Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 55 - Berakhir Tidak Menyenangkan


__ADS_3

Liburan kami pun berakhir dengan tidak menyenangkan. Qiana telah menguasai dirinya dengan baik selama dalam perjalanan pulang. Dia tidak bertengkar dengan suaminya atau membicarakan hal yang dilihatnya di hotel dalam penerbangan. Bahkan sampai kami memasuki kendaraan masing-masing saat tiba di bandara tujuan pun dia tetap bersikap tenang.


Darla adalah satu-satunya orang di antara kami yang tidak memahami penyebab perubahan suasana tersebut. Jadi, aku tidak terkejut ketika menerima panggilan masuk darinya. Aku dan suamiku baru saja sampai di rumah kami. Ternyata dia juga menghubungi Lindsey sehingga kami bisa melakukan panggilan konferensi. Kami menceritakan kepadanya apa yang kami tahu.


“Kita makan siang di rumah Qiana besok? Dia pasti membutuhkan seseorang saat ini,” kata Darla memberi usul. Aku dan Lindsey setuju. Aku menawarkan diri untuk membawakan es krim kesukaan Qiana, Lindsey akan membawakan kopi kesukaan kami, dan kami membujuk Darla untuk membawa buah dan bumbu rujak lagi.


Saat aku masuk ke dalam kamar, Hendra sudah selesai mandi. Maka aku tidak menunda untuk membersihkan diriku juga. Aroma makanan yang lezat menyambutku saat keluar dari kamar mandi. Ada roti isi tuna dan alpukat di atas piring. Hendra tertawa melihatku segera duduk di sisinya dan mengambil roti tersebut. Aku menggumam pelan merasakan kelezatannya di dalam mulutku.


“Kamu akan ke penatu dan supermarket besok?” tanya Hendra. Aku menganggukkan kepalaku. “Bagaimana kalau kita berangkat bersama, lalu Liando yang menjemputmu pulang?”


“Oke.” Aku mengangguk setuju. “Tapi ada apa kamu mendadak memintaku ikut bersamamu?”


“Tentu saja supaya aku bisa lebih lama bersama istriku.” Dia mencium pelipisku. Aku tersenyum. “Kamu mau makan apa untuk malam ini? Aku akan memberitahu Yuyun.”


“Apa saja. Aku cukup kenyang menunggu sampai makan malam siap.” Aku menunjukkan roti isiku kepadanya. Dia berdiri, lalu keluar dari kamar.


Sesuai kesepakatan kami, aku pergi ke penatu untuk mengantar pakaian kotor bersamanya, lalu turun di supermarket langganan untuk berbelanja. Aku membeli lebih banyak bahan makanan karena kami akan mengundang kedua orang tua kami untuk makan bersama pada hari Minggu. Hendra berniat memberitahukan kehamilanku pada hari itu.


Melihat deretan es krim yang lezat, aku menahan diri untuk tidak membelinya. Aku akan bertemu dengan teman-temanku siang ini dan aku tidak membawa tas penyimpan khusus makanan beku. Es itu akan cair saat aku tiba di rumah nanti. Keadaannya sudah pasti akan makin buruk saat tiba di rumah Qiana, maka aku membatalkan niatku itu.


Aku membalikkan badan dan seseorang tiba-tiba saja mengecup bibirku. Aku mundur selangkah dan melihat Aldo berdiri di depanku dengan wajah bahagia. Dia melihat ke arah troli yang aku pegang, lalu kembali melihat ke arahku.

__ADS_1


“Kamu belanja banyak sekali seperti biasanya. Apa kabarmu, sayang? Lama sekali kita tidak bertemu.” Dia maju selangkah, aku segera meletakkan troli berada di antara kami.


“Jangan temui aku lagi, Aldo. Kalimatku yang mana yang kurang jelas untukmu?” ucapku dengan tegas. Ada apa dengan laki-laki ini? Mengapa dia masih saja mendatangiku, bahkan dengan lancang menciumku tanpa izin?


“Dahulu juga kamu begini. Menolakku sampai akhirnya hatimu luluh. Ara, apa kamu mengajakku untuk bermain kucing-kucingan lagi? Tidakkah menurutmu kita sudah terlalu tua untuk ini?” Dia kembali mencoba untuk mendekatiku.


“Bila kamu tidak pergi juga, aku akan berteriak memanggil keamanan. Kita tidak punya hubungan apa pun, jadi pergilah. Jangan pernah temui aku lagi,” kataku dengan serius.


“Setelah malam yang kita lewati bersama, kamu mengatakan kita tidak punya hubungan apa pun? Ada apa ini? Apakah karena aku hanya pegawai biasa dan suamimu seorang pengusaha kaya raya lalu kamu lebih memilih dia?” tanyanya dengan tatapan penuh luka. Aku diam memberinya waktu untuk melakukan apa yang aku minta. Tetapi dia tidak pergi juga.


“Tolong …!” teriakku tanpa ragu lagi. Dia segera melihat ke sekeliling kami dengan panik.


“Pria itu menggangguku. Aku memintanya pergi tapi dia tidak mau,” kataku menjawab pertanyaan wanita baik hati yang langsung datang mendekat saat mendengar teriakanku.


“Perlu aku temani ke pos satpam untuk mengadukannya?” tanya wanita itu lagi. Aku menggeleng.


“Tidak perlu. Terima kasih banyak. Yang penting, dia sudah pergi.” Aku tersenyum kepadanya.


“Sebaiknya kamu berhati-hati saat keluar rumah. Kalau bisa, jangan keluar sendirian. Dia sepertinya serius dengan ucapannya tadi.” Wanita itu menatapku dengan khawatir. Aku mengangguk.


Ketika menunggu semua barang belanjaanku dipindai di konter kasir, aku memikirkan apa yang wanita tadi sarankan. Iya. Aku tidak bisa lagi pergi sendirian. Meskipun aku sangat menyukai supermarket ini, sudah saatnya aku pindah ke cabang lain. Sedikit lebih jauh bukan masalah, asalkan aku tidak bertemu dengan Aldo lagi.

__ADS_1


Sampai di rumah, aku membiarkan Abdi dan Liando mengeluarkan semua kantong belanjaan dari mobil. Setelah memberitahu Yuyun bagaimana sebaiknya dia menyimpan setiap jenis bahan makanan, aku pergi menuju rumah Qiana. Aku sudah membawa tas khusus untuk makanan dingin, jadi aku mampir ke kafe es krim kesukaan sahabatku dan membeli dua rasa yang berbeda.


Aku tiba lebih dahulu disusul oleh Lindsey dan Darla. Hal yang sangat jarang terjadi sehingga aku merasa senang. Kami tidak memberitahukan bahwa kami akan datang sehingga Qiana terkejut melihat kami berdiri di depan pintu rumahnya. Tetapi saat melihat kantong yang dibawa oleh sopir Darla, dia bersorak senang. Kami akan pesta rujak lagi.


Kami makan siang dengan menu masakan Italia. Aku mengambil spageti lebih dahulu, lalu berikutnya memakan lasagna, dan terakhir menikmati piza. Semuanya sangat lezat. Mungkin karena aku sedang hamil dan mudah lapar, semua makanan terasa enak. Seperti biasa, Qiana dan Lindsey menjaga porsi makan mereka, sedangkan aku dan Darla makan sebanyak yang kami mau.


“Kalian berdua seharusnya lebih menjaga perasaan kami dan tidak makan sebanyak itu,” keluh Qiana. Aku dan Darla tertawa.


“Aku sengaja membeli banyak es krim, jangan pikirkan soal diet. Kamu punya kolam renang. Cukup berenang setiap hari, maka apa yang kamu makan hari ini akan terbakar menjadi energi,” kataku sambil memasukkan sesendok es ke mulut.


“Terima kasih kalian sudah datang ke sini. Aku minta maaf sudah membuat liburan kita berakhir kurang menyenangkan.” Qiana meletakkan mangkuk es krimnya yang sudah kosong.


“Tidak ada kata terima kasih dalam persahabatan.” Darla memberi peringatan. Qiana tersenyum.


“Mencurigai bahwa suami kita ada main di belakang kita dengan menyaksikannya langsung sangat berbeda rasanya. Aku masih tidak percaya Helmut sanggup melakukan ini kepadaku. Kami sudah dua puluh tahun bersama, dia malah mengkhianatiku dengan wanita semuda itu.” Qiana terisak. Kami segera duduk di sisinya dan memeluknya.


“Helmut sudah lama tidak menyentuhku, apalagi menciumku. Tetapi dia mencium wanita itu begitu panas sampai lupa dia sedang berada di mana. Dia sudah lama tidak menginginkanku seperti itu. Aku menjaga tubuhku dengan baik, merawat diri, aku bahkan bersikap baik kepadanya. Lalu apa salahku sampai dia mengkhianatiku? Aku rasanya ingin mati saja. Aku tidak mau kehilangan suamiku.”


“Qiana, kamu tidak akan kehilangan suamimu,” ucap Darla meyakinkannya. Tangis Qiana pecah.


“Wanita itu sedang hamil.”

__ADS_1


__ADS_2