Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 199 - Batalnya Syarat Damai


__ADS_3

Sedikit lagi aku akan menyentuh kenop pintu, tetapi seseorang bergerak lebih cepat. Pintu terbuka dari luar dan aku tidak bisa menghindari tabrakan di antara kami. Tanganku ditarik sehingga aku berdiri di belakangnya dan tangannya yang lain memegang tangan Nora yang mengacungkan pisau.


“Lepaskan aku!” pekik Nora. Abdi dan Liando segera mendekatinya dan memegang tangan serta tubuhnya. Wanita itu memberontak berusaha untuk membebaskan dirinya. Hendra melepaskan tangannya lalu menoleh ke arahku. Liando mengambil benda tajam itu dari tangan Nora dan memberikannya kepada Fahri.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Hendra dengan wajah memucat. “Ada yang terluka? Apa dia menyakiti kamu? Jawab aku, Za!”


“A-aku baik-baik saja.” Aku melihat ke arahnya setelah dari tadi memerhatikan apa yang pekerja rumah kami lakukan kepada Nora. Mereka menyeretnya keluar dari ruangan. Hendra memeriksa tubuhku dari bagian depan ke belakang. Dia mendesah pelan ketika melihat tidak ada yang terluka.


“Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup karena ulahmu.” Dia memeluk aku begitu erat. Aku masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Hendra melepaskan pelukannya lalu menatap aku dengan saksama. “Kamu diam saja. Ada apa? Apa semua baik-baik saja?”


“Dia bilang dia butuh bantuan. Aku tidak tahu bahwa dia akan melakukan itu. Hidupnya sudah susah, mengapa dia membuatnya semakin susah lagi?” tanyaku tidak mengerti. Dia sudah lolos dengan mulus dari semua kejahatan yang dia lakukan. Untuk apa dia menerjunkan dirinya lagi pada hal yang lebih jahat? “Apa dia sebenci itu kepadaku?”


“Dia membenci semua orang yang menghalangi dia mendapatkan apa yang dia mau. Dia tidak hanya membenci kamu,” ralatnya.


“Tetapi dia tidak membenci kamu,” kataku pelan.


“Itu karena dia mencintai uangku.” Hendra mendesah pelan. Lalu dia mencium keningku. “Walaupun aku sangat marah kepadamu sekarang, aku harus berterima kasih. Kejadian hari ini akan membuat dia tidak bisa lari lagi dari penjara. Syarat damai kita dengannya dianggap batal. Dia akan mendekam sangat lama di penjara. Oscar akan sangat menyukai ini.”


“Oh, iya. Kamu benar.” Aku tertawa kecil. Yang kemudian berubah menjadi tawa bahagia. “Oh, Tuhan. Akhirnya, kita benar-benar bebas dari dia!”


Aku lupa. Kami punya persyaratan damai agar tuntutan atas kejahatan yang dia lakukan kepada kami sebelumnya kami tarik dari kantor polisi. Melalui usahanya untuk membunuhku, maka kami bukan hanya mendapatkan keinginan kami agar dia mengaku di depan semua orang, tetapi juga berhasil mengirim dia ke penjara.


Abdi dan Liando sudah mengikat Nora di salah satu kursi yang diambil dari dapur. Kedua tangan dan kakinya diikat ke tangan dan kaki kursi menggunakan tali. Mulutnya disumpal mungkin karena mereka tidak berhasil membuatnya diam. Ada dua mobil polisi yang datang bersamaan dengan Pak Oscar dan Zach.

__ADS_1


“Apa sebenarnya yang ada dalam kepalamu, Kak Ara!?” seru Zach membuat jantungku nyaris melompat keluar dari dadaku. Dia tadi langsung datang mendekati aku dan tidak menyapa Hendra yang dilewatinya terlebih dahulu. “Apa kamu benar-benar sudah bosan hidup? Perempuan ini orang jahat dan licik, mengapa masih dibiarkan masuk ke rumah?!”


“Bisakah kamu bicara pelan-pelan dan tidak berteriak begini?” kataku dengan suara tertahan. Ada banyak orang di sekitar kami dan teriakannya membuat aku malu.


“Bagaimana aku tidak berteriak?! Kakak bisa saja mati, lalu apa yang akan terjadi kepada Kak Hendra dan anak-anak?! Jangan lupa dengan Mama dan sakit jantungnya. Mama bisa mati mendadak kalau sampai Kakak mati lebih dahulu darinya!” Dia mengabaikan ucapanku dan berbicara semakin keras.


Aku melihat ke arah Hendra, memohon pertolongannya. Tetapi dia hanya melihat aku sesaat, lalu kembali bicara dengan petugas polisi yang menanyakan beberapa hal kepadanya. Suami yang jahat. Aku sedang butuh bantuan, dia malah mengabaikan aku. Aku melihat Nora sudah dibawa keluar oleh dua orang polisi menuju mobil mereka. Keberanianku pun muncul.


“Aku baik-baik saja. Lagi pula kamu harusnya bangga kepadaku. Berkat kejadian hari ini, aku berhasil melempar Nora ke penjara untuk waktu yang lama. Dia tidak akan mengganggu hidup kita lagi.” Aku mengangkat daguku, begitu bangga dengan prestasiku hari ini.


“Bangga? Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memenjarakan dia. Tetapi tidak dengan membahayakan nyawa kita sendiri. Ke mana Kak Ara yang aku kenal cerdas dan selalu penuh dengan pertimbangan itu? Pertama, nekat menyakiti diri sendiri saat si bodoh Vivaldo itu datang. Sekarang Kakak malah mengundang musuh masuk ke rumah? Besok apa lagi?!” amuknya. Aku menutup telinga dengan kedua tanganku.


“Berisik!” hardikku kesal.


Mereka berbicara dengan serius, lalu petugas polisi itu pergi. Dia dan rekannya mengikuti Liando masuk ke ruang depan. Hendra mendekati Abdi untuk membisikkan sesuatu kepadanya. Kepala pelayan kami itu mengangguk. Aku melihat ke arah tangga. Aku lupa. Bagaimana keadaan anak-anak? Apa mereka sudah bangun tidur?


“Sayang, apa kamu sudah bisa berpikir dengan tenang sekarang?” tanya Hendra. Dia mengusap lenganku. Aku menatapnya dengan bingung.


“Apa maksud kamu?” tanyaku.


“Polisi membutuhkan keterangan darimu sekarang. Hanya kamu dan Nora yang berada di ruangan tadi. Meskipun ada rekaman CCTV sebagai bukti, mereka membutuhkan pernyataan tertulis karena rekaman itu hanya berisi video tanpa audio. Tetapi kalau kamu belum siap, kita bisa ke kantor polisi besok pagi.”


“Aku baik-baik saja. Aku siap untuk memberikan keterangan.”

__ADS_1


“Kamu tahu peraturannya, ‘kan? Bila mereka bertanya, kamu hanya boleh menjawab ketika Oscar mengizinkanmu. Jika dia bilang tidak, kamu harus diam,” ucap Hendra mengingatkan aku mengenai peraturan dasar saat memberikan keterangan. Aku mengangguk mengerti.


Hendra mengajak aku dan Pak Oscar menuju ruang keluarga. Dua orang petugas polisi masuk kemudian dan duduk di sofa yang ada di depan kami. Pertanyaan yang mereka ajukan sudah bisa aku tebak. Maka aku menyampaikan kronologi dari Nora berdiri di depan gerbang sampai usahanya untuk menyakiti aku dengan pisau yang dibawanya.


Mereka menanyakan apa yang kami bicarakan terakhir kali yang membuat Nora mengeluarkan benda tajam itu. Aku menjawab dengan jujur bahwa aku yakin Hendra tidak akan mau menolong dia untuk membebaskan ayahnya dari kasus hukum yang menjeratnya. Lalu dia menganggap bahwa aku hanya seorang penghalang untuk mencapai tujuannya.


Ketika mereka puas dengan jawabanku dan tidak ada hal lain yang ingin mereka ketahui, Pak Oscar mengambil alih. Dia mengatakan bahwa aku siap untuk datang kapan saja ke kantor polisi apabila mereka membutuhkan keterangan tambahan.


Setelah satu jam lebih memeriksa ruang tamu untuk mengumpulkan bukti, mereka pun pamit. Kami kembali masuk ke rumah dan berkumpul di ruang keluarga. Yuyun menyajikan makanan dan minuman di hadapan kami, pertanda pembicaraan ini akan berlangsung lama.


“Sayang, katakan kepada kami. Apa yang kamu maksud dengan kamu adalah penghalang Nora untuk mencapai tujuannya?” tanya Hendra. Aku menatapnya, lalu Pak Oscar dan adikku.


“Mereka mendekati Mama karena mereka ingin tetap hidup mewah. Mereka sudah lama tahu bahwa identitas Nora suatu hari nanti akan terbongkar. Sebelum hal itu terjadi, mereka ingin memastikan bahwa hidup mereka sudah aman.” Aku menyampaikan semua yang Nora ucapkan kepadaku mengenai rencananya bersama orang tuanya.


“Pantas saja mereka tidak peduli harus mengeluarkan banyak uang untuk merusak pernikahan kita dan melibatkan begitu banyak orang. Dicky, Vivaldo, bahkan membayar orang untuk memberi komentar buruk mengenai kamu.” Hendra mengusap-usap dagunya.


“Jangan lupa. Mereka sampai menggunakan cara yang tidak benar untuk mendapatkan lebih banyak uang. Akhirnya, mereka ketahuan juga terlibat dalam  kasus korupsi,” ucap Zach menimpali.


“Kalau begitu, saya akan menyiapkan semua dokumen lengkap tuntutan kita atas semua perbuatan jahat Nora, Pak. Dia melanggar perjanjian damai, maka saya boleh melanjutkan tuntutan kita sebelumnya, ‘kan?” tanya Pak Oscar.


“Tentu saja. Dia tidak akan bisa berkutik lagi. Aku yakin, dia tidak akan punya cukup uang untuk membayar jasa pengacara mahal yang membantunya sebelumnya.” Hendra tersenyum puas.


“Kalau begitu, tinggal satu masalah lagi,” ujar Zach. Kami menatapnya dengan bingung. Masalah apa lagi yang dia maksudkan?

__ADS_1


__ADS_2