Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 226 - Tetap di Sisinya


__ADS_3

Aku tidak pernah berurusan dengan penyelidikan diam-diam yang sudah menjadi keahlian Hendra. Dia selalu tahu apa yang harus diperiksa lebih dahulu, siapa yang harus diawasi, dan sebagainya. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Kalau begini, bagaimana aku bisa tahu siapa orang yang berada di balik kecelakaan itu?


Berita mengenai kecelakaan tersebut memenuhi berbagai media, baik elektronik maupun daring. Aku sangat bersyukur tidak ada yang menyebut-nyebut tentang nama rumah sakit di mana suamiku berada. Tetapi ini hanya sementara. Aku yakin besok wartawan akan mengetahuinya. Mereka tinggal mengikuti siapa pun yang keluar dari rumah kami secara diam-diam yang pasti akan datang ke sini.


Sesampainya kami di rumah, aku dan anak-anak makan dalam diam. Dira tidak mengerti mengapa kami terlihat sedih, jadi dia memanggil aku dan Hadi dengan wajah bahagia. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaan papanya kepadanya.


Dira bisa tidur pulas, tetapi aku membutuhkan waktu lama menemani Hadi di kamarnya pada malam itu. Dia ingin ayahnya cepat pulang dan bersama kami lagi. Aku menjanjikan bahwa papanya pasti akan pulang, tetapi kapan tepatnya tergantung kepada keinginannya sendiri untuk sembuh.


Semoga saja cintanya kepadaku cukup besar untuk memberinya dorongan segera pulih kembali.


Begitu berada di kamar, aku segera membuka tablet dan membaca beberapa artikel mengenai cedera di kepala. Aku sedikit gentar saat mengetahui bahwa pendarahan itu bisa membuat dia mengalami kelumpuhan atau kehilangan salah satu dari panca indranya.


Artikel lain bahkan menyebutkan bahwa pemulihan dari pendarahan di otak bisa memakan waktu lama, tergantung kondisi pasien. Bahkan ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa pulih seperti sedia kala. Oh, Tuhan. Bagaimana ini?


Tidak. Aku tidak boleh merasa takut begini. Hendra masih bisa bertahan hidup dan selamat dari meja operasi adalah hal yang aku harapkan. Bila dia harus mengalami kelumpuhan dan kehilangan salah satu fungsi tubuhnya, aku akan tetap berada di sisinya. Lagi pula belum saatnya memikirkan hal yang buruk. Aku harus memikirkan hal-hal yang positif seperti yang disarankan oleh dokter.


Kami semua berkumpul di depan ruang ICU pada Minggu sore itu, menunggu Hendra membuka matanya. Aku berada di sisinya saat dia membuka matanya pertama kali, tetapi dia kembali tidur. Kata dokter, itu bukan hal yang perlu aku khawatirkan.


Alat bantu pernapasan dan pendeteksi jantungnya sudah dilepas karena dia sudah bisa bernapas sendiri dan detak jantungnya sudah normal. Dokter hanya perlu tahu kondisinya saat dia dalam keadaan sadar sepenuhnya untuk bisa memutuskan apakah akan memindahkannya ke ruang rawat atau tetap berada di ICU.


“Bagaimana keadaanmu, Kafin?” tanyaku saat dia dan istrinya datang. Aku berdiri dan menyambut mereka berdua.

__ADS_1


“Kepala saya masih sakit, tetapi obat membantu mengurangi nyerinya, Nyonya. Istri saya membantu menurunkan demam saya semalam. Saya sudah baik-baik saja sekarang,” ucap Kafin.


“Mengapa kalian datang ke sini? Seharusnya kamu istirahat saja di rumah selama kamu belum sembuh,” kataku khawatir.


“Dia justru semakin sakit karena mengkhawatirkan Tuan, Nyonya,” jawab istrinya. “Ini adalah sikap terbaik suami saya. Saat di rumah tadi dia terus saja mengkhawatirkan Tuan Besar.”


“Terima kasih, Kafin. Duduklah. Kita tunggu dia bangun.” Aku bergeser agar dia dan istrinya bisa menuju kursi yang masih kosong.


Papa dan Gista terlihat sedang bicara dengan serius di salah satu sudut, tidak jauh dari tempatku duduk. Mereka pasti sedang mendiskusikan keadaan perusahaan. Untuk sementara, Hendra tidak akan bisa bekerja dan itu artinya ada kekosongan pada posisi tertinggi. Aku yakin Papa akan menggantikan putranya untuk sementara waktu.


Kekhawatiran aku berikutnya adalah Mama. Bila Papa kembali bekerja, maka tidak ada yang bisa mendampingi Mama di rumah. Dia juga masih dalam tahap pemulihan. Apalagi Mama perlu memeriksakan diri beberapa hari lagi untuk tahu apa tubuhnya masih bersih dari kanker.


Seorang suster keluar dari ruang ICU, dan memberitahu kami bahwa Hendra sudah sadar dan semua kondisi motoriknya baik. Jadi, dia dipindah ke ruang rawat inap. Dia meminta kami untuk ikut dengannya. Kami semua serentak mendesah lega.


Papa menggendong Dira, sedangkan aku menggandeng tangan Hadi. Kami berjalan bersama menuju kamar di mana suamiku berada. Aku sudah tidak sabar untuk memeluk dan menciumnya lagi. Ah, tidak. Dokter tidak akan mengizinkan aku melakukan itu. Mulut adalah tempat singgahnya banyak kuman, aku tidak bisa menciumnya hari ini.


“Ini masih permulaan, Zahara,” kata Papa. “Kamu sudah lihat bagaimana kondisi ibu mertuamu setelah operasi. Hal yang sama juga akan kamu alami bersama Nak Hendra. Cedera otak itu bukan penyakit ringan, kita belum tahu berapa lama yang dia butuhkan untuk pulih kembali. Kamu harus bersabar terhadapnya.”


“Iya, Pa,” kataku menurut. Aku sudah membaca beberapa artikel mengenai hal itu, jadi, suka atau tidak aku harus siap dengan hal yang akan kami jalani untuk membantu mempercepat pemulihannya.


Suster berhenti di depan sebuah pintu, lalu meminta hanya dua orang saja yang boleh masuk. Mereka semua melihat ke arah aku. Aku berlutut dan berbicara kepada Hadi. Dia akan mendapat giliran untuk melihat ayahnya nanti. Tetapi yang pertama masuk adalah aku dan neneknya. Dia mengangguk menurut.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah ibu mertuaku yang melihat aku dengan mata berkaca-kaca. Papa membisikkan sesuatu kepadanya, lalu Mama menarik napas panjang. Mama mengangguk ke arah Papa sebelum mendekati aku. Suster membukakan pintu dan kami masuk ke ruangan tersebut.


Kamar itu sangat bersih dan sinar yang masuk tidak terlalu menyilaukan. Ranjang berada di sebelah kiri ruangan dengan nakas dan lemari kecil berjajar di kedua sisinya. Di hadapan kami ada jendela dengan sofa tiga dudukan berada di bawahnya. Di sebelah kanan ruangan ada bufet, televisi berlayar datar, dan sebuah pintu yang aku yakin menuju kamar mandi.


Hendra sedang berbaring dengan mata tertutup. Apakah dia tidur lagi? Aku melihat cairan infus masih ada di sebelah kiri ranjangnya. Sepertinya dia belum makan atau belum mau makan. Aku dan Mama mendekati tepi ranjang tersebut.


Wajah suamiku kini terlihat sedikit lebih baik. Luka bekas goresan pecahan kaca di wajahnya tidak memerah lagi, lebamnya juga tidak berwarna kehitaman lagi. Mama hanya menatapnya saja, maka aku yang memulai lebih dahulu. Aku menyentuh tangannya. Telapak tangannya terasa hangat.


“Sayang, apa kamu mendengarkan kami?” tanyaku pelan. Kedua kelopak matanya bergerak. Tidak lama kemudian, matanya terbuka. Dia melihat ke langit-langit dengan kening berkerut. Sepertinya dia berusaha untuk mengenali keadaan di sekitarnya.


“Hendra ….” Mama memberanikan diri dengan menyentuh tangannya juga. Putranya itu menoleh ke arahnya. “Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kamu masih merasakan sakit? Apa kamu ingin makan sesuatu? Zahara membawa beberapa makanan kesukaanmu yang dimasak oleh Fahri.” Dia hanya diam. Aku dan Mama saling bertukar pandang.


“Sayang, kami tidak bisa lama-lama berada di sini. Ada banyak orang yang menunggu giliran mereka untuk bisa bertemu denganmu. Kita akan bicara panjang lebar nanti.” Aku mendekatkan punggung tangannya ke pipiku. “Terima kasih sudah bangun dan kembali kepadaku.”


Dia perlahan menoleh ke arahku dan aku tidak bisa memaknai pandangan matanya itu. Aku tidak melihat ada emosi di sana. Tidak ada tatapan cinta, rindu, atau kekaguman yang selalu aku lihat di matanya. Dia menatapku dengan dingin.


“Kamu bisa turunkan tanganku sekarang,” katanya setengah menggeram. Aku tertegun sejenak. “Apa hak kamu menyentuh aku seperti ini? Dan mengapa kalian bisa berada di kamar ini? Aku tidak mengizinkan kalian masuk. Apa kalian ini penipu? Hendra, Zahara, Fahri, siapa itu semua …?”


“Sayang, ini aku, Zahara. Aku adalah istrimu. Dan kamu adalah Hendra. Suamiku.” Aku melihat ke arah Mama. “Dan ini adalah Tante Naava. Mama kandung kamu.”


“Istri? Aku tidak punya istri. Kamu bukanlah istriku.” Dia menatapku dengan jijik, kemudian menoleh ke arah Mama. “Dan dia bukanlah ibuku. Kalian berdua bisa lepaskan tanganku sekarang.” Mama terisak. Apa ini? Mengapa dia berkata bahwa dia tidak punya istri dan Mama bukanlah ibunya?

__ADS_1


__ADS_2