Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 194 - Kunjungan Terakhir


__ADS_3

Nora memiliki kulit yang putih bersih, tetapi kulit wajahnya yang cerah itu seketika memucat. Dia pasti tidak menduga bahwa Mama akan mengatakan kalimat itu kepadanya. Mamanya juga terlihat tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Bukan hanya mereka berdua. Aku dan Papa yang selalu mendengar Mama membela wanita itu atau memaklumi kesalahannya lebih terkejut lagi. Aku sampai menatap Papa untuk untuk mengonfirmasi apa aku mendengarnya dengan benar atau hanya berkhayal.


“A-apa maksud Tante? Apa aku baru saja melakukan kesalahan?” tanya Nora berubah gugup. Dia menyentuh tangan kanan Tante yang ada dalam genggaman Papa, tetapi Mama menjauhkan diri darinya. “Aku minta maaf bila aku mengatakan sesuatu yang menyakiti Tante.”


“Kamu berulang kali meminta maaf, tetapi kamu tidak mengakui kesalahanmu. Kamu tahu bahwa aku membenci seorang pembohong. Aku memaklumi semua kesalahanmu sebelumnya karena aku memberi kamu kesempatan untuk berubah. Tetapi aku salah. Kamu tidak akan pernah berubah. Aku tidak mau putraku memiliki istri seperti kamu.” Mama terlihat kecewa.


“Tante, aku benar-benar meminta maaf. Aku mengakui semua kesalahanku, aku mohon beri aku kesempatan terakhir. Aku sangat mencintai Hendra, Tante.” Nora memohon. Mama mundur saat dia berusaha untuk menyentuh tangannya lagi. Kali ini Papa berdiri melindung Mama.


“Pulanglah, Nora. Istriku tidak akan mengubah pikirannya sekalipun kamu menangis memohon kepadanya. Dan hati-hati saat menyentuh dia. Tubuhnya masih dalam proses pemulihan,” kata Papa mengingatkan. Nora terisak sedih.


Mama melihat ke arah mama Nora. “Tolong, bawa putrimu pulang.” Dia menuruti permintaan Mama. Mereka pergi mendekati mobil mereka. Liando memajukan mobilku dan bersiap untuk membukakan pintu.


“Kami juga pamit pulang, ya, Pa, Tante. Kami akan datang lagi besok.” Aku menoleh ke arah putriku. “Ayo, Dira lambaikan tangan kamu ke Kakek dan Nenek.”


“Dada, (K)akek. Dada, Nenek.” Dia melambaikan tangan mungilnya sambil tersenyum bahagia.


“Jangan datang terlalu pagi. Selang sudah dilepas, jadi Adhy tidak akan terlalu repot lagi. Dia akhir-akhir cepat tertidur karena bermain bersama Dira.” Mama menatap Papa penuh arti. Papa tertawa kecil. “Aku tidak suka menjadi orang yang terakhir tertidur.”


“Baik, Tante,” kataku menurut. Liando menggendong Dira, lalu membantunya untuk duduk di kursi khususnya. Papa dan Mama masih berdiri di teras, maka aku membuka kaca dan kami melambaikan tangan ke arah mereka saat Liando mengendarai mobil.


Kami ke sekolah Hadi dan Colin sebelum pulang ke rumah. Will meminta aku untuk membawa bekal makan siang lagi untuk keesokan hari. Sepertinya dia ketagihan masakan Fahri sehingga setuju saja untuk menjaga Hadi dan Colin sampai aku datang menjemput mereka. Kami sama-sama menang, jadi mengapa tidak?

__ADS_1


Hendra pulang sebelum jam makan malam, jadi kami bisa makan bersama. Dia dan Will terlibat perdebatan yang sengit saat kami bersantai di ruang keluarga. Will masih berharap bisa didekatkan dengan Gista, sedangkan Hendra belum mau gadis itu punya hubungan asmara. Pekerjaannya masih baru baginya dan dia perlu menyesuaikan diri.


“Sampai kapan, Hendra? Apa kamu tidak kasihan kepadaku dan Colin? Aku ingin sekali mengenal dia lebih dalam.” Will masih mencoba untuk membujuk suamiku.


“Jika kamu masih menginginkan dia minggu depan, aku akan mengajak kamu makan malam bersama kami. Kita akan kencan ganda,” kata Hendra memberi usul yang menurutku cukup adil. Sepertinya dia berhati-hati karena dia tidak percaya perasaan Will untuk Gista tulus. Hal yang masuk akal karena dia baru melihat gadis itu pada satu acara tetapi sudah ingin menikahinya.


“Minggu depan? Lama sekali,” keluh Will. Dia bersandar di sofanya dan cemberut seperti anak kecil yang permintaannya ditolak. “Kamu ini sebenarnya bosnya, kakaknya, atau ayahnya?”


“Ambil atau lupakan aku pernah menawarkan ini kepadamu,” kata Hendra dengan tegas. Will melihat ke arahku dengan wajah memohon. Aku hanya mengulum senyum. Dia tahu bahwa Hendra tidak akan berubah pikiran sekalipun aku yang membujuknya. Kecuali permintaan itu untuk kepentinganku sendiri.


“Oke, oke. Kita makan malam bersama minggu depan.” Will mengalah.


Saat anak-anak mulai menguap, Will pamit dan membawa putranya yang mengantuk ke mobil mereka. Aku dan Hendra mengantar sampai di teras. Aku tersenyum melihat Liando membantu membopong Dira ke kamarnya.


“Kamu tidak percaya bahwa Will serius dengan Gista,” kataku saat kami bersiap tidur. Hendra yang akan memadamkan lampu di atas nakasnya mengurungkan niatnya itu.


“Apa kamu percaya bahwa dia serius?” katanya membalikkan kalimat itu kepadaku.


“Dia tidak pernah bicara tentang perempuan sebelumnya, sayang. Tentu saja aku percaya bahwa dia serius,” kataku menjelaskan. “Lagi pula dia pria yang baik, sayang kepada putranya, kepala sekolah yang bertanggung jawab. Aku tidak pernah mendengar ada keluhan mengenai dia.”


“Kamu baru mengenalnya selama beberapa bulan, aku sudah mengenal dia selama beberapa tahun. Jadi pengenalanmu tidak lebih baik dariku, sayang,” ujarnya tidak mau kalah. “Ditambah lagi, aku adalah seorang laki-laki. Gista gadis yang menarik, bukan hanya Will yang mengaku suka kepadanya. Sudah ada banyak pria lain yang mengantri untuk diperkenalkan kepadanya. Tetapi aku belum bertemu yang benar-benar serius dengan niatnya.”


“Will kurang serius apa lagi? Dia sampai meminta bantuan darimu.”

__ADS_1


“Dia bisa datang menemui gadis itu kalau dia memang serius.” Dia mengangkat kedua bahunya.


“Dia bekerja pada hari yang sama seperti Gista. Waktu luangnya hanya pada akhir pekan dan itu untuk dihabiskan bersama putranya. Kapan lagi dia bisa mendekati wanita itu jika tidak melalui kamu. Kita bisa buat acara di rumah dan mengundang mereka berdua, misalnya.” Aku memberi usul.


“Tidak. Kita tunggu sampai minggu depan. Aku mau tahu apa dia serius dengan perasaannya.”


“Aku penasaran. Apa kamu juga begitu saat menyukaiku dahulu?”


“Tentu saja. Aku menunggu cukup lama untuk menyatakan perasaanku. Yang harus aku yakinkan bukan hanya diriku sendiri tetapi juga kedua orang tuaku. Bila aku masih punya sedikit keraguan saja, mereka tidak akan menyetujui niatku untuk menikah denganmu. Kamu tahu alasannya mengapa?” Dia tersenyum penuh arti.


“Karena aku sudah punya calon suami?” tanyaku menebak. Dia tertawa kecil. Tangannya dia letakkan di atas kepalaku.


“Aku pikir kamu wanita yang cerdas. Ternyata kamu tidak sepintar itu.” Aku cemberut mendengar dia mengejek aku. Dia tersenyum lalu mengecup bibirku. Kedua tangannya memeluk tubuhku dan menarik aku untuk mendekat.


“Kamu bukan dari kalangan kami, sayang. Papa dan Mama tidak keberatan aku menikah denganmu karena aku yakin dengan perasaanku. Bila aku goyah sedikit saja saat mereka mengajukan begitu banyak pertanyaan rumit melebihi ujian masuk universitas, kita tidak akan pernah menikah. Istriku sudah pasti seorang wanita dari kalangan pengusaha juga.” Aku segera memeluknya dengan erat.


“Sudah. Jangan bahas masa lalu lagi. Aku tidak mau membayangkan kita tidak pernah bersama,” kataku tidak suka. Dia tertawa.


“Kamu sendiri yang ingin membahas masa lalu.”


“Jadi, itukah sebabnya Mama bersikeras mendekatkan kamu dengan Nora?” tanyaku. Dia menjawab iya. “Hanya karena dia dari kalangan atas juga? Bukan karena alasan yang lain?”


“Pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan kepada Mama. Bukan aku.”

__ADS_1


__ADS_2