
Yang aku takutkan tidak terjadi. Hendra masih ada di sisiku saat aku bangun pagi. Aku bahkan menolong dia memasang dasinya, lalu sarapan bersama. Kami tidak banyak bicara dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tetapi keheningan itu menenangkan, tidak meresahkanku.
Setelah berjanji akan bertemu di rumah sakit saat dia pulang kerja nanti, aku menelepon Papa. Aku lega mendengar bahwa Mama masih tidur pulas dan keadaannya baik-baik saja. Zach telah datang mengantarkan sarapan dan makanan ringan untuknya, jadi aku bisa merasa tenang.
“Kamu istirahat saja di rumah. Aku janji akan segera menghubungimu bila ada perkembangan baru dengan mamamu,” ucap Papa pelan.
“Iya, Pa. Jangan terlambat makan siang, ya. Aku akan datang membawakan makan malam.” Kami saling mengucapkan salam, lalu Papa mengakhiri hubungan telepon.
Aku mandi dan berganti pakaian sebelum memulai hariku. Aku tidak tahu akan melakukan apa pagi ini. Melanjutkan tulisan, emosiku sedang kacau. Meskipun Hendra berkata bahwa kami akan baik-baik saja, aku belum bisa merasa tenang. Sesuatu akan terjadi, tetapi aku tidak tahu apa itu.
Pintu kamar diketuk, aku mempersilakan masuk. “Nyonya, Tuan dan Nyonya Besar datang,” ucap Abdi memberitahuku. Aku melihat wajah khawatirnya. Setiap orang tahu apa yang terjadi bila berani macam-macam dengan keluarga besar suamiku. Aku menelan ludah dengan berat.
Abdi membukakan pintu ruang duduk untukku. Papa dan Mama sama sekali tidak menoleh atau berdiri untuk menyambutku. Sudah tidak ada lagi pelukan dan ciuman dari mereka. Makanan ringan dan minuman hangat telah disajikan di atas meja, jadi aku tidak perlu menyuruh Yuyun lagi. Melihat sikap dingin mereka, aku memilih untuk duduk di kursi di seberang mereka.
“Kamu sudah berbohong kepada kami,” ucap Mama dengan tajam. “Aku ingat bahwa aku bertanya mengenai pria itu kepadamu saat kita bertemu di konser amal itu. Kamu bilang kamu tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Ternyata dia adalah mantanmu. Laki-laki yang membuatmu menolak lamaran putraku. Iya, ‘kan?”
“Iya, Ma.” Sudah tidak ada gunanya lagi berbohong.
“Jadi, kamu bertemu dengannya setiap kali putraku berada di luar kota? Anak itu adalah anak dari laki-laki itu?” tanya Mama tanpa berbasa-basi.
__ADS_1
“Anak ini adalah anak suamiku,” kataku pelan.
“Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu tidur dengan dua pria yang berbeda pada waktu yang bersamaan, bagaimana kamu bisa tahu bahwa anak itu adalah anak Hendra dan bukan pria itu? Apa kamu sudah memeriksa DNA-nya?” tanyanya dengan tajam. “Kamu sengaja mengakuinya sebagai anak putraku agar kamu bisa mendapatkan semua harta kami. Iya, ‘kan?”
“Aku sudah hamil sebelum aku tidur dengannya, Ma.”
“Akhirnya kamu mengaku juga bahwa kamu tidur dengannya. Aku pikir kamu akan terus bersikap sok suci dengan membohongi kami lagi.” Dia menatapku sesaat. “Laki-laki itu benar. Kalian sudah mencoba selama enam tahun dan kamu tidak juga hamil. Walaupun aku tidak mau mengakui ini, bisa jadi putraku memiliki masalah. Akui saja siapa ayah anak itu yang sebenarnya.”
“Anak ini adalah anak Hendra,” kataku kali ini dengan nada serius.
“Kami ingin kamu pergi dari rumah ini secepatnya dan jangan temui putra kami lagi.” Kali ini Papa yang bicara. Aku menatapnya tidak percaya.
“Apa maksud Papa?” tanyaku tidak mengerti.
“Tapi, Ma,” ucapku berusaha untuk menjelaskan.
“Jangan panggil aku mama dengan mulut penuh tipu dayamu itu. Aku menyesal sudah menerima dan memercayaimu selama ini. Mulai dari detik ini kamu sudah bukan menantuku lagi. Aku tidak percaya kamu sanggup mengkhianati putraku setelah apa yang dia korbankan untukmu. Perempuan macam apa kamu ini?”
“Aku bahkan menyayangimu, peduli kepadamu, dan selalu membelamu setiap kali kamu dan putraku berselisih pendapat. Tetapi ini balasan yang aku terima? Kamu melemparkan kotoran ke wajah kami? Apa kesalahan kami kepadamu? Apa salah putraku kepadamu? Seumur hidupku, aku tidak pernah menyakiti hatinya, kamu malah mudah saja menghancurkan hati anakku,” kata Mama.
__ADS_1
“Maafkan aku. Tolong, maafkan aku. Tetapi aku berkata jujur. Anak ini adalah anak Hendra.”
“Sekali pembohong, selamanya akan menjadi pembohong.” Mama menatapku penuh kebencian. “Aku memberimu waktu dua puluh empat jam. Bila besok kami datang kamu masih ada di rumah ini, maka kami sendiri yang akan mengusirmu keluar. Hendra tidak akan berani melakukannya karena dia terlalu mencintaimu. Anak bodoh.”
Aku segera mendekat ketika Mama dan Papa berdiri dari tempat duduk mereka. “Aku mohon, jangan usir aku dari rumah ini.” Aku berdiri di depan Mama, menghalanginya untuk pergi.
“Sudah terlambat. Kamu tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah pikiran kami.” Mama sama sekali tidak tersentuh. Dia berusaha untuk berjalan melewatiku, aku duduk di lantai dan menyentuh kakinya, menghalanginya untuk pergi.
“Aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku mohon, maafkan aku. Maafkan aku, tapi jangan usir aku dari tempat ini. Jangan pisahkan aku dari suamiku. Aku mohon. Aku tidak berbohong kepada Mama dan Papa. Anak ini adalah anak Hendra,” kataku memelas.
“Lepaskan kakiku, Zahara. Aku tidak mau melukaimu dan jangan buat aku terlihat jahat. Aku tidak memintamu untuk berlutut dan meminta maaf. Aku sudah katakan, tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubah keputusan kami. Kamu akan pergi dari rumah ini dan tinggalkan putraku,” ujar Mama dengan tegas.
“Dia tidak akan pergi dari rumah ini.” Terdengar suara Hendra dari arah belakangku. “Istriku akan tetap tinggal di rumah ini dan tidak ada yang bisa mengusirnya. Tidak juga dengan papa dan mamaku sendiri.” Aku merasakan kedua tangannya memegang pundakku. “Bangun, sayang.”
“Enam tahun kamu buta karena cinta, mau sampai kapan lagi kamu membiarkan perasaanmu kepada perempuan ini menghancurkan hidupmu, Nak?” tanya Mama. Hendra merangkulku saat aku sudah sepenuhnya berdiri.
“Hidupku tidak hancur, Ma. Aku bahagia hidup bersamanya. Tidak ada pernikahan yang sempurna. Suami dan istri melakukan kesalahan dan saling menyakiti adalah hal yang biasa. Kami sudah saling memaafkan. Tolong, jangan rusak apa yang sudah kami bangun kembali dengan susah payah. Aku tidak akan menceraikan istriku. Dan tidak ada yang bisa memaksaku untuk melakukannya,” kata Hendra dengan tegas. Mama mundur selangkah seolah kalimat itu memukulnya dengan keras.
“Nak, wanita ini bahkan tidak mencintaimu,” ucap Mama mengingatkan. “Dia mencintai mantannya dan tidak pernah memiliki perasaan apa pun kepadamu. Kamu yakin kamu mau hidup bersama wanita yang memikirkan pria lain ketika dia berada dalam pelukanmu?”
__ADS_1
“Tolong, Ma, jangan campuri urusan rumah tangga kami. Aku dan Za akan menyelesaikan masalah di antara kami tanpa campur tangan siapa pun.”
“Aku sudah memperingatkanmu, Hendra. Kamu lihat saja nanti. Dia hanya akan membuat hidupmu menderita,” kata Mama dengan mata berapi-api. “Silakan kalau kamu masih menganggapnya sebagai istri, tetapi bagiku, dia sudah bukan menantuku lagi.”