Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 86 - Wanita di Sekitarku


__ADS_3

...~Author's Note~...


Hai, teman-teman.


Hahahaha .... Padahal belum dua hari. Baiklah. Aku publikasi dua bab untuk malam ini, ya. Mari, kita intip kehidupan Hendra dan Zahara setelah sendiri lagi. Berbeda dengan season satu yang naskahnya ditulis sejak 14 Desember 2016, maka season dua ini baru terpikirkan pada tanggal 4 April 2019. Masih kerangka karena pada tahun itu aku hiatus. Itulah sebabnya aku butuh libur juga untuk mengerjakan naskah penuhnya.


Tanpa panjang lebar lagi, selamat membaca. Bab selanjutnya akan aku up setelah bab ini lulus review agar tidak menumpuk dalam sistem.


Meina H.


...*******...


~Hendra~


Mencintai seseorang itu sangatlah berisiko. Aku sudah belajar banyak dalam hal itu. Apalagi mencintai seseorang yang tidak mencintaiku.


Selalu ada rasa takut dan khawatir setiap kali aku berada jauh darinya. Apakah dia akan tetap setia kepadaku? Apakah tidak ada laki-laki lain yang mencoba untuk merebutnya dariku? Apakah pria yang dia cintai akan kembali dan membawanya pergi dariku? Ada banyak hal yang aku khawatirkan.


Seandainya saja dia memiliki perasaan yang sama denganku, rasa takut dan khawatir ini tidak akan menghantuiku. Aku akan merasa tenang di mana dia berada karena aku tahu bahwa hatinya hanya untukku. Sayangnya, dia tidak mencintaiku.


Segalanya telah aku lakukan untuk menarik perhatiannya, untuk membuatnya jatuh cinta kepadaku. Tidak ada satu pun yang berhasil. Enam tahun bersama dan dia masih sama dinginnya kepadaku seperti pada hari pertama kami menjadi suami istri. Tidak ada cinta, empati, ataupun perhatian khusus darinya untukku.


Lalu datanglah hari yang selalu aku khawatirkan. Dia jatuh dalam pelukan laki-laki lain. Bukan laki-laki biasa, melainkan mantannya yang sangat dicintainya. Aku hancur dan nyaris mengakhiri hidupku sendiri saat mendapat kabar itu.


Aku berusaha untuk bertahan. Namun aku tidak bisa. Bayangan dia dan laki-laki itu saling menikmati malam bersama tidak bisa aku tepis dari kepalaku. Kenyataan bahwa selama ini aku sudah memaksa seorang wanita untuk hidup bersama pria yang tidak dia cintai, menamparku dengan keras. Maka aku putuskan untuk melepas dia.


Tidak ada drama saat aku menunjukkan surat cerai itu kepadanya. Dia tidak hadir dalam setiap jadwal persidangan. Semuanya berjalan dengan cepat. Tanpa aku sadari, dia sudah bukan milikku lagi. Kami telah resmi bercerai.

__ADS_1


Aku adalah pria yang kejam dan tidak berperasaan, aku tahu itu. Istriku baru saja melahirkan anak kami, aku malah meninggalkannya. Tetapi aku ingin memberi apa yang selama ini dia impikan. Dia bisa kembali kepada pujaannya secepat mungkin. Tidak perlu lagi berpura-pura betah menikah denganku. Tidak perlu berpura-pura menyukai hubungan suami istri yang selalu kami lakukan atas inisiatif dariku. Dia layak untuk bahagia.


Kesepian telah menjadi teman baikku selama hampir lima tahun kami berpisah. Sahabat baikku berusaha untuk menghibur. Rekan-rekan bisnisku mencoba untuk membuatku kembali tertawa. Aku sangat menghargai usaha mereka, tetapi mereka bukan Za. Mereka bukan orang yang aku harapkan ada di sisiku. Aku hanya mau istriku.


Berusia matang, sukses, kaya, dan lajang adalah perpaduan yang menggoda banyak wanita untuk mendekatiku. Mulai dari perempuan baik-baik yang mencoba menarik perhatianku dengan cara yang sopan hingga wanita ambisius yang menggodaku ke tempat tidur telah mencoba semua usaha terbaik mereka. Namun aku tidak tertarik.


Tidak ada wanita seperti Za yang bisa membangkitkan gairahku tanpa harus berusaha keras. Yang bisa membuatku berlutut demi mendapatkan perhatiannya. Yang membuatku rela melakukan apa saja, memberikan apa saja asal bisa membuatnya tersenyum.


Za adalah segalanya bagiku. Dari awal dia menyentuh hatiku hingga hari ini. Hingga detik ini. Ada yang mengatakan bahwa aku harus membuka diri dan hati untuk wanita lain agar bisa melupakan dia. Bukannya aku tidak bisa, aku tidak mau. Menemukan wanita seperti Za tidaklah mudah. Mendapatkan dia lebih tidak mudah lagi. Aku tidak mau menjalani proses panjang itu dari awal lagi. Cukup sudah.


Jika ada wanita lain yang bisa membuatku jatuh cinta seperti Za, atau mungkin lebih dari yang bisa dia lakukan, mungkin aku akan menikah lagi. Meskipun itu sangat mustahil.


“Pak.” Terdengar panggilan yang membuyarkan lamunanku. “Maaf, saya mengetuk pintu dari tadi tetapi Bapak tidak menyahut.”


“Tidak apa-apa. Ada apa?” Aku menegakkan posisi dudukku.


“Silakan. Sampai besok.” Aku merapikan setiap dokumen yang aku baca tadi.


“Sampai besok.” Dia masih berdiri di tempatnya semula. “Ng, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk Bapak sebelum saya pulang?”


“Tidak. Kamu bisa pulang sekarang.” Aku melihatnya sejenak. Dia menatapku dengan saksama.


“Baik. Tolong jaga diri Bapak baik-baik.” Dia akhirnya bergerak menuju pintu.


Sekretarisku jatuh cinta kepadaku. Aku sudah menyerahkan urusan itu kepada wakilku. Aku harus mencari penggantinya. Aku tidak bisa terus membiarkan ada wanita yang mengharapkan cintaku, terutama yang bekerja untukku. Dia seorang sekretaris yang telaten dan aku puas dengan cara kerjanya. Tetapi setelah beberapa kali aku beri peringatan, dia masih menyimpan perasaannya untukku. Aku terpaksa melepasnya.


Aku tahu bahwa mencintai adalah hak setiap orang. Dia berhak memiliki rasa namun tidak jika itu memengaruhi hubungan profesional kami. Aku tidak bisa lebih lama lagi mendengar gosip di sekitar kami. Juga tidak bisa terus membiarkan kolegaku mendorongku untuk mendekatinya.

__ADS_1


Satu minggu ke depan aku sengaja mengambil cuti. Dia tidak tahu. Dengan begitu, aku tidak perlu menghadapi drama di mana dia menolak untuk keluar dari pekerjaannya. Sudah cukup drama dalam hidupku yang berhubungan dengan wanita yang masih sangat aku cintai.


Orang-orang yang berpapasan denganku menyapaku dengan sopan sampai akhirnya aku masuk ke mobil. Tempat pertama yang aku datangi adalah rumah orang tuaku. Mereka mengundangku untuk makan malam di rumah mereka.


Kepala pelayan membukakan pintu rumah untukku, lalu mengantarku ke ruang duduk. Aku masuk dan segera disambut oleh Mama yang berjalan mendekatiku dengan wajah bahagia. Aku menerima pelukan dan ciumannya di pipiku. Kemudian aku melihat bukan hanya mereka yang ada di ruang duduk, ada juga dua orang wanita dan seorang pria.


“Kamu masih ingat Nora, ‘kan? Kamu bertemu dengannya di pesawat saat pergi ke London. Ibunya dan aku sama-sama akan mengadakan konser amal bulan depan. Jadi, aku mengajak mereka makan malam bersama kita.” Mama menarik tanganku agar menyapa ketiga tamu kami tersebut.


“Selamat malam.” Aku bergantian menjabat tangan mereka dan duduk, tetapi Mama mendorongku agar duduk di sisi gadis bernama Nora tersebut.


“Lihat! Apa aku bilang. Mereka berdua adalah pasangan yang serasi.” Mama menepuk tangannya dengan bahagia. Aku hanya menatapnya tanpa kata. Tetapi dia sengaja menghindari mataku.


“Aku dengar hotel yang kamu beli lima tahun yang lalu berkembang dengan pesat. Apa kamu ada rencana untuk membeli hotel lain yang diabaikan pemiliknya?” tanya pria yang namanya tidak bisa aku ingat dan aku tidak peduli.


“Tidak, Om. Aku tidak akan punya waktu untuk mengelola dua hotel sekaligus,” jawabku dengan jujur.


“Kamu bisa mengangkat seseorang untuk membantumu mengelolanya. Putriku sudah lama menjadi wakilku dan dia bekerja dengan sempurna. Kamu bisa mengangkatnya menjadi General Manager di hotel keduamu,” ucap pria itu memberi saran.


“Terima kasih atas tawarannya, Om.” Aku tidak mau bersikap tidak sopan dengan langsung menolak, tetapi juga tidak ingin memberi harapan dengan mengiyakannya.


Seorang pelayan mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa makan malam sudah siap. Mama segera mengajak kami semua menuju ruang makan. Aku berdiri dan mengikuti para orang tua yang berjalan lebih dahulu di depan kami. Langkahku terhenti merasakan sebuah tangan menahan lenganku.


“Benar, ‘kan, apa kataku? Kita pasti akan bertemu lagi. Apa kamu sekarang percaya bahwa kita berjodoh?” tanya perempuan itu ketika orang tua kami sudah keluar dari ruangan.


“Aku sudah punya jodoh,” kataku dengan tegas. Dia malah melingkarkan tangannya di lenganku.


“Kamu tidak bisa lagi membohongiku dengan alasan itu. Aku sudah tahu bahwa kamu dan istrimu sudah bercerai,” katanya dengan penuh percaya diri. Aku menarik lenganku hingga pegangannya terlepas. Mengapa para wanita ini tidak bisa mengerti juga?

__ADS_1


“Aku masih menikah dengannya dan kami tidak akan pernah bercerai.”


__ADS_2