
Saat teman-teman pulang, aku tidak punya hal lain yang bisa aku lakukan. Hendra melarang aku melihat keadaan di mana acara akan diadakan. Aku hanya diizinkan mengambil gaun dan bersantai. Sudah ada yang mengurus jalannya acara. Padahal aku penasaran ingin melihat dekorasi yang mereka pilih dan detail lainnya.
Dan aku butuh pengalihan pikiran agar tidak terus menunggu kabar mengenai Mama. Sudah empat hari berlalu sejak pertemuan terakhir kami. Mama belum juga memberi kabar tanggal operasinya. Apa Nora menepati janjinya dan membawa Mama berobat?
“Hendra, hentikan.” Aku merasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku agar aku membuka mata. Apa tidak bisa satu hari saja aku berlibur dari joging?
“Bangun, Putri Tidur. Ada hal penting yang perlu aku katakan kepadamu.” Dia mencium pipiku. Aku berbaring menjauh darinya. Dia malah tertawa. “Kamu benar-benar tidak mau tahu hal penting apa yang akan aku katakan?”
“Kamu hanya menggoda aku supaya aku bangun dan joging bersamamu.” Aku tetap tidak mau membuka mata. Kasur bergerak dan aku merasakan dia berada di belakangku.
“Aku tidak membicarakan tentang joging. Aku punya kejutan untukmu,” bisiknya. Kejutan? Aku segera membuka mata dan menoleh ke arahnya.
“Kejutan apa?” tanyaku penuh harap.
“Duduklah.” Aku menurut. Dia turun dari tempat tidur, kemudian mengangkat sesuatu dari lantai. Sebuah meja kecil dengan berbagai makanan, minuman, dan vas bunga dengan setangkai mawar merah. “Selamat ulang tahun, sayang.” Oh, Tuhan. Aku lupa.
“Terima kasih!” Aku mencium pipinya. Berbagai makanan kesukaanku ada di piring tersebut. Menu yang sama seperti yang dia pilih saat aku berulang tahun yang ketiga puluh. Ulang tahun terakhir yang aku rayakan bersamanya. Aku tidak menahan diri ketika air mata membasahi pipiku.
“Hei, mengapa kamu menangis? Ini hari bahagia.” Dia mengusap pipiku.
“Maafkan aku. Aku hanya teringat dengan enam ulang tahunku yang aku lewatkan begitu saja tanpa kamu,” isakku. Dia memeluk aku.
“Mulai hari ini, aku tidak akan melewatkan apa pun lagi. Kamu mau selingkuh berapa kali pun, aku tidak akan meninggalkan kamu.” Aku memukul lengannya.
“Aku tidak akan mengkhianati kamu. Yang terjadi dahulu itu adalah kesalahan,” ucapku kesal. Dia kembali tertawa.
__ADS_1
“Ya, sudah. Cukup marah dan menangisnya.” Dia melepaskan pelukannya, lalu mengambil sesuatu lagi di lantai. “Kamu nikmati camilan tidak sehat itu, aku akan menyantap makananku.” Aku tertawa mendengarnya. Dia duduk di sisiku, lalu kami makan bersama.
Hendra meletakkan kedua meja kecil itu kembali ke lantai saat kami selesai makan. Lalu dia mengangkat sebuah kardus dan meletakkannya di atas tempat tidur. Aku menatapnya dengan bingung. Kotak itu tidak besar, tetapi dia tidak pernah memberi aku kado berupa barang yang membutuhkan tempat sebesar itu.
“Bukalah.” Dia tersenyum penuh arti. Aku menurut. Aku membuka bagian atas kotak dan melihat ada beberapa kotak beludru berbagai ukuran di dalamnya.
“Sayang? Ini …,” kataku tidak percaya.
“Aku tidak pernah melewatkan satu ulang tahun pun tanpa membeli kado untukmu. Kita sudah kembali bersama, maka aku memberikan semua kado itu kepadamu.” Dia mengeluarkan satu kotak dan memberikannya kepadaku. “Yang terbaik hanya untuk kamu.”
Berlian adalah batu kelahiranku, jadi dia selalu memberiku perhiasan dengan batu permata itu sebagai hiasannya. Ada kalung, gelang, anting, bahkan satu set perhiasan yang ada di dalam kotak-kotak beludru tersebut. Padahal aku sudah punya banyak koleksi perhiasan bertatahkan berlian di kotak penyimpananku.
“Kamu hanya membuang-buang uangmu, apa kamu tahu itu? Aku sudah punya banyak perhiasan dan tidak semuanya pernah aku pakai.” Aku memasukkan setiap kotak itu ke dalam kardus.
“Tidak. Ini semua adalah hadiah. Aku tidak akan menjualnya.” Aku mendekat dan memeluknya. “Terima kasih, sayang.”
“Karena kamu sudah kenyang dan suasana hatimu sedang baik, saatnya untuk joging.” Dia menarik aku untuk turun dari tempat tidur. Aku mengerang penuh protes. Ini jebakan! Aku semakin kesal melihat dia tertawa terbahak-bahak.
Para sahabatku datang setelah Hendra dan Hadi berangkat dari rumah. Mereka mengajak aku untuk menerima perawatan di sebuah pusat kecantikan. Aku sudah lama tidak merasakan ringannya kepalaku setelah dipijat, tubuhku yang mendapat perhatian lebih, bahkan kuku tangan dan kakiku juga menjadi bersih berkilau.
Aku tidak sendirian di dalam ruangan. Mereka juga mendapatkan perawatan rambut, tubuh, dan kulit sama seperti aku. Pusat kecantikan itu juga menyediakan makan siang untuk kami saat mereka juga beristirahat untuk makan. Sayangnya, kami harus makan makanan yang sehat. Claudia memasang wajah tidak suka melihat porsi selada lebih banyak daripada daging panggang.
Kami kemudian menuju butik dan memilih beberapa gaun, sepatu, juga tas. Mereka meminta aku mencoba salah satu dress yang indah berwarna merah marun. Roknya hanya sebatas lututku. Saat mereka meminta aku memakai sepatu berwarna emas, aku tahu bahwa aku tidak akan diizinkan melepas pakaian dan sepatu tersebut.
Pantas saja rambutku diberi spiral dan wajahku dirias minimalis, ternyata mereka sudah punya rencana sendiri. Hendra akan senang melihat penampilanku ini, tetapi apa gunanya melihat matanya yang kelaparan itu bila kami tidak bisa bercinta? Puasa yang menyebalkan.
__ADS_1
“Menyenangkan rasanya bisa menghabiskan waktu bersama kalian!” ucap Claudia senang. “Iya, ‘kan, Dira? Kamu juga senang hari ini, sayang?” Dira yang memakai baju versi mini dari dress yang aku kenakan hanya tertawa bahagia.
“Ini berlebihan, teman-teman. Kita berpakaian dan berdandan seperti ini hanya untuk makan bersama di rumahku?” tanyaku tidak percaya.
“Besok adalah hari besar. Anggap saja kita sedang bersiap-siap untuk acara itu.” Qiana menepuk tangannya dengan bahagia. Sikap mereka aneh sekali hari ini. Aku yang akan merayakan hari jadiku besok, mereka yang terlihat paling bahagia.
Abdi menyambut kami di depan pintu dan memberitahu bahwa Hendra dan Hadi sudah menunggu kepulanganku. Dia mengajak kami menuju pintu teras samping. Aku menatapnya dengan bingung. Ruang makan ada di sebelah, mengapa kami malah menuju teras yang lampunya bahkan tidak dinyalakan? Ke mana suami dan putraku?
“Selamat ulang tahun!!” seru orang-orang yang berada di kebun samping setelah Abdi menyalakan lampunya. Aku sampai meletakkan tangan di dadaku karena terkejut. Lalu setelah menyadari apa yang terjadi, dan alasan dari penampilanku dan teman-teman malam ini, aku tertawa bahagia.
Ada sebuah meja panjang diatur di kebun tersebut. Berbagai makanan, minuman, bahkan piring beserta alat makannya ditata dengan rapi. Tentu saja mereka tidak lupa meletakkan beberapa vas berisi bunga mawar sebagai penyempurnanya.
Pada bagian atas meja dipasang lampu-lampu untuk menerangi kebun, juga ada lampu kecil melingkari setiap tonggak untuk menahan tenda yang melindungi meja andai hujan turun. Indah sekali! Pantas saja teman-teman membawaku keluar dari rumah seharian ini. Ternyata mereka menyiapkan semua ini untukku.
Sebagian besar orang yang ada di hadapanku telah aku kenal dengan baik, tetapi ada dari mereka yang tidak aku kenal sama sekali. Mungkin mereka adalah kenalan Hendra. Papa, Mama, Zach dan keluarganya, Gista, para tetangga, dan beberapa orang terdekat kami yang lain.
Suamiku berdiri di sisiku saat kue dibawa ke hadapanku dan mereka meminta aku untuk meniup seluruh lilin dan mengucapkan harapanku. Aku hanya ingin keluargaku bahagia. Setelah seluruh lilin padam, Hendra mengajak aku untuk duduk.
“Kamu cantik sekali, sayang.” Dia mencium pelipisku. Aku berterima kasih.
Tiba-tiba saja aku ditarik dari samping kiri dan tangan kananku yang ada dalam genggaman Hendra terlepas. Tangan kiriku itu disilangkan di depan dadaku, punggungku bertemu dengan sesuatu yang keras, dan sebuah napas yang memburu berada di dekat telinga kananku.
“Za!” seru Hendra panik. Dia berhenti ketika melihat sesuatu di dekatku. Orang-orang di depanku memasang ekspresi ketakutan, bahkan Papa dan Mama juga.
Menyadari seseorang telah memisahkan aku dari suamiku, aku memberontak melepaskan diri. “Jangan bergerak atau leher cantikmu ini akan terputus dari badanmu.” Seseorang menggeram di telingaku. Tubuhku seketika membeku.
__ADS_1