Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 95 - Itu Namaku


__ADS_3

“Jangan salah paham.” Hendra mencoba untuk menjelaskan. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku. “Aku tidak marah kepadamu atau apa pun yang kamu pikirkan. Saat aku memanggil anjing ini, dia hanya merespons dengan nama itu. Aku tidak sengaja menyebut namamu. Aku sudah menggunakan semua nama perempuan yang pernah aku dengar, dia diam saja.”


“Ada banyak nama dan kamu masih harus menyebut nama Ara?” tanyaku tidak percaya. Anjing itu menyalak kepadaku. “Mengapa tidak sekalian saja sebut Zahara? Biar kamu puas.” Anjing itu kembali menyalak senang. Dia menatapku sambil menggerak-gerakkan ekornya. Oh. Tuhan.


Hendra mengulum senyum. “Sepertinya dia juga suka dengan nama depanmu.”


“Diam kamu. Ara, Zahara, kedua nama itu milikku.” Anjing itu membuatku semakin kesal dengan menyalak dua kali. Dia mendekatiku, lalu mencium kakiku. “Menjauh dariku. Jangan dekat-dekat. Aku sedang kesal. Itu namaku. Namaku!”


Hendra tertawa puas. Dia masuk ke kamar mandi meninggalkan aku berdua saja dengan anjing itu. Aku menggeram pelan. Meskipun aku sudah melarang, anjing itu mengikutiku mendekati koperku yang sudah diletakkan di atas sofa sehingga aku tinggal membukanya saja. Aku menarik napas panjang melihat tidak ada satu pun piyama di dalamnya, semuanya gaun tidur. Yuyun. Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti.


Aku menunggu dengan kesal sambil duduk di tepi tempat tidur. Anjing itu terus saja mengendus- endus kakiku berusaha untuk mengenali bauku. Sebenarnya aku ingin menggendongnya dan membelai rambutnya yang pasti lembut. Tetapi mengetahui nama kami sama, aku merasa sangat kesal kepadanya. Sekalipun aku tahu bahwa ini bukan salahnya.


Ketika pintu kamar mandi akhirnya terbuka, aku berjalan mendekat untuk segera mandi. Namun langkahku terhenti melihat Hendra hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggulnya. Aku menelan ludah dengan berat. Ya, Tuhan. Berapa lama pun kami berpisah, efek yang diberikan oleh tubuhnya itu kepadaku tidak berkurang.


Rambutnya basah terlihat dari tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya. Wajahnya terlihat segar. Lalu dada bidangnya itu menggodaku untuk menyentuhnya. Tiga tahun sudah aku berpuasa dari sentuhan dan ciumannya. Tiga tahun yang panjang dan sangat menyiksa.


“Za.” Jemari dijentikkan di depanku. “Halo, kamu jadi mandi atau tidak?” Lamunan kotorku segera buyar. Aku pasti sedang di masa suburku. Kalau tidak, kepalaku tidak akan berpikir yang jorok begitu. Aku menggeleng keras dan segera masuk ke kamar mandi. Siraman air dingin akan membantuku untuk kembali berpikir jernih. Aku mendengar Hendra tertawa saat menutup pintu. Menyebalkan.


Selesai mandi, aku mendengar sayup-sayup bunyi televisi dari ruang depan. Aku mempertimbangkan apa sebaiknya aku keluar kamar atau langsung tidur. Tetapi aku belum mengantuk. Mantel sutraku terlalu tipis, aku tidak mau dia berpikir bahwa aku ingin menggodanya. Maka aku mengambil satu mantel mandi dan mengenakannya. Begini lebih baik.


Hendra duduk berselonjor di sofa dengan kedua kakinya diletakkan di atas meja. Apa dia bisa tidur dengan nyaman di sofa itu? Tubuhnya tinggi, sofa itu bahkan tidak bisa menampungnya. Aku melihat ke sekelilingku, hanya ada satu pintu lagi yang aku yakin adalah gudang atau kamar mandi. Tempat tidur di kamar utama cukup besar. Kami bisa saja tidur berdua, tetapi aku tidak percaya bahwa aku akan kuat tidak tergoda untuk menyentuhnya. Jadi, sebaiknya tidak.

__ADS_1


“Apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Hendra saat aku duduk tidak jauh dari sisinya. Anjing kecil itu meringkuk di atas pangkuannya. Seandainya saja aku bisa melakukan hal yang sama. Aduh. Pikiran itu lagi. Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku.


“Baik. Beritahu aku jika kamu butuh apa pun. Ada toko yang buka dua puluh empat jam di lantai dasar.” Dia salah paham dengan gelengan kepalaku, tetapi aku tidak meralatnya.


“Kamu suka menonton film mengenai binatang?” tanyaku terkejut.


“Bukan aku. A, maksudku, anjing ini yang menyukainya.” Dia pasti ingin menyebut nama Ara tadi. Rasa kesal yang sudah hilang itu mendadak kembali. Aku duduk bersandar dan menatap layar televisi menenangkan diri. Tidak ada gunanya berdebat lagi. Tubuhku lelah, tetapi entah mengapa mataku tidak mengantuk. “Jadi, siapa pria yang bernama Dicky itu? Pacar barumu?”


Aku menoleh ke arahnya sesaat sebelum kembali menonton film. Dia menunggu jawabanku tanpa mengalihkan pandangannya dariku. “Aku hanya akan menjawab pertanyaan seputar Hadi dan Dira, tidak dengan kehidupan pribadiku. Kita sudah bercerai, apa kamu lupa?”


“Kamu sudah memberitahuku semua tentang mereka secara detail sampai tidak ada celah bagiku untuk bertanya,” katanya. “Karena itu aku bertanya tentangmu.”


“Kamu bisa bertanya tentang bukuku. Jangan bertanya tentang pria lain.” Aku sengaja melihat ke arahnya untuk memerhatikan reaksinya. Yap. Rahangnya langsung menegang saat aku menyebut tentang pria lain. Dia cemburu. Entah mengapa aku senang mengetahui bahwa dia masih memberi reaksi yang sama mengenai hal yang satu itu.


“Kamu bukan suamiku, silakan beli bukunya jika kamu ingin membacanya,” ucapku acuh tak acuh.


“Aku mengirim uang yang cukup untuk membayar semua kebutuhan pribadimu setiap bulan dan aku tidak bisa mendapatkan satu buku gratis darimu?” tanyanya tidak percaya. “Lagi pula kamu sudah tahu bahwa aku tidak punya waktu sekadar jalan-jalan ke toko buku.”


“Oke, oke. Aku akan meminta Liando untuk mengantarkan satu buku ke sini besok.” Aku mengalah. Dia tersenyum puas.


“Begitu lebih baik.” Dia menggendong anjing kecil itu, berdiri, lalu membaringkannya di tempat tidur mungil berbentuk sepatu bayi. Lucu sekali. Mengapa aku tidak memerhatikannya tadi? “Kamu ingin minum atau makan sesuatu? Aku ingin mengambil keripik.”

__ADS_1


“Aku juga mau,” jawabku cepat. Dia kembali dengan sebungkus keripik untukku dan segelas air.


“Kamu punya pilihan film tertentu?” tanyanya sambil mengganti saluran televisi.


“Suspense atau thriller kalau ada.” Aku memasukkan sepotong keripik ke mulut. Hendra menoleh ke arahku. Dia pasti heran mendengarku menyebut genre tersebut.


“Bukannya kamu suka film romantis?” tanyanya bingung.


Aku mendengus pelan. “Aku tidak terlalu suka film jenis itu walau aku penulis novel romantis.”


“Aneh. Aku baru tahu.” Dia kembali mengganti saluran televisi. Aku memintanya untuk kembali saat dia melewati saluran yang benar. “Ini horor, bukan suspense.”


“Ada apa? Kamu takut hantu?” tanyaku menggodanya.


“Bukan aku yang takut ke kamar mandi seorang diri setelah menonton film horor di bioskop. Bukan aku juga yang berpikir bahwa ada makhluk yang berada di bawah tempat tidur saat terdengar bunyi dari bawah ranjang.” Aku segera duduk mendekat dan melihat ke sekeliling kami. Dia tertawa.


“Kamu ini benar-benar mengesalkan.” Aku memukul lengannya.


“Kamu yang memulainya.” ucapnya membela diri. “Jadi, kamu serius mau menonton film ini?” Aku kembali melihat ke arah layar. Itu film suspense bukan horor, jadi aku aman. Aku mengangguk pelan. “Baiklah. Risiko ditanggung sendiri.”


Film yang ditayangkan sudah beberapa kali aku tonton, jadi itu adalah pilihan yang aman. Hal yang menyenangkan dari menonton bersama Hendra adalah dia tidak bicara selama film sedang diputar. Meskipun dia ingin sekali mendiskusikan sesuatu, dia memilih diam sampai jeda iklan muncul atau film telah selesai.

__ADS_1


“Zach bilang, kamu makan malam bersama ibumu dan seorang wanita kemarin. Apakah dia pacarmu? Apa kalian akan segera menikah?” tanyaku ingin tahu.


“Aku hanya akan menjawab pertanyaan seputar pekerjaan, tidak dengan kehidupan pribadiku. Kita sudah bercerai, apa kamu lupa?”


__ADS_2