Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 245 - Memaksa Dia Pulang


__ADS_3

Aku membersihkan wajah di kamar mandi, lalu berganti pakaian. Mama juga melakukan hal yang sama. Aku tidak punya dress yang cukup untuk dikenakannya, tetapi ada beberapa kemeja yang muat di tubuh Mama. Baju kami basah oleh keringat dan air mata, jadi kami tidak bisa memakai baju yang sama untuk keluar sejenak.


Ketika melihat Mama berganti pakaian di depanku, untuk pertama kalinya, aku melihat bekas jahitan pada dada kirinya. Dia adalah wanita yang kuat. Setelah kehilangan salah satu bagian tubuhnya yang sangat berharga, aku tidak pernah mendengar dia mengeluh.


“Jangan tatap aku seperti itu. Kehilangan dada ini bukanlah masalah besar. Aku masih hidup adalah anugerah bagiku. Usiaku bisa lebih panjang daripada Nenek dan Ibu karena kanker ini bisa terdeteksi lebih awal.” Mama tersenyum.


“Tante sangat hebat. Pada saat keluarga Tante mengejek pada hari syukuran di rumah, Tante tetap tersenyum kepada mereka,” pujiku dengan tulus.


“Cukup memanggilku dengan panggilan itu. Panggil aku mama seperti biasanya,” ucapnya. Aku segera bersorak senang, lalu memeluknya.


“Terima kasih, Ma! Aku berjanji aku tidak akan mengecewakan Mama lagi.” Aku merasakan tepukannya di kepalaku. “Aduh. Mengapa Mama memukulku?”


“Karena kamu pasti akan melanggar janjimu itu. Jadi, lebih baik tidak pernah mengucapkannya. Tugas anak adalah membuat kami kecewa, sedangkan tugas kami sebagai orang tua adalah memarahi dan menghukum kalian.” Mama tertawa kecil. Aku ingin protes, tetapi ucapan itu ada benarnya juga.


Setelah penampilan kami sudah rapi kembali, kami turun ke lantai bawah. Yuyun membawa anak-anak keluar dari ruang keluarga. Karena gedung yang kami tuju tidak melarang membawa hewan peliharaan, maka kami membawa Ara bersama kami.


Hadi dan Dira sangat senang ketika tahu siapa yang akan kami temui. Satu jam dalam perjalanan, kami tiba di tempat parkir. Sakti segera datang untuk membantu Liando membawakan kotak bekal makan siang kami.


Dilihat dari waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam tanganku, maka Hendra sudah kembali ke kamarnya dari terapi pagi. Aku menekan nomor kombinasi untuk membuka pintu pada panel, lalu terdengar bunyi tanda kunci telah terbuka.


Hadi, Dira, dan Ara masuk lebih dahulu, lalu Mama dan aku. Liando dan Sakti membawa tempat makanan ke konter di dapur. Hendra sedang memeluk Hadi dan Dira, lalu menurunkan anak-anak karena Ara juga ingin memeluknya.


“Ayo, kita makan,” ajak Mama. “Kalian mau ke mana? Duduk di sini. Kita makan bersama.” Liando dan Sakti yang berencana keluar dari apartemen, kembali berdiri di dekat konter. “Aku bilang duduk.” Mereka serentak duduk di kursi yang kosong. Aku tertawa kecil.


Aku dan Mama membuka setiap kotak, lalu mempersilakan mereka untuk mengambil sebanyak yang mereka mau. Aku memberikan bagian Hendra. Dia dan anak-anak duduk di sofa. Aku, Mama, dan kedua pekerja kami duduk di dekat konter.

__ADS_1


Setelah makan, Mama meminta kepada kedua pria itu untuk membereskan pakaian Hendra dan membawa dua koper pakaian yang dibawanya dari rumah ke mobil. Mama meminta mereka menunggu sampai kami datang. Mereka menurut.


“Apa ini, Ma? Aku tidak mau pulang ke rumah Mama. Aku sudah besar, jadi aku bebas menentukan untuk tinggal di mana,” kata Hendra melihat Sakti dan Liando melintas di depannya dengan kedua koper miliknya.


“Kamu akan pulang ke rumah di mana keluargamu berada. Sudah cukup kamu bermain sembunyi-sembunyian di sini,” kata Mama dengan tegas.


“Aku tidak bermain sembunyi-sembunyian. Tolong jaga bicara Mama. Anak-anak bisa mendengar.” Dia mendekatkan kursi rodanya kepada kami. “Ada apa antara Mama dengan Za? Mengapa kalian bisa datang bersama ke tempat ini?”


“Jangan alihkan topik pembicaraan. Ayo, kita pergi sekarang.” Mama menoleh ke arahku dan melihat aku sudah selesai merapikan kotak makanan kami tadi. “Kita pulang, Zahara.” Aku menurut.


Aku membawa kedua tas besar berisi kotak makanan yang sudah kosong tersebut, lalu mengajak Hadi, Dira, dan Ara untuk ikut denganku. Dira malah mendekati papanya dan meminta untuk duduk bersamanya. Hendra menurutinya dengan mendudukkannya di pangkuannya.


“Ma, apa-apaan ini? Aku tidak ikut bersama kalian. Aku tinggal di sini,” protesnya saat Mama mendorong kursi rodanya dari belakang. Hendra berusaha menahan dengan memegang roda, tetapi dia kalah kuat dari mamanya. “Ma, tolong, jangan buat aku malu.”


“Kamu yang jangan buat aku malu. Suami mana yang tinggal sendiri ketika istrinya ada di rumah? Ayah mana yang tinggal jauh dari anak-anaknya? Kamu sedang sakit, tidak baik tinggal jauh dari istri dan anak-anakmu. Kamu pulang,” kata Mama dengan tegas. “Aku tidak mau mendengar satu kata bantahan lagi darimu.”


Mama bersama Ara dan anak-anak pulang bersama Liando, sedangkan aku dan Hendra bersama Sakti. Hadi dan Dira sepertinya tidak keberatan satu mobil dengan nenek mereka tanpa kehadiran salah satu dari kami. Syukurlah.


“Pelatihku akan pusing karena dia terus datang ke alamat yang berbeda setiap kali mendampingi aku melakukan fisioterapi,” ucap Hendra dengan nada kesal.


“Lalu itu semua karena ulah siapa?” tantangku. Dia menoleh dan membuka mulutnya, lalu dia diam. Dia menutup mulutnya kembali dan menoleh ke arah jendela depan.


“Aku sedang malas berdebat denganmu.” Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Apa yang kamu ingat pagi ini sehingga kamu kesal begini melihat aku?” tanyaku pelan, mencoba memancing jawaban darinya. “Kamu sadar bahwa ingatan itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, ‘kan?” Dia mendesah pelan.

__ADS_1


“Mengapa kamu tidak pernah datang kepadaku? Mengapa kamu pasrah saja saat aku menceraikan kamu? Apa pada saat itu kamu sangat mencintai dia sampai tidak mau sedikit pun berjuang untuk pernikahan kita?” tanyanya.


“Apa? Kamu bilang bahwa aku tidak memperjuangkan pernikahan kita? Aku berusaha menjelaskan kepada kamu bahwa tidak ada hubungan apa pun antara aku dan Vivaldo. Tetapi kamu tidak mau percaya. Aku tahu bahwa aku tidak berani menyatakan cinta, tetapi aku memberikan seluruh perhatian kepadamu sebagai tanda sayang.


“Kita begitu bahagia sampai Hadi genap berusia tiga bulan. Aku justru terkejut kamu memberi surat perceraian itu setelah semuanya baik-baik saja. Kamu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa hubungan kita bermasalah,” protesku. Dia terdiam. Aku memberanikan diri menyentuh tangannya. Dia tidak menolak sentuhanku itu.


“Sayang, kita sudah membahas semua ini. Bersabarlah menahan semua emosi yang kamu rasakan ketika satu per satu ingatan kamu kembali. Aku mencintaimu dan aku tidak akan menyakiti kamu lagi. Kamu bisa tanyakan apa pun kepadaku, kita bisa bicarakan segalanya, tetapi jangan pergi lagi. Aku mohon, jangan bicarakan perceraian lagi.”


“Aku juga mencintai kamu.” Dia tersenyum tipis. “Katakan kepadaku, apa ada kejutan lain yang akan membuat jiwaku berguncang? Aku selingkuh, mungkin?”


“Tidak. Kamu tidak pernah selingkuh,” jawabku dengan cepat. “Itu sebabnya pengkhianatan yang aku lakukan sangat melukaimu. Kamu pria yang setia, sayang.”


“Apa aku pernah memukul kamu atau mengatakan hal yang kasar kepadamu?” tanyanya lagi, wajahnya terlihat khawatir.


“Kamu tidak pernah melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun kepadaku. Kamu mungkin mengucapkan kata yang menyakitkan, tetapi aku tidak ingat. Dan tidak ada gunanya juga diingat-ingat kembali,” kataku meyakinkannya.


Hendra yang sedang menatapku melihat ke arah belakangku dengan kening berkerut. Dia menoleh kepada Sakti. “Mobil di sebelah kanan kita dari tadi meminta jalan. Biarkan dia masuk lajur kita, Sakti.” Aku melihat ke arah jendela di sebelah kananku. Ada sebuah mobil yang jaraknya terlalu dekat dengan kami.


“Saya sudah mengurangi kecepatan, dia juga ikut mengurangi kecepatan, Tuan. Saya sedikit menginjak gas, dia juga menambah kecepatannya. Dan mobil sebelah kiri juga melakukan hal yang sama,” ucap Sakti. Aku melihat ke jendela mobil sebelah kiri. Dia benar. Ada mobil yang jaraknya terlalu dekat juga dengan kami.


“Kalau begitu, injak gas dan dahului mereka secepat yang kamu bisa, beri jarak pada mobil yang ada di belakang. Bila mereka masih menempel berarti mereka sengaja melakukan ini. Aku akan memberi aba-aba kapan kamu bisa menginjak rem,” kata Hendra memberi instruksi. “Kenakan sabuk pengamanmu, sayang.”


“Hendra,” kataku khawatir. Dia tersenyum.


“Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkan aku. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah. Dia memejamkan mata dan menggeram menahan sakit. “Akh, kepalaku!”

__ADS_1


“Sayang? Kamu tidak apa-apa? Hendra?” Aku semakin khawatir melihat kedua tangannya meremas kuat jok mobil. Mengapa dia kesakitan begini?


__ADS_2