Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 189 - Harga Diri


__ADS_3

Aku menatap wanita itu tidak percaya. Dia tidak menepati janjinya untuk mendampingi Mama, tetapi dia bisa datang ke tempat ini untuk protes kepada suamiku? Dilihat dari penampilannya, dia pasti datang ke sini tanpa sempat berganti pakaian usai dari berlibur.


“Apa kamu tidak salah bicara?” ucap suamiku dengan nada serius. “Ketika polisi melakukan penangkapan, maka alat dan barang bukti yang ada di tangan mereka valid sehingga surat perintah penangkapan diterbitkan. Tidak semua orang hobi berbohong seperti kamu.” Hendra mengajak aku untuk melanjutkan langkah kami.


“Aku tidak hobi berbohong!” protesnya dengan keras. Dia kembali berdiri di hadapan kami, menghalangi kami pergi. “Ikut denganku ke kantor polisi sekarang!”


Saat kilat lampu menyilaukan mataku, aku menoleh. Ada beberapa orang memegang kamera foto dan video berdiri di belakang Nora. Melihat petugas keamanan yang kewalahan menghadapi mereka, sepertinya mereka berhasil masuk melalui pintu depan setelah menembus para petugas sekuriti. Mereka pasti datang untuk wanita ini.


Mereka yang memegang mikrofon dengan berbagai label media berlomba mengajukan pertanyaan kepada Nora dan Hendra. Apa hubungannya kasus korupsi yang menjerat ayah Nora dengan suamiku? Ada-ada saja. Mereka bahkan tidak pernah melakukan kerja sama dalam bentuk apa pun.


“Ayo, sayang. Kita pergi lewat jalan lain.” Hendra melingkarkan tangannya di bahuku dan kami membalikkan badan.


“Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Kamu harus bertanggung jawab, Hendra!” Wanita itu dengan lancangnya memegang lengan suamiku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku segera memegang erat pergelangan tangannya agar dia melepaskan genggamannya.


“Apa kamu sama sekali tidak punya harga diri? Kalau kamu begitu khawatir dengan keadaan ayahmu, temui dia di kantor polisi. Suamiku tidak ada hubungannya dengan dia.” Aku menjauhkan tangannya dari suamiku. Dia malah mendorong tubuhku. Aku segera menahan tubuh Hendra saat dia bergerak maju ingin memberi wanita itu pelajaran. Terlalu banyak kamera di dekat kami.


“Dia bukan suamimu! Kalian sudah bercerai! Merayakan ulang tahun pernikahan tidak membuat kalian menjadi sah sebagai suami istri. Kamu yang sudah tidak punya harga diri! Kamu hidup bersama seorang pria tanpa ikatan pernikahan.” Itu lagi. Itu lagi. Apa tidak ada kebohongan lain yang bisa dia sebarkan mengenai pernikahan kami?


“Ini rumah sakit, Bu. Berhenti membuat keributan.” Dua orang petugas keamanan datang dan memegang tangan Nora. Mereka membawanya keluar, menjauh dari kami.


“Lepaskan aku! Urusanku dengan mereka belum selesai!” Nora memberontak ingin lepas dari pegangan mereka. Tetapi dia kalah kuat. Kami segera pergi begitu perhatian wartawan tertuju kepadanya. Aku bersyukur melihat Kafin menjemput kami melalui pintu samping.


Nora yang semula bergelut dengan petugas keamanan, kini terlihat berusaha lepas dari kerumunan wartawan. Seharusnya dia belajar dari pengalaman kami. Bersembunyi untuk sementara waktu dan menjauh dari tempat di mana wartawan bisa mengetahui keberadaan kami. Bertindak gegabah hanya akan membuat dia menjadi bulan-bulanan awak media.

__ADS_1


Sampai di pekarangan rumah, aku tertegun melihat mobil teman-temanku dan suami mereka terparkir dengan rapi. Ada urusan apa mereka datang ke sini? Aku tidak ingat kami ada janji pada hari ini. Bukankah Claudia dan Mason baru akan kembali ke Amerika besok?


“Mereka pasti sudah mendengar berita hari ini dan ingin merayakannya bersama kita,” tebak Hendra. Masuk akal. Kami menuju ruang depan dan mereka segera bersorak menyambut kami.


“Oh, Zahara! Aku senang sekali semua ini sudah berakhir!” Claudia mendekat lalu memeluk aku sambil melompat-lompat di tempat. “Kalian sudah bebas dari semua pengganggu!”


“Setelah apa yang terjadi, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk mengusik ketenangan hidup kalian lagi.” Qiana bergantian memeluk aku.


“Putriku baru kembali dari rumah sakit. Mereka pasti kelelahan. Biarkan mereka duduk, minum, baru boleh bicara,” kata Mama yang diterjemahkan oleh Lindsey agar Claudia bisa memahaminya. Mereka semua tertawa mendengarnya.


Aku dan Hendra duduk. Dira segera meminta untuk dipangku papanya, sedangkan Ara yang sudah semakin besar meletakkan kepalanya di pahaku. Teman-teman bergantian menceritakan perasaan mereka saat mendengar kabar yang mengejutkan pagi tadi. Kami sengaja tidak memberitahu hasil penyelidikan Irwan kepada sahabatku. Mereka pasti akan mendengarnya juga dari berita.


Saat mereka sudah tenang, aku memberitahu mengenai rahasia besar yang aku terima dari Annora. Ruangan yang semula riuh itu berubah hening. Hanya terdengar suara Hadi dan Colin yang sedang bermain dengan balok-balok LEGO tidak jauh dari kami.


“Kalian yakin dengan berita ini?” tanya Darla tidak percaya. Aku dan Hendra mengangguk.


“Apa maksud kamu dengan menyebarnya fakta itu nanti?” Lindsey menatap aku dan Hendra secara bergantian. “Apa kalian berencana memberitahukan media mengenai rahasia mereka?”


Aku dan suamiku bertukar pandang, lalu tertawa kecil. “Tidak. Annora yang akan melakukannya. Kami tidak tahu bagaimana dia akan membongkar rahasia ini.”


“Ini fakta yang sangat mengejutkan. Pantas saja dia suka sekali membuat orang mempertanyakan legalitas Hadi dan Dira. Perempuan jahat,” ucap Qiana geram. “Tetapi mengapa tidak ada yang tahu tentang hal ini? Aku tidak pernah mendengar bahwa putri Pak Nelson adalah anak angkat.”


Aku menjawab pertanyaan itu sesingkat dan sejelas mungkin. Mereka segera menarik napas terkejut. Tanggapan mereka selanjutnya bervariasi. Ada yang merasa kasihan, ada yang bahagia, ada yang tidak peduli. Mereka kemudian mempertanyakan bagaimana hidupnya dan ibunya nanti karena ayahnya sedang terjerat kasus korupsi.

__ADS_1


“Kalian dari tadi membicarakan orang lain, ada yang kabarnya lebih penting untuk kita ketahui,” kata Mama melerai kami semua. Seluruh perhatian spontan tertuju kepadanya. “Apa kabar Naava? Apa operasinya tadi berjalan lancar?”


“Ah, iya. Bagaimana dengan ibu mertuamu, Zahara?” tanya Claudia.


“Operasinya berjalan dengan lancar. Kondisi Mama baik dan dokter mengatakan bahwa operasinya berhasil. Mama akan berada di rumah sakit selama tiga hari untuk mengamati perkembangannya,” jawabku. Mereka semua terlihat lega.


“Apakah kami boleh datang untuk menjenguknya besok?” tanya Qiana.


“Tentu saja. Mama akan senang melihat ada yang mengunjunginya.”


“Bagaimana perasaannya nanti saat tahu mengenai rahasia Nora? Aku tidak bisa membayangkan rasa kecewanya.” Darla menggeleng pelan. Dia melihat ke arahku. “Bagaimana reaksi Nora tadi saat mengetahui ayahnya ditahan polisi?”


“Dia tidak datang untuk menginap bersama Mama di rumah sakit kemarin,” ucapku menjelaskan.


“Apa?!” tanya mereka serentak. Aku sampai kaget.


Mendengar bahwa Nora tidak datang memenuhi janjinya, Mama mengajak kami semua untuk tidak menunda makan malam. Aku perlu beristirahat lebih awal dari biasanya karena aku akan sangat repot pada keesokan hari. Aku tidak mengerti apa yang Mama maksudkan, tetapi kami semua menurut. Kebetulan Will datang, jadi dia bisa ikut makan bersama kami.


Setelah makan malam, mereka pun pamit pulang. Aku dan Hendra membantu anak-anak untuk bersiap tidur. Mereka kelelahan setelah seharian bermain bersama kakek dan nenek mereka, juga Colin. Tidur lebih cepat dari biasanya itu tidak mudah, jadi aku dan suamiku duduk mengobrol menunggu sampai kantuk datang.


“Sayang, apa kamu sudah tahu mengenai rencana Annora terhadap Nora?” tanyaku pelan. Aku ingat bahwa dia mencegah aku untuk melarang sahabat kami membalas perbuatan wanita itu.


“Tidak. Tetapi aku tahu bahwa ketika Ann sudah memutuskan sesuatu, tidak akan ada yang bisa menghentikan niatnya. Aku hanya menyelamatkan kamu dari membuang-buang energi berdebat dengannya,” katanya santai. “Kamu terlalu naif, sayang. Jika Nora yang ada di posisimu, dia tidak akan ragu-ragu menggunakan semua senjata untuk menyerangmu. Seharusnya kamu juga begitu.”

__ADS_1


“Aku bukan Nora, jadi aku tidak akan menggunakan cara yang sama seperti dia.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku.


“Kita tidak menggunakan cara yang sama, sayang. Ann tidak menyerang balik dengan cara yang Nora lakukan. Dia suka memutarbalikkan fakta, Ann justru membongkar kebohongan mereka dengan menunjukkan fakta yang sebenarnya.”


__ADS_2