
“Mama? Apa yang Mama lakukan di sini?” Hal pertama yang aku lihat saat memasuki rumah adalah Mama duduk dengan kepala tertunduk di anak tangga. “Ayo, Ma. Kita duduk di ruang keluarga.”
“Istrimu lebih membutuhkan kamu. Aku tidak apa-apa. Pergilah.” Mama memberiku sedikit dorongan setelah aku membantunya berdiri.
“Tapi,” kataku yang khawatir sekaligus bingung melihat keadaannya. Mama terlihat sangat terpukul seolah-olah hal yang buruk baru saja terjadi.
“Aku harus pulang. Pergilah.” Dia mendorongku lagi.
Aku akhirnya menurut dan bergegas menuju lantai dua. Abdi, Liando, Sakti, dan hampir seluruh pekerja kami berdiri di depan pintu kamarku. Pantas saja tidak ada yang membukakan pintu. Mereka semua berada di sini. Mereka terlihat sangat sedih tanpa mengalihkan pandangan mereka dari pintu. Aku menarik napas panjang sebelum masuk ke kamar.
Yuyun berdiri di dekat tempat tidur. Seorang dokter yang duduk di sofa sedang menuliskan sesuatu pada sebuah catatan. Kemudian mataku tertuju kepada istriku yang sedang tidur di ranjang kami. Apa yang terjadi sampai semua pekerja rumah kami terlihat begitu khawatir?
“Pak Mahendra.” Dokter itu berjalan ke arahku. Aku menatapnya dan bersiap mendengar apa yang terjadi kepada istriku. “Untuk sementara, perlu ada orang yang mengawasi istri Anda. Dia tidak bisa dibiarkan sendiri. Ini obat untuk membantunya tetap tenang.”
“Apa yang terjadi, Dok?” tanyaku khawatir.
“Istri Anda menunjukkan gejala depresi. Menurut para pekerja yang menyaksikannya, istri Anda tadi berusaha untuk mengakhiri hidupnya.” Lantai yang aku pijak serasa bergoyang membuat aku mundur selangkah untuk menjaga keseimbangan. “Beri dia obat ini untuk tiga hari. Bila keadaannya tetap sama, tolong konsultasikan keadaannya dengan psikolog atau psikiater.”
“Ba-baik, Dok.” Aku menatap istriku yang sedang tidur. Dia ingin mengakhiri hidupnya? Aku pikir kami baik-baik saja dan akan menghadapi ini bersama, tetapi dia ingin pergi dariku untuk selamanya? Apa yang terjadi saat aku pergi tadi?
Mama. Apakah ini ada hubungannya dengan mamaku? Harus berapa kali aku mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak bisa menemui Za bila mereka tidak bisa menghormatinya sebagai istriku? Belum cukupkah mereka melihat hidupnya dihancurkan dari berbagai arah?
Aku bersyukur anak-anak sedang tidak ada di rumah sekarang. Kami berdua tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk mereka pada saat ini. Kami sama-sama sedang menata kembali serpihan hati kami yang hancur berkeping-keping.
Kebahagiaan terbesar kami direnggut begitu saja. Kami sama-sama menginginkan anak ini. Aku sangat mengharapkan bayi kami bisa lahir dan bertemu dengan kami. Tetapi secepat dia datang, secepat itu juga dia harus pergi. Aku gagal melindungi istri dan anakku dari mereka. Aku gagal menjaga keluargaku sendiri.
__ADS_1
Uang dan kekuasaan yang aku miliki ternyata tidak bisa melindungi mereka. Seandainya saja aku bertindak lebih cepat, semua ini bisa aku cegah. Seharusnya aku terima saja tawaran dari Tante Arum dan membiarkan dia yang mengirim timnya untuk menghentikan perbuatan Dicky dan Nora. Tetapi aku terlalu sombong berpikir bisa menangani semuanya sendiri.
“Hendra.” Aku baru saja selesai berpakaian mendengar suaranya memanggil namaku. Aku bergegas mendekatinya.
“Iya, sayang. Aku di sini.” Aku duduk di tepi ranjang dan memegang tangannya yang terulur. Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Maukah kamu melakukan sesuatu untukku?” tanyanya dengan nada memelas. Aku membelai pipinya, menyeka air matanya.
“Katakan, sayang. Apa yang perlu aku lakukan?” Aku akan memberikan apa pun yang dia minta. Aku akan pergi ke ujung dunia untuk mendapatkannya bila itu perlu.
“Tolong, tinggalkan aku.” Kalimat itu menyakiti hatiku yang sudah hancur. Air mata mengalir deras keluar dari pelupuk matanya. “Aku sudah tidak ada gunanya lagi untukmu. Semua orang menghinaku, mereka jijik kepadaku, dan aku ikut membawamu ke jurang bersamaku. Carilah wanita lain yang sama sekali tidak punya skandal, yang suci, dan tidak punya kesalahan di masa lalunya.”
“Sayang ….” Apakah Mama mengatakan itu kepadanya tadi?
“Tolong, kabulkan permintaanku. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak sanggup lagi menjalani ini. Tinggalkan aku atau bunuh saja aku,” ucapnya putus asa. Dia menutup wajah dengan tangannya yang bebas.
“Tapi kamu tidak akan pernah bahagia lagi. Aku hanya membawa penderitaan untukmu.” Dia kembali menangis. “Aku bahkan tidak ada harganya lagi. Aku ….” Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku, mencegahnya mengutuk dirinya lebih jauh lagi.
“Aku tidak peduli apa yang orang katakan. Aku mencintaimu dan kamu wanita terbaik yang pernah aku kenal. Aku tidak akan menikah denganmu bila kamu tidak berharga. Cukup dengarkan aku saja, sayang. Jangan dengarkan mereka.” Dia menatapku dengan mata besarnya, mencari-cari sesuatu pada kedua mataku.
“Aku bisa kuat menghadapi semua ini karena kamu bersamaku. Bila kamu pergi, lalu kepada siapa lagi aku berbagi beban, sayang? Kamu wanita yang kuat. Kamu berhasil menghadapi mimpi burukmu, kamu akan berhasil menghadapi ini juga. Aku di sini bersamamu. Kita hadapi ini bersama-sama. Ya?”
“Sampai kapan? Sampai kapan keadaan kita begini?” tanyanya.
“Tidak perlu pikirkan esok. Apa yang akan terjadi besok, kita hadapi saja. Kita pikirkan saja apa yang akan kita lakukan pada saat ini. Aku berjanji, keadaan akan membaik. Kamu bisa berjalan lagi keluar dari rumah ini tanpa ada yang merendahkan atau menghinamu lagi. Aku janji.”
__ADS_1
“Maafkan aku, sayang.” Dia kembali menangis dan menutup wajah dengan tangannya. “Aku tadi hampir melakukan hal yang akan sangat aku sesali. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih. Aku tidak bermaksud meninggalkan kamu dan anak-anak kita.”
“Sstt …. Tidak apa-apa. Kamu sedang berduka, aku mengerti.” Aku mencium keningnya, pipinya, punggung tangan yang menutupi matanya, bibirnya. Aku memberinya seluruh cintaku.
Dia menjauhkan tangannya dari wajahnya dan meletakkannya di leherku. Dia memeluk tubuhku dan aku berhati-hati agar tidak membebankan seluruh berat badan bagian atasku kepadanya. Aku mencium lehernya, lalu bahunya, membantunya menenangkan diri.
“Sudah. Geli.” Dia tertawa. Suka mendengar suara itu, aku mencium daerah yang tadi membuatnya tertawa. “Hendra, cukup!” Aku tidak memedulikannya. Suara tawanya memenuhi kamar kami, menghangatkan hatiku. Tetapi aku berhenti saat dia meminta ampun.
Aku menyeka wajahnya dari air mata, lalu tersenyum kepadanya. Dia kembali menatapku dengan mata sedihnya setelah berhasil mengendalikan tawanya. Untuk sesaat, tidak satu pun dari kami yang bicara. Dia berbaring membelakangiku, maka aku merebahkan badan di belakangnya lalu memeluk tubuhnya. Aku mencium rambutnya yang mengeluarkan aroma bunga.
“Menurut kamu, apakah bayi kita bahagia di sana? Atau dia marah kepadaku karena tidak menjaga diri dengan baik?” tanya Za pelan.
“Dia pasti bahagia. Dia lebih beruntung dari kita, tidak perlu mengenal kejamnya dunia dan orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri.” Aku merasakan dia mengusap-usap punggung tanganku yang ada di depan dadanya.
“Benar juga. Kalau begitu, kita jangan punya anak lagi. Kita jaga Hadi dan Dira dengan baik sampai mereka bisa mandiri. Tidak perlu memberi mereka adik.” Aku tidak harus melihat wajahnya untuk tahu bahwa senyum liciknya sedang menghiasi bibirnya.
“Aku setuju.” Aku mengikuti arah permainannya. “Setelah puasa tiga bulan terlewati, kita tidak perlu terburu-buru bercinta lagi. Kesehatan kamu lebih penting.”
“Kesehatanku tidak akan terganggu karena kita bercinta.” Dia bicara dengan santai, tetapi aku bisa merasakan dia mulai waswas.
“Kamu sendiri yang mengatakan bahwa benihku mempunyai tekad yang sama kuatnya denganku. Bagaimana kalau kamu sampai hamil lagi? Tidak. Kamu perlu memulihkan diri.”
“Tetapi dokter mengizinkan aku untuk berhubungan intim setelah tiga bulan,” protesnya. Aku tertawa mendengarnya. “Hendra!”
Meskipun kami melewati malam itu dengan baik dan dia mulai tertawa lagi, aku tetap waspada dengan perubahan emosinya yang drastis. Aku bekerja dari rumah dan tidak meninggalkan sisinya walau hanya sebentar.
__ADS_1
Pada hari kami mengikuti pemeriksaan kesehatan rutin, aku bahagia bisa menjalaninya bersama keluargaku dan tidak sendiri lagi. Aku terpaksa mengundur jadwalnya karena banyak hal yang telah terjadi. Hadi dan Dira kebingungan sendiri melihat pemeriksaan demi pemeriksaan yang harus mereka jalani. Dokter dan petugas medis yang menangani mereka bekerja dengan baik sehingga mereka tidak menangis saat berhadapan dengan jarum suntik.
Hasil pemeriksaan menyeluruh yang kami jalani menunjukkan hasil yang baik. Aku dan keluargaku dalam keadaan sehat. Tidak ditemukan penyakit apa pun dalam tubuh kami. Tetapi mengapa istriku malah terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri? Apakah dia teringat kembali dengan bayi kami yang telah pergi saat dia dibawa ke rumah sakit ini?