Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 234 - Salah Paham


__ADS_3

“Sayang, kamu tidak bisa melakukan itu. Aku sudah bilang tidak,” kata Papa dengan tegas.


“Tetapi dia belum bisa mengingat semuanya dengan baik, Pa. Dokter bilang dia butuh lingkungan rumah yang akrab dengannya agar ingatannya pulih lebih cepat. Rumah kita adalah rumah yang lebih dia kenal daripada rumahnya yang lain,” ucap Mama tidak mau kalah.


“Aku ingin bicara dengan istriku,” kata Hendra melerai kedua orang tuanya. Mereka berhenti bicara dan menoleh ke arahnya. “Berdua saja.”


“Kalau begitu, aku akan mengurus administrasinya agar Hendra bisa keluar secepatnya,” kata Papa kepadaku. Aku mengangguk. “Dan, ini ponsel serta tablet baru untuk menggantikan milik suamimu yang rusak. Gista sudah menitipkan kartu barunya.”


“Baik. Terima kasih, Pa,” ucapku sambil menerima tas belanja yang terbuat dari kertas tersebut.


Papa setengah menarik Mama yang masih ingin bicara dengan putranya untuk keluar dari kamar. Hendra tidak sekalipun melepaskan pandangannya dariku. Ini bukan pertanda baik. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat begitu pintu kamar tertutup.


“Kamu bilang bahwa kamu mencintai aku,” katanya memulai pembicaraan.


“Iya, aku mencintai kamu. Ada apa, Hendra? Mengapa kamu kelihatannya marah?” tanyaku pelan. Aku tidak berani melangkah mendekat, khawatir dengan fakta apa mengenai aku yang baru saja diingatnya pagi ini.


“Kamu sengaja meminum obat pencegah kehamilan. Karena itu kita belum juga memiliki anak. Itu juga alasan kamu tidak mau tidur di sini bersamaku semalam. Iya, ‘kan?” tanyanya dengan tatapan curiga. Aku mendesah lega. Ternyata itu masalahnya.


“Kamu belum melihat sisa foto dari album itu?” Aku menunjuk ke arah album yang masih tergeletak di atas nakas di sampingnya. Dia menatap album itu dengan ekspresi tidak suka.


“Aku tidak mau melihat wajah pura-pura bahagia itu.” Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Aku tertawa kecil. Bila dia tidak mau melihat foto pada album itu, maka masih ada album lain. Aku melihat foto kami saat liburan bersama ada di dalam tas.


“Sebentar.” Aku mendekati sofa di mana tas itu berada dan mengeluarkan album yang aku maksud. Dia menatapku dengan bingung saat aku memberikan album besar itu kepadanya. “Bukalah.”


Foto pertama yang ada di dalamnya adalah Hadi dan Dira yang sedang tersenyum bahagia. Nama mereka tertera di bawah foto. Hendra menatapnya dengan haru dan tangannya menyentuh nama tersebut. “Hadiyan Bagas Perkasa. Erendira Bella Perkasa. Nama yang bagus. Siapa yang memberi mereka nama ini?”


“Kamu yang memberi nama Hadi, sedangkan nama Dira dariku.”


“Kita memanggil mereka Hadi dan Dira? Aku menyukainya. Lalu, di mana mereka? Mengapa aku tidak pernah melihat anak-anak?” Dia melihat ke arah pintu sebelum kembali menoleh kepadaku.


“Kita sedang berada di rumah sakit, sayang. Aku sudah berulang kali membuat izin khusus dengan bantuan Pak Oscar untuk membawa mereka ke sini. Tetapi kami tidak bisa melakukan itu terus. Tempat ini bukan tempat untuk anak-anak.”

__ADS_1


“Kamu benar. Kita tidak boleh membiarkan mereka tertular penyakit. Di sini ada banyak orang sakit. Kalau begitu, ayo, kita pulang sekarang. Aku ingin bertemu dengan anak-anakku.” Dia memberikan album itu kembali kepadaku.


“Sabar. Ada beberapa hal yang perlu kami lakukan sebelum bisa membawa kamu pulang, sayang.” Aku tersenyum dan tidak menerima album itu dari tangannya. “Kamu silakan melihat-lihat foto di album ini. Aku perlu bicara dengan bagian fisioterapi mengenai terapi kamu selanjutnya.”


“Baiklah.” Dia memegang tanganku, lalu menarikku mendekat. Dia mencium bibirku. “Terima kasih. Kamu sudah memberiku dua orang anak yang sangat tampan dan cantik. Sepertinya aku berhasil memperbaiki keturunan.”


“Hei! Berhenti menyebut dirimu sendiri jelek!” protesku sambil memukul tangannya, tetapi dia menangkap tanganku terlebih dahulu. Dia kembali mencium bibirku. Aku terduduk di pangkuannya, tepat di atas album tersebut.


Aku memberinya sedikit dorongan agar mengakhiri ciuman itu. Dia malah memeluk tubuhku dengan erat ketika tangannya yang lain berada di belakang kepalaku. Hm. Dari mana dia belajar mencium seperti ini? Ah, dia pasti sudah mengingat gaya ciumannya yang aku suka.


“Karena kalian sudah selesai bicara, saatnya kita bersiap-siap. Urusan biaya ….” kata Papa yang tiba-tiba saja masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu lebih dahulu. “Ah, waktunya kurang tepat, ya.” Papa tertawa. Aku hanya bisa tertegun dengan wajah yang pasti sudah semerah tomat.


“A-aku akan ke bagian fisioterapi.” Aku berusaha untuk berdiri, tetapi Hendra masih saja sempat mencuri satu ciuman lagi. Dia hanya bisa membuatku malu saja. “Aku segera kembali.”


Aku menundukkan kepalaku saat melewati Papa dan Mama. Saat aku berjalan menuju ruang fisioterapi, aku bingung melihat Sakti ikut berjalan bersamaku. Oh. Mungkin dia hanya menjagaku agar kejadian yang sama seperti kemarin tidak terulang lagi.


Setelah membuat kesepakatan mengenai waktu terapi dan pelatih khusus pria, aku tidak mau mereka mengirim seorang wanita, dengan bagian administrasi, kami kembali ke kamar Hendra. Aku membereskan semua barang pribadinya, lalu Sakti membawanya ke mobil.


Petugas keamanan di rumah sakit dikerahkan atas permintaan Dokter Andreas. Wartawan tidak bisa mendekati kami saat kami membawa Hendra keluar lewat pintu belakang. Mengapa mereka bisa berada di semua pintu keluar? Apa berita mengenai suamiku begitu mahal sehingga semua orang ingin meliput dan mewawancarai dia?


Aku dan Hendra berada pada satu mobil dengan Sakti yang menyetir, sedangkan Papa dan Mama di mobil mereka. Aku memberitahunya mengenai Ara, sepertinya hanya dia satu-satunya hal yang tidak akan dikenalinya di rumah kami nanti.


“Siapa yang memberinya nama itu?” Hendra tertawa terbahak-bahak. Aku menatapnya dengan kesal.


“Kamu. Siapa lagi?”


“Aku? Tetapi mengapa aku memberinya nama itu? Dari seluruh nama yang ada di dunia ini, aku memberi nama pada anjing peliharaan kita dengan nama panggilanmu di keluargamu?” tanyanya yang masih tertawa kecil.


“Seharusnya kamu tanyakan itu kepada dirimu sendiri.”


“Mungkin aku akan segera mengingatnya. Jangan marah, sayang,” katanya sambil memelukku. “Aku memberi nama itu pasti karena hanya ada kamu di dalam kepalaku.”

__ADS_1


“Dasar gombal. Sejak ingatan kamu kembali, mulut kamu manis juga.”


“Aku harus bersikap manis karena malam ini aku akan merayakan sesuatu bersamamu,” katanya penuh arti. Aku menoleh ke arah kaca spion dan melihat Sakti tersenyum.


“Ada orang lain bersama kita di mobil ini. Jaga bicaramu,” ucapku segan. “Lagi pula kamu baru saja pulang dari rumah sakit, bukan berarti kamu sudah bisa melakukan aktivitas yang berat.”


“Itu bukan aktivitas yang berat. Aku hanya ingin tidur sambil berpelukan denganmu. Memang apa yang kamu pikir akan kita lakukan malam ini, sayang?” godanya. Menyebalkan sekali.


Tidak seperti keadaan pada pagi hari, siang ini ada banyak sekali wartawan yang menunggu di depan gerbang rumah kami. Kalau bukan karena rumah ini akan membantu Hendra mengingat lebih cepat, aku pasti sudah membawanya ke apartemen kami.


Keadaan di sana lebih mudah baginya karena dia tidak perlu naik dan turun tangga. Semuanya bisa diakses dengan elevator. Di sana juga ada ruang olahraga lengkap dengan berbagai alat yang bisa digunakan secara gratis. Kami tidak memilikinya di rumah sehingga aku harus menyewa beberapa peralatan sampai dia pulih nanti.


Seluruh pekerja juga beberapa teman kami sudah siap untuk menyambut kedatangan kami. Begitu gerbang dibuka, mereka mendorong para wartawan agar tidak mendesak masuk ke pekarangan rumah. Bila mereka nekat, Pak Oscar dan adikku sudah siap untuk menuntut mereka satu per satu atas tuduhan memasuki properti tanpa izin.


Mobil teman-teman memenuhi pekarangan rumah kami, Hendra melihat sekelilingnya dengan saksama. Saat Sakti menghentikan mobil di depan teras, Abdi sudah siap untuk membukakan pintu. Aku keluar lebih dahulu, Liando dan Sakti segera meletakkan kursi roda baru di dekat pintu. Mereka menolong suamiku untuk keluar dari mobil dan duduk.


“Aku sudah bisa jalan.” Hendra tertawa kecil melihat tingkah kami.


“Aku tahu. Tetapi Dokter melarang kamu untuk memaksakan diri. Kamu tidak keberatan, ‘kan, sayang?” tanyaku pelan. Dia tersenyum.


“Tenang saja. Aku adalah pasien yang baik. Aku tidak akan tantrum lalu berteriak kepadamu karena ketidakberdayaanku. Lagi pula ini hanya sementara,” katanya pengertian.


“Apakah kalian bisa melewatkan tatapan penuh mesra itu dan melanjutkannya di dalam rumah saja?” protes Zach. “Kami tidak mungkin terus berdiri seperti ini. Dan aku sudah lapar.”


Aku melihat dia dan teman-teman kami berdiri berdekatan menutupi pandangan orang-orang dari arah gerbang. Mereka berdiri dari dekat mobil hingga pintu depan rumah. Oh. Mereka melakukan ini supaya wartawan tidak bisa mengambil foto Hendra dengan kursi rodanya.


Mengapa mereka repot-repot melakukan itu? Hendra tidak keberatan dengan keadaannya. Sebelum adikku protes lagi, kami segera mendekati pintu depan. Sakti dan Liando membantu mengangkat kursi roda tersebut saat menaiki tangga teras.


“Maafkan aku telah merepotkan kalian semua,” ucap Hendra pelan.


“Jangan sungkan, Tuan. Kami senang bisa membantu Tuan,” kata Abdi.

__ADS_1


Hendra menolak bantuanku saat aku ingin mendorong kursi roda tersebut. Aku mengalah dengan mengajaknya menuju bagian samping rumah. Meskipun dia terlihat bingung mengapa aku tidak membawanya ke ruang makan, dia menurut.


__ADS_2