Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 149 - Cukup Sudah (Hendra)


__ADS_3

Perasaanku tidak enak ketika Za belum kembali juga dari toilet. Hotel ini punya reputasi yang baik, karena itu aku tidak khawatir membiarkannya ke toilet tanpa pengawalan. Aku pamit kepada Papa dan Mama karena sudah tidak tahan lagi.


Jantungku berdebar cepat melihat tanda pada koridor menuju kamar kecil. Sedang dalam perbaikan. Mengapa harus pakai penjaga segala bila benar toilet sedang dalam perbaikan? Aku mendekat dan mereka melarangku untuk masuk. Aku memaksa, tetapi mereka bersikeras bahwa toilet tidak bisa digunakan. Melihat sikap mereka yang mencurigakan itu, aku memaksa masuk.


Tentu saja mereka tidak semudah itu membiarkan aku mengabaikan larangan. Mereka bukanlah tandinganku. Dalam beberapa pukulan saja, mereka sudah tersungkur di lantai. Jantungku nyaris berhenti ketika mendengar teriakan keras Za. Aku berlari ke arah datangnya suara.


Darahku mendidih melihat pemandangan di hadapanku. Dua pria menekan tubuhnya ke dinding. Mereka memegang kedua tangannya, menahan kedua kakinya, dan rok gaunnya terangkat sampai ke pahanya. Aku tidak membiarkan emosi mengambil alih kewarasanku. Keluarga bisa berada dalam bahaya jika aku masuk penjara karena menghabisi nyawa mereka.


Aku menarik kerah setelan pria pertama, lalu melayangkan tinju ke wajahnya, ke bibirnya yang telah lancang mencium bibir istriku sampai mengeluarkan cairan berwarna merah. Kemudian aku beralih kepada pria kedua, memukulnya sampai dia meringkuk melindungi wajahnya di lantai. Aku segera menghubungi Gista dan memintanya bergegas membawa keamanan untuk menahan pria yang aku sebutkan namanya.


Za masih berdiri mematung dengan wajah bersimbah air mata. Aku meminta maaf dan memeluknya. Dia memintaku untuk melepaskan pelukanku lalu melakukan hal yang tidak aku duga-duga. Dia menendang kemälúan pria itu sehingga dia mengeluarkan suara menahan kesakitan. Aku tidak mau membayangkan rasanya. Dia akan butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa berfungsi lagi.


Meskipun acara masih berlangsung, aku memutuskan untuk pulang. Za tidak akan bisa mengikuti acara dengan keadaan terguncang. Dia tidak menjerit dan menangis usai kejadian itu membuatku khawatir. Aku menelepon Darla dan memintanya untuk segera datang.


Di luar dugaan, Za menolak untuk pulang. Aku tidak memaksa dan menuruti keinginannya. Setelah teman-temannya datang dan memastikan mereka tidak akan meninggalkannya, aku menelepon Gista dan menanyakan di mana keberadaan kedua pria itu.


Mereka masih ditahan di ruang keamanan. Aku segera menuju ruangan tersebut. Mereka tidak mau mengakui siapa yang menyuruh atau mendorong mereka untuk melakukan hal gila itu. Aku tidak memaksa karena aku selalu tahu bahwa mereka sudah lama ingin menyentuh istriku. Mereka hanya membutuhkan alasan untuk melakukannya.


Dengan berita yang menyudutkan istriku, sikap diam kami atas pertanyaan wartawan, aku tahu bahwa mereka meradang. Mereka pikir berita itu benar karena kami tidak menyangkal. Hal yang aku tahu adalah sia-sia selama mereka punya penilaian sendiri atas istriku dan pernikahan kami.


Tetapi aku tidak bisa diam lagi. Saatnya untuk bertindak.


Hatiku hancur pada malam itu mengetahui dia bermimpi buruk. Aku bisa merasakan dia gelisah dan beberapa kali terbangun. Aku tidak membantunya untuk tidur kembali. Dia harus bisa menghadapi mimpi buruknya sendiri. Yang bisa aku lakukan adalah menyenangkan hatinya pada saat kami sedang terjaga.


“Hai, Hendra. Maafkan aku tidak bisa menemuimu lebih cepat dari ini.” Aku tidak menerima uluran tangannya. Dicky sengaja mengabaikan telepon dari Gista menanyakan kapan aku bisa menemui dia. “Ah, kamu sepertinya marah. Baiklah. Silakan duduk.”


“Aku hanya ingin mengatakan ini. Aku tahu mengapa kamu mengundur terus jadwal wawancara eksklusif yang kamu janjikan. Kamu tidak akan berhasil menghancurkan pernikahan kami lewat tekanan media. Bila dalam minggu ini kamu tidak bisa memenuhi ucapanmu, maka aku akan menerima tawaran dari stasiun lain,” kataku dengan serius.

__ADS_1


Senyuman dari wajahnya menghilang. “Jangan sepelekan kekuatan media, Hendra. Televisi ini adalah milikku, aku yang mengatur kapan jadwal wawancaramu, bukan sebaliknya,” katanya dengan nada sombong.


“Kalau begitu, aku akan menerima tawaran dari stasiun lain.” Aku membalikkan badan. Aku ingin membalas serangan musuhku di rumahnya sendiri. Hanya itu alasan aku bersabar menunggu hari pembalasan tiba. Tetapi keadaan sudah semakin buruk, aku tidak bisa membiarkan dia yang menyetir keadaan lagi. Saatnya aku yang mengambil alih.


“Tunggu! Baik. Baik.” Aku tahu bahwa dia tidak akan melepaskan kesempatan untuk menyerangku pada acara wawancara di televisi miliknya sendiri. “Sabtu malam. Asistenku akan menghubungimu untuk wawancara ekslusif pada hari Sabtu malam nanti.”


Dia sudah menyiapkan sesuatu sehingga memilih hari itu. Baik. Irwan dan timnya sudah menyiapkan semua bukti. Bila mereka melakukan serangan terakhir sebelum jadwal wawancara, dia tahu harus melakukan apa. Aku pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepadanya.


Sekretaris Dicky menahan pintu tetap terbuka untukku. Seseorang menabrakku saat aku akan keluar dari ruangan itu. Aku menoleh dan melihat wajahnya. Dia hanya mengucapkan maaf, lalu bergegas masuk ke ruang kerja Dicky.


“Maafkan tindakannya, Pak. Mari, saya antar sampai mobil Bapak.” Wanita itu tidak menghalangi aku untuk kembali ke ruangan atasannya. Aku menurut.


Wajah itu tidak asing lagi. Tetapi aku tidak ingat di mana pernah melihatnya. Aku berpikir keras selama menunggu elevator tiba di lantai dasar. Kafin telah menunggu saat aku berada di luar gedung tersebut. Wanita itu berterima kasih atas kedatanganku lalu masuk ke bangunan tersebut.


“Kafin, parkirkan mobil.” Aku menelepon Irwan dan bayangan wajah itu pun bermain dengan jelas di kepalaku. Iya! Itu dia!


“Bersiaplah. Acaranya hari Sabtu malam, kamu pasti akan segera tahu jam tepatnya pada saat mereka menayangkan iklannya nanti.” Aku memberitahunya jadwal wawancaraku.


“Baik. Kami siap untuk meretas saluran mereka selama acara bila mereka menolak menayangkan semua bukti yang sudah kita siapkan,” katanya dengan serius.


“Dan satu lagi, aku mau kamu meretas CCTV pada bangunan utama kantor INITV. Pria yang kita cari ada di sini. Aku butuh gambar mereka ketika bersama. Itu akan menjadi bukti kita berikutnya. Dan pastikan lembaran resmi yang diterbitkan kepolisian masih kamu simpan.”


“Hendra, kamu yakin?” tanya Irwan dengan nada tidak percaya.


“Silakan saja kamu buktikan sendiri sekarang,” kataku. Kami mengakhiri hubungan telepon. Aku menunggu sampai pria itu datang melewatiku.


Dan dia tidak mengecewakan aku. Hampir setengah jam menunggu, dia yang tidak mengenakan helm melintas di depan mobilku. Aku bisa melihat dengan jelas wajahnya, sejelas saat melihatnya pertama kali di Puncak. Dia telah bersembunyi dengan baik selama ini. Dan rekan Irwan benar. Dia tidak berasal dari lingkungan mereka. Dia berasal dari Jakarta.

__ADS_1


Lalu aku mengerti mengapa Dicky memilih hari Sabtu. Pada hari Kamis pagi, aku mendapat kabar dari Irwan yang menunjukkan acara berita terkini yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi nasional. Vivaldo melakukan jumpa pers di mana dia menunjukkan bukti hasil tes yang menyatakan bahwa Hadi adalah putra kandungnya.


Aku menahan diri untuk tidak memukul meja dengan tanganku. Za akan khawatir bila aku melukai diriku lagi. Jadi, itu alasan dua lembar hasil tes tidak dikembalikan pada acara rapat dadakan pemegang saham? Ada orang yang bekerja sama dengan Vivaldo, Dicky, dan Nora. Dan mereka adalah orang dalamku sendiri?


Dua hari terakhir ini keadaan istriku sudah membaik. Tidurnya tidak gelisah lagi, jadi aku tidak mau menambah bebannya dengan membahas ulah laki-laki berengsek itu. Aku masih pulang dengan membawa buket bunga dan sekeranjang buah-buahan yang dibalasnya dengan ciuman.


“Bagaimana anak-anak hari ini?” tanyaku saat kami duduk berdua di sofa, menikmati kencan malam kami saat Hadi dan Dira sudah tidur.


“Baik.” Dia menoleh ke arahku dengan mata berbinar bahagia. “Sayang, sepertinya putri kita suka kepada Colin.”


“Sebagai teman. Jangan berpikir yang tidak-tidak karena tidak ada laki-laki yang bisa merebut cinta putriku secepat ini,” kataku yang tidak menyembunyikan rasa cemburuku. Dia tertawa.


“Kapan pun pasangannya datang, kamu tetap tidak akan siap untuk melepasnya,” godanya.


“Aku pasti siap ketika dia berusia tiga puluh nanti.” Aku menimbang-nimbang usia yang tepat. Dia melonggarkan pelukannya.


“Tiga puluh?!” ucapnya terkejut. Aku mengangguk. “Tidak. Itu lama sekali. Aku saja menikah pada usia dua puluh empat.”


“Seharusnya bisa lebih cepat dari itu tetapi kamu sok jual mahal.” Aku memasang wajah cemberut. Dia tertawa, lalu mencium bibirku. Entah mengapa dia suka melakukan itu saat aku memasang ekspresi tersebut. Aku membalas ciumannya dan membopongnya ke kamar kami.


Aku menolak permintaannya untuk bercinta. Pikiranku sedang berada di tempat lain dan aku tidak ingin menyakitinya secara tidak sadar. Dia tidak memaksa setelah aku menjanjikan kami akan melakukannya pada pagi hari.


Namun pemandangan yang mengejutkan menyambutku pada paginya. Aku ingin membangunkan dia ketika merasakan permukaan seprai kami lembap. Untuk kesekian kalinya, hatiku hancur melihat genangan darah di sekitar bokongnya.


Hal pertama yang aku lakukan adalah menelepon Yuyun agar dia segera datang bersama Liando. Lalu aku mengganti seprai agar Za tidak terkejut melihat darah sebanyak itu. Setelah membukakan pintu untuk mereka, aku memberi instruksi agar mereka tidak sedetik pun meninggalkan anak-anak. Will bisa mengantar Hadi ke sekolah tetapi Liando harus mengikuti mereka.


Aku menarik napas panjang sebelum membangunkan istriku. Dia harus dibawa ke dokter. Aku bukan orang yang religius. Tetapi aku berdoa kepada Tuhan agar tidak mengambil anak kami. Aku tidak peduli bila Dia mengambil harta, perusahaan, rumah, apartemen, mobil, tetapi jangan bayi kami. Za bisa hancur berantakan.

__ADS_1


__ADS_2