Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 70 - Perubahan Besar


__ADS_3

“Selamat pagi!” sapaku melihat dia memasuki ruang makan. Dia membalas sapaanku lalu duduk di kursinya. Kami berdua makan dalam diam.


Meskipun hubungan kami belum mengalami perkembangan lagi sejak malam dia keluar dari kamar kami, aku tidak berhenti berusaha. Aku memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk aku habiskan bersamanya setiap kali dia berada di rumah.


“Hari ini kamu akan ke dokter kandungan?” tanyanya setelah kami selesai makan.


“Iya. Sudah minggu kedua puluh, jadi kita sudah bisa melihatnya lagi lewat USG,” ucapku senang. “Kamu akan ikut bersamaku, ‘kan?” Hendra menganggukkan kepalanya.


“Kita pergi dengan mobilku saja. Lalu setelah mengantarku ke kantor, Kafin akan mengantarmu pulang,” ajaknya. Tentu saja aku menerima tawaran itu dengan senang hati.


Aku tidak memberitahunya, maka wajar saja dia terkejut saat melihat keempat orang tua kami juga sudah menunggu di rumah sakit. Aku tidak bisa melarang karena mereka juga ingin ikut melihat si kecil dan mendengar bunyi detak jantungnya.


Untung saja dokter tidak keberatan dan mengizinkan mereka secara bergantian masuk untuk melihat langsung cucu mereka pada layar USG. Hendra sampai protes karena dia menjadi orang terakhir yang melihat anaknya sendiri. Aku hanya tertawa melihat tingkah suami dan orang tuaku.


“Denyut jantungnya cepat sekali. Apakah dia baik-baik saja?” tanya Hendra khawatir.


“Detak jantung janin memang lebih cepat dari orang dewasa. Dan ini normal, Pak. Jangan khawatir,” ucap dokter tersebut menenangkannya.


Ibu mertua memaksa untuk mengajakku makan siang bersama mereka, maka Hendra pergi sendiri ke kantornya. Aku tersenyum saat dia memeluk dan mencium pelipisku sebelum kami berpisah. Aku tidak ingin melepas tangannya, tetapi aku menahan keinginanku itu dan masuk ke mobil Papa.


Mereka tidak berhenti bicara sambil bergantian melihat foto USG si kecil. Yang membuat mereka begitu bahagia adalah jenis kelamin anak kami. Aku mengandung bayi laki-laki. Dia anak yang baik sehingga tidak menutupi dirinya dari kami tadi. Dokter dengan mudah bisa segera mengetahui jenis kelaminnya. Ayah dan ibu mertuaku begitu bahagia karena mereka mempunyai seorang penerus.


Kami makan siang bersama di restoran kesukaanku. Mereka memesan makanan serba daging ayam. Aku tidak khawatir makan apa pun yang disajikan di tempat ini karena semuanya dimasak dengan matang dan diolah dengan higienis. Kedua ibuku malah lebih ketat dalam menjaga makanan yang aku konsumsi dibandingkan aku dalam menjaga diriku sendiri.


Mereka mengantarku pulang setelah kami selesai makan siang. Ibu mertua melarangku untuk bekerja dan menyuruhku untuk bersantai atau beristirahat sampai Hendra kembali. Aku menurut dan tidak membantah anjurannya tersebut. Mereka memeluk dan menciumku sebelum pergi.

__ADS_1


Aku segera mengirim pesan kepada Hendra mengenai apa saja yang aku lakukan bersama orang tua kami tadi. Aku juga menyebutkan semua menu makanan yang kami nikmati bersama. Dia membalas pesanku dengan singkat, namun itu sangat berarti bagiku.


Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku hampir melompat dari tempat dudukku mendengar bunyi deru halus mobil Hendra memasuki halaman tepat pada jam enam sore. Dia pulang! Dia tidak pulang malam seperti biasanya. Aku bergegas membawa buket bunga yang sudah dibelikan oleh Liando dan menyambut kedatangannya.


“Selamat datang kembali!” sambutku saat Abdi membukakan pintu. Hendra tertawa. Ya, Tuhan. Dia tertawa begitu bahagia. Bukan hanya itu. Dia juga membawa buket bunga untukku. Mawar merah kesukaanku. Kami memberikan kedua buket bunga itu kepada Yuyun. Dia memeluk dan mencium bibirku, lalu menggandeng tanganku menuju tangga.


Dia tidak ke kamarnya melainkan ke kamar kami. Jantungku berdebar dengan cepat dan sebuah senyuman mengembang di wajahku. Saat dia duduk di tepi tempat tidur sehingga aku bisa berdiri sedikit lebih tinggi darinya, aku mengerti. Dia memintaku untuk membantunya melepas dasinya. Aku melakukannya dengan senang hati.


“Aku mandi sebentar, lalu kita makan malam bersama.” Dia mengecup bibirku lalu menuju kamar mandi. Aku mengangguk bahagia.


Malam itu setelah sekian lama, Hendra kembali tidur di kamar kami. Aku tidak keberatan tidur sambil berpelukan dengannya sampai pagi. Ketika dia sudah siap nanti, aku yakin kami akan bisa bercinta lagi. Dan aku akan mendengar ucapan cintanya lagi.


Sejak tidur bersama pada malam itu, pakaian dan barang pribadi milik Hendra yang ada di kamar lain kembali dipindahkan ke kamar kami. Aku selalu siap sedia ketika dia sudah selesai mandi untuk membantu memasang dasinya. Yang aku tunggu-tunggu adalah saat dia menghadiahiku sebuah ciuman setelah aku selesai merapikan penampilannya.


Aku tidak mengubah kebiasaanku sekalipun hubungan kami sudah membaik. Aku masih mengirim pesan mengenai kegiatan yang aku lakukan pada saat makan siang dan dia membalas. Aku juga memberinya buket bunga yang berbeda sesuai dengan makna yang ingin aku sampaikan kepadanya setiap kali dia pulang kerja.


“Berhenti menggodaku. Kamu juga terlihat seperti wanita yang sedang kasmaran,” ucapku tidak mau kalah. Mereka tertawa. “Apa kalian tidak bosan berulang kali pergi ke Paris?”


“Zahara, tidak ada seorang pun yang sudah pernah pergi ke sana akan bosan mengunjunginya lagi,” ucap Lindsey seolah-olah aku baru mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Aku memutar bola mata, tidak setuju dengan pendapatnya tersebut.


“Aku lebih suka mengunjungi Jepang berulang kali.” Aku memasukkan sesendok es krim ke mulut.


“Kapan-kapan kita harus berlibur ke luar negeri bersama,” usul Qiana. “Jangan pada musim dingin atau panas. Lebih baik musim semi atau gugur. Pemandangannya indah dan khas, plus, udaranya tidak terlalu dingin atau panas.”


“Aku tidak yakin kita bisa melakukannya dalam waktu dekat, Qiana. Kamu lihat sendiri bahwa Zahara sebentar lagi akan melahirkan dan kita tidak mungkin berlibur membawa bayi. Itu musibah,” ucap Lindsey mengingatkan.

__ADS_1


“Berarti kita tidak akan bisa melakukannya dalam tahun-tahun ke depan juga?” keluh Qiana.


“Mengapa sampai selama itu?” tanyaku bingung. Mereka bertiga tertawa.


“Setelah anak pertama, kamu dan Hendra pasti akan segera melakukan program anak kedua. Hendra pernah bilang bahwa dia mau punya banyak anak.” Darla mengedipkan sebelah matanya.


“Aku tidak yakin aku ingin mengalami ini lagi. Muntah, mual, badan sakit semua, dan posisi saat tidur, ukh. Saat perutku semakin besar, aku sampai kesulitan tidur karena khawatir akan menyakitinya.” Aku menyentuh perutku dan mengusapnya. “Belum lagi rasa gatal yang tidak bisa diatasi. Dan kalian lihat wajahku? Jerawat ada di mana-mana.” Mereka hanya tertawa.


“Nikmati saja, Zahara. Untuk masalah kulit, kamu bisa memperbaikinya nanti. Tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi oleh dermatolog.” Qiana tertawa kecil. “Melihat bagaimana kamu dan Hendra tidak bisa lepas dari satu sama lain, aku setuju dengan Darla. Kalian pasti akan segera melakukan program anak kedua tidak lama setelah si kecil lahir.”


“Bila kalian terus menggodaku, aku lebih baik pulang,” kataku mengancam.


“Oke, oke. Aku akan berhenti.” Darla tertawa kecil. Qiana yang duduk di sebelahku, memelukku.


“Zahara kita yang biasanya bersikap kalem, kini lebih berani, ya,” ucap Lindsey. Mereka tertawa. Aku hanya bisa cemberut.


Namun itu hanya sementara. Hendra meneleponku dan teman-teman menatap cemburu kepadaku. Giliran aku yang tersenyum penuh kemenangan. Aku tidak berpindah ke tempat yang lebih sepi, juga tidak mengaktifkan pengeras suara. Mereka berpura-pura memeriksa ponsel mereka masing-masing, mencari tahu apakah ada pesan atau panggilan masuk dari suami mereka.


...*******...


...~Author's Note~...


Hai, teman-teman! (。・ω・。)ノ♡


Karya ini lulus kontrak berkat dukungan kalian semua! Sebagai ucapan terima kasih, aku akan tambahkan satu bab untuk tiga hari ke depan. Jadwal auto up biasanya 12:00, 15:00, 18:00, maka aku tambahkan juga pada pukul 21:00 WIB. Selamat membaca, ya. Dan terima kasiiihh untuk dukungan teman-teman pada Hendra dan Zahara. ♡♡♡

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2