Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 116 - Satu Orang Lolos


__ADS_3

~Hendra~


Satu minggu setelah para penculik itu ditangkap, mereka menutup mulut rapat-rapat. Mereka tidak mau menyebut nama orang yang telah menyuruh mereka melakukan aksi itu. Aku dan pengacaraku tidak percaya bahwa itu adalah aksi acak mereka. Tidak ada komplotan penjahat mana pun yang akan menculik anak orang yang tidak pernah punya masalah dengan mereka.


Irwan sudah memeriksa Sherry dan dia tidak terlibat sama sekali dengan kasus penculikan tersebut. Dia bahkan memeriksa Aldo tetapi hasilnya nihil. Sebelum menanyakan hal itu kepada Zahara, aku memeriksa kasus itu sendiri tanpa bantuannya. Aku meminta Oscar untuk mengirim foto semua pelaku tersebut dan mengamati wajah mereka satu-persatu.


“Ada satu orang yang tidak ada pada foto-foto ini,” kataku setelah tidak menemukan satu wajah yang tidak akan aku lupakan. “Apakah ini semua orang yang ada dalam tahanan?”


“Iya, Pak. Salah satu anak buah Irwan juga mengatakan hal yang sama, tetapi saya tidak ada di lokasi kejadian. Jadi saya tidak bisa membantu menguatkan pernyataannya.” Dia kembali menerima foto tersebut dariku.


“Baik. Aku akan ke Bogor pada hari Senin dan bicara langsung dengan petugas kepolisian. Aku akan memberi ciri-ciri wajah pria itu agar pencarian bisa dimulai.” Aku memilih nomor kontak Irwan pada ponselku dan menghubunginya.


“Ya, Hendra.” Irwan segera menjawab pada deringan pertama.


“Aku butuh keterangan dari orangmu yang menyatakan bahwa ada satu penjahat yang lolos. Aku akan ke Bogor pada hari Senin. Apa dia juga bisa menemuiku di kantor polisi?” tanyaku cepat.


“Tentu saja. Apa kamu perlu mereka semua hadir di sana?” Dia balik bertanya.


“Hanya yang melihat wajah orang yang tidak ikut tertangkap.” Kami mengakhiri hubungan telepon, lalu aku berdiskusi dengan Oscar mengenai hal yang akan kami sampaikan kepada polisi nanti.


Aku sudah begitu lelah dengan pekerjaan, kini harus membagi waktu juga untuk urusan penculikan Dira yang masih diusut oleh kepolisian. Aku bersikeras bahwa ada orang yang menyuruh mereka. Karena itu aku tidak membiarkan kasus itu dianggap telah siap untuk diajukan ke pengadilan.


Berada jauh dari lokasi penculikan tersebut sama sekali tidak membantu. Aku tidak bisa datang ke kantor polisi kapan saja aku membutuhkannya. Oscar sudah sangat membantu mewakiliku, tetapi dia hanya bisa bertindak sebagai kuasa hukumku.


Pintu ruang kerjaku diketuk, aku mempersilakan masuk. Sekretaris baruku, Gista, memasuki ruangan. “Ada surat untuk Bapak.” Dia meletakkan surat tersebut di atas meja, aku mengambilnya. Tanpa menunggu respons dariku, dia segera keluar dari ruangan.

__ADS_1


Aku membuka amplop dan membaca isi pada surat resmi tersebut. “Sherry melaporkan aku kepada dinas ketenagakerjaan karena PHK yang sepihak. Aku pikir kamu sudah mengurus hal ini.”


“Dia tidak peduli dengan semua penjelasan yang saya berikan, Pak. Dia bersikeras ingin kembali bekerja sebagai sekretaris Bapak,” jawab Oscar. Aku melipat surat itu kembali dan memasukkan ke amplopnya. Waktuku habis hanya untuk mengurus wanita yang berpikir bahwa dia orang penting.


“Baik. Kamu temani aku saat memenuhi panggilan ini. Silakan kembali ke ruanganmu. Serahkan semua tugasmu yang lain pada hari Senin dan Selasa depan kepada Zach. Kita akan berurusan dengan polisi dan dinas ketenagakerjaan pada dua hari itu.”


“Baik, Pak.”


Semua dokumen dan janji temu pada hari ini telah aku selesaikan sebelum jam pulang kerja. Aku terlalu lelah untuk memenuhi undangan sebuah perayaan yang diadakan di hotel, maka aku meminta sekretarisku untuk mengirim kado dariku sebagai perwakilan.


Ponselku bergetar ketika aku telah mematikan komputer dan merapikan dokumen yang telah aku periksa. Aku mendesah pelan membaca nama Mama pada layar. “Iya, Ma.”


“Kita sudah lama tidak bertemu. Makan malam bersama kami? Lokasinya tidak jauh dari kantormu. Jadi, kamu dan Papa tidak perlu bergelut dengan kemacetan.” Aku akan memberi jawaban, Mama segera melanjutkan, “Aku tidak mau mendengar jawaban tidak.”


“Jika ini keharusan, mengapa Mama bertanya dan tidak langsung perintah saja?” ucapku datar.


Aku melirik jam tanganku. Pukul lima sore. Aku tidak akan bisa tiba di rumah sebelum jam makan malam. Aku menghubungi Za dan memberitahunya bahwa aku akan pulang agak malam dan tidak bisa makan bersama mereka. Dia hanya mengiyakan. Aku menatap layar ponselku dengan heran. Sudah beberapa hari ini sikapnya agak aneh.


Kafin menolak ajakanku untuk makan malam bersama kami, maka aku memberinya sejumlah uang untuk membeli makanannya sendiri. Seorang pelayan membantu membukakan pintu restoran saat aku masuk. Aku menyebut nama Mama dan dia mengantarku ke sebuah ruangan. Tidak biasanya orang tuaku mengajak makan di tempat yang privasi.


Saat pintu dibuka, aku yakin bahwa pelayan salah mengantarku ke ruangan yang aku tuju. Dalam ruangan itu hanya ada wanita yang tidak kalah keras kepalanya dengan ibuku. Aku tidak peduli dengan etika atau kesopanan apa pun, aku membalikkan badan.


“Hendra, tunggu!” teriak Nora. Aku jelas mendengar Mama mengatakan bahwa dia dan Papa sudah menunggu. Itu artinya mereka sudah tiba di restoran ini. Bila hanya ada perempuan itu di dalam, maka Mama sedang menjebakku. Langkahku terhenti ketika tanganku ditarik dari belakang.


“Tolong, lepaskan tanganku. Aku ada janji makan malam dengan orang tuaku. Bukan denganmu.” Dia tidak memedulikan ucapanku, maka aku menepis genggaman tangannya.

__ADS_1


“Bila aku tidak melakukan ini, kamu tidak akan mau bertemu denganku.” Akhirnya dia mengaku. “Dengar, aku ingin lebih mengenalmu. Jika kamu tidak mau ada hubungan profesional di antara kita, apa kita tidak bisa berteman?”


“Jawab pertanyaanku ini, apa kamu akan bertindak seperti ini juga jika aku tidak punya apa-apa? Apa kamu akan melakukan segala cara untuk bertemu denganku bila aku bukan pengusaha kaya raya?” tanyaku dengan serius.


“Aku mencintaimu, Hendra. Aku jatuh cinta kepadamu karena itu aku ingin bersamamu. Perasaanku ini tidak ada hubungannya dengan status atau kekayaanmu. Lagi pula kita berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sama. Kita adalah pasangan yang serasi.”


“Itu tidak menjawab pertanyaanku. Jangan lakukan ini lagi. Kamu tidak akan suka berurusan dengan Hendra yang muak dengan sikapmu.”


“Baiklah. Baik. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sudah memesan makanan untuk kita, sayang bila tidak dihabiskan. Kamu mau, ‘kan, makan bersamaku?” Dia bertanya dengan memasang senyum manis pada wajahnya dan mata memelas.


“Silakan undang papa dan mamaku untuk makan malam bersamamu. Bukankah ini adalah rencana kalian? Aku tidak tertarik.” Kali ini aku tidak menunggu dan terus berjalan sampai keluar restoran. Dia berusaha untuk mengajakku kembali ke ruangan tadi, aku mengabaikannya.


Kafin pasti sedang makan malam di rumah makan terdekat, maka aku menunggunya di dalam mobil. Ini adalah terakhir kalinya aku percaya kepada ibuku sendiri. Tidak lagi. Ada apa dia begitu bersikeras agar aku dan wanita itu bersama? Dia bahkan bukan orang yang peduli kepada ibuku. Dia hanya peduli kepada dirinya sendiri.


Aku sudah sangat lelah saat tiba di rumah, tetapi aku bahagia mendapat sambutan dari Ara dan anak-anakku. Za tidak ada di antara mereka. Dia pasti berada di ruang keluarga. Aku membawa mereka ke sana agar aku bisa ke kamar sebentar.


Dia hanya tersenyum seadanya ketika aku membuka pintu ruangan tersebut, lalu kembali melihat ke arah layar televisi. Ada beberapa gelas di atas meja, Papa dan Mama pasti datang berkunjung lagi tadi. Mereka suka sekali bermain bersama cucu mereka.


“Anak-anak, biarkan Papa makan sebentar. Kalian tunggu di ruang nonton, ya.” Za masuk ke ruang makan dan anak-anak menurutinya.


“Bukankah kamu sudah makan? Mengapa kamu meminta Yuyun menyajikan makanan untukmu?” Dia menatapku dengan heran.


“Aku belum makan. Iya, tadi aku meneleponmu dan mengatakan bahwa aku ada acara makan ….” Aku putuskan untuk tidak memberitahunya apa yang terjadi tadi.


“Kamu pasti sibuk bermesraan dengan gadis muda dan cantik itu di dalam ruangan khusus kalian sehingga tidak sempat menyentuh makananmu, ‘kan?” kata Za membuatku terkejut. Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku bertemu dengan wanita itu? “Kamu terkejut aku mengetahuinya? Qiana dan Helmut juga ada di sana. Tetapi kamu terlalu fokus bicara dengannya sampai tidak melihat mereka.”

__ADS_1


“Apa yang terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan, Za.” Aku tidak harus menjelaskan ini kepadanya, tetapi aku tidak suka melihat wajah terlukanya.


“Untuk apa kamu peduli dengan apa yang aku pikirkan? Kamu sudah mengatakannya dengan jelas kepadaku. Kita adalah dua orang dewasa. Kita berciuman, berpelukan, bahkan bercinta karena kita sama-sama menginginkannya. Kita tidak punya hubungan khusus apa pun. Jadi, aku tidak akan bertanya apa hubunganmu dengan perempuan itu.”


__ADS_2