
~Za~
Aku bangun pagi dengan perasaan yang sangat aneh. Mengapa aku selalu merasa bahwa semalam aku tidak tidur sendiri? Sisi tempat tidur di sebelahku terasa dingin. Apakah aku mulai berhalusinasi? Bila berbaring bersama Hendra di ranjang ini hanyalah mimpi, mengapa rasanya begitu nyata?
“Mama, Mama!” Pintu kamarku segera terbuka dan anak-anak masuk dengan wajah bahagia. Mereka selalu bangun lebih cepat dariku. Mirip seperti papa mereka. Aku selalu saja menjadi orang terakhir yang bangun di antara kami bertiga.
“Kamu bisa mandi sendiri, Hadi. Mengapa masih membangunkan mama begini?” Aku menguap pelan sambil turun dari tempat tidur. Dira mengulurkan kedua tangannya minta digendong. Aku menurutinya. Dia tertawa saat aku menjepit pipi montoknya dengan gemas dengan bibirku.
“Mandikan, Ma. Aku janji, besok aku akan mandi sendiri.” Dia menarik-narik tanganku menuju kamar mandi. Yuyun berdiri di ambang pintu kamar. Aku menyerahkan putriku kepadanya, lalu menuju kamar mandi bersama putraku.
Setelah Hadi selesai mandi, aku mandi bersama Dira. Yuyun membantuku dengan membawa Hadi ke kamarnya agar dia mengenakan seragam sekolahnya. Meskipun mereka masih kecil, aku tidak pernah memandikan mereka bersama.
Mereka sarapan dengan lahap, kemudian aku dan Dira mengantar Hadi sampai teras depan rumah. Aku selalu berpesan kepada Liando agar berhati-hati saat menyetir. Waktuku hari ini tidak banyak, tetapi aku menyempatkan untuk menulis pada blogku.
Aku menambah satu tema lagi pada blogku mengenai anak-anak. Aku berbagi kepada para pembaca mengenai pengetahuan yang aku dapatkan selama membesarkan anak-anak sejak mereka baru lahir. Aku sama sekali tidak berbagi foto mereka, hanya pengalamanku saja. Hendra bisa protes bila dia sampai tahu bahwa aku menyebarkan foto kedua anak kami.
Bosan bermain sendiri di lantai, Dira mendatangiku dan meminta untuk duduk di pangkuanku. Aku menurutinya. Dia memeluk bonekanya sambil melihat apa yang aku ketik pada layar laptopku. Tidak lama kemudian dia tertidur. Aku mencium rambutnya dan melihat ke arah pintu yang terbuka.
__ADS_1
Yuyun masuk, lalu mengambil putriku dari pelukanku. Aku punya waktu dua jam sampai dia terbangun nanti dan kakaknya pulang sekolah. Tetapi hari ini akan berbeda dengan hari biasanya. Aku punya kejutan untuk putraku.
Aku sudah berada di kamarnya saat Dira terbangun. Dia segera meminta dipeluk melihat aku duduk di tepi tempat tidurnya. “Dira mau ikut menjemput Kakak di sekolah?” tanyaku pelan.
“Mau!” jawabnya cepat dengan wajah berbinar-binar.
“Kalau begitu, ganti pakaian dan ikut Bu Yuyun, ya. Mama tidak ikut, jadi kamu harus bersikap baik. Apa kamu bisa bersikap baik, sayang?”
“Bisa. Ganti baju.” Dia menunjuk ke arah ruang pakaiannya dengan tidak sabar. Dia sayang sekali kepada kakaknya sehingga setiap kali bisa menghabiskan waktu bersamanya, dia langsung senang.
Dia ingin mengenakan salah satu dress, maka aku menuruti permintaannya. Aku menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak akan ikut. Semula dia bingung dan berniat membatalkan ikut bersama Yuyun untuk menjemput Hadi. Namun setelah aku coba untuk membujuknya, dia akhirnya bersedia pergi tanpa aku.
“Kami menunggu lama sekali. Dira pasti tidak mau pergi tanpa mamanya.” Dia menggeleng pelan. Aku memeluk dan mencium kedua pipinya. “Aku sudah bilang, kamu keluar bersama mereka, biar kami yang mengurus semuanya. Kamu selalu saja keras kepala.”
“Aku tidak akan membiarkan kalian repot sendiri. Ini adalah acara anakku,” kataku bersikeras.
“Kamu sudah tahu dia tidak akan mau mendengarkanmu, kamu masih saja nekat menasihatinya,” kata Qiana yang bergantian memeluk dan menciumku. “Oh. Charlotte sayang!” Dia mendekati Lindsey yang mendekat sambil menggendong cucunya.
__ADS_1
“Jangan pasang wajah itu, Zahara. Sudah cukup. Aku tidak mau menangis lagi.” Lindsey menatapku dengan tajam.
Bagaimana aku tidak bersimpati kepadanya? Putra, menantu, dan cucu pertamanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Charlotte saat itu masih bayi, jadi dia ditinggal di rumah dan Lindsey yang menjaganya. Kondisi jasad putra dan menantunya sangat mengenaskan, tetapi putri mereka tidak diketahui ke mana rimbanya. Dua tahun berlalu setelah kecelakaan maut tersebut, Lindsey dan Edu sepakat untuk menghentikan pencarian. Clarissa akhirnya dianggap telah meninggal dunia.
Claudia nyaris gila karena kehilangan putri satu-satunya. Mason membalaskan rasa sakitnya dengan menuntut sopir bus yang menabrak mobil putri mereka dengan hukuman maksimal. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang mereka rasakan saat kehilangan tiga orang terkasih sekaligus.
Hadi dan Clarissa sangat dekat. Kami benar-benar berharap bisa mempererat hubungan kami lewat pernikahan mereka. Ketika Clarissa tidak pernah datang lagi ke rumah atau tidak ada lagi di rumah Lindsey setiap kali kami berkunjung, dia terus mencarinya. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaan itu kepadanya. Jadi, aku selalu berkata bahwa Clarissa hanya pergi sebentar dan mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti. Barulah dia merasa tenang.
Aku dan Claudia tidak berniat mendekatkan Hadi dengan Charlotte. Kami membebaskan mereka untuk menentukan pasangan mereka sendiri. Dia dan Mason terlalu berduka sehingga mereka tidak yakin akan bisa membantu membesarkan Charlotte. Karena itu hak asuhnya diberikan sepenuhnya kepada Lindsey dan Edu.
Seumur hidupku, aku tidak pernah menyaksikan beberapa orang terdekatku mengalami patah hati pada waktu yang bersamaan. Lindsey dan Claudia adalah wanita yang kuat yang masih sanggup berdiri setelah kehilangan besar mereka. Sebagai seorang ibu, aku tidak mau membayangkannya. Aku tidak yakin aku akan sanggup kehilangan Hadi atau Dira.
“Tidak akan ada yang melarangmu untuk menangis.” Aku memeluk Lindsey yang menatapku dengan mata berair. “Aku masih sedih dengan kepergian mereka. Kamu pasti lebih sedih lagi.” Lalu aku mendengar dia terisak. Kami berpelukan bersama. Sahabatku hadir pada saat aku dalam keadaan terpuruk. Aku juga ingin hadir saat mereka dalam keadaan berduka.
“Ayo, ayo, kita tidak punya banyak waktu.” Darla yang pertama kali melonggarkan pelukannya. “Hadi dan Dira akan pulang, para tamu juga akan datang. Kita bahkan belum bersiap-siap.”
Hari ini adalah hari ulang tahun putraku yang kelima. Ulang tahun pertamanya yang ingin aku rayakan secara istimewa. Aku ingat dengan perjanjian antara aku dengan Hendra. Dia hanya memberiku waktu lima tahun untuk bersama anak-anak. Aku tidak tahu dengan Dira, tetapi andai ini adalah ulang tahun terakhir yang bisa aku rayakan bersama putraku, maka aku ingin membuatnya sangat berkesan dan tidak terlupakan.
__ADS_1
Sebagai orang yang bersalah dalam pernikahan kami, aku sadar bahwa aku tidak punya hak apa pun. Aku tidak mau memperpanjang persoalan di pengadilan karena aku tahu bahwa Hendra yang akan mendapatkan hak asuh penuh atas anak-anak kami. Sampai kapan aku harus membayar mahal atas kesalahanku di masa lalu? Apakah seumur hidupku di dunia ini?