Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 166 - Bukan Rahasiaku


__ADS_3

“Aku lapar, sayang. Aku sedang tidak bisa bermain teka-teki.” Aku meniru caranya menatap aku. Memangnya hanya dia saja yang bisa menatap orang dengan tajam begitu?


“Kamu baru pulang dari mana?” tanyanya.


“Menjemput Hadi dan Colin dari sekolah mereka,” jawabku dengan jujur. Dia memicingkan matanya.


“Jangan berlagak pintar di depanku. Kamu baru pulang dari mana?” Dia kembali mengulang pertanyaan itu dengan dingin dan ini artinya ada yang memberitahu dia ke mana aku pergi tadi.


“Dasar Liando tidak bisa menyimpan rahasia,” gumamku mengumpat sopir setiaku.


“Dia tidak hanya bekerja untukmu, dia juga bekerja untukku. Aku tahu kebiasaan burukmu susah diubah, jadi semua orang yang ada di rumah ini harus selalu melapor kepadaku apa pun yang kamu lakukan. Baik di rumah atau di luar sana.”


“Iya, iya. Baiklah.” Aku mengalah. “Bisakah kita membicarakan semua ini sambil makan siang?” Aku memasang wajah memelas.


“Tidak. Kita bicara, lalu kamu boleh makan.” Dia masih menatapku dengan serius.


“Aku mohon, sayang.” Aku memberinya wajah sedih terbaikku yang tidak akan bisa ditolaknya. “Aku tidak makan apa pun sejak sarapan pagi tadi. Aku mohon.” Dia menggeram pelan.


“Kamu ini menyusahkan saja.” Dia berdiri, menggandeng tanganku, lalu kami keluar bersama dari kamar. Aku tersenyum penuh kemenangan. Aku memeluk lengannya itu sambil mencium pundaknya. “Aku masih marah, jadi jangan mencium atau memeluk aku begini.” Mulutnya berkata tidak, tetapi dia tidak mendorong aku menjauh darinya. Dasar pembohong.


Meskipun mereka sudah makan siang, Hadi dan Colin ikut menikmati masakan Fahri di ruang makan. Mereka bertiga hampir selesai makan, sedangkan aku baru saja tiba. Semua ini gara-gara suamiku yang mendadak mengajak aku membicarakan hal yang bisa kami bahas nanti.


“Yuyun, tolong temani anak-anak bermain.” Hendra tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku. Tetapi aku tidak terganggu sama sekali. Dia bisa terus menatap wajah cantikku sepuasnya. “Bicaralah. Jangan mengelak lagi.”


“Apa Papa belum mengatakan apa pun kepadamu?” tanyaku. Dia menggeleng pelan. Bagaimana Mama bisa menyembunyikan hasil pemeriksaan itu dari Papa? “Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang terakhir, dokter menemukan ada kanker stadium dua pada salah satu päyúdara Mama. Aku mendengarnya dari suster yang mendampingi aku selama pemeriksaan kesehatan kita. Mereka pikir aku sudah tahu hal itu, jadi mereka bebas saja bercerita.”

__ADS_1


“Mengapa kamu tidak segera memberitahu aku mengenai hal itu? Kamu tahu bahwa tidak boleh ada rahasia di antara kita,” tuntut Hendra.


“Sayang, aku tidak akan menyembunyikan rahasiaku darimu. Tetapi ini adalah rahasia Mama. Aku sama sekali tidak punya hak untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Hanya Mama yang punya hak untuk mengatakannya kepada siapa saja yang dia mau,” ucapku menjelaskan arti dari kesepakatan yang kami lakukan.


“Mama adalah mamaku, Za,” katanya tidak mau kalah.


“Rahasianya bukanlah rahasiaku atau kamu, Hendra. Sama seperti kamu. Rahasia perusahaan adalah hal yang tidak akan pernah kamu ceritakan kepadaku. Apa aku berhak menuntut kamu membukakan semuanya? Tentu saja tidak. Perjanjian kita adalah mengenai rahasia di antara kita, bukan rahasia orang lain,” kataku dengan tegas. Dia merapatkan bibirnya.


“Baiklah. Kamu benar.” Dia melihat ke arah jendela, sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Mama akan baik-baik saja begitu kankernya ditangani sesegera mungkin. Tetapi pilihan yang diberikan oleh dokter tidaklah mudah. Pengobatannya sangat ekstrem. Jadi, Mama ragu untuk mengambil langkah selanjutnya.” Aku menyentuh tangannya yang ada di atas meja.


“Apa yang disarankan oleh dokter?” Dia memegang tanganku itu dengan kedua tangannya. Aku menatapnya sesaat sebelum mengatakan hal yang akan sangat mengejutkannya itu.


“Pengangkatan päyúdara.”


“Yang kami lakukan tadi adalah menemui dokter kedua dan dia masih memberikan pilihan yang sama. Operasi adalah jalan yang terbaik.” Aku mendesah pelan. Aku meletakkan sendok yang aku pegang. Selera makanku hilang.


“Maafkan aku. Aku pikir sesuatu terjadi padamu hingga kamu harus pergi ke rumah sakit. Aku sudah melihat hasil pemeriksaan kesehatanmu dan berpikir bahwa kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Ternyata Mama yang sedang sakit. Makanlah. Aku tidak akan bertanya sampai kamu selesai.” Dia melepaskan tanganku.


“Aku akan membicarakan ini denganmu malam ini. Aku tidak tahu pasti harus mengatakan apa karena tidak mengetahui bagaimana perkembangan penyakit Mama. Tetapi setelah mendengarnya tadi, aku pikir bahwa sudah saatnya kamu juga mengetahuinya.” Aku tersenyum kepadanya.


“Mama akan bicara dengan Papa hari ini. Aku tidak perlu mendampingi Mama untuk pengobatan nanti. Tetapi aku sudah meminta agar Mama memberitahu jadwal operasinya kepada kita.” Aku kembali menyendokkan makanan ke mulutku.


“Apa maksudnya kamu tidak perlu mendampingi Mama untuk melakukan pengobatan? Apa Mama memutuskan untuk mempekerjakan seorang suster pribadi?” tanya Hendra heran. Aku menggeleng.

__ADS_1


“Mama ingin Nora yang bersamanya selama proses pengobatan nanti,” jawabku. Hendra tertawa. “Mengapa kamu malah tertawa?”


“Mama terlalu menilai tinggi wanita itu. Dia bukan jenis perempuan yang mau repot-repot mengurus rumah tangga. Apa kamu tidak tahu mengapa dia begitu bersemangat untuk membuktikan bahwa Hadi dan Dira bukan anak kandungku?” tanyanya seraya tersenyum penuh arti.


“Mengapa?” tanyaku ingin tahu.


“Dia mau andai kami menikah nanti, aku tidak membawa anak-anak bersamaku. Caranya menatap aku dan orang tuaku dengan mengabaikan kehadiran Hadi dan Dira adalah contohnya. Aku tidak terkejut dengan sikapnya kepadamu. Tetapi terhadap anak-anak kita, itu lain cerita,” jawabnya begitu yakin. Aku teringat dengan percakapan aku dan Nora di toilet.


“Masuk akal. Tetapi bisa saja dia bersedia mendampingi Mama berobat, sayang. Aku tahu bahwa dia perempuan yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau.” Mendampingi Mama akan membuatnya semakin dekat dengan Mama. Hubungan mereka mungkin tidak akan memengaruhi pendapat Hendra mengenai wanita itu. Aku percaya suamiku hanya mencintai aku. Tetapi akan semakin menjauhkan aku dari Mama.


“Kamu mau bertaruh denganku?” Dia tersenyum penuh arti. Aku menelengkan kepalaku. “Bila aku benar, dia tidak akan mau menemani Mama, maka kamu tidak boleh mengeluh sedikit pun saat aku ajak berolahraga pagi. Kalau kamu mengeluh sedikit saja dalam satu minggu ini, maka kamu harus menuruti apa pun yang aku katakan.” Matanya berkilat nakal saat mengatakan itu.


“Mengapa aku merasa tidak enak dengan taruhan ini, ya? Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?” tanyaku penuh curiga.


“Ayo, katakan. Apa taruhan kamu?” katanya mengabaikan pertanyaanku. Aku pun mengalah. Aku tidak perlu takut, aku masih punya peluang untuk menang.


“Baik. Bila aku benar, maka aku mau satu hari hanya bersamamu saja. Anak-anak kita titipkan di rumah orang tuaku atau Zach,” kataku menyebut hadiah yang aku inginkan.


“Sepakat.” Hendra menatap aku dengan senyum penuh kemenangan saat kami berjabatan tangan. Padahal dia belum dipastikan keluar sebagai pemenangnya. “Selesaikan makanmu. Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu.”


“Apa?” tanyaku ingin tahu. Dia hanya tersenyum.


Selesai makan, dia mengajakku ke ruang keluarga di mana anak-anak berada. Mereka menyapa kami, lalu lanjut bermain dengan balok-balok membentuk bangunan. Hendra menyalakan televisi lalu memilih saluran demi saluran hingga layar menampilkan sebuah siaran berita.


Aku membaca judul pada berita yang sedang ditayangkan tersebut. Salah satu komisi dewan pusat tertangkap tangan semalam sedang memberi suap. Nama Dicky termasuk salah satu anggota dewan yang melakukan hal itu kepada penyidik. Ternyata ada penggunaan anggaran yang mencurigakan. Untuk menghindari namanya dan rekan-rekannya disebut dalam kasus tersebut, dia membayar penyidik untuk menghilangkan bukti.

__ADS_1


Aku yakin dia akan mendapatkan hukuman dan tidak bisa berkelit dari hukum lagi. Tetapi aku belum puas melihat berita tersebut. “Hanya Dicky? Bagaimana dengan Vivaldo dan Nora?”


__ADS_2