
Oh, Tuhan. Wali kota itu pasti merasa terdesak sehingga melakukan semua ini. Tidak berhasil mengakhiri hidup suamiku, dia mencoba menghilangkan bukti korupsi yang dilakukannya. Tetapi mengapa dia mengincar kantor Hendra? Apa dia pikir suamiku sebodoh itu menyimpan bukti berharga di kantornya?
Aku melihat ke arah lukisan keluarga kami yang ada di dinding di belakang kursi kerjanya. Dibalik lukisan itu ada brankas besi, begitu juga di balik lemari di ruang pakaian di kamar kami. Jika surat itu tidak ada di kedua brankas, maka semua bukti aman di tangan Irwan.
“Dia pasti semakin nekat setelah tidak berhasil membuka brankas itu,” kataku kepada Zach. Dia mengangguk.
“Sekalipun dibom, brankas itu tidak akan bisa dia buka bila tidak tahu kombinasi dan kunci khusus yang disimpan oleh Kak Hendra.” Zach memberikan sebuah amplop cokelat kepadaku.
“Apa ini?” tanyaku bingung.
“Titipan dari Gista. Paspor dengan VISA dan tiket penerbangan Kakak dan keluarga ke London. Dia membutuhkan instruksi selanjutnya. Batalkan atau lanjutkan, tolong hubungi dia secepatnya,” kata Zach. Aku mengangguk.
“Hadi sangat berharap dengan kepergian kami kali ini. Colin berlibur ke Amerika, kami ingin dia bisa bahagia juga karena pergi mengelilingi Eropa. Selama Hendra dan Xavier membicarakan bisnis, dia sudah merencanakan perjalanan kereta api untukku dan anak-anak bersama Annora. Sayang sekali.” Aku menatap tiket itu sebelum memasukkannya kembali ke amplop.
“Kak Hendra pulih dengan cepat, syukurlah dia punya kebiasaan hidup sehat. Kakak jangan khawatir. Kalian akan bisa berlibur dalam waktu dekat,” hibur Zach.
Pintu diketuk, kami menoleh. Aku mempersilakan masuk, dan Abdi memberitahuku bahwa Hendra sedang menuruni tangga dan menolak bantuannya.
“Biar aku saja,” kata Zach yang segera berdiri dan keluar dari ruangan. Aku menoleh ke Pak Oscar.
“Jadi, kita lakukan sesuai rencana, Bu?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Berikan bukti penyelewengan dana yang dia lakukan, lalu saat jabatannya sudah dicopot, ajukan tuntutan atas keterlibatannya dalam kecelakaan suamiku,” kataku menutup pertemuan kami.
Kami keluar dari ruangan itu karena sudah saatnya untuk makan malam. Aku melihat ke arah tangga di mana suamiku sedang dipapah Zach. Aku memerhatikan wajahnya baik-baik. Sepertinya dia sudah tidak kesulitan lagi menggerakkan kakinya. Dia tidak terlihat kesakitan atau kelelahan. Mungkin dia mengalami kesulitan sore tadi karena baru saja selesai terapi.
“Pantas saja kamu meninggalkan suamimu di kamar ditemani seekor anjing. Ternyata ada dua pria tampan yang menemanimu di sini,” godanya. Dia mendesah lega saat duduk di kursi rodanya. “Hai, Oscar. Kabarmu baik?”
__ADS_1
“Baik, Pak. Bagaimana dengan Anda?”
“Buruk. Aku tidak menyangka akan mengalami sebuah kecelakaan yang membuat aku menjadi tidak berdaya begini.” Hendra tertawa kecil.
“Kamu mengeluh begini pasti karena sudah lapar. Ayo, kita makan malam bersama,” ajakku sambil mendorong kursi rodanya.
Zach dan Pak Oscar berjalan di depan kami. Adikku menuju ruang keluarga untuk memanggil anak-anak. Aku menoleh saat merasakan Hendra memegang tanganku. Dia menarik tanganku agar aku mendekat dan mencium bibirnya.
“Apa tidak ada hal lain yang ada di kepalamu saat ini, hm?” Aku menggeleng tak percaya.
“Hanya ada kamu di kepalaku, sayang,” katanya merayuku. “Keadaan ini asyik juga. Aku tidak perlu ke tempat kerja, bisa beristirahat, bisa bersamamu dan anak-anak lebih lama.”
“Jangan jadikan ini sebagai alasan untuk tidak segera sembuh,” kataku mengingatkan. Dia tertawa.
Kami membicarakan topik yang aman saat makan. Ada anak-anak, maka kami menghindari percakapan yang bisa menimbulkan pertanyaan di kepala mereka. Hendra menanyakan apa yang mereka kerjakan pada hari ini, Zach dan Pak Oscar menjawabnya dengan jujur.
Dia bingung saat Zach menyebut nama Gista, bukan Sherry. Adikku tidak membicarakan detailnya, dia hanya mengatakan bahwa Sherry sudah tidak bekerja lagi di perusahaan dan Gista yang menjadi sekretarisnya sekarang. Suamiku mengangguk pelan.
Aku curiga. Apa jangan-jangan mereka adalah suruhan wali kota? Karena dahulu juga begitu. Dicky dan Nora membayar para wartawan untuk terus mengejar berita dariku, Hendra, dan keluarga kami. Kasihan mereka. Seharian menantikan hal yang tidak pasti.
“Kamu mau ke mana, sayang?” tanya Hendra saat aku berjalan ke arah belakang rumah.
“Nanti juga kamu akan tahu.”
Aku melihat Fahri sedang menyimpan makanan yang tidak bisa kami habiskan di dalam wadah plastik dan diberi label. Ada beberapa kotak makanan terbuat dari kertas di dalam lemari. Aku mengambil beberapa kotak dan mulai mengisinya dengan nasi, sayuran, dan lauk-pauk.
Melihat apa yang sedang aku lakukan, Fahri ikut membantu. Semua wadah tadi dibukanya kembali. Dia bahkan mengeluarkan makanan dari acara kami siang tadi dan menghangatkannya. Setelah tidak ada lagi sisa makanan yang bisa kami masukkan ke dalam kotak berikutnya, kami menambahkan buah dan air dalam gelas kemasan pada kotak-kotak tersebut.
__ADS_1
Aku membawa beberapa kotak itu bersamaku. Hendra menatapku dengan bingung. Dia mengikuti aku menuju teras. Abdi segera mengambil alih kotak makanan yang aku pegang tersebut. Dia tidak mau melepaskannya sampai aku mengalah. Maka aku membiarkan dia yang membawanya.
Aku melihat Sakti, Liando, dan Fahri membawa sisa kotak makanan tadi. Aku mengajak mereka menuju gerbang depan. Atas permintaanku, petugas keamanan membukakan gerbang. Para pria dan wanita yang berdiri di hadapanku menatap aku dengan bingung.
“Bapak dan Ibu sekalian, kalian pasti sudah lapar dan lelah seharian berada di sini. Ada makanan seadanya, siapa tahu Anda belum makan. Silakan diambil,” kataku. Mereka tertegun sesaat, lalu saling bertukar pandang dan berbisik dengan teman di sebelahnya.
Karena mereka tidak bergerak juga, aku memasuki pos keamanan dan meminta tolong agar meja yang ada diletakkan di depan gerbang. “Para pria ini tidak akan kuat memegang semua nasi kotak ini lebih lama lagi, jadi kami letakkan di sini saja. Selamat makan dan selamat malam.”
Hendra tersenyum saat aku dan para pekerja kami berjalan kembali ke teras. “Itu ide yang bagus. Makanan dari acara tadi siang masih ada banyak di kulkas. Sekarang aku tidak perlu khawatir melihat kamu dan anak-anak memakan menu yang sama selama beberapa hari ke depan.” Aku tertawa.
Saat kami berada di teras, kami melihat mereka satu per satu mendekati meja dan mengambil salah satu nasi kotak. Ketika mereka semua sudah mendpatkan bagian, masih ada beberapa kotak di atas meja. Syukurlah, jumlahnya cukup.
“Apa mereka belum makan, Ma?” tanya Hadi yang berdiri di sisiku.
“Tidak tahu, sayang. Tetapi melihat mereka mengambil nasi kotak itu, sepertinya iya.” Aku menoleh ke arahnya yang menguap pelan. “Kamu sudah mengantuk?” Dia mengangguk.
Dira sudah lebih dahulu ketiduran di ruang keluarga. Mereka asyik bermain dengan teman-teman mereka siang tadi, pantas saja sudah mengantuk begini. Yuyun menolong aku membopong putriku ke kamarnya, sedangkan aku membawa Hadi ke atas.
Hendra terpaksa menerima bantuan Liando. Aku tidak akan bisa membantunya sebelum Hadi tidur di kamarnya. Setelah membantu putraku berganti pakaian dan menunggu dia selesai menyikat gigi, aku memeriksa keadaan putriku. Dia sudah lelap di tempat tidurnya.
Suamiku kini adalah anak ketiga yang tidak mau pindah sendiri dari kursinya ke tempat tidur. Kami menyikat gigi bersama di kamar mandi, lalu aku membantunya berbaring.
“Ada apa antara kamu dengan Mama?” tanyanya.
“Mamaku atau mamamu?” Aku balik bertanya.
“Mamaku, sayang,” jawabnya. Aku memadamkan lampu nakasnya, lalu menuju sisi tempatku berbaring. Sepertinya sudah saatnya bagiku untuk menceritakan kejadian yang menyakitkan itu.
__ADS_1
“Ceritanya panjang. Kamu yakin kamu bisa tetap terjaga selama aku menceritakan apa yang terjadi?” tanyaku. Dia mengangguk cepat.
“Ceritalah,” desaknya tidak sabar. Aku menarik napas panjang sebelum mulai membuka aibku di masa lalu. Yang akan terjadi, terjadilah.