
~Za~
Aku sama sekali tidak tahu apa yang sudah disiapkan oleh Hendra. Yang aku tahu hanyalah bahwa acara hari ini disiapkan persis seperti yang aku inginkan. Jauh berbeda dengan pernikahan kami yang tidak aku pedulikan seperti apa bentuk acara dan segala detailnya.
Mama dan Rasmi sudah menculik aku dari kamar pada dini hari. Mereka bahkan memaksa aku untuk masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap. Hendra hanya tertawa lalu melanjutkan tidurnya. Melihat kedua wanita itu masih duduk menunggu di sofa, niatku untuk bermesraan sejenak dengan suamiku terpaksa aku batalkan.
Penata rias dan rambut sudah siap untuk melakukan tugas mereka saat aku masuk ke ruang keluarga. Teman-temanku juga sudah berada di sana. Suasana tenang itu sebentar saja sudah riuh dengan perdebatan mengenai tataan rambutku atau warna riasanku. Padahal kami sudah membahas hal ini sebelumnya dan kami sudah sepakat mengenai segalanya. Tetapi bukan perempuan namanya kalau tidak mendadak berubah pada detik terakhir.
Begitu aku selesai berdandan, mereka membantu aku mengenakan kebaya putih dan kain untuk menutupi bagian bawah tubuhku. Aku memilih kebaya daripada gaun untuk membedakan antara hari pernikahan dengan ulang tahun. Air mata mendesak keluar ketika aku melihat bayanganku di cermin. Ini adalah pernikahan impianku.
“Zahara? Ada apa? Mengapa kamu menangis?” pekik Qiana panik.
“Zahara? Riasan kamu akan rusak. Hei, ada apa? Mengapa kamu menangis? Apa ada yang salah dengan kebayanya?” tanya Lindsey khawatir.
“Tenang, tenang. Dia hanya emosional.” Mama memberikan tisu kepadaku untuk membantu menyeka air mata tanpa merusak dandananku.
“Ada apa ribut-ribut, say?” Penata rias yang tadi keluar ruangan sebentar agar aku bisa berpakaian masuk. “Zahara, ya, ampun, sayang! Jangan menangis begini. Aduh, aduh, riasan kamu bisa rusak lagi. Aku ngga mau, lo, reputasiku rusak karena riasan kamu jadi jelek.”
“Makanya cepat perbaiki. Aku belum dirias. Cepat!” ucap Qiana panik.
Dua jam menuju acara, mereka masih ribut mencari sepatu, bros, jepitan rambut, bahkan anting-anting yang mendadak tidak kelihatan. Aku hanya duduk melihat kekacauan di depanku. Ada fotografer dan kamerawan yang mengabadikan setiap momen. Aku tidak sabar melihat hasilnya nanti. Hiburan yang akan mewarnai hari-hariku.
__ADS_1
Liando sampai berulang kali masuk ke ruangan dan mengingatkan kami bahwa sudah saatnya untuk berangkat atau kami semua akan terlambat. Para sahabatku malah semakin histeris. Mama tertawa setiap kali dengan mudahnya berhasil menemukan barang yang mereka cari.
Sampai di hotel, aku belum bisa langsung menuju kebun di mana acara diadakan. Desainer kebayaku sudah menunggu untuk memasangkan ekor lepas pasang pada baju yang aku pakai. Para tim rias memberi sentuhan terakhir pada wajah dan rambutku, aku pun siap untuk menemui suamiku.
Jantungku berdebar dengan cepat ketika aku keluar dari ruangan menuju pintu ke kebun. Papa telah berdiri menunggu kedatanganku. Dia menatap aku dengan kagum sesaat. Lalu dia memeluk dan mencium pipiku. “Kamu sudah siap?” Aku mengangguk cepat.
Papa memberikan lengannya, aku melingkarkan tanganku pada lekukan lengannya tersebut. Aku tersenyum saat pintu dibuka. Kami melewati koridor sebelum tiba di punjung kayu yang dihiasi dengan bunga segar. Aku tersenyum melihat anak-anak berlari menyambut aku.
“Mama! Mama!” seru Dira mendekati aku. Zach segera menangkapnya, lalu menggendongnya.
“Dira, kamu bisa bersama Mama nanti. Kita main bunga dahulu, ya,” bujuk adikku.
“Mama!” pinta putriku dengan wajah memelas. Aku mendekat lalu mencium pipinya.
“Dira, sini.” Rasmi mengangkat sebuah keranjang kecil berisi kelopak bunga. Gadis itu segera mengulurkan tangannya. Zach mendesah lega. Dia membawa putriku mendekati istrinya. Lalu dia diletakkan kembali berdiri di rumput sambil memegang keranjangnya.
Alunan piano memainkan “I Get to Love You” yang dipopulerkan oleh Ruelle. Ara berjalan lebih dahulu yang disambut dengan tepukan tangan para tamu undangan. Hadi dan Dira menyusul sambil menebar kelopak bunga yang ada di dalam keranjang. Zeph dan Charlotte mengikuti mereka. Lalu aku dan Papa berjalan melewati punjung kayu. Aku mengingat ucapan Hendra agar hanya fokus kepadanya untuk mengurangi kegugupanku.
Lalu aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Karena lagu itu sangat emosional bagiku. Hati dan jiwaku hancur saat aku dan Hendra menikah. Aku masih mencintai seorang pria selama beberapa tahun pertama pernikahan kami. Tetapi kasih sayangnya kepadaku mengubah aku dan hidupku. Sampai aku berada pada sebuah kesimpulan bahwa aku tidak terpaksa mencintainya. Aku memilih untuk mencintainya.
Sudah banyak yang kami alami bersama, menguji cinta dan sumpah pernikahan kami. Kami bahkan memutuskan untuk menyerah dan berpisah. Lalu ujian lebih besar datang saat kami menyadari bahwa kami masih saling mencintai. Dan kami bertahan. Melalui lagu ini aku berjanji kepadanya, apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah pergi dari sisinya lagi.
__ADS_1
“Bapak dan Ibu sekalian, ayolah. Ini hari bahagia. Mengapa meneteskan air mata?” ucap Gista yang memimpin jalannya acara. Dia berdehem pelan, menandakan bahwa dia juga baru menangis. Kami tertawa mendengarnya. “Baik. Kita dengarkan pasangan yang sedang berbahagia ini membuat kita cemburu dengan pengucapan sumpah setia mereka kembali.”
Hendra tersenyum kepadaku. Dia menghela napas panjang sebelum mulai bicara. “Za, aku mencintai kamu. Dan aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena menjadi suamimu. Aku tahu bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna, pernikahan kita juga tidak. Tetapi aku tidak akan memilih wanita lain, andai waktu bisa diputar kembali.
“Aku juga tidak akan membatalkan perpisahan kita, karena lima tahun tidak bersama itu justru membuat ikatan di antara kita semakin kuat. Orang-orang tidak akan percaya ini, tetapi kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal. Kamu tidak hanya cantik dan indah secara fisik, ketegaran hatimu menghadapi masalah demi masalah, kelembutanmu membesarkan anak-anak kita, dan kesabaranmu menghadapi sikap posesifku membuat aku semakin jatuh cinta.
“Hanya bersamamu aku bisa menjadi diriku yang selalu aku sembunyikan dari orang lain. Aku tidak malu menjadi rapuh, manja, dan selalu mencari perhatian saat bersamamu. Kamu satu-satunya wanita yang membuat aku nyaman melepas topeng dan menjadi diriku sendiri. Dan aku tidak sabar menjalani apa lagi kejutan yang sudah disiapkan untuk kita pada esok hari. Aku tidak takut karena aku akan menjalaninya bersamamu selamanya, Nyonya Mahendra Satya Perkasa.”
Sejak dia mengatakan kalimat pertama, air mata mengalir dengan deras di kedua pipiku. Aku tidak bisa menahannya. Bukan dia, akulah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Hendra membantu menyeka air mataku. Aku membutuhkan beberapa menit untuk bisa menenangkan diri. Dia memeluk dan mencium pipiku sampai aku berhenti menangis. Teman-teman kami bertepuk tangan dan bersorak memberi dukungan sehingga aku bisa lebih cepat mengendalikan emosi.
“Aku lebih mencintai kamu, Hendra,” kataku dengan nada menggoda. Dia tertawa. Aku yakin dia teringat dengan malam pertama kali aku menyatakan perasaanku kepadanya. “Aku adalah wanita keras kepala yang patah hati dan tidak siap untuk jatuh cinta lagi saat kita pertama kali bersama. Tetapi kamu begitu sabar menghadapi aku dengan cinta dan perhatianmu.
“Kamu menyembuhkan luka di hatiku, mengajari aku untuk mencintai lagi, untuk percaya lagi. Kamu percaya kepadaku saat yang lain memalingkan wajah dariku. Kamu tetap berada di pihakku saat yang lain mengacungkan telunjuk mereka menyalahkan aku. Bahkan kamu melindungi aku dari mereka yang mencoba menyakiti aku.
“Maafkan aku membutuhkan waktu begitu lama untuk menyadari bahwa aku mencintai kamu. Maafkan aku harus melakukan sebuah kesalahan untuk tahu bahwa kamulah pria yang ada dalam hatiku. Bukan yang lain. Dan maafkan aku telah membiarkan kamu pergi tanpa mencoba menahan kamu untuk tetap tinggal bersamaku.
“Aku punya begitu banyak penyesalan tetapi aku tidak mau menyesal lagi. Aku akan berusaha menjaga cinta kita sekuat tenaga. Aku akan bersamamu sampai kematian memisahkan kita. Jangan pernah tinggalkan aku, sayang. Kamu tahu bahwa aku tidak sempurna. Tetapi jangan pergi bila kamu menemukan yang lebih baik dariku. Jangan keluar dari hidupku saat masalah semakin berat menekan kita.
“Karena bila kamu berani melakukannya, aku punya lima orang sahabat yang akan membantu aku mendapatkan kamu kembali. Aku tidak bercanda. Kamu tidak bisa pergi lagi dari hidupku. Kamu terjebak selamanya bersamaku.”
Mendengar suara tawa para tamu, aku tahu bahwa Darla, Qiana, Lindsey, Claudia, dan Rasmi sudah berdiri di belakangku sesuai dengan rencana kami untuk menunjukkan betapa seriusnya ucapanku tadi. Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa menunggu instruksi dari Gista, dia mendekati aku, melingkarkan tangannya di tubuhku, lalu mencium bibirku.
__ADS_1
“Sepertinya aku sudah tidak diperlukan lagi. Pasangan kita sudah punya agenda mereka sendiri,” goda Gista. Semua orang tertawa mendengarnya. “Aku tahu acara berikutnya ini akan sangat membosankan karena siapa yang suka mendengar pidato? Tidak ada. Tetapi kalian tidak boleh mengeluh bila ingin makan siang gratis.” Suara tawa kembali terdengar.
“Kesempatan pertama saya berikan kepada Pak Adhyana Perkasa.” Aku melihat ke arah yang sama yang Gista lihat. Aku menatap tidak percaya. Bukan hanya Papa, Mama juga datang. Bagaimana bisa? Bukankah mereka masih marah kepadaku?