
“Apa dia tidak mengerti arti dari kesepakatan damai?” Aku tertawa kecil. Hendra ikut tertawa. “Dia baru saja meminta maaf dan sudah menyebar fitnah lagi?”
Untung saja Papa dan Mama sudah mengambil tempat duduk sehingga aku dan suamiku bisa bicara secara leluasa berdua. Dira sedang makan camilan bersama Zach, jadi kami bisa bersantai sesaat. Kami memilih untuk tetap berdiri di dekat pintu saat kami masuk ke ruang konferensi.
Setelah dua putaran itu berakhir, wartawan protes karena mereka masih punya banyak pertanyaan. Gista bersikap tegas dengan mengakhiri sesi pertanyaan tersebut. Saat dia bicara, beberapa orang pegawai membagikan sebuah undangan kepada semua orang, termasuk Nora.
“Pada hari Rabu depan, tepat pada tanggal dua puluh April, Bapak dan Ibu Mahendra Perkasa akan mengadakan perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Bapak dan Ibu sekalian diundang untuk datang. Bila ingin meliput, maka hanya diperbolehkan dilakukan di pintu masuk, tidak pada tempat resepsi diadakan. Terima kasih. Ada konsumsi seadanya di belakang, selamat menikmati.”
Tepat seperti dugaan kami. Ruangan itu menjadi riuh dengan suara mereka yang membicarakan undangan yang kami berikan tersebut. Memang sudah saatnya kamilah yang menjadi bintang utama di tempat ini. Bukan Nora dan ucapan omong kosongnya mengenai perasaannya kepada suamiku.
Papa dan Mama mendekati Nora, lalu mereka duduk bersama. Gista melayani mereka dengan mengantarkan makanan ringan dan minuman hangat ke meja mereka. Kemudian dia datang kepada kami untuk mengantar hal yang serupa. Hendra memberikan beberapa instruksi kepadanya. Dia menurut, lalu pamit.
“Kamu akan ke ruanganmu sekarang dan mulai bekerja?” tanyaku saat kue yang ada pada piringku habis. Hendra mengangguk.
“Kamu dan Dira boleh ikut kalau kamu mau. Kalian bisa pergi saat akan menjemput Hadi.” Dia membantu aku untuk berdiri. “Aku punya banyak makanan enak lainnya.”
“Hm …. Kamu lebih enak dari makanan apa pun.” Aku tersenyum penuh arti. Dia tertawa kecil.
“Hentikan ini, sayang. Kita sedang tidak di kamar. Dan jangan lupa dengan puasa tiga bulan.” Dia mengecup bibirku, lalu menggandeng tanganku. Mengapa dia harus menyebut-nyebut tentang itu sekarang? Merusak suasana hatiku saja.
Dia mengajak aku mendekati Papa dan Mama. Melihat wanita yang merasa menang karena mendapat perhatian mertuaku membuat keadaan hatiku semakin buruk. Apa yang dilihat Mama pada diri perempuan ini? Aku tidak menemukan keistimewaan apa pun padanya selain sombong, jahat, merasa diri paling hebat, dan pengganggu rumah tangga orang lain.
“Pa, Ma, aku akan ke ruanganku sekarang. Sampai nanti,” pamit Hendra.
“Ah, Nak. Ada yang perlu kita bicarakan. Kami ikut ke ruanganmu.” Mama berdiri, lalu mengajak Nora untuk ikut serta juga.
__ADS_1
Kami mendekati Zach untuk mengambil Dira. Dia melambaikan tangannya kepada omnya, lalu memeluk papanya dengan erat. Dia melihat ke arah Papa, Mama, dan Nora dengan rasa ingin tahu. Hendra segera menarik perhatiannya dengan mencium pipinya. Gadis kecil kami tertawa.
“Papa, Kakak?” tanya Dira menanyakan Hadi saat kami sudah berada di dalam elevator.
“Belum saatnya Hadi pulang sekolah. Kita main di ruangan papa, ya? Ada banyak kue kesukaanmu di sana.” Hendra menyentuhkan hidungnya ke pipi Dira.
“Kue? Mau, Pa!” katanya dengan mata berbinar-binar.
“Jangan memberi kue terlalu banyak kepada anak-anak. Tidak baik untuk kesehatan mereka. Giginya juga akan cepat keropos.” Mama melihat ke arahku. “Seharusnya kamu tahu itu, Zahara.”
“Gigi Dira sehat. Mama jangan khawatir. Za rajin membawa anak-anak ke dokter gigi setahun dua kali.” Hendra melihat ke arah Dira. “Coba senyum, sayang. Mana gigi sehat kamu?” Dira menurut dengan tersenyum lebar memamerkan gigi susunya.
“Kamu ini dari tadi hanya menentang ibumu saja.” Mama menggerutu.
“Ayolah, Ma. Saat aku kecil juga Mama melakukan hal yang sama. Mama memberi aku banyak makanan manis dan sedih setiap kali Nenek memarahi Mama. Lalu mengapa Mama melakukan hal yang sama kepada menantu Mama sendiri?”
“Mama bisa menyangkalnya sepuas Mama. Bagiku, istriku hanya Za.”
Pintu elevator terbuka, kami berjalan menuju ruang kerja Hendra. Gista segera menyambut kedatangan kami. Dia membukakan pintu, lalu menahannya sampai kami semua berada di dalam. Aku dan Hendra duduk pada sofa yang sama, sedangkan Papa, Mama, dan Nora duduk di sofa lain di hadapan kami.
“Papa, kue?” tanya Dira melihat tidak ada apa pun di atas meja.
“Kuenya datang.” Gista mendekat dengan baki berisi piring dengan berbagai jenis kue, sebuah teko, dan beberapa cangkir kosong. Dira segera bersorak senang.
“Terima kasih, Gista,” ucapku pelan. Dia mengangguk pelan, lalu meninggalkan kami.
__ADS_1
Aku mengisi kelima cangkir kosong dengan teh yang telah tersedia di dalam teko. Aku membiarkan mereka mengambil cangkir mereka masing-masing. Aku hanya meletakkan cangkir di depan Hendra dan aku, kemudian gelas berisi susu cokelat di depan putri kami.
“Silakan, Ma. Apa yang ingin Mama bicarakan?” tanya Hendra. Mama melihat ke arahku sebelum kembali menatap putranya.
“Aku yakin Zahara sudah memberitahu kamu. Aku menderita kanker päyúdara stadium dua. Dokter menyarankan untuk operasi agar kankernya tidak kembali lagi. Aku sudah berdiskusi dengan papamu dan kami memutuskan untuk melakukannya.”
“Baik, Ma. Beritahu kami kapan tanggal operasinya. Kami akan datang.”
“Bila operasinya diadakan pada tanggal 20, pada hari Rabu depan, apa kalian akan datang?” tanya Mama menantang putranya.
“Sayang,” kata Papa sambil memegang tangan Mama.
“Kami akan datang, Ma. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini bila ini menyangkut nyawa dan keselamatan Mama selama menjalani operasi.” Hendra menyentuh tanganku. “Aku dan Za pasti akan datang menemani Mama.”
“Kalau begitu, aku tenang.” Mama melihat ke arah Nora. “Aku akan menemui dokter besok untuk memulai persiapan operasi. Nora akan menemani aku. Dia punya beberapa proyek penting di hotelnya, tetapi dia mau mengenyampingkannya sebentar untuk mendampingi aku.”
“Tante lebih penting dari apa pun.” Nora meletakkan tangannya di atas tangan Mama tersebut.
“Bila benar mamaku lebih penting, kamu tidak akan menunda persiapan operasi dengan membawa mereka pada pertemuan hari ini. Kamu akan membujuk dia untuk ke rumah sakit,” ucap Hendra dengan tajam. Nora segera memasang wajah sedih.
“Tante, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu,” ucap Nora menyesal.
“Hendra, aku datang atas kemauanku sendiri. Nora sama sekali tidak memaksa aku untuk datang.” Mama membela wanita itu. Hendra menggeleng pelan.
“Aku tidak melarang Mama bergaul dengan siapa pun. Tetapi bila kedekatan Mama dengannya adalah salah satu usaha Mama untuk mendekatkan aku dengannya, aku akan katakan ini sekali lagi. Ini untuk terakhir kalinya. Aku tidak akan meninggalkan Za untuk menikah dengan dia,” ucap Hendra dengan tegas. Mama tersenyum.
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti, Nak. Kamu bisa menerima Zahara kembali setelah pengkhianatan yang dia lakukan. Bahkan menerima anaknya bersama pria lain sebagai anakmu.” Mama melihat ke arah Dira. Oh, Tuhan. Sampai kapan orang akan beranggapan bahwa Dira bukanlah putri kandung Hendra? “Aku yakin kamu juga akan memaafkan Nora dan bersedia menikah dengannya setelah kamu lihat sendiri bahwa dia jauh lebih baik dari Zahara.”
Hendra tidak mau kalah dengan ikut tersenyum. “Baik. Kita lihat saja nanti. Berapa lama wanita pilihan Mama ini sanggup menemani Mama selama berada di rumah sakit.”