Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 113 - Pikirkan Solusinya


__ADS_3

Mama mengembalikan ponselku kepadaku, lalu mendekati Hadi. Aku melihat hubungan telepon masih terhubung. “Hendra?”


“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tidak bilang bahwa Mama akan bicara denganku? Aku sedang mengikuti rapat penting, Za,” ucap Hendra kesal.


“Anak-anak ingin bertemu denganmu.” Aku keluar dari ruang keluarga karena pandangan tajam mata Mama mulai membuatku tidak tenang.


“Mengapa kamu tidak memberitahuku pagi tadi? Kamu tidak menelepon atau mengirim pesan, aku pikir segalanya dalam kendali di sana. Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.


“Hadi dan Dira harus dipaksa agar mau mandi dan makan. Sekarang Hadi masih di rumah, sama sekali tidak mau pergi ke sekolah. Aku meminta Papa dan Mama untuk datang karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.” Aku menjauh dari pintu ruangan tadi.


“Keadaannya seburuk itu, mengapa kamu tidak menelepon aku?” protesnya. Aku menoleh saat mendengar bunyi pintu dibuka.


“Kalian mau bicara sampai kapan? Waktu Hendra untuk tiba di rumah ini sudah kurang dari satu jam lagi,” kata Mama dengan tegas.


“Oke. Aku akan urus segalanya di sini dan segera datang ke sana. Tahan Mama agar tidak datang dan membuat keributan di kantorku. Aku punya harga diri sebagai pimpinan yang perlu aku jaga.” Aku memutar bola mataku mendengar kalimat konyolnya itu.


Dira sudah bangun satu jam kemudian, tetapi Hendra belum juga tiba di rumah. Kedua cucu mamaku itu memasang wajah sedih. Mereka mengetahui bahwa nenek mereka berada di pihak mereka, jadi mereka sengaja mencari perhatiannya. Aku hanya bisa duduk di sofa dengan meja berada di antara kami, merasa diperlakukan sebagai orang jahat. Mama berniat menyuruh Liando dan Sakti untuk pergi ke kantor ketika terdengar deru mesin mobil di depan rumah.


Wajah Hadi dan Dira segera berubah ceria. “Papa!” Mereka turun dari pangkuan kakek dan nenek mereka lalu berlari keluar dari ruangan. Mama melotot ke arahku. Aku pun berdiri dan mengikuti anak-anak yang berdiri tidak sabar menunggu pintu depan dibuka.


Dan di sanalah dia. Pria yang sudah membuat anak-anakku jatuh cinta kepadanya. Yang lebih mereka cintai daripada mama mereka sendiri. Hendra berlutut dan membiarkan Hadi dan Dira memeluknya sambil menangis keras. Lalu salakan anjing menarik perhatian kami semua. Ah, sekarang aku mengerti. Dia datang sedikit terlambat karena menjemput anak anjing itu dari apartemennya.


Mama mengajak kami semua untuk duduk di ruang keluarga. Hendra menatapku dengan wajah memelas. Aku berpura-pura tidak memedulikannya. Dia tahu bahwa aku tidak berani menentang mamaku sejak operasi pemasangan cincin di jantungnya. Terutama sejak Mama jatuh sakit akibat ulah Aldo berengsek itu.


“Duduk di sana.” Mama menunjuk ke arah sofa tiga dudukan. Hendra menurutinya. Hadi tidak melepaskan ujung jas ayahnya dan ikut duduk di sisinya. “Kamu mau ke mana?” Mama melihat ke arahku yang mengekorinya.


“Mau duduk, Ma.” Aku menatapnya dengan bingung.


“Kamu duduk di sana.” Mama melihat ke arah sofa yang diduduki Hendra. Aduh. Masa aku akan dimarahi lagi? Bukankah aku sudah cukup mendapatkan omelannya tadi?

__ADS_1


“Bagaimana bisa kalian melakukan ini kepada cucuku? Kalian membiarkan mereka semalaman dalam keadaan sedih? Apa kalian tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan anak? Bicarakan dengan mereka secara baik-baik. Bukan malah pulang ke rumah dan tidur nyenyak lalu bekerja tanpa tahu kondisi anak.” Mama menatap Hendra yang hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Setelah Hadi dan Dira dalam keadaan tenang, aku mau kalian berdua membicarakan rencana kalian selanjutnya. Jangan hanya memikirkan kenyamanan kalian sendiri. Pikirkan juga apa yang terbaik untuk anak-anak. Jangan hanya bisa buat tapi tidak mau tanggung jawab.” Aku mengangakan mulut mendengar kalimat itu. Aku segera menutup telinga Hadi yang duduk di sisiku.


Kami menonton film anak sampai Dira dan Hadi mau berpisah sebentar dari ayah mereka. Mama bahkan sampai menemani mereka memasuki ruang kerja bersama kami agar mereka percaya bahwa papa mereka tidak pergi. Mama melotot ke arahku sebelum menutup pintu.


“Mengapa selalu aku yang disalahkan?” Aku mendesah pelan.


“Kamu putri Mama, tentu saja Mama menyalahkan kamu. Mamaku juga akan begitu kepadaku,” kata Hendra dengan santai. Aku menatapnya dengan saksama. “Ada apa?”


“Mengapa kamu memanggilnya mama? Biasanya kamu memanggil dengan Tante Anya.”


“Ada hal yang lebih penting selain membahas nama panggilan, Za.” Dia duduk di salah satu kursi. Aku duduk di seberangnya. “Jadi, apa solusi darimu?”


“Kamu yang punya ide berlibur bersama dengan mengajakku serta, lalu pulang tanpa pamit kepada mereka. Oh, dan satu lagi. Menghindar dari pertanyaan Hadi setiap kali dia memintamu untuk tinggal bersama kami,” ucapku panjang lebar. “Apa solusi darimu, Tuan Hendra yang terhormat?”


“Senang? Siapa yang senang kamu tinggal di sini bersama kami?” protesku.


“Aku akan coba jelaskan keadaan kita kepada mereka. Mungkin beberapa hari nanti aku bisa kembali tinggal di apartemenku.” Tentu saja dia hanya tinggal sementara. Dia tidak berniat kembali tinggal di sini bersama kami.


“Baiklah. Itu usul yang bagus.” Aku segera menyetujuinya. “Kamu akan pulang untuk mengambil pakaianmu atau kembali ke kantor?”


“Aku sudah menutup rapat hari ini. Pekerjaanku selanjutnya bisa aku kerjakan dari sini.” Dia melihat ke sekeliling ruang kerjanya. “Tolong, beritahu Kafin agar dia pulang ke apartemen dan mengambil beberapa keperluanku dan Ara.”


“Aku akan meminta Liando untuk ikut bersamanya.”


“Itu lebih baik lagi.” Dia berdiri dan mendekati meja kerjanya. Aku berjalan menuju pintu. “Za.” Aku berhenti dan menoleh ke arahnya. “Maafkan aku sudah membuatmu susah.” Tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, aku hanya tersenyum.


Hadi dan Dira sudah kembali ceria. Mereka bermain bersama Ara juga Papa dan Mama di ruangan tadi. Solusinya hanya sesederhana itu bagi mereka. Papa mereka datang, dan segalanya pun kembali normal. Tetapi tidak demikian bagiku. Sementara. Berapa hari atau minggu yang dimaksud Hendra dengan kata sementara itu?

__ADS_1


Kami sudah beberapa kali berciuman bahkan hampir bercinta selama seminggu di vila. Bila dia tinggal di sini lebih lama dari itu, bisa-bisa harapan Papa dan Mama untuk memiliki cucu keempat akan terwujud. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Aku ingin kami mempunyai kepastian hubungan sebelum kami melakukan kontak fisik lagi.


“Mama!” Hadi berlari mendekatiku. Dia memelukku dengan memberikan wajah tersenyumnya kepadaku. Hm. Pasti ada maunya. “Ayo, Ma. Aku sudah siap untuk pergi ke sekolah.” Yang benar saja.


“Kamu sudah melewatkan jam sekolahmu. Kamu tidak bisa mengatur kapan kamu datang dan pulang dari sekolah, Nak.” Meskipun aku sempat dongkol dengan tingkahnya sejak pagi tadi, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku sayang kepadanya. Aku membelai rambutnya.


“Bila anakku bilang dia ingin pergi ke sekolah, maka dia akan ke sekolah.” Terdengar suara Hendra dari arah belakangku. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya tidak percaya.


“Papa!” Hadi segera berlari memeluknya. Sekarang dia lupa mengenai mamanya.


“Jam belajarnya sudah habis. Memangnya kamu mau memasukkan dia ke kelas lain? Guru dan teman-temannya sudah bukan lagi orang yang sama,” kataku.


“Bukan masalah. Aku akan bicara dengan kepala sekolahnya.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Tolong, bacakan nomornya untukku.”


“Tidak. Kamu hanya akan membuatku malu saja. Apa kamu tidak pernah sekolah sebelumnya?” Aku segera menolak ide anehnya itu.


“Mamaku selalu melakukan ini. Aku bisa masuk sekolah kapan saja yang aku mau tidak peduli itu kelasku atau bukan.”


“Itu sama saja kamu tidak mengajarkan disiplin kepada putra kita,” kataku dengan serius.


“Apa kamu sedang mengatakan bahwa mamaku tidak mengajarkan disiplin kepadaku?” Dia memicingkan matanya, tersinggung dengan kalimatku tadi. Sebuah tawa memenuhi ruangan itu. Aku melihat ke arah datangnya suara. Dira yang ada dalam pangkuan Mama menatap kami dengan senyum bahagianya.


“Apa kalian sudah selesai? Bisa kita makan siang sekarang? Aku sudah lapar.” Mama menatapku dan Hendra secara bergantian.


“Papa dan Ara akan tinggal di sini bersama kami, ‘kan?” tanya Hadi penuh harap. Anak anjing itu menyalak senang mendengar namanya disebut. Aku mendengar kedua orang tuaku menahan tawa mereka. Menjengkelkan. “Papa tidak akan pergi lagi, ‘kan?”


“Iya. Papa dan Ara akan tinggal di sini.” Lagi-lagi anak anjing itu menyalak.


“Horeee …!” Hadi memeluk Hendra dengan erat. “Kalau begitu, kapan pernikahannya diadakan, Pa?”

__ADS_1


__ADS_2