Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 120 - Percakapan Tanpa Hasil


__ADS_3

“Abdi, ada satu hal yang perlu kalian ubah mengenai tuan di rumah ini. Aku dan Za adalah tuan dan nyonya besar. Kedua orang tuaku adalah tamu.” Hendra berdiri.


“Baik, Tuan. Maafkan saya. Tuan dan Nyonya Adhyana Perkasa datang.” Abdi meralat kalimatnya. “Mereka menunggu di ruang tamu.”


“Terima kasih banyak, Abdi.” Hendra mengulurkan tangannya kepadaku. “Ayo, kita temui mereka.” Aku menelan ludah dengan berat.


“Kamu tadi bilang, kita akan temui mereka nanti setelah kita mengabari teman-temanku. Mengapa kita bertemu dengan mereka sekarang?’ tanyaku kecut. Dia meraih tanganku dan menarikku untuk berdiri bersamanya. Jantungku berdebar dengan kencang. Kedatangan mereka sangat tiba-tiba.


“Aku tidak mengundang mereka datang. Tapi aku tahu mengapa mereka menemuiku di sini.” Dia membawaku berjalan mendekati pintu. “Kita dengar apa mau mereka. Tidak baik membiarkan orang tua menunggu kita terlalu lama.”


Kata-katanya itu sama sekali tidak menghiburku. Aku punya alasan tersendiri sehingga tidak siap untuk bertemu dengan mereka. Aku bukanlah orang yang kuat berhadapan dengan orang yang menatapku dengan penuh kebencian. Aku terbiasa dikelilingi orang yang menerimaku apa adanya. Aku tidak lagi berhubungan dengan sahabat lamaku karena alasan ini. Mereka membenciku karena memutuskan hubungan secara sepihak dengan Aldo.


Hendra membuka pintu bersamaan dengan Yuyun yang hendak keluar dari ruangan itu. Kami mempersilakan dia berjalan lebih dahulu, kemudian kami masuk. Papa dan Mama menatapku sesaat sebelum melihat ke arah suamiku. Hendra menggandengku mendekati salah satu sofa dan duduk berdampingan. Minuman hangat dan makanan ringan telah disajikan di atas meja.


“Apa ini, Hendra? Kamu sedang membuang kotoran ke muka kami?” ucap Mama dengan tajam. Aku tidak berani mengangkat wajahku mendengar nada bicaranya itu.


“Za adalah istriku, bukan kotoran, Ma,” ucap Hendra dengan tegas.


“Istri, katamu?! Kalian sudah bercerai. Dia bukan istrimu lagi. Mau sampai kapan kamu bermain-main dengan perempuan murahan ini?” ucap Mama sengit.


“Mama tidak datang ke sini untuk menghina Za atau menyinggung perceraian kami. Ada apa?” tanya Hendra tidak berbasa-basi lagi.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan semalam kepada Nora adalah hal yang tidak pantas. Dia sudah memesan tempat dan merencanakan acara makan malam tersebut dengan baik dan kamu pulang begitu saja? Aku tidak pernah mengajarimu bersikap sekasar itu kepada seorang wanita,” ucap Mama dengan nada marah. “Dia harus menanggung malu di depan pelayan restoran tersebut karena kamu.”


“Mama mengundangku makan bersama Papa. Aku tidak mendengar Mama menyebut bahwa wanita itu akan ada di sana. Lalu di mana letak kesalahanku yang menolak makan dengan orang yang sama sekali tidak punya janji denganku?” Hendra segera mengangkat tangannya ketika Mama membuka mulut ingin membalas ucapannya.


“Mama sudah aku beritahu bahwa aku tidak tertarik kepadanya dan tidak akan membuka hubungan dalam bentuk apa pun dengannya. Tidak hubungan profesional maupun asmara. Jangan salahkan sikapku kepadanya jika Mama masih terus berusaha mendekatkan kami.”


“Apa kurangnya dia? Dia adalah wanita dari kalangan atas, berpendidikan tinggi, dan sedang berada pada puncak kariernya. Sebagai putri tunggal, dia akan mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Kamu tidak hanya mewarisi seluruh kekayaan keluarga kita tetapi juga akan menjadi pemimpin atas seluruh hotel milik mereka kelak. Aku memilih calon yang sempurna untukmu,” kata Mama.


“Aku tidak mencintainya, Ma,” jawab Hendra.


“Beri kesempatan kepadanya. Kamu akan terkejut betapa sempurnanya dia untukmu. Pada saat itu, kamu pasti akan jatuh cinta kepadanya.” Mama berusaha untuk meyakinkan Hendra.


“Sejak aku berumur sembilan belas tahun, hanya ada satu wanita dalam hidupku. Apa yang bisa wanita itu lakukan untuk membuatku jatuh cinta kepadanya sekarang? Lima tahun berpisah tidak bisa membuat Za keluar dari kepalaku. Maaf, Ma. Aku tidak akan jatuh cinta kepada wanita lain.” Hendra melingkarkan tangannya di bahuku.


“Hadi dan Dira adalah anak-anakku, penerus Papa dan Mama,” ujar Hendra.


“Perempuan tidak bermoral ini telah membesarkannya, Hadi sudah bukan lagi keturunan murni kita. Dia pasti tumbuh menjadi anak yang suka membuat onar. Dan Dira, dia bukanlah putrimu. Dia sudah tidur dengan laki-laki lain dan mengaku-ngaku bahwa dia adalah putrimu. Buka matamu, Nak. Mau sampai kapan kamu membiarkan cinta membutakan matamu?


“Dia menggunakan anak-anaknya untuk menjeratmu agar kamu mau kembali lagi kepadanya. Lihat, apa yang sudah dia lakukan. Dia membuatmu menentang kami, orang tuamu sendiri. Kamu tidak pernah mengabaikan apalagi sampai mematikan ponselmu saat kami menghubungimu,” ucap Mama.


“Mama, maksudku, Tante.” Aku tidak bisa tidak membela anak-anakku. Mereka adalah anak yang baik yang tidak tercela moral dan etikanya.

__ADS_1


“Jangan menyela. Tidak ada yang membutuhkan pendapatmu.” Mama menatapku dengan tajam. “Aku sudah tahu bahwa perempuan berwajah cantik dan bertubuh bagus dari kalangan bawah pasti tidak punya moral. Harusnya aku tidak membiarkan putraku menikah denganmu.”


“Silakan bila Tante ingin menghinaku. Tetapi jangan mengatakan hal yang buruk mengenai anak-anakku sebelum melihat sendiri anak seperti apa mereka. Akulah yang tidak bermoral, bukan Hadi atau Dira. Aku memang bukan dari kalangan atas, namun aku tidak sebejat itu.” Aku membela diri.


“Aku sudah bilang, jangan menyela. Tidak ada yang memintamu untuk bicara,” ujar Mama setengah menghardikku. Hendra menyentuh tanganku agar aku tidak meresponsi Mama lagi.


“Ma,” ucap Hendra menengahi. “Aku tidak akan menoleransi sikap Mama lebih dari ini. Tolong, hormati istriku. Mama berada di tempat di mana dialah nyonya rumahnya.”


“Nyonya rumah, katamu? Dia bukan istrimu lagi, Hendra. Apa kamu pikir dengan tidur bersamanya kapan saja kamu mau, dia lantas menjadi istrimu lagi?” Mama menatapku dengan sinis.


“Kamu sudah mengatakan semua yang ingin kamu sampaikan. Ayo, kita pulang, sayang,” ucap Papa sebelum Hendra membalas ucapan mamanya itu. Mama segera menepis tangan Papa.


“Jangan pernah berharap bahwa aku akan mengizinkan kalian kembali bersama. Kamu harus memilih, Hendra. Dia atau kami. Bila kamu tidak kembali ke apartemenmu pada hari Senin nanti, maka jangan datang lagi untuk bekerja di perusahaan ayahmu,” ujar Mama mengancam.


“Sebentar, sayang. Kamu tidak bisa membawa-bawa urusan pribadi dalam urusan pekerjaan. Aku tidak akan bisa mendapatkan ganti wakilku secepat itu,” kata Papa dengan serius. “Hendra memegang peranan penting dalam perusahaanku. Aku tidak percaya kepada siapa pun untuk menggantikannya duduk pada posisi itu.”


Mama menatap Papa tidak percaya. “Kita sudah sepakat mengenai ini.”


“Bukan itu kesepakatan kita. Memutuskan komunikasi untuk sementara, oke. Tetapi tidak dengan memecatnya. Hendra akan tetap bekerja sebagai wakilku,” kata Papa dengan tegas. Wajah Mama berubah sedih. “Bisakah kita berhenti bertengkar dengan putra kita sendiri?”


“Apa setelah melihat mereka bersama, kamu sekarang berpihak kepada mereka? Kamu tidak peduli lagi pada reputasi keluarga kita? Kamu lebih suka kita menjadi bahan olok-olokan orang?” kata Mama tidak percaya. “Aku akan menjadi bahan tertawaan jika teman-temanku sampai tahu bahwa istri anakku adalah seorang perempuan murahan.”

__ADS_1


“Baik. Aku sudah cukup mendengar Mama menghina istriku. Tolong, pulanglah. Papa dan Mama bisa datang kembali bila Papa dan Mama sudah siap untuk menghargai istriku.” Hendra berdiri dan berjalan mendekati pintu.


“Ka-kamu mengusir orang tuamu sendiri demi perempuan ini?” tanya Mama terkejut.


__ADS_2