk memuaskan perutku. Hendra dengan baik hati pergi ke meja saji untuk mengambilkan satu porsi makanan lagi.
“Aku benar-benar membenci kamu,” ucap Qiana. Aku hanya tertawa. Bukan salahku bila aku makan banyak tetapi tubuhku tidak menjadi gemuk.
“Silakan, sayang.” Hendra meletakkan sepiring makanan di depanku.
“Terima kasih, sayang,” ucapku senang. Aku baru saja akan menyendokkan makanan itu ke mulutku ketika perutku terasa tidak enak. Ukh. Aku rasanya mau muntah. Apa aku makan terlalu banyak?
__ADS_1
“Sayang? Kamu tidak apa-apa?” tanya Hendra khawatir. “Wajah kamu tiba-tiba pucat.”