Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 255 - Kebanggaanku


__ADS_3

~Naava~


Aku tahu bahwa aku tidak akan bisa membayar waktu yang telah hilang saat cucuku dalam masa awal pertumbuhan mereka. Namun aku menggunakan setiap waktu yang ada untuk bisa dekat dengan mereka. Apalagi sekarang aku punya alasan untuk datang setiap hari ke rumah menantuku.


Kehamilan Za sudah aku harap-harapkan. Aku dan Adhy berharap bisa mempunyai tiga atau empat orang anak. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Kami hanya dikaruniai satu orang anak. Karena itu, hadirnya cucu ketiga ini aku anggap sebagai jawaban Tuhan atas permohonanku.


Begitu Hendra kembali bekerja, suamiku merasa sangat bahagia bisa kembali menikmati masa pensiunnya. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah putra kami daripada di rumah kami sendiri. Waktu kami hanya sembilan bulan, jadi aku tidak akan melewatkan kesempatan tersebut. Aku tahu bahwa aku tidak akan bisa terus datang ke rumah mereka. Putra dan menantuku juga butuh privasi.


Hari ini Za sangat bahagia bisa berbincang langsung dengan para pembaca bukunya, berdiskusi, bahkan berfoto dan memberikan tanda tangan. Dia sangat berbakat. Dari buku pertama hingga keempat, dia terus menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menulisnya. Katanya, Hendra berperan banyak dalam memberi ide untuk buku keempat, sedangkan hubungan aku dengan dia menjadi inspirasinya dalam mendapatkan ide.


Tetapi entah ada apa dengan putraku. Sejak kami datang ke rumah mereka sampai detik ini, dia terus saja cemberut. Apa dia sedang bertengkar dengan menantuku? Sepertinya tidak, karena Za terlihat sangat bahagia. Bila mereka bertengkar dia tidak akan tertawa sebebas itu.


Menjelang sore, acara akhirnya ditutup. Za juga tidak mungkin meneruskan pemberian tanda tangan karena tangan kanannya sudah lelah. Kasihan menantuku. Rasmi dan timnya menolong dia dengan mengoles entah apa ke pergelangan tangannya begitu acara selesai.


Beberapa orang yang masih ingin bergabung dipersilakan untuk menuju ruang sebelah, sedangkan yang ingin pulang tidak dipaksa untuk tetap tinggal. Za mendekati kami. Aku memeluknya dan mengucapkan selamat atas kesuksesan acaranya.


“Terima kasih, Ma,” ucapnya senang. Dia kemudian memeluk Anya. Para pria dan anak-anak mendekati kami. Mereka mengucapkan selamat kepada Za tetapi tidak ada yang berani maju untuk memeluknya, kecuali Hendra, Hadi, dan Dira.


“Apa kamu lelah, sayang. Tangan kanan kamu tidak apa-apa?” tanya Hendra.


“Aku tidak lelah. Semuanya sangat menyenangkan. Dan tanganku baik-baik saja,” jawab Za. Ah, entah mengapa aku suka memanggilnya begitu. Seperti cara putraku memanggil istrinya. Aku dan Anya bertukar pandang melihat kemesraan kedua anak kami.


Zach memberi sinyal kepadaku dan Anya agar mengikuti dia. Aku mengerutkan kening. Kami mau ke mana? Tetapi melihat dia terus membujuk kami, aku menurut. Tanpa mengatakan apa pun, kami meninggalkan Hendra dan Za yang sedang bicara berdua, lalu mengikuti Zach.

__ADS_1


Ruangan yang ada di sebelah ternyata sebuah aula juga yang telah diisi dengan meja bundar dan kursi. Setiap meja diberi taplak berwarna putih, lengkap dengan bunga di dalam vas, serta piring dan peralatan makan. Tidak ada meja saji, maka aku berasumsi bahwa makanan pasti akan disajikan nanti ketika saatnya makan.


“Ada apa ini, Zach?” tanya Anya. “Mengapa kami harus ke sini lebih dahulu? Hendra dan Ara masih ada di sebelah.”


“Mama dan Tante pasti lupa hari ini hari apa.” Zach tertawa kecil. “Tolong dengar aba-aba dari Gista. Nanti Mama dan Tante juga akan mengerti. Pa, Om, tolong, jangan lepaskan Hadi dan Dira, ya.” Meskipun kami bingung, kami menuruti ucapannya.


“Bapak dan Ibu sekalian, selamat datang. Setelah kita mengikuti acara bersama Ibu Mahendra, maka kita juga akan mengadakan acara yang sangat istimewa yang sudah disiapkan Ibu Mahendra untuk seseorang yang spesial di hatinya. Jangan takut ketika nanti lampu dipadamkan. Saya meminta saudara sekalian melihat ke arah pintu dan kita sambut dia dengan ucapan selamat ulang tahun.”


Oh, Tuhan. Iya! Hari ini adalah hari ulang tahun putraku! Aku tertawa kecil. Pantas saja dia marah. Za pasti berpura-pura lupa mengenai hari ini karena sudah menyiapkan kejutan untuknya. Kami semua memang pelupa dalam hal tanggal, hanya Hendra yang tidak pernah melupakan hari istimewa siapa pun dalam keluarga kami.


Saat lampu dipadamkan, kami semua berusaha untuk meredam suara dan tawa kami. Tidak lama kemudian pintu itu dibuka. Aku tidak tahu bagaimana Za melakukannya, tetapi Hendra datang sendiri tanpa siapa pun di sisinya.


Lampu tiba-tiba dinyalakan kembali dan kami menerimanya sebagai sinyal bagi kami semua untuk mengucapkan, “Selamat ulang tahun!!”


Setelah dia meniup seluruh lilin di atas kue tersebut, aku segera mengambil kue itu dari tangan Za. Karena aku tahu bahwa Hendra akan memeluk dan mencium istrinya tanpa ampun di depan kami semua. Gista tahu benar apa yang harus dia lakukan. Dia mempersilakan kami semua untuk duduk dan menikmati hidangan yang akan disajikan.


Qiana mengambil kue tar itu dari tanganku. Aku berterima kasih kepadanya, lalu mendekati Hendra. “Istrimu sudah lelah seharian melayani para fansnya. Duduklah dan biarkan dia makan.”


“Iya, Ma. Iya,” katanya dengan nada tidak suka karena aku menginterupsi ciuman mereka. Apa dia tidak melihat masih ada wartawan yang meliput acara tadi ikut masuk di aula ini? Tidak baik memberikan tontonan gratis kepada banyak orang.


Mereka berjalan di depanku sambil berangkulan. Sesekali Hendra mencium pelipis istrinya. Setiap kali pandangan mata mereka bertemu, aku bisa melihat mereka saling mencintai. Kisah mereka berdua memang unik. Mereka harus menjalani sebuah perpisahan untuk menyadari perasaan mereka terhadap satu sama lain.


Semua orang yang ada di dalam ruangan sangat bahagia. Mereka saling berbincang sembari menikmati makanan mereka. Aku, Adhy, kedua besan, dan kedua cucu kami duduk pada meja yang sama, sedangkan putraku dan istrinya bersama teman-teman mereka.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat wajah bahagia putraku. Dia memang tidak salah memilih pasangan hidupnya. Mereka mengawali pernikahan mereka dengan alasan yang berbeda, tetapi mereka kini bertahan dengan alasan yang sama. Semoga saja mereka akan tetap kuat menghadapi tantangan baru yang akan menguji kekuatan cinta mereka.


Semampuku, semasih Tuhan memberi aku kesempatan untuk hidup, aku akan menolong mereka melewati jalan terjal di hadapan mereka. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun mencoba untuk memisahkan mereka berdua.


...*******...


Sementara itu di sebuah ruang sosialisasi di dalam penjara.


Vivaldo menatap layar televisi di hadapannya dengan geram. Siaran berita sedang menayangkan siaran eksklusif pesta kejutan ulang tahun seorang direktur utama di sebuah gedung penerbit besar di negeri ini. Hendra dan Zahara sedang berciuman begitu mesra pada tayangan singkat tersebut.


“Berengsek!” seru Dicky yang berdiri sambil melempar gelas plastik yang sedari tadi dipegangnya ke arah televisi. Orang-orang yang ada di sekitarnya berteriak protes. “Hendra tidak akan bisa tertawa lagi begitu aku keluar dari tempat ini. Dan istrinya itu akan menjadi milkku.”


“Ara adalah milikku. Hentikan omong kosongmu itu, Dicky,” ucap Vivaldo yang sudah tidak tahan lagi. Dia ikut berdiri menantang Dicky. “Kamu dan Hendra bukanlah siapa-siapa baginya. Aku adalah cinta pertamanya dan dia pasti akan kembali lagi kepadaku.”


“Kamu yang berhenti mengucapkan omong kosong. Kesempatanmu untuk memiliki Zahara sudah lewat. Habis. Dia jelas-jelas sudah menolakmu,” ejek Dicky.


“Ara mencintaiku dan dia tidak menolak aku,” ralat Vivaldo. Tiba-tiba saja Dicky melayangkan tinjunya ke muka Vivaldo. Dia terpukul mundur hingga terjatuh ke lantai.


“Apa sekarang kamu sudah berpikir dengan jernih?” tanya Dicky. Vivaldo menyentuh wajahnya dan merasakan cairan kental keluar dari lubang hidungnya. Dia segera menyekanya.


“Hari ini kau akan mati, Dicky,” geramnya.


Sekejap saja ruangan itu menjadi riuh dengan sorakan dukungan penghuni penjara yang terbagi dua. Satu mendukung Vivaldo, sedangkan yang lain mendukung Dicky. Para sipir membiarkan kedua pria itu meluapkan emosi mereka sebelum maju untuk melerai.

__ADS_1


__ADS_2