
“Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.” Aku menarik lenganku dari genggamannya. “Tetapi apa pun yang terjadi, Hendra tidak akan meninggalkan aku lagi. Kita tidak pernah membahas ini sebelumnya, baik, kita bicarakan ini sekarang.” Aku menunggu sampai teman-temannya berjalan melewati kami. Mereka tersenyum kepada Dicky, aku hanya diam.
“Aku tidak pernah memberi harapan kepadamu, hentikan sikapmu ini,” kataku setelah jarak antara teman-temannya dengan kami cukup jauh. “Aku hanya mencintai Hendra. Aku lebih baik sendiri selamanya daripada menikah dengan laki-laki selain dia. Apa kamu mengerti? Jika kamu terus begini, kamu akan membuatku membencimu. Aku menghargaimu karena kamu adalah teman Helmut. Hanya itu.”
“Apa dia juga mencintaimu sebesar itu?” tantangnya. “Dia pernah meninggalkanmu. Itu bukti bahwa dia tidak mencintaimu seperti yang dia katakan. Za, buka matamu. Dia akan meninggalkan kamu lagi ketika kamu melakukan kesalahan. Aku tidak akan melakukan itu kepadamu. Sekalipun kamu tidur dengan laki-laki lain, memiliki anak dengan laki-laki lain, aku akan tetap bersamamu.”
“Aku bicara dengan tembok.” Aku berjalan dengan cepat sebelum dia sempat menarik tanganku lagi. Mendengar langkah kakinya, aku mempercepat gerak kakiku. Aku sudah cukup lelah berhadapan dengan Vivaldo yang berujung pada berakhirnya pernikahanku. Aku tidak mau mengalami hal yang sama lagi dengan pria bernama Dicky ini.
Tidur dengan laki-laki lain, memiliki anak dengan laki-laki lain. Mengapa dia terus membahas kedua hal itu? Tunggu dulu. Bukankah dua malam yang lalu adalah jadwal wawancara Vivaldo di salah satu stasiun televisi? Apakah dia mengatakan fitnahan itu di depan kamera? Sebaiknya aku cari tahu nanti. Hendra tidak akan suka bila dia tahu bahwa aku menonton acara tak berguna itu.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Hendra yang menyambut kedatanganku. Aku mengangguk. “Kami sudah selesai sarapan. Ambil makananmu, kami akan menunggumu sambil menikmati buah ini.”
Aku menurutinya. Setelah mengisi penuh dua piring dengan berbagai makanan, aku kembali ke meja di mana keluargaku berada. Aku senang mereka memilih meja di pinggir kolam renang. Hendra tersenyum melihat piring tersebut. “Aku sangat lapar. Udara di sini sejuk, membuatku cepat lapar.”
“Hei, aku tidak mengatakan apa pun. Kamu boleh mengambil makanan sebanyak yang kamu mau,” katanya dengan tawa renyahnya.
“Tetapi matamu mengejekku,” protesku.
“Kamu beruntung, kamu duduk di depanku. Kalau kamu duduk di sampingku, aku sudah mencium bibirmu itu.” Dia mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Hendra!” Aku melirik ke arah Hadi. Suamiku hanya tertawa. “Hadi, kamu pergilah berganti pakaian dan mandi bersama Papa. Mama dan Dira akan menjaga barang-barang kita. Setelah kalian selesai, giliran kalian yang menjaga barang saat kami berganti pakaian.”
“Oke, Ma,” ucap Hadi menurut. Hendra memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri, mendekat ke sisiku, dan mengecup bibirku. Aku hanya menggelengkan kepala melihat senyum nakalnya.
Aku makan secepat yang aku bisa. Bukan hal yang sulit karena aku sangat lapar. Dira memakan buah yang masih ada di atas piringnya. Aku menawarkan sepotong telur dadar, dia membuka mulutnya dan segera mengunyahnya. Begitu Hendra dan Hadi kembali, aku sudah selesai makan. Aku membawa Dira bersamaku ke kamar mandi.
“Iya, itu adalah Zahara Aprilia yang sedang viral itu. Kamu lihat sendiri dia duduk bersama laki-laki yang bernama Mahendra Perkasa yang terkenal itu. Dunia sudah mau kiamat, ya. Mereka bercerai tetapi masih hidup bersama,” kata seorang wanita saat aku memasuki sebuah bilik.
“Kamu lihat anak-anaknya? Mereka tidak mirip sedikit pun dengan Hendra. Mengapa dia mau, ya, menganggap mereka sebagai anaknya sendiri?” kata perempuan kedua dari bilik di belakangku.
“Yang paling aneh, kok, dia mau bersama perempuan seperti itu? Kamu tahu sendiri, ‘kan, dia tidur dengan laki-laki lain saat dia masih menikah dengan Hendra. Setelah mereka bercerai juga begitu. Sampai dia punya anak lagi yang tidak jelas siapa ayahnya,” kata perempuan dari bilik di kananku.
“Benar kata orang, penampilan bisa menipu. Wajahnya cantik, kelihatan baik dan lugu, ternyata hipersèksuäl. Apa dia tidak takut kena penyakit? Seram.” Wanita di belakangku membuat suara bergidik. Aku menyalakan pancuran setelah selesai berganti pakaian.
“Hendra juga sama saja. Ada banyak perempuan lain yang lebih baik, malah kembali kepadanya lagi. Jangan-jangan dia kena sihir.” Wanita di sebelah kananku juga mengeluarkan suara yang sama. Apa mereka tidak mendengar aku baru menyalakan air? Mereka tidak takut percakapan mereka didengar oleh orang lain?
“Duh, jaga suami kamu. Aku lihat dia melirik perempuan itu berkali-kali saat makan tadi.” Oke. Aku sudah selesai. Sepertinya mereka juga sudah bila didengar dari bunyi air yang berhenti mengalir.
“Heh, ngga perlu ajari aku bagaimana menjaga suami. Suamimu juga melihat perempuan itu saat makan tadi.” Aku menggendong Dira dan membawa tas berisi pakaian kering kami, lalu berdiri di depan bilik. Aku mau melihat ekspresi mereka saat melihat wajahku nanti.
__ADS_1
Dua tarikan napas terkejut menggema di kamar mandi itu saat mereka melihat aku berdiri di depan mereka. Lalu wajah mereka memucat menyadari siapa aku. Wanita yang mereka jelek-jelekkan tanpa tahu fakta yang sebenarnya.
“Ayo, cepat, kita pergi dari sini.” Mereka menjaga jarak dariku, lalu bergegas keluar. Aku sudah ada di depan mereka, malah langsung kabur. Padahal aku sudah siap untuk menghadapi mereka.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Hendra ketika aku berjalan mendekati mereka. Dia mengambil Dira dariku. Putri kami segera menunjuk ke arah kolam, tidak sabar untuk masuk ke sana.
“Iya. Semuanya baik-baik saja.” Aku melihat kedua wanita itu memanggil suami mereka agar keluar dari kolam. Mereka keluar lebih dahulu melewati restoran, sedangkan para suami memasuki kamar mandi. Aku tidak melihat apakah kedua pria itu benar tertarik kepadaku, aku hanya fokus melihat tingkah para istri. Beraninya hanya membicarakan orang di belakang.
Puas berenang, kami makan sejenak sebelum bersiap-siap untuk kembali ke vila. Anak-anak tidur pulas selama dalam perjalanan. Setibanya di vila, aku dan Hendra juga memilih untuk beristirahat di sofa. Kami tidak berbaring di tempat tidur agar tidak tertidur terlalu lama. Lagipula berbaring di sofa lebih menyenangkan. Aku bisa berbaring di atas tubuhnya.
Ara sudah lebih dekat dengan anak-anak, jadi dia tidak terlalu memedulikan tuannya. Dia lebih memilih untuk tidur di ranjang Dira dan menunggu sampai tuan barunya itu bangun. Jadi aku bisa memiliki suamiku hanya untukku.
“Dasar istri manja.” Dadanya naik turun karena tertawa. Aku membuka mata, terbangun karena usapan tangannya di rambutku.
“Mengapa kamu sudah bangun?” Aku memejamkan mataku kembali. “Tidurlah lagi.”
“Sebentar lagi anak-anak akan bangun. Aku tidak mau menunggu sampai malam untuk mendengar apa yang terjadi di resor tadi.” Tangannya kini berpindah ke bahuku. Aku membuka mata dan mencoba mencerna ucapannya itu.
“Apa maksud kamu?” Aku mengangkat kepalaku agar bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
“Apa yang dikatakan anggota dewan itu saat kalian berpapasan sampai dia tidak bisa melepaskan pandangan matanya darimu?”