
Tidak satu pun dari kami yang bicara di dalam mobil, Hendra memasang musik yang membuatku semakin mengantuk. Aku membuka mata ketika merasakan seseorang berada di dekatku. Sabuk pengamanku dilepas, kemudian tubuhku diangkat. Aku melihat Hendra sedang membopongku keluar dari mobil. Aku melingkarkan tanganku di lehernya.
Aku mendengar suara Abdi menyambut kami di rumah. Mulutku terbuka ingin membalas sapaannya tetapi aku terlalu mengantuk. Aneh. Aku tidak mengerjakan hal yang membutuhkan banyak tenaga hari ini, mengapa aku mengantuk begini?
“Aku ajak pulang, kamu tidak mau. Kamu bilang tidak mengantuk. Lihat saja sekarang, membuka mata saja kamu tidak bisa.” Aku mendengar Hendra mengomel. Aku hanya cemberut. Lalu aku merasakan dia mengecup bibirku. “Bukankah Yuyun yang tadi memasak? Lalu mengapa kamu yang terlihat kelelahan?”
Ketika dia mendudukkan aku di tepi tempat tidur, aku menyentuh permukaan seprai yang halus dan berniat membaringkan tubuhku. Tetapi dua buah tangan menahanku. Aku merasakan dadaku bisa bernapas lebih lega saat ritsleting dress yang aku kenakan dibuka.
“Angkat kedua tanganmu,” ucap Hendra memberi perintah, aku menurut. Dia melepaskan pakaianku melalui kepalaku, tidak lama kemudian mengenakan pakaian yang berbahan halus melewati kepalaku juga. Dia menurunkan tanganku ke atas pangkuanku.
“Kamu harus menyikat gigi sebelum tidur.” Dia menepuk pelan pipiku. “Sayang, kamu harus membuka matamu. Kamu tidak boleh tidur sebelum menyikat gigimu.”
“Oke, oke.” Aku menurut ketika dia menarik kedua tanganku sehingga aku berdiri dengan kedua kakiku. Kami menuju kamar mandi. Aku menerima sikat yang diberikannya kepadaku, lalu aku membuka mata dan membersihkan gigiku. Melihat aku masih memakai sedikit riasan, aku tidak lupa membersihkan wajahku juga.
Aku melingkarkan tanganku di tubuh Hendra setelah mengeringkan wajahku. “Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa tidur sekarang. Aku harus mandi,” ucapnya yang baru saja melepas kemejanya. Aku tidak melonggarkan pelukanku. “Ya, ampun, Za. Kamu sudah bukan anak kecil lagi.”
Dia berdecak pelan, kemudian membopong tubuhku ke tempat tidur. Aku tersenyum sambil melingkarkan tanganku di lehernya. Apa gunanya mempunyai suami bertubuh besar jika tidak bisa sesekali dimanfaatkan? Aku segera meringkuk di tempat tidur setelah dia membaringkan aku. Kemudian dia menutup tubuhku dengan selimut. Hal terakhir yang aku ingat adalah ciumannya di bibirku sebelum aku pulas.
Papa memeluk dan mencium Mama sebelum suster membawanya. Mama menjalani observasi di sebuah ruangan sebelum menjalani operasi. Aku, Papa, dan ibu mertua hanya bisa menunggu di luar. Kami duduk di kursi yang disediakan dan tidak seorang pun dari kami yang berniat untuk bicara.
__ADS_1
Mama kemudian dibawa keluar dari ruangan tersebut. Dia berbaring di atas sebuah brankar. Kami segera mendekatinya. Suster mengatakan bahwa operasi akan segera dilaksanakan. Kami memberi Mama semangat. Dia tersenyum bahagia dan meminta kami untuk menunggunya.
Operasi baru saja berlangsung ketika Hendra, Zach, dan ayah mertuaku datang mendekati kami. Suamiku duduk di sisiku, aku meraih salah satu tangannya dan menggenggamnya. Meskipun dokter mengatakan bahwa prosedur tersebut hanya akan berlangsung sekitar satu jam, penantian itu terasa sangat panjang. Kami baru bisa bernapas lega setelah dokter keluar dari ruangan dan mengatakan bahwa segalanya berjalan lancar.
Mama segera dipindahkan ke kamar ICCU karena perlu mendapatkan perhatian ekstra andai ada gejala yang perlu penanganan segera pasca pemasangan cincin di jantungnya. Kami menemuinya satu-persatu. Papa sebagai orang terakhir yang menemuinya berkata bahwa Mama sedang tidur. Kami memutuskan untuk pulang dan membiarkan Papa yang menjaga Mama.
Hendra menyewa sebuah kamar untuk keluarga pasien agar Papa bisa beristirahat. Suster akan segera menghubunginya jika Mama membutuhkan Papa. Hendra juga memberikan nomor kontaknya kepada suster tersebut andai ada keadaan darurat. Wanita itu menjelaskan kepada kami bahwa kondisi Mama stabil, dan dia yakin Mama akan baik-baik saja, jadi kami tidak perlu khawatir.
Setengah mengantuk, aku membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum membaringkan badanku di tempat tidur. Aku mendesah lega bisa melewati satu masalah. Mama akan baik-baik saja. Ketika aku hampir pulas, aku merasakan Hendra mencium keningku lalu memeluk tubuhku begitu erat. Aku mendekatkan badanku kepadanya, ingin merasakan kehangatannya.
Aku membuka mata mendengar bunyi air. Hendra sudah tidak ada lagi di depanku. Aku mendorong tubuhku untuk duduk dan sekujur tubuhku terasa kehilangan tenaga. Tiba-tiba aku merasa mual dan ingin muntah. Mengabaikan protes tubuhku, aku bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Aku tidak akan kuat untuk berdiri, maka aku duduk di lantai dan membuka tutup toilet. Aku memuntahkan isi perutku di sana.
“Za, kamu tidak apa-apa?” Aku hanya bisa diam. Kepalaku pusing dan perutku sakit sekali. Dia meraih tombol pada tangki air dan air membasahi toilet membersihkan muntahanku. Kemudian dia membersihkan mulutku dengan sebuah handuk.
Aku menyandarkan tubuhku kepadanya setelah yakin aku tidak akan muntah lagi. Hendra mengangkatku dan membaringkan aku kembali di tempat tidur. Dia menutupi tubuhku dengan selimut lalu memeriksa kening juga leherku.
“Kamu tidak demam. Aku ambilkan makanan, ya.” Dia membelai pipiku.
“Aku mau tidur lagi,” kataku tanpa membuka mataku.
__ADS_1
“Tapi perutmu akan sakit kalau kamu tidak makan sesuatu.” Dia mencium keningku. Aku tidak menjawabnya. “Aku segera kembali.”
Setengah memaksa diri, aku memakan sepotong roti dan segelas teh hangat yang dibawakannya. Tidak lama kemudian, seorang pria masuk ke dalam kamar. Aku mengenalnya. Dokter keluarga kami. Dia mengajukan beberapa pertanyaan saat memeriksa keadaanku. Aku berusaha menjawab sejujurnya. Aku mengerutkan kening saat dia bertanya kapan terakhir kali aku datang bulan.
“Bagaimana keadaannya, Dok? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Hendra khawatir. Dia duduk di sisiku sambil terus memegang tanganku.
“Zahara baik-baik saja. Selamat untuk kalian berdua. Kalian akan segera menjadi ayah dan ibu,” ucap dokter itu dengan wajah bahagia. Aku menatapnya tidak percaya.
“Aku akan beri obat pengurang rasa mual. Tapi akan lebih baik kalau kamu mencari makanan yang tidak membuat istrimu mual. Ini hanya untuk keadaan darurat. Kalau memungkinkan, segera bawa Zahara ke dokter kandungan. Kamu pasti ingin tahu apakah janinnya sehat ‘kan?” Dokter itu memberikan secarik kertas kepada Hendra.
Aku menyentuh perutku. Ada yang tumbuh di dalam tubuhku. Aku dan Hendra akan mempunyai seorang anak. Menurut dokter tersebut, usia kandunganku lima minggu berdasarkan tanggal haid terakhir. Namun untuk memastikannya, aku perlu memeriksakan diri ke dokter kandungan.
Hendra meminta Yuyun untuk mengantar dokter kami ke depan. Dia duduk di tepi tempat tidur. Lalu meraih tanganku. Dia mencium punggung tanganku penuh cinta. Aku tersenyum. Dengan tanganku yang bebas, aku membelai wajahnya.
“Terima kasih, sayang,” ucapnya terharu. Dia melepas tanganku lalu memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya.
“Papa dan mama kita pasti bahagia,” ucapku pelan.
“Aku tidak mau memberitahu mereka sampai waktunya aman.” Aku merasakan dia mencium rambutku. Aku mengangguk setuju. “Aku mencintaimu, Za.” Aku memejamkan mata, mengernyit mendengar kalimat itu. Pelukannya semakin erat ketika aku tidak mengucapkan apa pun untuk membalas ungkapan perasaannya tersebut.
__ADS_1