Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 165 - Opsi Kedua


__ADS_3

“Bisakah kita fokus kepada ibuku dan langkah pengobatan untuk penyakit yang dideritanya? Aku datang ke tempat ini bukan untuk bernostalgia,” kataku dengan tegas.


“Oke. Maafkan aku.” Dia melakukan gerakan mengunci mulut dengan telunjuk dan jempolnya, lalu seolah-olah membuang kuncinya jauh-jauh. Aku hanya diam.


Kami menuju sebuah ruangan yang jaraknya beberapa pintu dari ruang praktiknya tadi. Mama sudah berbaring di atas sebuah dipan dengan alat ultrasonografi di samping ranjangnya. Aku berniat pergi memberikan privasi kepadanya, tetapi Mama meminta aku untuk tetap berada di sisinya. Maka aku mendampinginya saat dokter itu memeriksa keadaannya dan menjelaskan kepada kami apa yang tampil pada layar.


“Untuk sementara, saya setuju dengan pengobatan yang disarankan oleh dokter Ibu sebelumnya. Operasi adalah jalan yang terbaik untuk mencegah tumornya datang lagi. Kemoterapi memang jalan yang aman tetapi prosesnya lebih lama dan menyakitkan. Dengan sifat kanker yang agresif dan usia Ibu yang sudah tidak muda lagi, kemoterapi akan sangat melelahkan,” kata dokter tersebut.


“Saya mengerti dengan kekhawatiran yang Ibu rasakan. Estetika tubuh akan berkurang begitu bagian yang paling berharga diambil begitu saja. Tetapi kita bisa melakukan operasi pada dada Ibu agar tidak mengurangi rasa percaya diri Ibu.” Dokter itu mengatakan hal yang sudah kami ketahui.


Mama mendesah pelan. Dia melihat ke arah aku, lalu kembali kepada dokter tersebut. Ini keputusan besar yang berat, aku tahu. Tetapi aku berharap Mama tidak akan mengambil terlalu banyak waktu lagi untuk memutuskan langkah selanjutnya.


“Apakah ini adalah saran final atau aku perlu mengikuti pemeriksaan lainnya sebelum memutuskan akan operasi atau tidak?” tanya Mama pelan.


“Saya hanya membantu Ibu untuk memilih pengobatan dan tindak terbaik untuk kanker yang Ibu derita. Bila Ibu setuju untuk melakukan mastektomi, maka saya akan berdiskusi lebih lanjut dengan dokter bedah. Tentu saja akan dibutuhkan pemeriksaan lainnya untuk mengetahui tepatnya posisi kanker dan jaringannya yang akan ditentukan oleh dokter bedah tersebut,” kata dokter itu.


“Baik. Kami akan diskusikan hal ini dahulu.” Mama berdiri kemudian mengulurkan tangannya. “Terima kasih banyak, Dokter.”


“Sama-sama, Bu.” Dia menjabat tangan Mama sesaat. Aku ikut berdiri dan menggendong Dira.


“Terima kasih banyak,” ucapku sebelum mengikuti Mama menuju pintu yang masih ditahan suster agar tetap dalam keadaan terbuka. Dia dengan sopan berterima kasih atas kedatangan kami.


Liando sudah menunggu di depan pintu utama rumah sakit saat kami keluar. Aku masuk lebih dahulu, Mama menyusul, lalu menutup pintu. Kami hanya diam untuk beberapa saat. Aku sengaja tidak membuka topik pembicaraan lebih dahulu. Mama membutuhkan waktu untuk mencerna semua ucapan dokter tadi.

__ADS_1


“Dokter tadi adalah kenalan kamu?” tanya Mama. Aku menoleh dan melihat dia tersenyum penuh arti. “Dia tidak berhenti melirik ke arah kamu setiap kali dia pikir aku tidak melihatnya.”


“Katanya, kami teman sekelas saat SMU, tetapi aku tidak bisa mengingatnya, Tante,” jawabku jujur. Mama mengangguk mengerti.


“Kamu wanita yang cantik. Semasa sekolah, kamu pasti menjadi idola banyak pemuda. Wajar saja jika dia bisa mengingat kamu, sedangkan kamu tidak,” katanya. “Apa laki-laki bernama Vivaldo itu adalah pacar pertamamu? Atau ada laki-laki sebelum dia?”


“Dia adalah pacar pertamaku, Tante,” akuku. Mengapa mendadak Mama membahas hal ini? Apa dia hanya butuh pengalihan dari masalah yang sedang dihadapinya?


“Pantas saja kamu tidak bisa melupakannya. Dan dia tidak melupakan kamu,” ucap Mama pelan. “Tetapi akhirnya kamu bisa juga berpaling. Aku yakin Hendra juga akan begitu.”


Mama tidak perlu menjelaskannya, aku mengerti apa maksud dari kalimatnya tersebut. Dia yakin bahwa suamiku juga akan berpaling dariku suatu hari nanti. Aku adalah cinta pertamanya bukan berarti jatuh cinta kepada wanita lain adalah hal yang mustahil.


Aku tidak meresponsi ucapan itu dan memilih untuk diam. Aku tidak mau bertengkar dengannya sekarang. Karena apa pun tanggapan aku nanti bisa memancing perdebatan panjang di antara kami. Selama Mama menganggap Nora adalah pilihan yang terbaik, aku akan selalu salah di matanya.


Kalimat itu bagaikan sebilah pisau yang ditancapkan di dadaku. Aku memasang senyum di wajah menyembunyikan rasa sakit yang meremas jantungku. Haruskah Mama mengucapkannya dengan cara sesakit itu? Cepat-cepat aku menepis pikiran itu sebelum air mata mendesak keluar dari pelupuk mataku.


“Baik, Tante. Semoga pengobatannya berjalan dengan lancar. Beritahu kami jadwal operasinya. Aku dan Hendra akan datang menemani Tante,” ucapku penuh harap. Dia mengangguk dan pintu di sisinya terbuka dari luar.


“Kamu mau mampir sebentar untuk makan siang bersamaku?” tanyanya. Wajahnya tidak terlihat tulus dengan undangan itu, dia pasti berharap agar aku menolak tawarannya tersebut.


“Terima kasih, Tante. Kami harus menjemput Hadi dari sekolahnya. Aku tidak mau dia merepotkan Will lebih lama lagi.” Aku tersenyum kepadanya.


“Kakak!” ucap Dira mendengar nama kakaknya disebut.

__ADS_1


Mama keluar dari mobil, sedangkan kepala pelayannya menutup pintu mobil. Tanpa menoleh ke arah kami, Mama berjalan masuk ke rumahnya. Aku sudah melukai perasaannya begitu dalam dengan pengkhianatanku. Aku akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan kepercayaan dan hatinya lagi.


Tetapi aku tidak akan menyerah. Entah bagaimana caranya, aku akan memenangkan hati Mama lagi. Aku pasti bisa mengalahkan Nora. Mama pernah begitu sayang kepadaku, maka Mama akan sayang lagi kepadaku. Aku hanya perlu membuktikan kepadanya bahwa aku tidak bertahan sebagai istri Hendra hanya demi kenyamanan dan kekayaannya. Aku benar-benar mencintai suamiku.


Sampai di sekolah Hadi, Will sudah berdiri di depan pintu bersama kedua pria muda itu. Pria itu membukakan pintu dan anak-anak bergegas masuk. Hadi segera memeluk aku dan adiknya yang ada di pangkuanku. Dira tertawa bahagia.


“Ini makanan seadanya untuk kudapan mereka sore ini.” Will memberikan sebuah bungkusan yang cukup besar. Aku membulatkan mata menerimanya.


“Apa ini, Will? Mengapa banyak sekali?” Aku memberikan kantong plastik itu kepada Liando agar diletakkan di jok depan.


“Kalian sudah baik menolongku menjaga Colin. Ini bukanlah apa-apa. Aku harus kembali bekerja. Sampai nanti. Colin, jadi anak yang baik.” Dia mengusap kepala putranya sebelum menutup pintu.


“Oke, Dad,” jawab Colin dengan nada riang. Kami melambaikan tangan kami kepadanya saat mobil bergerak menuju gerbang sekolah.


Satu jam bergelut dengan padatnya lalu lintas, kami tiba di rumah. Abdi membantu membukakan pintu mobil, Hadi dan Colin segera keluar dan berlari menuju rumah. Abdi menolong membawakan kantong makanan, sedangkan aku menggendong Dira. Aku melihat Yuyun berjalan bersama anak-anak menaiki tangga, jadi aku bisa mengurus putriku saja.


Setelah membantu Dira membersihkan diri dan berganti pakaian, aku menyerahkannya kepada Yuyun. Aku juga perlu membersihkan diri dan berganti pakaian. Kami baru saja dari rumah sakit dan aku tidak tahu apa saja yang melekat pada pakaian dan tubuhku.


Aku membuka pintu menuju kamar kami dan menutupnya kembali. Perutku berbunyi. Aku sangat lapar, maka aku bergegas ke kamar mandi. Aku membersihkan diri scepat mungkin, lalu menuju ruang pakaian dan memakai salah satu dress santaiku.


Keluar dari ruangan itu, aku melihat seseorang duduk di sofa yang membuat aku memekik terkejut. Mengapa aku tidak melihatnya tadi duduk di sana? “Hai, sayang. Mengapa kamu pulang cepat?” Aku mendekatinya ingin segera memeluknya.


“Jangan bergerak satu langkah lagi. Tetap berdiri di tempatmu.” Dia menatapku dengan tajam. Aku menurutinya. Ada apa dengannya? Apa aku baru saja melakukan kesalahan? “Aku tidak percaya kamu melakukan ini kepadaku. Kita telah berjanji, apa kamu sudah lupa dengan itu?” Janji? Janji apa?

__ADS_1


__ADS_2