Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 130 - Ini Bukan Cinta


__ADS_3

Aku hanya bisa tenang selama tiga tahun saat dia mendekam di dalam penjara. Begitu dia bebas, bukannya memperbaiki diri dan fokus kepada keluarga dan pekerjaannya, dia malah datang lagi untuk menggangguku. Bagaimana bisa dahulu aku mencintai dia sepenuh hatiku?


Aku menggendong Dira agar kami bisa berjalan lebih cepat. Aku melewatinya, tidak membalas sapaan atau senyumannya. Dia segera memegang lenganku sehingga aku terpaksa menghentikan langkahku. Dia sengaja tidak membiarkan aku melewati tembok agar Hendra tidak bisa melihat ke arah kami.


“Hei, hei. Kamu mau ke mana? Apa begini cara membalas sapaan seorang teman lama?” tanyanya. Aku menepis tangannya itu, tetapi dia tidak melepaskan genggamannya.


“Aku tidak mengenalmu. Lepaskan aku!” ucapku dengan suara tertahan.


“Kamu sudah kembali dengan Hendra, jadi sekarang kamu bersikap sombong? Kamu merasa kuat karena mempunyai suami yang bisa memberikan segalanya kepadamu? Dengar, ya. Aku tahu bahwa dia yang membuatku masuk penjara. Kalian berdua akan menyesal telah menghancurkan hidupku.” Matanya menatapku penuh amarah.


“Kamu yang menerima suap lalu ketahuan, mengapa suamiku yang disalahkan? Apa kamu tidak akan pernah belajar dari kesalahan? Apa kamu akan selalu menyalahkan orang lain atas setiap kejadian buruk yang menimpamu?” tanyaku mengejek. “Syukurlah, aku tidak menikah denganmu.”


“Jangan senang dahulu, Ra. Kali ini aku akan pastikan kamu kembali kepadaku. Kamu akan memohon agar aku mau menerimamu kembali.” Dia tersenyum sinis.


“Silakan, Vivaldo. Jika kamu sudah tidak punya rasa malu dan nurani lagi, silakan. Tetapi aku akan pastikan ini juga kepadamu. Aku tidak akan pernah kembali kepadamu, apa pun yang terjadi. Aku lebih baik mati daripada jatuh dalam pelukanmu lagi. Kamu tahu mengapa?” tanyaku.


“Mengapa?” tantangnya.


“Karena aku jijik melihatmu. Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan kepadaku hampir enam tahun yang lalu. Kamu membayar orang untuk menguntitku dan mengambil foto saat kita bersama. Kamu mau berusaha memisahkan aku dan Hendra lagi? Silakan, kalau kamu mau rasa jijikku kepadamu berubah menjadi benci.” Aku menarik lenganku kembali, kali ini dia melepaskannya.


Matanya menatapku penuh luka, aku tidak peduli. Yang dia lakukan ini bukan cinta. Ini kegilaan. Dia hanya memikirkan perasaannya sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Aku tidak berniat untuk kembali bersamanya lagi. Mengapa hal sesederhana itu susah dipahaminya?


“Kamu tidur dengan laki-laki lain sampai hamil saat kamu berpisah dengan Hendra. Tidak perlu berlagak suci di depanku.” Dia memerhatikan Dira dengan saksama. “Kamu tidak bahagia bersama laki-laki mandul itu. Pasti anak pertamamu juga dari laki-laki lain, ‘kan?”

__ADS_1


“Silakan pikirkan apa pun yang kamu mau tentang aku. Tetapi hanya itu yang akan kamu dapatkan. Memikirkan aku. Kamu tidak akan bisa mendapatkan aku lagi.” Aku tersenyum melihat dia terpukul mundur oleh kalimatku itu. Bersikap takut akan membuatnya merasa menang. Aku tidak akan membiarkan dia mengintimidasiku lagi.


Dia kehilangan kata-kata, aku segera pergi. Jantungku berdebar dengan cepat ketika aku semakin jauh darinya dan semakin dekat kepada Hendra. Menjadi tegar memang tidak mudah. Untung saja aku berhasil menemukan kata yang bisa membungkam mulut arogannya itu. Dan syukurlah aku bisa bersikap tegar dan tidak takut di hadapannya.


Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi dadaku. “Mama?” Dira menatapku dengan wajah khawatir. Dia adalah anak yang baik. Selama di depan pria itu, dia tidak mengatakan apa pun yang bisa menginterupsi kami. Aku mencium pipinya dan mempererat pelukanku.


“Mama sangat sayaaang kepada Dira.”


Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. “Sayang Mama.”


Debaran jantungku mulai kembali normal berkat pelukannya. Aku melangkah dengan tegap mendekati tenda kami. Hendra dan Hadi serentak menoleh. Putraku berlari mendekatiku, Hendra mengambil tas berisi pakaian basah dari tanganku.


“Kami hampir menelepon polisi karena kalian lama sekali.” Hendra mencium pipi Dira. “Apa gadis kecil ini bermain air lagi? Hm? Dira membuat Mama susah, ya, tadi? Hm?” Putri kami tertawa senang mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi dari papanya.


“Semuanya sudah disiapkan.” Dia meletakkan tas tadi di dalam tenda. “Aku hanya perlu merebus air, memasukkan semua sayur dan daging, lalu menuang bumbunya. Sebentar lagi matang. Tolong, bagikan nasinya, sayang.” Dia menunjuk ke arah keranjang makanan. Aku mendudukkan Dira di tikar, lalu mengambil sebuah rantang dan membuka satu yang berisi nasi.


Kami makan dengan lahap. Sup itu enak sekali. Apalagi kami dalam keadaan lapar, lelah, mengantuk, dan udara di sekitar kami menambah selera makan. Hadi dan Dira sampai minta tambah sup mereka. Setelah makan, anak-anak tertidur dan kami membaringkan mereka di dalam tenda. Kami menjaga pintunya tetap terbuka agar angin segar bisa menyejukkan mereka.


“Vivaldo ada di sini,” kataku pelan. Kami duduk bersisian di atas tikar. Aku segera merasakan tangannya menggenggam tanganku.


“Dia mengganggumu?” Dia memeriksa bagian tubuhku yang bisa dilihatnya. Lalu tangannya mengusap bagian yang memerah pada lengan kananku. “Mengapa dia melakukan ini?”


“Aku ingin segera pergi darinya, dia menahanku.” Aku menatap Hendra penuh harap. “Apa tidak ada yang bisa kita lakukan agar dia tidak bisa mendekati aku lagi?”

__ADS_1


“Oscar sudah berusaha tetapi selama dia tidak menyakitimu hingga menimbulkan luka yang serius, kita tidak bisa meminta pengadilan mengeluarkan surat agar dia menjaga jarak darimu. Sayang, aku sediakan seorang pengawal untukmu, ya?” Dia memeluk tubuhku.


“Apa Liando saja tidak cukup?” tanyaku heran.


“Dia tidak akan bisa menemanimu sampai ke toilet,” katanya prihatin. Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya.


“Maksud kamu, pengawal perempuan?” Dia menganggukkan kepalanya. “Tidak. Jika dia jatuh cinta kepadamu nanti seperti sekretarismu itu, aku yang susah. Liando saja sudah cukup.”


“Tidak semua wanita yang ada di dekat kita jatuh cinta kepadaku, Za. Yuyun buktinya,” protesnya.


“Dia sudah menikah dan sangat mencintai suaminya.” Aku memutar bola mataku. “Sudah. Aku tidak mau membahasnya lagi. Tidak ada penambahan pekerja perempuan di rumah. Titik.” Dia memasang wajah cemberut. Aku tersenyum kemudian mengecup bibirnya itu.


“Katakan, apa dia mengatakan sesuatu yang membuatmu khawatir?” Tangannya membelai pipiku. Aku tahu bahwa aku tidak akan bisa menyembunyikan apa pun darinya.


“Dia masih belum menyerah. Dia ingin aku kembali kepadanya.” Wajah Hendra segera berubah dingin. “Dia tahu bahwa kamu yang melaporkan kasus suap itu sehingga dia masuk penjara. Dia akan membalasmu dan melakukan sesuatu untuk memisahkan kita.”


“Kamu takut dengan ancamannya itu?” tanya Hendra datar.


“Aku mengkhawatirkanmu. Orang yang sedang kalap bisa melakukan apa saja tanpa peduli orang lain terluka atau tidak. Aku tidak mau kamu menderita lagi karena aku, Hendra.”


“Aku bisa menjaga diriku sendiri. Selama kamu berada di sisiku, tidak akan ada yang bisa membuatku terluka. Hanya kamu yang bisa menghancurkan aku, Za.” Entah mengapa, kalimatnya itu tidak membuatku merasa bahagia dan istimewa. Aku justru takut kelemahannya itu akan dimanfaatkan oleh orang yang tidak menyukainya.


Itukah sebabnya dia bicara mengenai tokoh wanita yang tegar dan tidak mudah dibodohi oleh orang lain? Apakah dia mengetahui sesuatu? Apa yang akan terjadi kepada kami di depan nanti sampai dia meminta aku untuk menjadi wanita yang tegar?

__ADS_1


__ADS_2