Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 84 - Memberi Harapan


__ADS_3

~Hendra~


Aku masuk ke apartemen, lalu segera menutup pintunya. Hanya pada saat itu aku membiarkan benteng pertahananku rubuh. Aku bersandar pada pintu dan jatuh terduduk. Berakhir sudah. Apa yang telah aku perjuangkan selama ini harus aku lepaskan. Za tidak mencintaiku.


Entah bagaimana aku akan bisa bertahan menjalani hidupku ke depan, tetapi aku tidak bisa lagi bersikap egois dan memaksanya tetap menikah denganku. Aku sudah memiliki Hadi dan memenuhi kewajibanku kepada Papa dan Mama. Keluarga kami sudah memiliki seorang penerus. Kini Za bisa hidup bebas bersama orang yang dia cintai.


Dada kiriku begitu sakit seolah ada yang meremasnya begitu kuat. Aku berusaha untuk mengatur napasku yang kian sesak. Oh, Za. Mengapa aku masih mencintaimu setelah pengkhianatan itu? Mengapa aku tidak bisa membencimu? Aku tidak kuat menanggung ini lagi. Semua akan lebih mudah seandainya saja aku bisa mengeluarkanmu dari kepalaku.


“Apa Bapak tidak salah melakukan ini? Ketika kita sudah mengajukannya ke pengadilan, kita tidak bisa mundur lagi.” tanya Oscar. Kami sedang berdiskusi di ruang kerjaku.


“Hancurkan surat perjanjian yang kamu simpan. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Aku sadar bahwa istriku berhak untuk memutuskan segalanya sendiri. Memaksanya melakukan apa yang aku mau tidak membuat pernikahan kami bahagia.” Aku memberikan dokumen yang sudah Za tanda tangani. “Dan aku sudah yakin untuk bercerai dengannya.”


Dia menatapku sesaat. Kemudian dia mendesah pelan. “Saya akan membawa semua dokumen ini ke pengadilan. Saya berharap Bapak benar-benar sudah yakin dengan keputusan ini.”


Mendiskusikan rencana perceraian, menandatangani surat permohonan cerai, dan merobek surat perjanjian kami adalah hal yang mudah. Yang paling sulit adalah membicarakan hal ini dengan Za dan mendapatkan tanda tangannya. Tetapi yang aku takutkan tidak terjadi. Dia tidak memberiku kesulitan apa pun. Bahkan dia menandatangani dokumen tanpa banyak bertanya. Seolah-olah hal ini sudah lama dinantikannya.


“Seharusnya Kakak mengatakannya kepadaku.” Beberapa saat setelah Oscar keluar, Zach dengan lancangnya masuk ke ruang kerjaku.


“Aku tidak ingin membahas apa pun denganmu. Keluar,” kataku dengan tegas.


“Jadi, itu sebabnya Kakak berpura-pura keluar kota padahal sedang tinggal di apartemen barumu? Karena Kak Ara tidur dengan Aldo?” tanyanya.

__ADS_1


“Zach, ini masih jam kerja,” kataku mengingatkannya.


“Mengapa Kakak tidak segera tinggalkan dia pada detik Kakak tahu bahwa dia selingkuh?” tanya Zach tidak mengerti. Aku menatapnya tidak percaya. “Mengapa Kakak memberi harapan seolah-olah Kakak memaafkannya lalu menceraikannya begitu saja? Apa yang sebenarnya Kakak rencanakan?”


“Lalu aku harus bagaimana? Meninggalkan dia saat dia sedang mengandung putraku? Aku tidak bisa hanya memikirkan diriku sendiri. Aku juga harus memikirkan keselamatan Za dan putra kami. Bila dia dalam keadaan tertekan dan sedih, dia bisa keguguran. Kami menunggu selama enam tahun, Zach. Enam tahun untuk bertemu dengan putra kami!” seruku. Dia merapatkan bibirnya.


“Terserah kamu mau memikirkan apa tentang tindakanku itu. Aku hanya memikirkan yang terbaik bagi kami bertiga. Hadi sudah lahir dengan selamat, jadi ini saat yang tepat untuk berpisah.” Aku kembali duduk dan memijat kepalaku yang mendadak sakit.


“Waktu yang tepat untuk berpisah? Apa Kakak tidak berkaca? Lihat dirimu. Keadaanmu malah lebih buruk daripada saat kamu mengetahui bahwa dia berselingkuh.” Zach duduk di salah satu sofa. “Jika berpisah terasa lebih menyakitkan, mengapa Kakak tidak mencoba lagi? Mengapa kalian tidak saling bicara dan mencari solusi bersama? Jangan bercerai.”


“Dia tidak mencintaiku. Untuk apa lagi aku bertahan? Biar saja dia hidup bersama kekasihnya itu. Mereka sudah sama-sama sendiri. Aku tidak akan menjadi penghalang lagi.” Aku mengepalkan tanganku menahan rasa sakit membayangkan mereka bersama.


“Kak Ara tidak mencintaimu? Tapi sikapnya selama ini ….” Zach menggumam sendiri.


“Surat perjanjian?” tanya Zach tidak mengerti. “Tapi sikap Kak Ara kepadamu ….”


“Sudahlah, Zach. Apa pun yang akan kamu katakan, sudah tidak ada gunanya lagi. Aku tidak akan mundur. Sebelum Oscar menegurmu, sebaiknya kamu segera kembali ke ruang kerjamu.” Aku berdiri dan berjalan menuju mejaku.


Zach benar. Segalanya justru lebih sulit aku jalani dibandingkan ketika aku masih bersamanya. Aku bagaikan mayat hidup yang tetap melakukan rutinitas tetapi kehilangan seluruh inderaku. Aku tidak lagi merasakan emosi apa pun, juga tidak bisa bersimpati kepada orang lain.


Hal itu semakin buruk saat persidangan demi persidangan yang aku hadiri, aku tidak bertemu dengannya satu kali pun. Aku berharap setidaknya aku bisa melihatnya beberapa kali sebelum kami benar-benar berpisah. Tetapi tidak. Dia membiarkan proses perceraian berjalan lebih cepat tanpa kehadirannya. Apakah dia begitu ingin berpisah dariku? Tidakkah dia ingin menahanku tetap berada di sisinya? Atau hatinya memang benar masih untuk kekasihnya itu?

__ADS_1


“Aku tidak percaya kamu melakukan itu,” protes Mama yang memintaku datang ke rumah. Aku sudah tahu bahwa dia akan memarahiku atas keputusanku. “Dia selingkuh dan pihak yang salah dalam pernikahan kalian. Seharusnya kamu menuntut hak asuh sepenuhnya atas anak itu.”


“Hadi masih tujuh bulan, Ma. Dia tidak membutuhkan aku tetapi mamanya.”


“Kita bisa mencarikan ibu susu untuknya. Ada banyak pengasuh bayi terbaik yang bisa merawatnya jauh lebih baik daripada wanita murahan itu.”


“Za masih istriku, aku tidak mau mendengar mamaku sendiri menghinanya. Dia memang telah melakukan kesalahan tetapi bukan berarti Mama bisa terus merendahkannya,” kataku dengan tegas. “Dan aku sudah bilang tidak mengenai ibu susu atau pengasuh.”


“Bila kamu tidak mau melakukannya, maka aku yang akan melakukannya sendiri. Hadi adalah milik keluarga kita, bukan keluarga mereka.”


“Mama sentuh Hadi satu helai rambut saja, aku akan memutuskan hubungan dengan kalian.”


“Demi Tuhan, Hadi adalah cucuku!” Mama meninggikan intonasi suaranya.


“Cucu yang kehadirannya pernah Mama ragukan.” Aku mengingatkannya kembali mengenai tuduhan jahatnya. Mertuaku segera percaya bahwa Hadi adalah cucu mereka saat Za menjawab keraguan mereka. Sebaliknya, orang tuaku sendiri tidak percaya pada kata-kataku dan lebih percaya pada secarik kertas. Mereka sudah kehilangan hak mereka atasnya pada hari itu.


“Dia tidur dengan laki-laki lain. Mengapa aku tidak boleh meragukannya?” tanya Mama penuh protes. Pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya.


“Aku tidak mau membahas ini lagi. Aku adalah ayah Hadi, maka aku yang memutuskan siapa yang boleh dan tidak boleh menyentuh putraku. Biarkan Za yang membesarkannya,” kataku dengan tegas. “Jangan temui mereka jika kalian hanya ingin menyakiti Za atau memisahkannya dari putra kami. Dia masih menyusui dan aku tidak mau putraku kekurangan nutrisi karena ibunya dalam keadaan sakit.”


Aku berdiri dan mengancingkan setelanku kembali. “Kalian hanya boleh menemuinya bila kalian berjanji akan bersikap baik kepada mereka berdua.”

__ADS_1


“Aku lebih baik mati daripada bersikap baik kepada perempuan tukang selingkuh itu,” ucap Mama dengan kesal. Aku tidak menggubrisnya lagi dan keluar dari ruangan itu.


Pada hari sidang putusan, Za juga tidak datang. Aku hanya menatap kursi kosong di sisiku. Tentu saja hakim mengabulkan permohonan ceraiku. Istriku kini bebas menjalani hidupnya dan memilih pria yang ingin dinikahinya. Enam tahun sudah cukup bagiku. Kenangan indah kami bersama, meskipun palsu, cukup untuk menguatkan aku menjalani sisa hidupku yang tanpa dia lagi.


__ADS_2