
Papa sangat berharap agar aku bisa menggantikannya karena dia ingin beristirahat dan mundur dari tekanan besar menjaga perusahaan keluarga kami. Dia merasa sudah cukup menenggelamkan diri dalam pekerjaan selama puluhan tahun. Pada hari-hari ke depan, Papa ingin pergi berlibur bersama Mama menikmati masa tua mereka.
Aku tidak punya rencana kembali hidup bersama Za dan anak-anak secepat ini. Tetapi aku juga tidak menyesalinya. Meskipun hidup kami mengalami begitu banyak masalah hanya dalam waktu kurang dari dua minggu bersama, kami bahagia. Itu yang paling penting.
“Kita sudah sampai, Tuan.” Kafin membuyarkan lamunanku. Aku melihat ke sisi kiriku dan melihat kami telah tiba di depan sebuah restoran.
“Terima kasih, Kafin. Kamu jangan lupa makan siang juga.” Aku memberinya selembar uang untuk membayar tagihan makannya. Dia menerimanya dengan ucapan terima kasih.
Seorang pelayan membukakan pintu untukku dan aku menyebut nama orang yang memesan tempat di sini. Dia kemudian memanggil salah satu rekannya untuk mengantarku ke meja yang dimaksud. Tentu saja wanita itu tidak memesan meja, tetapi ruangan. Apa yang ingin dia lakukan di ruangan itu berdua saja denganku? Aku tidak pernah habis pikir.
Ketika memasuki ruangan itu, aku terkejut melihat Mama juga ada di sana. Mereka berdua tersenyum bahagia menyambut kedatanganku. Wanita ini salah paham. Aku tidak mengajaknya bertemu untuk membicarakan asmara, tetapi bisnis. Apa Gista tidak mengatakan hal itu tadi?
“Aku harap kamu tidak keberatan aku mengundang Tante Naava ikut makan bersama kita.” Nora tersenyum kepadaku dengan manisnya.
“Bila Mama tidak keberatan ikut membahas pekerjaan, bukan masalah.”
“Aku sering menemani papamu makan bersama rekan bisnisnya. Silakan. Anggap saja aku tidak ada.” Mama tersenyum begitu bahagia. Berbeda sekali dengan sikapnya di depan Za. “Kami sudah memesan makanan, jangan khawatir. Aku memesan semua makanan yang kamu suka.”
“Terima kasih, Ma,” ucapku datar. Aku melihat ke arah Nora. “Aku hanya ingin tahu satu hal. Apa yang kamu inginkan dengan menyebar rekaman CCTV dari hotelmu ke media?”
Dia memasang ekspresi terkejut dan terluka dengan pertanyaanku itu. “Apa maksud pertanyaanmu, Hendra? Aku tidak memberikan rekaman itu kepada siapa pun. Bagian humas kami juga sudah menjelaskan bahwa kami tidak tahu-menahu bagaimana rekaman itu bisa bocor.”
“Hendra, apa maksudmu menuduh Nora? Untuk apa dia melakukan itu? Dia pasti tahu bahwa menyebar rekaman itu sama saja dengan mempermalukan keluarga kita. Dia mencintaimu, Nak. Dia tidak akan menyakitimu.” Mama membelanya.
__ADS_1
“Mama memintaku untuk menganggap Mama tidak ada di sini bersama kami. Tolong, jangan interupsi pembicaraan kami.” Aku menatap Mama dengan serius. Dia merapatkan bibirnya. Tetapi dia tidak protes lagi.
“Perusahaanku tidak punya hubungan kerja sama apa pun dengan hotelmu. Jadi, tidak akan ada orang yang punya alasan untuk memberikan rekaman itu kepada media. Hanya kamu satu-satunya orang yang akan diuntungkan dari kejadian ini. Kamu berharap pernikahanku akan hancur dan aku akhirnya berpaling kepadamu. Iya, ‘kan?”
“Aku tidak serendah itu, Hendra. Aku cukup percaya diri bahwa aku bisa mendapatkan kamu tanpa menggunakan cara yang bisa mempermalukan kamu dan keluargamu sendiri. Yang akan menjadi keluargaku juga saat kita bersama nanti,” katanya dengan serius. Tetapi aku tidak tertipu.
“Kamu tahu bahwa aku bisa dengan mudah mendapatkan bukti yang akan menguatkan ucapanku, ‘kan? Aku memberimu kesempatan untuk menjadi wanita terhormat dengan mengakui sendiri perbuatanmu itu,” kataku yang masih bertahan dengan pendapatku.
“Silakan saja kamu cari buktinya. Ketika kamu salah telah menuduhku, aku harap kamu tidak akan lari dari tanggung jawab untuk membersihkan namaku kembali.”
“Hal yang sama juga aku harap akan kamu lakukan. Jangan lari dari tanggung jawabmu untuk membersihkan nama istriku dan aku kembali.” Aku menoleh ke arah Mama. “Aku pamit.”
Mereka hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun saat aku berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu. Begitu masuk ke mobil, aku segera menghubungi Irwan. Dia tidak menjawabnya, aku mencobanya lagi. Kali ini dia merespons.
“Aku tidak mau tahu apa yang terjadi sehingga rekaman CCTV itu bisa mereka pulihkan. Aku tidak akan menyalahkan kamu atau timmu. Aku hanya ingin tahu siapa yang berhubungan dengan Nora selama beberapa hari terakhir sebelum rekaman itu viral,” kataku.
“Aku tahu kamu akan menanyakan ini. Kami sudah menyelidikinya. Dicky Ardiyanto dan Nora Camillia pernah bertemu di sebuah acara dan mereka bicara berdua cukup lama. Sepulang dari acara tersebut, Nora tidak langsung ke rumahnya tetapi mampir ke hotelnya.
“Menurut rekaman CCTV, dia menuju bagian keamanan dan membicarakan sesuatu dengan mereka yang ada di ruang kontrol CCTV. Seminggu kemudian, rekaman itu pertama tayang di stasiun televisi dan media berita daring milik Dicky,” kata Irwan melaporkan.
Kini semuanya menjadi jelas. Dicky dan Nora, keduanya punya alasan yang kuat untuk memisahkan aku dan Za. Mereka membutuhkan waktu sampai satu minggu mungkin karena mereka tidak tahu tanggal tepatnya Za datang ke sana. Begitu mereka mendapatkannya, mudah saja untuk menemukan siapa pria yang datang bersamanya melalui daftar tamu.
Zaku tersayang. Seandainya aku mendengarkan nasihat adiknya dan tidak melepaskan dia, masalah ini mungkin tidak akan pernah terjadi. Kehadiran orang ketiga, keempat, kelima, dan entah berapa lagi yang sedang berusaha menarik perhatian kami telah merusak segalanya. Rahasia yang lama kami simpan baik-baik kini menjadi konsumsi publik.
__ADS_1
Kafin yang baru kembali dari makan siangnya terkejut melihat aku telah menunggu di dalam mobil. Aku segera memotong permohonan maafnya karena ini bukan kesalahannya. Aku memintanya untuk mampir ke salah satu restoran yang menyediakan makanan cepat saji agar aku bisa membeli makanan melalui drive-thru. Aku perlu menuju tempat janji yang kedua.
Bangunan itu tidak lebih besar dari gedung milik keluargaku, tetapi bangunannya lebih artistik. Sesuai dengan moto penyiaran yang menuntut kreativitas. Seorang wanita yang memperkenalkan diri sebagai asisten Dicky menyambut dan mengantar aku menuju ruang kerjanya.
“Maaf, aku harus ke kamar kecil sebentar. Bisa beritahu aku arahnya? Aku akan segera kembali ke sini setelah urusanku selesai.” Aku belum sempat membersihkan tangan setelah makan di mobil.
“Tentu saja, Pak. Silakan ambil jalan ini, belok ke kanan, toilet untuk pria berada di sebelah kiri,” ucap wanita itu dengan sopan. Setelah berterima kasih, aku menuju jalan yang ditunjuknya.
Aku hanya butuh beberapa menit dan aku pun siap untuk menemui salah satu rivalku. Aku berbelok ke kiri dan melihat pintu ruangan Dicky terbuka. Dia keluar sambil setengah menarik lengan seorang pria dengan paksa. Apa yang terjadi?
Rasa penasaranku menang, aku melihat ke mana dia membawanya. Elevator. Aku tidak punya kartu untuk menggunakannya. Bila aku mengikuti mereka lewat tangga darurat, aku bisa ketinggalan jauh. Siapa laki-laki itu? Jarak kami terlalu jauh sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Mengapa dia memperlakukannya dengan kasar?
Tidak ada yang bisa aku lakukan, maka aku menuju ruang kerjanya. Asistennya mempersilakan aku menunggu atasannya di dalam. Katanya, pria itu sedang mengantar tamunya ke bawah. Ruang kerja itu terlihat rapi. Tidak ada cangkir atau piring bekas konsumsi yang disajikan untuk tamu tadi.
“Maaf, telah membuatmu menunggu, Hendra. Aku harap kamu tidak keberatan aku memanggilmu begitu,” ucap Dicky sambil menutup pintu ruangannya kembali. “Ah, asistenku sudah melayanimu dengan baik.” Dia melihat ke arah piring dan cangkir yang masih terisi di atas meja di depanku. “Ada kepentingan apa sehingga aku mendapatkan kunjungan ini?”
“Apa yang kamu inginkan dengan menyebar rekaman CCTV itu di seluruh media berita milikmu?” tanyaku tanpa basa-basi. Dia tersenyum.
“Untuk apa lagi? Tentu saja untuk mewujudkan moto perusahaan kami, mengungkap kebenaran,” jawabnya santai. “Publik berhak tahu alasan perceraianmu dengan Za. Kebetulan ada momen yang pas, jadi orang-orang penting di perusahaanmu juga perlu tahu pernikahan apa yang kamu jalani. Sebagai informasi tambahan untukmu, ada banyak orang yang berterima kasih kepadaku karena berani memutar rekaman tersebut.”
“Aku harap kamu juga akan menayangkan hasil penemuanku nanti saat aku berhasil mengungkap bahwa kamu dan Nora dari Kencana Karya Grup bekerja sama untuk merusak nama baikku.”
“Kalau kamu mau, aku bahkan akan memberikan satu jam penuh untuk kehadiranmu di studio dalam wawancara khusus.” Dia tersenyum menantangku.
__ADS_1
“Tiga puluh menit saja sudah cukup.”