
~Za~
Aku panik melihat Hendra mencoba untuk menghubungi Mama lagi karena panggilan pertama tidak dijawab. Aku terlalu mengkhawatirkan keadannya sampai lupa ada yang aneh saat kami tiba di rumah. Anak-anak dan Ara selalu berlari menyambut kedatangan kami. Tetapi tadi aku tidak menyadari hal itu.
Apakah kedua mobil tadi mengganggu mereka? Itukah sebabnya setelah kami menepi dan berhenti, kedua mobil itu tidak kembali untuk kami? Oh, Tuhan. Semoga Mama dan anak-anak akan baik-baik saja. Wali kota sialan. Apa yang dia inginkan dari kami?
“Aku tidak ingat nomor ponsel Aliando,” ucap Hendra kepada Abdi. Kepala pelayan kami itu segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aliando.
“Aliando, kalian ada di mana?” tanya Abdi. Aku dan Hendra segera menatapnya penuh harap. “Baik. Tolong, berhati-hatilah. Iya.”
“Bagaimana? Apa yang terjadi?” tanyaku tidak sabar saat Abdi mengakhiri hubungan telepon itu.
“Mereka akan segera tiba, Nyonya. Liando terpaksa mengambil jalan memutar agar mereka tetap berada di jalur yang ramai dengan kendaraan. Dua mobil menempeli mereka,” lapor Abdi. Sudah aku duga. Pasti kedua mobil itu yang menjadi sumber masalahnya.
Aku dan Hendra segera menuju pintu depan. Kami menunggu dengan harap-harap cemas. Ya, Tuhan. Semoga mereka baik-baik saja. Aku segera berlari menuruni tangga teras ketika gerbang terbuka dan mobilku memasuki pekarangan.
Abdi bergerak lebih dahulu membukakan pintu untuk Mama. Dia berwajah begitu pucat, lalu Abdi menolong Dira lepas dari sabuk pengaman pada kursi bayinya. Liando menolong Hadi keluar dari pintu di belakang pengemudi. Ara juga ikut melompat keluar.
“Jangan katakan apa pun,” ucap Mama saat aku memeluknya. “Anak-anak tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.” Aku mengangguk pelan. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa bersikap tenang sehingga anak-anak tidak mengetahui apa yang terjadi, tetapi aku senang mereka semua selamat.
Hadi dan Dira segera berlari mendapati papa mereka. Aku mendekati Liando. Dia mengatakan apa yang terjadi, lalu menyebut ciri-ciri mobil yang mengikutinya. Iya. Itu mobil yang sama yang tadi mengikuti kami juga.
“Istirahatlah. Terima kasih atas kesigapanmu hari ini,” ucapku senang.
Kami berkumpul dan duduk di ruang keluarga. Tetapi itu hanya sesaat karena pelatih Hendra datang dan dia harus mengikuti terapi. Aku tidak melepaskan Hadi dan Dira dari pelukanku. Mereka duduk di sisiku dan aku tidak berhenti mencium kepala mereka sampai mereka merasa risi.
“Ma, sudah. Aku mau bangun kapal besar punya Kapten Jack Sparrow.” Hadi melepaskan diri dari pelukanku, lalu turun dari sofa. Dia mengambil salah satu kotak besar berlogo LEGO pemberian papanya pada hari Natal lalu. Kapal besar itu belum juga selesai disusunnya.
“Mau mama bantu?” tanyaku menawarkan diri.
“Ngga mau. Aku mau susun semua baloknya sendiri,” tolaknya. Aku dan Mama saling bertukar pandang, lalu tertawa geli.
__ADS_1
Yuyun datang membawakan kudapan sore, maka Mama berpindah duduk di sisiku. Dira tertarik untuk ikut duduk di karpet bersama kakaknya. Maka aku menolongnya turun dari sofa agar dia bisa menikmati kue sambil memerhatikan kakaknya menyusun balok demi balok membentuk kapal.
“Siapa yang kali ini disinggung oleh putraku?” tanya Mama pelan. Aku hanya diam. “Aku tahu bahwa dua mobil yang menempel terus di mobilmu tadi adalah suruhan seseorang. Jangan sembunyikan apa pun dariku.”
“Wali kota, Ma,” jawabku pelan. Mama membulatkan matanya.
“Apa?” tanyanya tidak percaya. “Apa dia sudah gila? Ada masalah apa sampai dia melakukan itu?”
“Aku juga tidak tahu, Ma. Temannya yang melakukan penyelidikan dan menyimpulkan bahwa wali kota terlibat dalam kecelakaan yang dialami suamiku. Mungkin karena Hendra masih hidup dan keadaannya semakin baik, dia menganggap itu semakin ancaman. Lalu dia menyuruh orang untuk, entahlah, mencelakai atau menculiknya. Aku tidak tahu.”
“Oh, iya. Aku lupa. Dia sedang amnesia,” kata Mama pelan. “Jadi, kecelakaan itu adalah ulah wali kota. Adhy juga tidak akan bisa melakukan apa pun selagi pria itu masih menjabat. Beberapa pihak yang berwajib pasti akan lebih memilih berpihak kepadanya daripada kita.”
“Mengenai itu, Hendra sudah bisa mengingat semuanya, Ma. Sepertinya kedua mobil itu memicu ingatannya kembali. Katanya, dia seperti kembali pada hari kecelakaan tersebut,” kataku senang.
“Ingatannya sudah kembali? Itu bagus sekali. Ah, tetapi kamu akan menghadapi banyak kesulitan menghadapinya nanti. Dia bukan pasien yang baik.” Mama bergidik pelan.
“Mama tenang saja. Dia tidak akan bisa berkutik denganku.” Aku tersenyum penuh arti. Mama tertawa kecil. “Hari ini aku sangat bahagia. Dua hal baik terjadi pada waktu yang nyaris bersamaan. Mama kembali kepadaku, begitu juga dengan suamiku.”
“Apa, Ma?”
“Aku tahu bahwa ini adalah permintaan yang sangat egois. Tetapi aku ingin kamu memberi kami satu orang cucu lagi. Punya banyak cucu pasti akan sangat menyenangkan.” Mama menepuk tangannya.
“Mama dan anak sama saja. Hendra juga masih ingin punya anak lagi.” Aku tertawa kecil. “Kita lihat nanti, ya, Ma. Hendra masih dalam proses pemulihan dan aku tidak tahu kapan kami bisa bersama lagi, bila Mama mengerti apa maksudku.”
“Oh. Ayolah. Aku tahu kalian tidak akan bisa melepaskan satu sama lain begitu kalian berdua saja di dalam kamar malam ini. Apalagi ingatan putraku sudah kembali.” Mama tertawa geli. Wajahku memerah secara automatis.
Papa datang untuk makan malam bersama kami. Dia begitu bangga atas apa yang Mama lakukan pada hari ini. Papa yang biasanya tegar itu beberapa kali meneteskan air mata karena hubungan aku dan Mama sudah baik-baik saja.
Sebagai perayaan, Mama mengusulkan agar kami makan siang bersama pada hari Minggu di rumah orang tuaku. Tentu saja kami menyambut usul itu dengan senang hati. Papa dan mamaku akan sangat senang mengetahui hal ini nanti.
Jauh dari dugaan Mama, Hendra sudah tidur pulas saat aku masuk kamar. Aku tersenyum melihat wajah damainya. Setelah berganti pakaian, aku berbaring di sisinya. Akhirnya, aku tidak perlu tidur sendirian lagi. Suamiku sudah pulang, dan ingatannya juga sudah kembali.
__ADS_1
“Selamat malam, sayang. Aku sangat mencintaimu.” Aku mencium pipinya, lalu memeluk tubuhnya. Keluargaku sudah lengkap lagi.
Mama sangat senang saat aku memberitahu mengenai rencana makan siang bersama di rumah mereka. Kami memintanya untuk tidak repot-repot memasak makanan karena kami akan membawa dua jenis lauk-pauk, sedangkan ibu mertuaku membawa berbagai makanan pembuka dan penutup.
Saat kami tiba di rumah mereka, Mama meneteskan air mata melihat aku dan ibu mertuaku sudah akrab kembali. Kami orang dewasa berkumpul bersama dan mengobrol dengan santai, sedangkan anak-anak bermain ditemani Ara.
Tiba waktunya makan, kedua ibuku bekerja sama membereskan meja makan dibantu oleh kedua ayahku. Kami tidak diizinkan untuk membantu mereka. Saat makanan sudah disajikan, kami akan dipanggil untuk bergabung.
“Aku sudah bilang, jangan pergi ke mana pun untuk sementara waktu. Kalian berdua memang orang yang sangat keras kepala,” geram Zach, saat aku memberitahukan apa yang kami alami pada Jumat siang yang lalu. “Pria itu sedang merasa tersudut karena Kak Hendra masih hidup dan dia belum juga mendapatkan bukti yang bisa menjatuhkannya.”
“Seandainya saja aku tidak mengancamnya, tetapi saat itu aku terpaksa melakukannya. Dia mengancam akan memperlama urusan surat izin yang aku ajukan. Aku tidak suka bila ada orang yang bermain-main dengan perusahaanku.” Hendra merapatkan bibirnya.
“Kakak perlu belajar bersabar. Aku tahu berhadapan dengan birokrasi sangat menjengkelkan. Tetapi sikap murah senyum dan sabar akan sangat banyak menolong Kakak nanti. Sebisa mungkin hindari mereka. Jika terpaksa bertemu, jangan buat mereka marah. Alihkan saja topik pembicaraan ke arah yang lebih menyenangkan,” ucap Rasmi memberi saran.
“Singkat kata, kamu menyuruh aku untuk menjilat?” tanya Hendra tersinggung. Rasmi tertawa.
“Bersikap bersahabat tidak sama dengan menjilat, Kak. Anggap saja mereka adalah Kak Ara. Dengan begitu, Kakak bisa bersikap bersahabat dengan mereka semua,” kata Rasmi menjelaskan. Aku setuju dengan usulnya itu.
“Tidak usah mengatakan apa pun.” Hendra menutup mulutku dengan tangannya. “Aku sudah tahu kamu akan mengatakan apa.” Kami semua tertawa, hanya dia yang cemberut.
Hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Kami menitipkan anak-anak di rumah orang tuaku sebelum kami pergi ke rumah sakit. Dokter akan memeriksa keadaan Hendra. Aku melarang perawat wanita yang membuka perbannya, dan hanya mengizinkan perawat pria untuk menyentuh suamiku.
Aku tidak peduli dengan tatapan penuh arti yang ditujukan Hendra dan dokter itu kepadaku. Bukan hanya suamiku saja yang pencemburu. Aku juga.
Dokter senang melihat perkembangan yang suamiku alami. Memar pada kepalanya sudah pulih, begitu juga dengan luka kecil bekas operasinya. Dia mengucapkan selamat karena ingatan Hendra sudah kembali dengan sempurna.
Untuk perawatan selanjutnya, dia mendorong suamiku untuk tetap rutin melakukan fisioterapi sampai dia bisa beraktivitas dengan normal lagi. Dia juga meminta kami untuk segera memberitahu bila ada keluhan di kemudian hari.
“Selamat atas pemulihanmu yang sangat cepat, sayang,” ucapku sambil mencium pipinya.
“Semua ini karena kesabaran kamu merawatku. Terima kasih, istriku yang cantik,” katanya saat mengecup bibirku. “Maafkan kami, Sakti. Semoga kamu tidak terganggu.” Pria itu hanya tertawa.
__ADS_1
Kami menjemput anak-anak dan Hadi senang melihat tidak ada lagi perban yang menutupi kepala papanya. Tetapi Dira menangis dan sama sekali tidak mau dipegang oleh Hendra. Kami berdua sampai bingung dibuatnya. Dia hanya mau aku yang memeluknya. Apa yang salah dengan putri kami?