Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 185 - Satu Masalah Selesai


__ADS_3

“Om Nelson,” jawabku singkat. Bukan ketiga orang yang Papa pikirkan yang melakukannya, tetapi yang lain. Orang yang bersikap baik kepada mereka tetapi menusuk dari belakang.


“Ayah dan putrinya sama saja. Mengapa dia menyebarkan berita tersebut?” tanya Papa tidak mengerti. “Dia ingin putrinya menikah denganmu, mengapa malah merusak nama baikku?”


“Untuk mengalihkan perhatian publik dari kasus besar yang menjeratnya,” jawabku santai. Papa membulatkan matanya.


“Kasus besar? Maksud kamu, dia juga terlibat dalam kasus korupsi itu?” tanya Papa tidak percaya. Aku mengangguk.


“Iya. Organisasi fiktifnya mendapatkan sejumlah besar uang dari donatur. Dia menggunakannya untuk karir politiknya ditambah dengan utang di sana-sini. Sayangnya, dia kalah pada saat pemilihan legislatif. Untuk menutupi utangnya, dia bekerja sama dengan Vivaldo untuk memenangkan proyek besar. Proyek tidak berjalan tetapi uang anggaran tetap habis.”


“Bagaimana dia dan Vivaldo bisa saling mengenal?” tanya Papa heran.


“Sepertinya Vivaldo menjanjikan bantuan kepada Nora dan Dicky bila mereka berhasil memisahkan kami berdua. Karena bukan hanya Om Nelson, Om Garry juga mendapat bagian dari proyek besar tersebut.” Aku sengaja memelankan suaraku agar hanya kami yang mendengar berita itu. Ayah Nora dan Dicky bukanlah orang sembarangan.


“Wow, kasus ini banyak melibatkan orang berpengaruh. Pasti penyidik akan mengalami kesulitan menangkap orang-orang besar ini.” Papa berdecak pelan. Aku tersenyum.


“Buktinya sudah ada, hanya tinggal diserahkan ke pihak yang berwajib, Pa. Om Nelson dan Om Garry tidak akan bisa berkelit lagi. Mereka juga kehilangan pendukung, mustahil mereka bisa dapat dana untuk membantu menyuap petugas. Vivaldo tidak mau buka mulut sekalipun, dia sudah tidak bisa melindungi mereka lagi.”


“Inilah sebabnya aku tidak mau terlibat dalam politik. Mereka mengancam akan menghancurkan usahaku sekalipun, aku tidak mau memberikan uang kepada mereka. Lebih baik perusahaan kita hancur daripada nama baik kita rusak karena terlibat korupsi.” Papa menatapku penuh arti.


“Papa jangan khawatir. Aku juga tidak akan masuk ke politik. Aku hanya ingin menjadi pengusaha seperti Papa. Aku tidak punya ambisi menjadi anggota dewan atau pemimpin daerah,” kataku menenangkannya. “Masalah di perusahaan dan keluarga sudah banyak, aku tidak ingin menambah bebanku lagi.”


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Za hanya diam saja. Tidak seperti saat kami berangkat tadi. Dia tidak berhenti bicara karena mengkhawatirkan keadaan Mama. Aku sempat berpikir untuk tidak pulang ke rumah melainkan mampir ke suatu tempat. Tetapi dengan situasi ini, aku tidak yakin bahwa dia akan menikmati berjalan-jalan bersamaku.


Aku belum berhasil menemukan cara agar istriku dan Mama bisa berbaikan kembali, malah muncul masalah yang membuat hubungan Papa dan Mama guncang. Salah satu cara yang paling efektif adalah menyingkirkan Nora. Tetapi setelah semua kejahatan yang dia lakukan, Mama masih saja berpihak kepadanya. Aneh sekali. Apa iya mamaku menginginkan aku menikah dengan wanita jahat?


Namun aku merasa lega karena satu masalah lagi telah selesai. Isu mengenai Papa dan Gista sudah bisa kami atasi begitu Om Nelson dan Om Garry ditahan polisi. Irwan akan mengutus orang untuk menyerahkan bukti keterlibatan mereka kepada pihak yang berwajib.

__ADS_1


Irwan dan timnya memang sangat hebat dalam mengusut hal seperti ini. Begitu Vivaldo keluar dari persembunyiannya, mereka bergegas memeriksa setiap jejak yang dia tinggalkan sebelum ada yang menghapusnya lagi. Dan peretas ulungnya berhasil mengkopi setiap rekaman CCTV sebagai bukti.


Vivaldo bukan target baru, dia adalah orang yang sudah mereka kenali cara berpikirnya. Jadi mereka tahu di mana kemungkinan dia menyembunyikan bukti keterlibatan nama-nama orang pada kasus tersebut. Daftar yang masih dicari oleh penyidik.


Seperti yang Papa katakan, ada banyak orang yang berpengaruh yang terlibat. Papa benar. Aku saja sampai terkejut begitu Irwan membaca lima nama teratas yang ada pada daftar tersebut. Mereka sudah kaya raya, untuk apa lagi terlibat proyek fiktif dan merusak nama mereka sendiri?


“Kamu tidak akan terlibat dalam permainan anggaran, ‘kan, sayang?” tanya Za saat kami kembali duduk bersama di ruang keluarga.


“Bagaimana aku tertarik pada uang banyak bila istriku tidak suka membelanjakan uang yang aku berikan kepadanya?” ucapku berpura-pura sedih. Dia segera memeluk tubuhku.


“Aku sudah punya segalanya, apa lagi yang perlu aku beli? Lebih baik bila uangnya aku tabung. Kalau suatu hari nanti kamu bangkrut, aku akan membiarkan kamu berlutut di depanku dan memohon bantuan dariku. Pasti menyenangkan melihat kamu yang biasanya begitu sombong malah berlutut mengharapkan pertolongan.” Aku tertawa mendengar penjelasannya tersebut.


“Istri mana yang berdoa agar suaminya bangkrut?” Aku menggeleng tidak percaya.


“Istri yang sesekali ingin pegang kendali,” jawabnya. Aku menatapnya sesaat. Apa iya aku terlalu mengekangnya sehingga dia merasa bahwa aku yang selalu memegang kendali? Apa dia tidak sadar bahwa hatiku, jiwaku, bahkan hidupku ada dalam genggaman tangannya?


“Kamu ingin sesekali pegang kendali? Dengan mengharapkan aku berlutut di depanmu dan memohon kepadamu?” tanyaku mengonfirmasi. Dia tertawa geli sambil mengangguk. “Kamu tidak perlu menunggu sampai aku bangkrut. Aku bersedia melakukannya sekarang.” Aku melepaskan pelukannya, lalu berdiri dan berlutut di depannya. Dia tertawa lagi.


“Karena kamu mencintai aku tetapi hati kamu masih dipenuhi dengan Vivaldo yang arogan itu.” Aku mengatakannya dengan penuh rasa jijik. Dia tertawa. Aku berlutut di antara kedua kakinya dan dia melingkarkan tangannya di leherku.


“Percaya diri sekali kamu. Aku belum mencintai kamu saat kita menikah. Wanita mana yang mau menikah dengan laki-laki sombong seperti kamu?” tanyanya.


“Banyak, sayang. Sangat banyak dan kamu telah menyaksikannya sendiri. Kamu tahu, kamulah yang bersikap sombong. Aku justru bersikap sangat manis kepadamu.” Aku mengecup bibirnya. Saat aku menjauhkan diri, dia menahan kepalaku dengan tangannya yang ada di belakang leherku, lalu mencium aku kembali. “Ada yang sedang bergairah.”


“Sangat. Aku benci puasa ini,” keluhnya pelan. Aku tertawa.


“Memiliki suami bertubuh bagus memang sangat menggoda, sayang.” Dia mendengus pelan.

__ADS_1


“Ini hanya hormon. Siapa pun suamiku, aku akan merasakan hal yang sama,” katanya dengan sombong. Aku menjauhkan diri untuk bisa menatap wajahnya dengan saksama. Dia tersenyum menantang aku.


“Siapa pun suami kamu?” Aku memicingkan mataku.


“Iya. Ada apa? Apa kamu pikir pesona kamu begitu luar biasa sehingga itu yang membuat aku menginginkan kamu?” tantangnya.


“Tarik kata-kata kamu itu.” Aku menatapnya dengan serius.


“Ini hanya hormon. Siapa pun suamiku, aku akan bergairah kepadanya.” Dia mengulang kembali kalimatnya tadi. Oke. Dia yang memulainya. Aku segera mencium satu titik lemahnya, tepat di bawah telinga kirinya. Dia segera tertawa karena geli. Aku tidak berhenti sampai dia meminta ampun. “Apa sekarang kamu akan menarik kalimatmu tadi?”


“Apa kamu ini tidak bisa lagi diajak bercanda?” Dia mencubit pipiku.


“Menyebut laki-laki lain bukanlah canda. Kamu tahu benar aku tidak suka kamu menyebut mengenai pria lain dalam percakapan kita,” kataku dengan serius. Wajahnya berubah sedih. “Ada apa, sayang? Maaf, apa aku salah bicara?”


“Aku mencintai kamu, Hendra,” ucapnya pelan. Aku menatapnya dengan bingung. “Dan aku takut kehilangan kamu.”


“Aku juga mencintai kamu, sayang.” Aku membelai pipinya. “Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”


“Kamu lihat sendiri bahwa Nora masih punya hubungan baik dengan Mama. Padahal Mama sudah melihat dan mendengar sendiri semua kejahatan yang dia lakukan. Bagaimana kalau suatu hari nanti mereka berhasil memisahkan kita?” katanya sedih. Aku tersenyum.


“Maka aku akan menikahi kamu lagi,” jawabku dengan santai. Dia terlalu menganggap tinggi pengaruh Mama terhadap aku. Apa dia tidak tahu bahwa selama ini aku tidak tunduk pada satu pun yang orang tuaku katakan kepadaku bila hal itu menentang nuraniku?


“Bisakah sekali ini saja kamu menganggap serius kekhawatiran aku?” katanya kesal.


“Kamu tahu mengapa aku tidak khawatir mengenai pernikahan kita?” tanyaku. Dia menggeleng pelan. “Karena sekarang sudah berbeda dengan yang sebelumnya. Sekarang kita berdua saling mencintai. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, sayang. Dan mengenai Mama, kamu juga jangan khawatir. Giliran kamu akan tiba untuk bisa dekat lagi dengannya.”


“Oh, ya? Bagaimana caranya?” tanyanya antusias. Aku tahu bahwa dia tulus sayang kepada ibuku.

__ADS_1


“Rawat Mama sampai dia sembuh. Kamu adalah seorang ibu, aku yakin kamu bisa melakukannya dengan baik.” Wajahnya kembali cemberut.


“Mama hanya mau Nora yang berada di sisinya. Bagaimana aku bisa punya kesempatan merawat Mama?” tanyanya bingung. Aku tersenyum penuh arti.


__ADS_2