Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 66 - Tidak Pergi Jauh


__ADS_3

~Hendra~


Hatiku hancur melihat istriku menangis tersedu-sedu di lantai. Tetapi aku tidak berbohong. Aku sangat membencinya pada saat ini. Aku tidak akan berkata manis kepadanya hanya untuk membuat dia merasa senang. Karena aku membencinya setiap kali melihatnya. Matanya, bibirnya, tangannya, seluruh yang ada di tubuhnya telah diberikannya kepada pria lain.


Apa yang ada pada pria itu yang tidak aku miliki? Bagaimana bisa istriku masih mencintainya setelah bertahun-tahun terpisah darinya? Mengapa aku yang ada di depan matanya tidak bisa menyentuh hatinya sama sekali?


Untuk menghindari pertengkaran tidak penting yang hanya akan menyakiti kami berdua, aku pergi. Kali ini aku tidak pergi keluar kota. Aku baru saja membeli sebuah apartemen dan ini saat yang tepat untuk tinggal di sana untuk sementara waktu. Tetapi tidak ada yang tahu.


Aku menyelesaikan semua pekerjaan lewat laptop dan ponsel. Setiap dokumen yang membutuhkan tanda tanganku hanya aku bubuhi tanda tangan digital. Untuk dokumen kerja sama, aku menunggu sampai aku selesai mengasingkan diri untuk menandatanganinya secara langsung.


Ponselku bergetar, aku melirik layarnya. “Ada apa?” tanyaku kepada si penelepon.


“Bapak sudah susah payah mendapatkan kerja sama ini, mengapa dokumennya tidak ditandatangani secepatnya, Pak? Bagaimana kalau mereka memutuskan untuk membatalkan kerja sama ini?” tanya Sherry dengan nada khawatir.


“Tidak masalah. Aku akan tanda tangani nanti saat aku kembali.”


“Tapi, Pak,” katanya lagi.


“Jangan hubungi aku untuk membahas hal tidak penting. Kamu hanya perlu mengurus masalah administrasi. Urusan perusahaan adalah urusanku.”


“Tapi Pak Adhyana bisa marah besar jika kita kehilangan proyek ini, Pak,” desaknya lagi. Aku yang akan dimarahi Papa bila terjadi kesalahan, mengapa dia yang ketakutan?

__ADS_1


“Aku akhiri teleponnya.” Aku menjauhkan ponsel dari telingaku dan menyentuh simbol telepon berwarna merah. Tidak ada yang bisa mengatur bagaimana aku menangani pekerjaanku. Apalagi dia hanya seorang sekretaris.


Begitu jam kerja usai, aku mematikan laptop. Suasana di luar masih cerah, maka aku memutuskan untuk keluar setelah berhari-hari mengurung diri di apartemen. Ada banyak mal, restoran, kafe, juga gedung perkantoran di sekitar gedung apartemen. Aku belum lapar, jadi aku memilih memasuki sebuah kafe yang cukup ramai.


Setelah menerima pesananku, aku memilih salah satu dari deretan kursi pada meja yang menghadap jendela. Aku menikmati secangkir kopi dengan roti isi sambil melihat keramaian lalu lintas sepulang kerja. Rutinitas yang untungnya tidak perlu aku hadapi selama beberapa hari terakhir.


Serombongan pegawai mendekati pintu masuk, salah satu dari mereka menarik perhatianku. Aku tidak tahu mengapa dia menatapku terus. Ketika aku bertemu pandang dengannya, aku mengerti. Vivaldo. Mengapa dia selalu ada di mana aku berada?


“Sendiri?” Tentu saja dia tidak akan membiarkan aku melakukan apa yang aku mau tanpa diganggu olehnya. “Bukankah orang penting seperti kamu biasanya ada pertemuan dengan teman bisnis usai jam kerja begini?” Aku hanya diam.


Dia duduk di kursi kosong di sisiku. “Bila aku jadi kamu, aku pasti lebih memilih pulang ke rumah dan memanjakan istri cantikku. Apa kamu sudah bosan dengannya karena itu kamu lebih memilih minum kopi sambil melamun di sini?” Aku masih diam.


“Satu kata lagi, kamu akan menyesal pernah bertemu denganku hari ini.” Aku menunggu dan benar, dia akhirnya diam.


“Kamu pikir aku takut kepadamu? Aku bukan orang yang sama lagi, Mahendra. Aku tidak akan tinggal diam lagi melihat kamu merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.” Dia berdiri dan pergi entah ke mana, aku tidak peduli. Tidak takut denganku, katanya? Tantangannya aku terima.


Aku sudah mengumpulkan semua bukti korupsi dan penyelewengan dana yang dilakukannya bersama atasannya itu. Mudah saja bagiku untuk melaporkannya, tetapi aku menunggu saat yang tepat. Dan aku akan memberinya kesempatan untuk berubah. Tidak lagi mengganggu istriku dan tidak lagi bermain-main dengan uang yang bukan haknya.


Perutku sudah lapar, maka aku berjalan menuju restoran terdekat. Aku mulai merindukan makanan rumah. Masakan Fahri memang tidak lebih enak dari koki di rumah orang tuaku, tetapi lidahku sudah terbiasa dengan makanan yang dibuatnya.


Meja bergetar, aku melihat ke arah ponselku. Ada pesan masuk. Aku memeriksanya dan terkejut melihat ada satu pesan dari Za. Dia menceritakan apa yang dilakukannya seharian ini. Dia bertemu dengan teman-temannya dan ada satu berita yang mengejutkan dari Qiana yang tidak bisa dia ceritakan lewat pesan. Biasanya aku akan meneleponnya untuk menjawab rasa penasaranku. Tetapi aku meletakkan ponsel itu dan tidak peduli dengan berita apa pun itu.

__ADS_1


“Kak Hendra?” Sebuah suara yang sudah sangat aku kenal menyapaku. Aku menoleh dan melihat Zach serta Rasmi berdiri di dekat mejaku. Entah mengapa hari ini dunia serasa begitu kecil bagiku.


“Mengapa Kakak bisa ada di sini?” Zach melihat ke sekeliling kami dengan bingung.


“Sayang, aku ke toilet sebentar. Tidak tahan lagi. Aku pergi sebentar, Kak,” pamit Rasmi yang segera memberikan tasnya kepada Zach lalu bergegas menuju bagian belakang restoran.


Zach melihat ke arah Rasmi sampai gadis itu berada cukup jauh lalu duduk di kursi di depanku. Aku sudah tahu apa yang akan dia tanyakan. “Kata Kak Ara, Kakak ada pekerjaan di luar kota. Mengapa Kakak malah ada di sini?”


“Kamu tahu bahwa aku tidak pernah mau membahas kehidupan pribadiku dengan siapa pun, ‘kan?” kataku menghindar untuk menjawab pertanyaan itu. Dia menatapku sesaat.


“Ada apa? Apa yang Kak Ara lakukan yang sudah membuat Kakak jadi mengesalkan begini? Kakak tidak pernah sewot saat bicara denganku,” tanyanya penuh selidik.


“Jangan gunakan teknik interogasimu kepadaku. Aku bukan klienmu,” tolakku. Dia memutar bola matanya menganggap ucapanku itu konyol.


“Aku adalah kuasa hukum perusahaanmu. Jadi, iya, Kakak adalah klienku,” katanya mengingatkan.


“Aku punya hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu itu.” Aku bersikeras. Kali ini dia menatapku dengan saksama.


“Kakakku memang bodoh. Kesalahan apa lagi yang dilakukannya?” Dia mengusap-usap keningnya. Aku hanya diam dan melanjutkan makanku. Masalah di antara aku dan istriku cukup kami berdua saja yang tahu. Orang lain tidak akan mengerti.


Pada hari Minggu itu, aku kembali ke rumah setelah pergi selama dua minggu. Istriku menyambutku seperti biasanya tetapi sedikit berbeda. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Dadaku terasa nyeri melihatnya. Za, apakah kamu benar-benar senang melihatku pulang atau kamu hanya berpura-pura bahagia hidup denganku karena surat perjanjian itu?

__ADS_1


__ADS_2