Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 200 - Hukuman


__ADS_3

Zach melihat ke arahku dan pada detik itu juga aku mengerti dengan masalah yang dia maksudkan. “Apa yang dilakukan oleh Kak Ara sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dia tidak peduli pada keselamatan jiwanya juga anak-anak. Untungnya, Nora membawa pisau, bukan pistol. Dengan gaya hidup mereka yang sudah terbiasa bermain kasar, aku yakin dia bisa saja mendapatkan senjata itu kalau dia mau.”


Dia menoleh ke arah Hendra. “Kakak tidak bisa memuji dia dan mengatakan bahwa hal yang dia lakukan itu membanggakan. Kita sudah membahas ini dan kita setuju untuk mencari jalan keluar yang lain. Kita sudah begitu dekat dengan rencana kita untuk menjebloskan dia ke penjara.”


“Aku tahu. Aku memahami kemarahanmu. Percaya padaku. Istriku akan mendapatkan hukuman atas kecerobohannya hari ini.” Hendra menatapku dengan serius. Aku menelan ludah dengan berat. “Tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa kekeraskepalaannya juga telah menolong kita menangkap Nora dan mengakhiri semua drama ini.”


“Aku lebih mudah meminta Zeph menuruti perkataanku daripada berharap kepada kakakku sendiri agar memikirkan keselamatannya.” Dia masih saja mengeluh.


Puas memarahi aku, Zach dan Pak Oscar akhirnya pamit untuk melanjutkan pekerjaan mereka, sedangkan Hendra menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Dia memasuki ruang kerjanya, maka aku memutuskan untuk melihat keadaan anak-anak. Ternyata Yuyun dan Sakti menemani mereka bermain di kamar Hadi. Mereka sudah mandi dan berganti pakaian.


Aku menemani mereka bermain sampai kami turun untuk makan malam. Hendra juga sudah mandi dan berganti pakaian. Will yang datang menjemput Colin dan makan bersama kami mengingatkan janji suamiku untuk acara kencan ganda kami pada hari Sabtu depan. Aku tertawa mendengarnya.


“Memangnya hukuman apa yang sudah kamu siapkan untukku?” tanyaku saat kami sudah berada di kamar. Dia sedang duduk sambil menatap layar tabletnya saat aku baru keluar dari kamar mandi.


“Hal yang paling tidak kamu sukai di dunia ini,” jawabnya dengan santai. Aku berpikir sesaat.


“Joging?” tanyaku menebak maksudnya. Dia tersenyum penuh arti.


“Anak-anak akan ikut bersama Zach dan keluarganya ke kebun binatang pada hari Sabtu ini, bagaimana kalau kita menonton lalu makan siang berdua di salah satu mal?” usulnya. Aku berusaha mencerna kalimatnya tersebut. Hukuman apa yang dia maksudkan?

__ADS_1


“Kita menonton dan makan siang berdua? Itu hukumannya?” tanyaku tidak mengerti.


“Jangan beritahu Zach atau dia akan puasa bicara denganku selama satu minggu penuh. Aku membutuhkan dia sebagai penasihat hukumku. Sikap diamnya bisa membuat perusahaan berada dalam masalah besar.”


“Terima kasih, sayang!!” Aku segera melompat dalam pelukannya. Dia tertawa bahagia. Aku mencium seluruh wajahnya.


“Itu bukan hukuman yang sebenarnya, sayang.” Matanya berkilat licik. Aku menatapnya dengan bingung. Saat tangannya masuk di antara piyamaku untuk mengelus kulit punggungku, aku refleks menjauh darinya. “Apa kamu sudah siap untuk menerima hukumanmu?”


Dasar suami jahat, tidak punya perasaan, berhati dingin. Dia mengalihkan pikiranku dengan ajakan menonton agar aku tidak curiga dengan maksud yang sebenarnya. Tentu saja hal yang paling aku benci di dunia ini adalah menginginkannya tetapi tidak bisa bercinta dengannya. Dia mencium aku, menyentuh semua titik sensitif di tubuhku, dan membiarkan aku menderita tanpa pelepasan.


“Aku sangat membencimu, Hendra,” kataku yang hanya bisa berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Seluruh tubuhku berteriak protes karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.


Keesokan paginya aku joging bersama keluargaku tanpa mengeluh. Aku tertawa melihat Ara yang begitu bahagia berlari di sisi kami. Usianya sudah dua puluh tiga minggu, jadi tubuhnya sudah hampir mencapai pertumbuhan maksimalnya. Dia sudah tidak bisa lagi kami gendong.


Dia masih sering melompat ke arahku, tetapi tidak ke arah anak-anak. Hendra sudah mengajarinya bahwa dia sudah bukan anak anjing kecil lagi. Tubuhnya saat berdiri saja sudah lebih tinggi dari Dira. Sebaliknya, dia sekarang menjadi pelindung bagi kedua tuan kecilnya.


Anak-anak tetangga juga suka padanya. Mereka selalu mengelilinginya hanya untuk bisa mengelus rambut emasnya yang halus. Ara menyukai perhatian, jadi dia menyalak senang setiap kali mendapat perlakuan yang manis dari orang-orang di sekitarnya.


Di sisi lain, sifatnya yang suka dengan perhatian itu menjadi tantangan tersendiri. Setiap kali kami keluar rumah nyaris seharian, dia akan merajuk di tempat tidurnya dan sama sekali tidak mau mendekat apalagi menyambut kepulangan kami. Hendra mempertimbangkan untuk mencari satu anjing lagi sebagai temannya, aku keberatan.

__ADS_1


Punya satu ekor anjing peliharaan saja sudah menyita perhatian kami, apalagi dua. Seandainya kami mendapat anjing jantan, semuanya bisa semakin runyam. Bila mereka berkembang biak, aku tidak akan bisa merawat mereka semua. Golden Retriever adalah jenis anjing yang butuh banyak kasih sayang dan aku tidak memiliki itu sekarang. Anak-anak juga membutuhkan perhatian kami.


Pulang dari rumah Papa dan Mama pada siang itu, aku melihat beberapa mobil parkir di pekarangan rumah. Teman-teman tidak bilang bahwa mereka akan datang berkunjung. Abdi yang menyambut aku di pintu memberitahu bahwa mereka baru tiba sekitar sepuluh menit yang lalu.


“Akhirnya, dia datang juga!” sambut Qiana yang tersenyum penuh arti. Aku menatap mereka satu-persatu dengan bingung. “Mengapa kamu tidak mengatakan apa pun kepada kami dan membiarkan kami tahu kejadian semalam dari berita?”


Ooo. Mereka datang karena mengetahui bahwa Nora ditangkap. Bukannya aku tidak mau atau ingat memberitahu mereka. Sejak semalam aku tidak punya kesempatan untuk memegang ponsel dan sejenak mengirim pesan atau menelepon.


“Maafkan aku. Kejadian kemarin berlangsung sangat cepat dan aku tidak sempat memeriksa ponsel apalagi memberitahu kalian apa yang telah terjadi.” Aku duduk di sofa dan berterima kasih saat Lindsey memberiku secangkir teh.


“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Nora dituntut atas usaha percobaan pembunuhan? Apa dia menyakiti kamu?” tanya Darla khawatir. Dia memerhatikan tubuhku dengan saksama.


“Tolong, jangan marahi aku. Hendra dan Zach sudah cukup membuatku sakit kepala, aku tidak mau mendengar kalian melakukan hal yang sama,” pintaku. Mereka saling bertukar pandang.


“Aku tidak akan berjanji tidak marah kepadamu. Suamimu tidak pernah marah kepada kamu yang sangat dicintainya tanpa alasan. Bila Hendra sampai marah, itu artinya kamu telah melakukan sebuah kesalahan fatal,” kata Lindsey curiga.


“Sangat fatal sampai membuat Zach berani memarahi kakaknya sendiri.” Qiana menimpali. Aku cemberut dan menyilangkan kedua tangan di depan dadaku.


“Jangan pasang ekspresi itu,” ucap Darla setengah mengancam. “Kamu tidak bisa mengancam kami untuk tutup mulut. Cepat, ceritakan apa yang telah terjadi kemarin.” Aku belum mengatakan apa pun dan dia sudah tahu bahwa aku akan mengancam tutup mulut bila mereka memarahi aku? Punya sahabat yang sangat mengenal aku ternyata tidak selalu menyenangkan.

__ADS_1


“Baiklah, baik. Aku akan cerita apa yang terjadi kemarin.”


__ADS_2