
“Aku belum selesai bicara denganmu. Dasar perempuan munafik! Kamu akui saja bahwa kamu menggunakan koneksimu untuk mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris Hendra. Tidak mungkin orang yang tidak punya pengalaman seperti kamu bisa lolos menjadi sekretaris dirut secepat ini.” Sherry memandang Gista dengan mata menyala marah.
“Terserah kamu mau bilang apa. Tetapi biarkan kami pergi,” kata laki-laki itu dengan nada tidak suka. “Apa kamu tidak malu bertingkah seperti ini di depan umum?”
“Hei, aku belum selesai bicara!” Sherry mendorong bahu pria itu saat dia berusaha untuk melewati mereka lagi. Kedua temannya membantu menghadang mereka.
“Apa masalahmu sebenarnya? Kami tidak mengenalmu. Berhenti bicara omong kosong.” Laki-laki itu mulai marah.
“Apa ini hobi barumu, Sherry?” tanyaku melerai perdebatan mereka. Kelima pasang mata itu menoleh dan bergantian melihat antara aku dan suamiku.
“I-ibu Mahendra, Pak Mahendra,” sapa Gista dengan sopan. Sherry terdiam tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
“Apa pita suaramu tiba-tiba rusak?” tanyaku kepada Sherry. Teman-temannya mengajaknya untuk pergi. Tanpa mengatakan apa pun, dia menatap dengan tajam ke arah Gista lalu pergi. “Perempuan aneh. Apa dia sudah tidak punya pekerjaan lain yang lebih penting?”
“Maaf, Ibu dan Bapak harus melihat kejadian ini,” ucap Gista merasa tidak enak.
“Bukan kesalahanmu, mengapa kamu meminta maaf?” Aku tersenyum kepadanya. “Pengganggu sudah pergi, kami juga tidak akan menghalangi kalian. Apa kalian ingin menonton juga?”
“Ah, iya. Kami bosan di rumah, jadi kakak saya mengajak menonton film.” Dia melihat ke arah pria yang berdiri di sisinya.
“Kakak?” Aku menatapnya dan pria itu secara bergantian. Berarti masih ada secercah harapan untuk Will. Syukurlah. Aku pikir pria ini tadi adalah pacarnya. Aku mendengar suamiku tertawa kecil.
“Perkenalkan, Bu. Arga, kakak kandung saya,” ucap Gista. Pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Hendra. Dia terlihat terkejut. Aku dan Gista hanya tertawa geli.
__ADS_1
“Aku Mahendra. Ini istriku, Zahara,” ucap Hendra memperkenalkan kami berdua. Arga tertawa kecil setelah rasa terkejutnya hilang. “Karena kalian juga akan ke bioskop, ayo, kita ke sana sekarang. Kami tidak mau tertinggal pembuka film.”
Hendra masih meletakkan tangannya di bahuku. Kami berjalan bersama, aku melihat ke arah Gista yang berjalan di belakang kami bersama Arga. “Apa yang terjadi tadi? Mengapa Sherry mengganggu kalian?” tanyaku ingin tahu.
“Kami juga tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja dia menghadang kami dan mengatakan hal-hal bahwa saya curang, menyuap orang, menjual tubuh, dan tuduhan lainnya.” Gista menoleh ke arah kakaknya yang menggelengkan kepalanya. “Yang saya tahu, dia adalah sekretaris Pak Hendra sebelum saya.”
“Iya. Itu benar. Mungkin dia hanya iri karena kamu baru bergabung langsung menjadi sekretaris direktur utama. Dia yang sudah bekerja lebih lama untuk suamiku malah dipecat.” Omongan wanita itu sadis juga. Padahal selama aku mengenalnya, dia adalah perempuan yang baik. Sepertinya penolakan Hendra menghancurkan moralnya sehingga dia menjadi jahat.
“Iri adalah penyakit hati yang tidak ada obatnya. Sebaiknya kamu berhati-hati, Gista. Dan tetap jaga reputasimu karena aku tidak mau namaku tercoreng karena ulahmu di luar kantor. Apa yang terjadi pada Sherry juga bisa terjadi kepadamu. Aku tidak akan segan memecat kamu bila kamu melanggar kontrak kerja,” ucap Hendra yang mendadak bicara dengan nada serius.
“Ba-baik, Pak,” kata Gista menurut.
“Lain kali segera pergi menghindar bila bertemu dengan dia di tempat umum. Jangan biarkan dia berhasil mempermalukan kamu. Bila terpaksa harus berdebat dengannya, berdirilah tegak di atas kakimu sendiri. Jangan biarkan orang lain yang bicara untukmu. Karena selama kamu bersikap lemah, dia akan terus datang untuk menghina kamu.”
“Kami akan ke sini.” Aku menunjuk ke arah studio di mana film yang akan kami tonton diputar.
“Kami belum membeli tiket. Jadi, kami harus mengantri.” Arga menunjuk ke arah konter di mana masih ada antrian panjang. Barisan itu bahkan lebih panjang dari antrian kami saat membeli tiket tadi. Aku bergidik ngeri. Terdengar pengumuman bahwa film yang akan kami tonton akan segera diputar.
“Baiklah. Sampai jumpa lagi,” kata Hendra yang sudah tidak sabar. Aku melambaikan tanganku kepada Gista dan Arga.
Kami mengantri bersama penonton lainnya yang memasuki studio yang sama. Aku yakin tadi aku melihat bahwa film ini tidak banyak peminatnya. Mengapa mendadak ada banyak orang yang ikut mengantri bersama kami? Ah, mungkin mereka membeli tiket pada saat-saat terakhir karena tidak mau menunggu jam tayang berikutnya.
Kami duduk di barisan tepat di tengah studio dengan layar bisa dijangkau sepenuhnya oleh kedua mata kami. Jadi kami bisa menonton dengan nyaman tanpa perlu menoleh ke kanan atau kiri layar. Aku mengangkat sandaran tangan yang ada di antara kami agar bisa duduk dekat dengannya. Hendra tertawa kecil. Dia melingkarkan tangannya di pundakku, lalu mencium pelipisku. Aku memeluknya dengan kedua tanganku.
__ADS_1
“Aku ingat saat pertama kali kita menonton berdua sebelum menikah. Kamu duduk menjauh, bahkan tidak mengizinkan aku memegang tanganmu. Lihat sekarang. Kamu manjanya minta ampun,” katanya menggodaku.
“Kita akan menonton film horor. Aku lebih baik sedia payung sebelum hujan. Kamu tahu bahwa aku tidak suka jenis film ini,” ucapku membela diri.
“Kamu tadi setuju menonton film ini, jangan mengeluh.” Dia memelankan suaranya begitu lampu dipadamkan dan film pun dimulai.
Trailer film itu berbohong dan penuh dengan tipuan. Film horor yang kami tonton sangat mengerikan. Kalau bukan karena harga diriku yang tinggi, aku sudah menangis memohon kepada Hendra untuk segera pulang saja. Tetapi aku tidak mau menjadi bahan bulan-bulanannya nanti. Jadi, aku menguatkan diriku sendiri untuk bertahan sampai film usai.
Begitu banyak darah, luka, dan efek kejutan yang membuat aku beberapa kali melompat di tempat dudukku. Ceritanya juga menjengkelkan karena berkisah tentang polisi jahat. Kasihan pemeran utamanya mendapat kemalangan terus. Hendra berdehem pasti karena menahan tawanya, bukan karena tenggorokannya gatal.
Aku mendesah lega ketika kami keluar dari studio tersebut. Orang-orang yang berjalan di dekat kami berdiskusi dengan teman menontonnya mengenai film tersebut. Aku memilih diam. Membahasnya hanya akan membuat aku teringat lagi dengan semua keseraman tadi. Hiii ….
Beberapa menit sampai di rumah, kami mendengar bunyi kendaraan memasuki pekarangan depan. Ara yang baru saja puas memeluk aku dan Hendra segera melesat ke pintu. Dia berusaha membuka kenop sendiri. Aku tersenyum melihat dia berhasil melakukannya. Kami mengikutinya ke teras untuk menyambut kepulangan Hadi dan Dira.
Zach dan Rasmi tidak turun dari mobil. Mereka akan langsung pulang dan makan malam di rumah, maka aku pun tidak memaksa mereka untuk singgah. Setelah berterima kasih atas kebaikan mereka mengajak Hadi dan Dira berjalan-jalan, kami melambaikan tangan mengantar kepergian mereka.
“Bagaimana tadi, apa kalian melihat banyak binatang?” tanyaku kepada mereka berdua. Hadi segera menceritakan perjalanan mereka yang menurutnya sangat menyenangkan. Kebun binatangnya bagus tetapi dia lebih suka dengan Taman Safari. Aku dan Hendra saling bertukar pandang.
“Pa, kapan kita akan pergi ke vila lagi?” tanya Hadi saat kami menaiki tangga bersama. “Colin dan papanya pergi berlibur hampir setiap hari Sabtu. Apa karena aku dan Dira tidak ulang tahun, kita tidak pergi jauh lagi?”
“Kita tunggu sampai keadaan Nenek membaik dan Mama tidak perlu lagi datang ke sana setiap hari, lalu kita pergi berlibur, ya. Papa dan Mama punya kejutan untuk kalian berdua.” Hendra tersenyum penuh arti. Hadi menatapnya dengan mata berbinar-binar.
“Kejutan, Pa? Kita akan pergi ke mana?” tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
“Rahasia. Yang pasti, kita akan pergi sangaaaat jauh.” Jawaban itu membuat Hadi semakin penasaran. Dia memohon-mohon agar papanya mau memberi jawaban, tetapi Hendra tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Aku sangat berharap kami bisa pergi. Tetapi kami baru bisa memutuskan segalanya dua minggu lagi, setelah mengetahui perkembangan kesehatan Mama.