
“Tidak boleh sampai ada kesalahan, Oscar.” Untuk terakhir kalinya, aku mengingatkan pengacaraku mengenai persiapan kami dalam menghadapi pertemuan penting pada esok hari.
“Semuanya sudah beres, Pak. Bukti-bukti pembelaan Bapak sudah ada di tangan saya,” jawab pria itu dengan penuh keyakinan.
“Dan juga di tanganku.” Zach menyentuh tas kerjanya. “Aku tidak pernah melihat Kakak sehati-hati ini sebelumnya. Tenang saja, Kakak punya tim hukum yang hebat di perusahaan ini. Sherry salah memilih lawan.”
“Kalau kamu melakukan tugasmu dengan baik, dia tidak akan membawa perkara ini sampai ke ranah publik. Dia sudah menginjak-injak nama baikku dengan menyebut bahwa aku memecatnya tanpa alasan yang jelas.” Aku tidak menutupi rasa kecewaku pada kelalaian mereka.
“Andai Kakak belum tahu, wanita yang sedang jatuh cinta akan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan miliknya kembali. Sherry tergila-gila kepadamu, Kak. Aku sampai bertanya-tanya, apa yang sudah Kakak lakukan kepadanya sampai dia cinta mati begitu?” Zach menatapku dengan curiga.
“Lakukan saja tugas kalian. Aku baru saja berbaikan dengan istriku, jadi jangan sampai ada satu hal pun yang membuatku kehilangan dia lagi.” Aku menatap mereka berdua dengan serius.
“Tidak ada yang membuatmu kehilangan dia, Kak. Kakak sendiri yang melepaskannya dan tidak peduli dengan saranku.” Zach masih saja berani membuka mulutnya. Aku menatapnya dengan tajam. Dia melirik jam tangannya dengan santai. “Istriku pasti menunggu kepulanganku. Aku tidak ingin membuatnya terjaga lebih lama demi bayi kedua kami. Sampai besok pagi.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adik iparku. Oscar hanya tertawa dan ikut berdiri dari tempat duduknya. Kami keluar dari ruang kerjaku. Tiba di lantai bawah, mereka menuju tempat parkir, sedangkan aku berjalan menuju pintu depan di mana Kafin telah menunggu.
Hadi dan Dira sudah tidur nyenyak, jadi aku hanya bisa memberi mereka ciuman selamat malam. Za juga sudah pulas di ranjang kami. Aku bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu mencium dan memeluknya meluapkan rasa rinduku. Dia tidak terbangun sama sekali. Dasar aku yang sedang apes. Kapan dia berpura-pura, kapan dia benar-benar tidur ketika aku diam-diam berbaring di sini bersamanya?
__ADS_1
Pada pagi harinya, aku bergegas ke kantor untuk melakukan pemeriksaan terakhir bersama Oscar dan Zach. Lalu kami berangkat bersama menuju Disnaker. Setelah perjuangan panjang Kafin melalui kemacetan ibu kota pada pagi hari, kami tiba di tujuan.
Lautan wartawan sudah menunggu di pintu masuk utama, maka kami masuk lewat pintu belakang. Pegawai yang sudah dikenal Oscar menyambut kami dan membawa kami ke ruang pertemuan. Ada dua orang pria di dalam ruangan itu. Sang penuntut dan tim hukumnya belum tiba. Masih ada waktu beberapa menit sebelum jam yang dijanjikan.
Kami berterima kasih saat makanan dan minuman disajikan di atas meja di hadapan kami. Beberapa menit telah berlalu, Zach menunjukkan tabletnya kepadaku. Sebuah berita dari salah satu stasiun televisi menunjukkan Sherry sedang bicara dengan wartawan yang ada di pintu depan tadi. Jadi, dia sengaja membuang-buang waktuku dengan membuatku menunggu di sini? Baik.
Orang yang ditunggu akhirnya datang, tiga pegawai yang diutus dinas sama sekali tidak terlihat terganggu dengan keterlambatannya tersebut. Sherry menatapku dengan angkuh, begitu juga dengan penasihat hukum yang datang bersamanya.
Wanita itu dipersilakan untuk menyampaikan perkaranya terlebih dahulu. Penasihat hukumnya menyampaikan setiap hal dengan detail. Dan Zach benar. Mereka sengaja mengabaikan satu poin penting yang ada pada surat kontrak kerja yang menyebabkan Sherry dipecat.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada klien kami, Mahendra Satya Perkasa dari Satya Perkasa Grup, selaku pihak yang dituduh telah melakukan pelanggaran hukum dalam pemecatan secara sepihak kepada mantan sekretarisnya, Sherry Diana Putri.” Oscar memulai pembelaannya begitu pegawai Disnaker mempersilakan pihak kami untuk bicara.
“Poin pertama bisa dilihat pada pasal dua puluh ayat sebelas. Karyawan dilarang keras untuk memiliki perasaan pribadi kepada pemberi kerja yang dapat mengganggu profesionalitas keduanya di tempat kerja. Dalam hal ini, karyawan sudah beberapa kali menyatakan perasaan asmaranya kepada pemberi kerja meskipun sudah dilarang secara lisan.”
“Poin kedua, silakan dibaca pada pasal dua puluh ayat dua belas. Karyawan dilarang keras untuk memberikan perhatian, ucapan, dan sentuhan yang tidak sewajarnya kepada pemberi kerja. Menurut kesaksian klien kami, mantan sekretarisnya telah dua kali mencoba untuk menempatkan klien kami pada posisi yang tidak nyaman.”
“Sebentar, itu tidak benar.” Sherry segera membantah. Bagus. Dia membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi kami. “Itu hanya alasan yang dibuat-buat. Benar, saya ada perasaan tertentu kepada Pak Hendra tetapi itu tidak mengganggu profesionalitas saya sebagai sekretarisnya. Lagi pula Pak Hendra adalah seorang duda. Wajar jika saya tertarik kepadanya.
__ADS_1
“Saya bisa membuktikan bahwa saya tidak pernah lalai mengerjakan tugas-tugas saya. Mengenai tuduhan kedua, saya tidak pernah berbuat yang tidak senonoh kepada Pak Hendra. Apa buktinya? Saya selalu memperlakukan beliau dengan hormat,” katanya dengan tegas.
“Apa Ibu sudah selesai?” tanya Zach. Sherry terlihat kesal, tetapi dia tidak bicara lagi. Adik iparku melihat ke arah ketiga pegawai yang menjadi penonton drama tidak penting ini. “Apa kami boleh menayangkan video sebagai bukti yang menguatkan pernyataan kami?”
“Silakan,” jawab pria yang duduk di tengah. Dia menoleh dan mengangguk ke arah pria yang sepertinya berpangkat lebih rendah darinya.
Pria yang berdiri di dekat pintu itu mendekati Zach, menerima sebuah CD darinya, lalu memasukkan piringan itu ke laptop yang telah terhubung ke proyektor LCD. Dia memberikan sebuah benda kecil kepada Zach. Dengan satu tombol saja, adik iparku memainkan video yang tampil di layar putih di depan kami semua.
Hanya kepala bagian IT, Oscar, dan Zach yang mengetahui bahwa ruang kerjaku dilengkapi dengan tiga CCTV tersembunyi yang bisa merekam sudut tidak terjangkau sekalipun. Semua orang hanya mengetahui satu CCTV yang memang sengaja diletakkan di tempat yang terbuka.
Semua orang menatap terkejut melihat rekaman video tersebut. Hanya kami bertiga yang bersikap biasa karena sudah mengetahuinya. Zach sengaja mempercepat video di kala perlu agar Sherry tidak terlalu malu ketika bagian tubuh pribadinya terekspos di layar.
“Kemudian ini adalah bukti yang menunjukkan bahwa perasaan khususnya kepada klien kami telah memengaruhi profesionalitasnya sebagai sekretaris.” Oscar memberikan kopian dokumen kepada pria tadi agar dibagikan kepada semua orang. “Ini adalah dua perjanjian penting yang dibatalkan secara sepihak oleh rekan bisnis klien saya karena mantan sekretarisnya terlambat mengirim balasan melalui surel atau tidak melakukan pemberitahuan melalui telepon.”
Dengan semua bukti itu, Sherry maupun penasihat hukumnya tidak punya sanggahan apa pun lagi. Pria itu bahkan keluar ruangan lebih dahulu dan tidak mendampingi kliennya lagi. Aku dinyatakan bebas dari segala tuduhan. Sherry tidak bisa kabur sebelum memberikan pernyataan kepada pers yang sudah haus informasi di pintu depan. Zach dan Oscar setengah menyeretnya menemui mereka.
Langkahku terasa begitu ringan saat keluar dari mobil menuju pintu depan rumah. Abdi membuka pintu dan anak-anak serta anjing kesayanganku menyambut kepulanganku. Tetapi wanita yang aku harap-harapkan akan memberiku sebuah ciuman justru tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
“Mama di mana?” tanyaku kepada anak-anak. Mereka segera menarik tanganku menuju ruang keluarga. Dan di sanalah dia berada. Dia menoleh dan memberiku tatapan yang menusuk. Aku menelan ludah dengan berat. Mengapa dia terlihat marah? Bukan amarah biasa, dia marah besar. Kesalahan apa yang sudah aku lakukan?