
“Aku tidak membenci kamu, Hendra.” Mama berkata dengan tegas.
“Sebaiknya kita tidak bertengkar. Kita akan makan, tolong, jauhkan topik yang hanya merusak suasana hati,” lerai Papa. Aku mengalah. Mama juga tidak terlihat ingin lanjut bicara.
Makanan diantar, aku berusaha untuk menghabiskan bagianku. Lagi pula aku membutuhkan energi untuk melanjutkan pekerjaanku hari ini. Dan dengan adanya acara istimewa pada malam ini, aku juga perlu menjaga suasana hatiku tetap baik. Aku tidak ingin merusak kejutan berikutnya yang sudah aku siapkan untuk istriku dengan berwajah masam.
“Bagaimana rasanya menjadi direktur utama, Nak?” tanya Papa setengah menggoda aku. Aku tertawa mendengar pertanyaan retoriknya itu.
“Bagaimana rasanya menjadi ayah rumah tangga, Pa?” balasku. Papa tertawa terbahak-bahak.
“Oke. Aku kalah.” Papa menyerah. Aku tersenyum kepadanya. “Aku melihat Gista menyesuaikan diri dengan cepat. Dari sekretaris wakil, naik menjadi sekretaris direktur utama, dia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik.”
“Iya, Pa. Sayang sekali bukan Sherry yang bertahan bekerja bersamaku. Padahal kinerjanya jauh lebih baik.” Aku menggeleng pelan.
“Beri dia waktu. Sherry sudah bekerja selama bertahun-tahun, wajar saja dia lebih unggul. Gista baru beberapa bulan bergabung,” kata Papa.
“Mengapa Papa terkesan sangat dekat dengan gadis itu? Apa Papa punya hubungan khusus dengannya? Dia bukan anak Papa bersama wanita lain, ‘kan?” tanya Mama curiga.
“Sayang, dia adalah anak dari teman kuliahku. Kami tidak sengaja bertemu, lalu dia bercerita betapa cerdas dan terampilnya dia dalam bekerja. Kebetulan anak kita membutuhkan seorang sekretaris, maka aku merekomendasikan namanya kepada bagian SDM,” jawab Papa santai.
“Oh, syukurlah. Karena aku tidak akan melakukan yang dilakukan oleh putra kita. Menerima anak haram perempuan itu menjadi putrinya,” kata Mama dengan tajam.
“Sayang,” kata Papa mengingatkan. “Kamu sudah baca hasil tes DNA antara Hendra dan Dira. Mereka adalah ayah dan anak kandung.”
__ADS_1
“Hasil itu bisa dimanipulasi, Pa. Apa Papa sudah lihat wajah anak itu? Dia sama sekali tidak mirip dengan putra kita. Sudah jelas anak itu bukan anaknya,” kata Mama bersikeras.
“Aku tidak akan memanipulasi tes yang aku ambil sendiri, Ma. Untuk apa? Untuk apa aku mengaku-ngaku sebagai ayah Dira? Aku sudah punya Hadi, dia yang akan menjadi penerusku. Untuk apa lagi aku membutuhkan pengakuan sebagai papa Dira?”
“Tentu saja supaya kami semua mendukung niatmu untuk kembali kepadanya,” jawab Mama. “Kalau anak itu anakmu, maka kami terpaksa mendukung keputusanmu. Tetapi kita semua tahu bahwa dia bukanlah putri kandungmu.”
“Aku bukanlah Nora yang akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan dukungan. Aku tidak membayar orang untuk membuat tes DNA palsu,” kataku dengan tegas.
“Aku sudah mengaku bersalah dan meminta maaf, mengapa kamu masih menyinggung masalah itu?” ucap Nora keberatan. Aku mengabaikannya.
“Za salah. Aku tidak akan menyangkal hal itu. Dia telah tidur dengan laki-laki lain. Tetapi aku sudah memaafkan dia, apa lagi yang membuat Mama bersikap begini? Aku sudah berusaha keras untuk memulihkan nama baik istriku dan reputasi keluarga kita. Hal yang paling berharga bagi kita yang dijadikan mainan oleh Nora dan teman-temannya.”
“Hendra, aku tidak …,” potong Nora.
“Hendra, aku sudah meminta maaf dan menyesali semua perbuatanku. Kamu bersikap tidak adil dengan mengungkit-ungkitnya lagi seperti ini,” protes Nora.
“Kamu sudah dimaafkan, bukan berarti kami melupakan semua perbuatanmu.” Aku menoleh ke arahnya. “Aku sedang bicara dengan ibuku. Bisakah kamu sebentar saja tidak menyela?”
“Jangan bicara kasar begitu kepada tamu, Hendra. Kita yang mengundangnya datang.” Aku tidak mengerti apa yang salah pada kepala mamaku. “Tolong, maafkan sikap putraku, Nora.”
“Aku harus kembali.” Aku melirik jam tanganku.
“Kembali ke mana? Ke kantor atau wanita itu?” tanya Mama. Aku menatapnya dengan bingung. “Aku tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kamu ingin makan bersamanya, ‘kan?”
__ADS_1
Aku tersenyum. Jadi itu alasan dari undangan makan ini yang sebenarnya? Mama menggunakan trik yang sama saat menghalangi aku mendatangi perayaan ulang tahun Hadi. Aku dan Za tidak pernah merayakan ulang tahunnya dengan makan siang.
“Mama tahu? Aku senang Mama masih mengingat hari ulang tahunnya.” Mama bergerak tidak nyaman di tempat duduknya. “Aku tidak pernah meminta apa pun kepada Papa dan Mama. Aku juga tidak pernah menyusahkan kalian. Tetapi bila masih ada sedikit rasa sayang untukku, aku sangat berharap Papa dan Mama mau datang besok. Aku akan sangat bahagia bila orang tuaku mau datang sekali lagi memberi aku dukungan. Besok adalah hari yang sangat penting untukku.”
Setelah menyelesaikan pekerjaan dan mempersilakan Gista pulang, aku bergegas kembali ke rumah. Darla dan teman-temannya sudah mengerjakan tugas mereka dengan baik. Will juga membantu menjaga Hadi dan Colin di ruangannya. Mereka akan datang ke rumah setelah jam kerjanya usai.
Keadaan di rumah sudah ramai dengan kedatangan tamu undangan. Mereka bahkan membawa kado masing-masing. Za akan sangat senang menerimanya. Ara segera menyambut kedatanganku. Dia pasti kesepian ditinggal oleh tuannya sejak pagi. Aku menggendongnya dan membiarkan dia mencium wajahku. Sifatnya ini mirip sekali dengan kembaran namanya. Manja.
Yuyun memberitahu bahwa segalanya sudah siap. Aku memeriksa kebun samping dan dia benar. Tenda sudah terpasang dengan tegak, lengkap dengan lampu-lampunya. Meja makan sudah dihias dengan baik, semua peralatan makan juga sudah disusun dengan rapi.
Tiada yang lebih berharga untuk dilihat selain wajah terkejut sekaligus bahagianya saat menerima kejutan dari kami pada malam harinya. Dan dia sangat cantik dengan penampilannya. Aku melirik ke arah Darla, dia mengedipkan matanya kepadaku. Aku tertawa.
Semua orang bahagia pada malam ini. Istriku, anak-anak, keluarga kami, para sahabat, dan rekan kerja kepercayaanku. Kebahagiaan yang segera dirusak oleh kehadiran orang yang belum berhenti berharap kepada istriku.
“Mundur!” pekik Vivaldo saat aku melihat ada kesempatan untuk mendekatinya. Tubuhku bergetar dengan hebat melihat benda tajam itu masih menempel di leher istriku. Ini pasti hanya mimpi. Ini tidak nyata. Bagaimana bisa dia masuk ke pekarangan kami dan tidak ada yang melihatnya?
Tatapan menyerah Za membuatku semakin panik. Aku pernah melihat mata itu pada hari dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia sudah berjanji tidak akan melakukan ini lagi. Dia sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku dan anak-anak kami. Aku melihat ke sekeliling mereka, mencari celah untuk mendekat dan menjauhkan pisau itu dari istriku.
Orang-orang memekik panik dan ketakutan saat Za memegang tangan Vivaldo yang menggenggam pisau. Aku tidak tahu bagaimana cara menarik perhatian tanpa melukai istriku. Lalu salakan anjing mengejutkan kami semua, termasuk pria itu dan istriku.
Ara menggigit pergelangan kaki Vivaldo, aku segera memegang pergelangan tangan kanannya. Aku tidak tahu bagaimana anjing yang aku kurung di dalam ruang keluarga bisa keluar. Tetapi aku berterima kasih dia telah datang mengalihkan perhatian semua orang.
Tujuan utamaku hanya melumpuhkan pria itu agar tidak bisa melukai istriku lagi. Namun aku tidak menahan diri untuk memukul wajahnya, dadanya, perutnya, meluapkan amarahku. Pengecut. Mengapa dia tidak serang dan bunuh aku saja? Mengapa dia harus menyerang perempuan yang lebih lemah darinya?
__ADS_1