
~Za~
Katanya dia akan selalu mendukungku, membahagiakan aku, mencintai aku tanpa syarat. Nyatanya hari ini dia tidak bisa menepati janjinya sendiri hanya karena merajuk. Sudah tua, bukan anak kecil lagi, tetapi masih mengambek demi masalah sesepele ucapan selamat ulang tahun.
Hari ini aku sangat bahagia dan menikmati setiap saat yang aku jalani bersama para penggemarku, tetapi suamiku tidak tersenyum sedikit pun sepanjang acara. Seharusnya aku beritahu dia saja bahwa aku sebenarnya ingat dengan hari istimewanya ini dan sudah menyiapkan acara kejutan untuknya. Biar wajah jeleknya itu berubah ceria.
Namun aku berhasil bertahan. Acara yang berlangsung nyaris lima jam itu berakhir dengan baik dan kami semua menuju acara berikutnya. Suamiku berpikir bahwa itu hanya makan malam biasa sebagai perayaan satu bulan terbitnya bukuku yang terjual habis.
Aku tersenyum puas melihat acara kejutan itu berjalan lancar, dia kaget mendapati bahwa acara selanjutnya adalah perayaan ulang tahunnya. Barulah wajah cemberutnya itu pergi menjauh berganti menjadi wajah bahagianya yang sangat tampan.
Sudah terbiasa dengan sikap sesukanya, aku tidak menolak saat dia mencium aku di depan banyak orang. Bukan hanya dia, aku juga ingin menunjukkan kepada semuanya bahwa dia adalah suamiku. Jadi, silakan pikir dua kali kalau mau merebut dia dariku.
“Kamu pasti berpikir bahwa Zahara lupa dengan hari ulang tahunmu. Iya, ‘kan?” goda Qiana saat kami duduk bersama menikmati makanan kami.
“Dia lemah terhadap tanggal dan sangat bahagia dengan acara hari ini. Wajar saja aku berpikir begitu.” Hendra melingkarkan tangannya di bahuku.
“Sayang, apa kamu lupa bahwa sekarang sudah ada alarm pengingat di ponsel? Zaman sudah berubah, jadi aku tidak lemah lagi dalam hal tanggal.” Aku menjulurkan lidahku kepadanya.
“Aku akan membalas sikap kekanak-kanakan ini nanti,” katanya penuh arti. Aku tertawa, tidak takut dengan ancamannya tersebut.
Teman-teman bercerita bagaimana kami menyiapkan acara kejutan ini bekerja sama dengan Rasmi dan timnya. Adik iparku itu adalah satu-satunya alasan kami bisa menggunakan aula ini untuk urusan pribadi. Punya saudara yang duduk di kursi wakil direktur memang ada keuntungannya tersendiri.
Aku tersenyum melihat Darla yang sedang sibuk dengan kehadiran cucu pertamanya. Dia begitu bahagia bisa menjadi seorang nenek. Qiana disibukkan dengan perannya sebagai istri seorang anggota dewan dan mengurus kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa.
Lindsey kini tidak lagi sendiri membesarkan cucunya. Claudia sudah bisa melepas kepergian putri dan cucunya, dan tidak sedih lagi setiap melihat Charlotte. Mereka sering mendiskusikan hal yang terbaik yang akan mereka lakukan untuk pendidikan cucu mereka nanti.
“Kalian sudah selesai makan, sebaiknya kalian pulang lebih dahulu, Nak,” bisik ibu mertuaku kepada Hendra. “Za sudah seharian berada di luar, dia pasti kelelahan.” Iya, Mama benar.
“Baik, Ma,” ucap suamiku menurut. Dia melihat ke arahku. “Ada yang perlu aku ambilkan sebelum kita pulang?” Aku menggeleng pelan.
Aku berterima kasih kepada para sahabatku atas bantuan mereka menyiapkan kejutan ulang tahun suamiku. Juga kepada Gista dan Rasmi yang telah menyiapkan acara dengan baik. Aku baru saja melepaskan pelukanku dari adik iparku itu ketika dia mengaduh kesakitan.
“Zach!” Aku memanggil adikku ketika melihat ada cairan di antara kedua kaki istrinya. “Istrimu akan segera melahirkan. Segera bawa dia ke rumah sakit.”
“Kak, tidak perlu ikut. Ada orang tua dan mertuaku yang pasti akan ikut menemani kami. Kakak di rumah saja. Hari ini sudah sangat melelahkan dan aku tidak mau kehilangan keponakanku lagi,” ucap Rasmi saat Zach merapikan barang bawaan istrinya dan menyandang tas tersebut di bahunya.
__ADS_1
“Baiklah. Kabari aku segera saat keponakanku sudah lahir.” Aku mencium pipinya. Dia mengangguk. Zach segera membopongnya. Aku melihat kedua orang tuaku ikut menyusul di belakangnya bersama Zeph. Hendra melingkarkan tangannya di bahuku.
“Kita pulang sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk.
Perjalanan pulang kami senyap, tidak ada yang bicara. Anak-anak segera terlelap beberapa saat kami berada di dalam mobil. Karena tempat duduk khusus Dira ada di antara aku dan Hendra, aku tidak bisa bersandar padanya. Tetapi Hendra mengulurkan tangannya dan menyentuh bahuku. Aku tersenyum bisa merasakan sentuhannya.
Aku membiarkan Hendra dan Yuyun yang mengurus anak-anak, sedangkan aku ke kamar untuk membersihkan diri lebih dahulu. Hendra memasuki kamar bersamaan dengan aku keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum saat berjalan menuju kamar mandi dan menyempatkan untuk mengecup bibirku. Aku menggeleng pelan melihat tingkahnya.
Rasanya aku baru saja berbaring, tetapi tidur segera mengambil alih kesadaranku. Saat aku membuka mata, aku sudah berada dalam pelukan suamiku. Aku tersenyum melihat wajahnya yang begitu dekat denganku.
Setelah sepelan mungkin melepaskan diri dari pelukannya, aku menuju kamar mandi. Saat aku keluar, Hendra masih tertidur pulas. Aku melirik jam digital di atas nakas. Pukul lima pagi. Dia akan bangun untuk olahraga, jadi aku biarkan dia tidur sedikit lebih lama.
Aku menuju kamar Hadi dan tersenyum melihat dia masih tidur pulas. Aku mendekat untuk memperbaiki posisi selimutnya. Dia anak yang baik, semoga saja dia tidak akan meniru papanya yang posesif dan bisa mencintai kekasihnya tanpa banyak mengekangnya.
Dira juga masih tidur pulas di kamarnya. Gadis kecilku ini akan tumbuh jauh lebih cantik dari mamanya. Mungkin dia tidak akan menemukan banyak drama dalam hidupnya ke depan karena dia sudah punya calon suami. Dia tidak akan mengalami yang aku alami dalam kehidupan asmaraku.
Hidup ini memang tidak terduga. Aku mempersiapkan dan merencanakan Hadi kelak akan menikah dengan Clarissa, ternyata mereka malah berpisah secepat ini. Dira yang aku bebaskan untuk memilih dekat dengan siapa kelak, justru dilamar oleh sahabat baik kakaknya sendiri.
Colin masih anak-anak, tetapi aku tidak mau menertawakan atau meremehkan niat baiknya itu. Bila dia tulus ingin menikahi putriku, mengapa tidak. Dia anak yang tampan, cerdas, sopan, dan baik hati. Aku yakin Will dan Gista akan membesarkannya menjadi seorang pria sejati. Dia adalah calon yang baik untuk putriku.
Bila Hendra tidak setuju dan mempersulit usaha anak malang itu, aku yang akan mengatasinya. Dia tidak bisa menghalangi putri kami untuk menemukan kebahagiaannya. Karena aku yakin bahwa niat Colin tidak bertepuk sebelah tangan. Dira juga menyukainya.
Calon bayiku dikubur di pekarangan rumah kami, tepat di bawah balkon kamarku. Tukang kebun menanam tanaman mawar di atasnya. Hendra yang memintanya. Aku tidak peduli di mana bayi kecil kami ditempatkan karena dia akan selalu punya tempat di hatiku.
Meskipun kami tidak pernah bertemu, tidak pernah saling bersentuhan, aku akan selalu mengingat dia. Karena kehadirannya adalah simbol kembalinya aku bersama papanya. Dia hadir saat kami berhasil merobohkan tembok pemisah dan menjadi satu kembali. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga jiwa, hati, dan pikiran kami menjadi satu. Hal indah yang tidak pernah kami alami pada awal pernikahan kami.
Kamu akan selalu ada di pikiranku, Nak. Kamu tidak akan pernah aku lupakan.
“Hei, sayang.” Dua tangan besar melingkari tubuhku, lalu sebuah ciuman mendarat di pelipisku. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini di sini? Aku sampai khawatir mencarimu.” Aku tersenyum merasakan kehangatan tubuhnya, juga perhatiannya. Aku hanya pergi sebentar, dia sudah khawatir begini.
“Aku hanya ingin melihat si kecil. Dan memberitahunya bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakak,” kataku pelan. “Hendra ….”
“Ya, sayang?” Dia mencium pelipisku.
Aku tidak akan berhenti berterima kasih kepadanya yang sudah bersabar terhadap aku. Tidak ada laki-laki sebelum dia yang tetap bertahan dengan tulus mencintai aku. Dia berhasil menyentuh hatiku yang dingin karena tidak lagi percaya pada cinta. Aku akan menjaga dia sekuat tenagaku.
__ADS_1
“Aku mencintaimu.”
“Aku lebih mencintai kamu.” Dia mencium rambutku begitu lama. Aku tertawa geli.
“Ayo, aku temani kamu olahraga,” ajakku. Dia melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tanganku. Untuk sementara, dia hanya diperbolehkan berjalan santai. Pelatihnya belum mengizinkan dia untuk joging. Aku lebih suka begini, jadi aku juga punya teman berolahraga.
Sayup-sayup aku mendengar salakan anjing. Kami saling bertukar pandang, lalu serentak menoleh ke belakang. Gonggongan itu terdengar semakin dekat diikuti dengan suara anak-anak. Mereka muncul dari balik dinding, dan berlari ke arah kami.
“Papa! Mama! Ikut!” seru Hadi dan Dira yang mendekati kami bersama Ara. Aku dan Hendra tertawa melihat mereka berlari mendekat. Suamiku berlutut, lalu menangkap tubuh putrinya. Dira tertawa geli saat papanya menghujaninya dengan ciuman.
Aku dan Hendra menggandeng tangan Hadi, sedangkan Dira berada dalam gendongan papanya. Ara berjalan santai di sisiku dengan ekornya yang bergoyang bahagia. Sekali lagi, aku menoleh ke arah tanaman mawar tersebut, lalu tersenyum bahagia.
...*******...
Sementara itu, di sebuah ruang khusus bersalin.
“Aku sudah tidak tahan lagi, Zach! Lakukan sesuatu!” pekik Rasmi dengan suara parau setelah berjam-jam menahan sakit.
“Iya, sayang. Tahan, ya. Aku di sini. Aku ada di sini,” ucap Zach sambil mengusap-usap kening istrinya yang basah oleh keringat. “Tarik napas, keluarkan perlahan.”
“Baik, Ibu Rasmi. Anak Ibu sudah siap untuk lahir. Saya akan beri aba-aba, Ibu dorong sekuatnya, ya,” kata dokter memberi instruksi. “Oke. Dorong, Bu.”
Rasmi mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menolong anak keduanya lahir. Dia begitu lega saat dokter tidak memintanya melakukan hal itu lagi. Mereka malah sibuk membawa seorang bayi ke sebuah meja, melakukan pemeriksaan, lalu memberi tepukan agar dia menangis.
Dan suara tangisan keras memenuhi ruangan tersebut. Rasmi mendesah napas lega. Dia terbaring lemas setelah semalaman berjuang menunggu kelahiran. Zach yang tidak pernah jauh dari sisinya menghujaninya dengan ciuman.
Rasmi tidak merasakan apa pun saat suster sibuk membersihkan dirinya. Dia hanya bisa terbaring tidak berdaya. Mereka menunggu sampai dokter anak selesai memeriksa keadaan anak mereka. Zach sesekali melihat kondisi anak mereka, lalu kembali lagi ke sisi istrinya.
“Selamat, Pak, Bu, anak Anda laki-laki dan dia dalam kondisi yang sehat.” Seorang suster meletakkan bayi kecil itu di dada Rasmi, bersiap untuk inisiasi menyusui dini.
Rasmi melihat sedih ke arah suaminya. Dia sangat berharap bahwa anak kedua mereka adalah perempuan. Dia ingin mempunyai putri yang lucu seperti Dira.
“Anak laki-laki atau perempuan sama saja, sayang,” hibur Zach. “Kita akan menyayangi mereka. Lagi pula kita masih bisa mencoba lagi. Kakak saja akan punya anak ketiga.”
“Kamu yang hamil, aku tidak mau lagi,” ucap Rasmi. Beberapa suster tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Kamu bilang tidak sekarang. Saat kita membuatnya nanti, kamu sendiri yang mengharapkan kita memiliki anak lagi,” goda Zach. Para suster itu tertawa lagi.
...S E L E S A I...