Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 214 - Lamaran Si Kecil


__ADS_3

~Za~


Hendra memperkenalkan wanita itu sebagai sepupunya. Aku memasang topeng sebaik mungkin di wajahku agar perempuan itu tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Walaupun mereka adalah saudara sepupu, dia tidak sepantasnya memeluk suami orang lain seperti itu.


Suamiku menemani Colin untuk mengambil makanannya dari meja saji. Hendra kembali dengan membawa sepiring makanan dengan daging, ayam, dan kentang panggang, juga selada untuk Colin. Sepiring kue untuk Hadi dan Dira. Lalu meletakkan piring terakhir di depanku. Ada dua cupcake selai kacang dan dua potong pai apel. Hm …. Dia menyuap aku supaya tidak marah berkepanjangan.


“Om, apa seorang pria harus menikah dengan seorang wanita supaya bisa tinggal bersama?” tanya Colin yang membuat Hendra tersedak makanannya sendiri. Meskipun aku marah kepadanya, aku tidak tega melihatnya dalam keadaan itu. Aku mendekatkan gelasnya kepadanya, lalu membantu mengusap-usap punggungnya.


“Tergantung, Colin.” Hendra berdehem pelan membersihkan suaranya yang serak. “Hadi dan Dira adalah saudara kandung. Mereka tidak perlu menikah untuk tinggal bersama.”


“Tetapi karena Om dan Tante bukan saudara kandung, Om dan Tante harus menikah supaya bisa tinggal bersama?” tanyanya sambil menatap kami berdua secara bergantian.


“Benar sekali.” Hendra menatapku dengan senyum bahagia. Aku hanya menatapnya dengan datar. Dia berdehem pelan, lalu menoleh ke arah Colin. “Ada apa kamu menanyakan itu?”


“Tolong, nikahkan aku dengan Dira, Om. Aku ingin bisa tinggal bersama Dira.” Colin menatap kami begitu tulus. Kami berdua serentak terbatuk-batuk karena tersedak makanan.


Percakapan kami terhenti saat aku melihat keluargaku berjalan dari arah gerbang. Hendra segera menghalangi aku untuk berdiri. Dia yang mendekati mereka dan mengantar mereka menemui Papa dan Mama. Aku tidak melihat ada ekspresi tidak suka di wajah Mama. Aku mendesah pelan. Hal yang tidak ingin aku lihat pada hari ini adalah drama antara orang tua dan mertuaku.


Hendra juga menemani mereka mengambil makanan di meja saji. Aku hanya tertawa kecil melihat wajah bahagia Zach saat mengamati masakan kesukaannya yang ada di atas meja. Hendra dan Zach sengaja mendekatkan sebuah meja kosong di dekat kami. Dengan demikian, kami bisa duduk sambil mengobrol bersama.


Teman-temanku tidak bisa datang karena mereka sudah punya acara yang harus mereka hadiri atau berlibur bersama keluarga mereka. Darla dan Qiana yang berniat menyusul datang setelah menghadiri resepsi pernikahan keluarga dekat mereka.


“Apa Papa dan Mama baik-baik saja di sini bila kami pergi lebih dahulu?” tanya Hendra kepada orang tuaku. Aku terkejut mendengar dia tergesa-gesa ingin pergi dari tempat ini.


“Tentu saja. Kalian ingin membawa anak-anak ke suatu tempat?” tanya Papa.


“Iya. Dan alasan yang lainnya,” ucap Hendra penuh arti. Mereka tertawa mendengarnya. Melihat suamiku serius ingin pamit, aku membersihkan tangan dan mulut anak-anak dengan tisu basah.

__ADS_1


“Datanglah ke rumah besok. Kita makan malam bersama. Istriku tersayang ingin semua anak, menantu, dan cucunya berkumpul.” Papa memandang kami semua penuh harap.


“Kami pasti datang, Pa.” Dira menggendong Dira, sedangkan aku menggandeng tangan Hadi dan Colin ke meja di mana Papa dan Mama berada. “Ara, kamu tunggu di sini. Bersikaplah yang baik.” Anjing itu menggumam pelan.


Hadi dan Colin setengah melompat-lompat saat kami berjalan mendekati meja di mana orang tua suamiku berada. Mereka duduk bersama orang-orang yang aku kenal sebagai kerabat dekat Papa. Hal yang tidak pernah aku sadari sebelumnya. Mama tidak dekat dengan keluarga dekatnya.


“Mengapa kalian cepat sekali sudah mau pulang?” tanya Mama keberatan setelah Hendra menyampaikan maksudnya.


“Anak-anak akan bosan, kami lebih baik membawa mereka bermain ke taman, Ma. Lagi pula ada banyak tamu di sini. Jadi, Mama tidak akan kesepian,” kata Hendra setengah menggodanya.


“Pulanglah. Hati-hati di jalan,” kata Papa. Dia berdiri lalu mengusap kepala Dira.


“Ya, sudah. Sebelum kamu pulang, ada yang ingin aku perkenalkan kepadamu.” Mama berdiri dengan wajah bahagia. Papa berusaha untuk mencegahnya, tetapi Mama tidak mengacuhkannya. “Ayo.” Dia berjalan di depan kami, meminta kami untuk mengikutinya.


Aku menarik napas panjang. Melihat wajah bahagia Mama, aku tahu apa yang akan dia lakukan. Ada wanita lain, pengganti Nora, yang akan dia perkenalkan kepada suamiku. Dia tidak akan peduli bila putranya menolak. Dia akan terus berusaha sampai rencananya itu berhasil. Ya, Tuhan. Sampai kapan keadaan ini akan terus berlangsung.


Mama berhenti di dekat sebuah meja. Dia menyentuh pundak wanita yang duduk membelakangi kami. Perempuan itu menoleh ke arah Mama, kemudian berdiri. Dia membalikkan badannya dan aku melihat wajah cantik sainganku berikutnya. Berbeda dengan Nora yang jauh lebih muda dari Hendra, wanita ini mungkin seumur denganku atau sedikit lebih tua.


“Ah, kami bertemu beberapa hari yang lalu di kantor walikota, Tante. Kami menghadiri makan siang untuk membahas proyek membangun kota,” ucap wanita bernama Keva tersebut. Dia hanya melihat ke arah Hendra, tidak peduli kepadaku atau anak-anak.


“Kami pulang, Ma,” kata Hendra tanpa memedulikan wanita tersebut. Mama memegang tangannya, mencegahnya untuk bergerak menjauh.


“Keva mengundang kita untuk menghadiri acara pembukaan hotel yang baru dibelinya. Kamu harus menghadirinya. Ini akan menjadi langkah awal kerja sama perusahaan kita dengan mereka.” Mama melihat ke arah Keva. Memahami maksud Mama, wanita itu segera memeriksa tasnya dan mengeluarkan sebuah undangan.


“Aku tidak punya rencana kerja sama apa pun dengan hotel miliknya. Mengapa ini menjadi langkah awal kerja sama di antara kita dengan mereka?” tanya Hendra dengan heran.


Aku tahu dia marah dengan perbuatan mamanya, tetapi dia mengendalikan dirinya dengan baik. Dia pasti menahan diri agar Ara tidak menimbulkan keributan. “Kami pulang, Ma. Aku sudah cukup membuang waktuku untuk omong kosong ini.” Hendra menyentuh punggungku.

__ADS_1


Melihat wajah Mama merah padam, aku menengahi. “Terima kasih atas undangannya, Keva.” Aku mengulurkan tanganku. Wanita itu memberikan undangan tersebut kepadaku. Akhirnya, mereka menyadari kehadiranku juga. “Kami pasti akan datang.”


“Kamu adalah …,” ucapnya yang jelas sekali berpura-pura tidak tahu. Meskipun dia tidak punya waktu menonton televisi atau mengikuti berita daring, mustahil dia tidak tahu skandal yang menimpa keluarga kami. Apalagi dia mengenal Mama dan Hendra.


“Zahara Aprilia, istriku.” Hendra sengaja menekankan suaranya pada kata istriku. Dia melihat ke arah Mama. “Aku akan datang besok. Sudah saatnya kita bicara dengan serius.” Suamiku tidak menunggu lagi. Dia mengajakku untuk meninggalkan mereka.


“Aku serius dengan ucapanku. Hati-hati saat menyetir,” kata Papa saat kami melewatinya. Aku dan Hendra tertawa kecil.


Hendra memanggil Ara, anjing itu segera berdiri. Dengan ekor yang bergoyang bahagia, dia mendekati kami. Hadi dan Colin berebut bertanya kami akan pergi ke mana. Aku tidak tahu, jadi aku melihat ke arah Hendra. Dia tidak menjawab dan memilih untuk merahasiakannya.


Saat suamiku membelokkan mobil di sebuah taman di tengah kota, aku menatapnya dengan bingung. Tetapi aku mendesah lega melihat bahwa tempat itu tidak seramai yang aku pikirkan. Kami bisa mendapatkan tempat parkir dengan mudah.


Ara berlari-lari kecil di dekat kami. Hendra mengajak kami menuju tempat di mana disediakan berbagai permainan untuk anak-anak. Hadi dan Colin segera berlari di depan kami melihat arena yang bisa mereka panjat. Ara mengikuti mereka dan menjaga mereka saat sedang bermain.


“Ara!” panggil Hendra. Dia melambaikan sebuah bola kecil yang sengaja dibawanya. Anjing itu segera menyalak senang. Suamiku melemparnya jauh-jauh, Ara segera melesat mengejarnya.


Hendra mendudukkan Dira di salah satu ayunan yang kosong, aku mengambil alih dengan mendorong ayunan tersebut. Putriku segera tertawa bahagia dan meminta aku untuk terus melakukannya. Aku memerhatikan suamiku bermain lempar tangkap bola dengan anjing kami.


Aku melihat ke sekeliling kami. Ada beberapa keluarga yang juga membawa anak-anak mereka bermain di tempat ini. Mereka menduduki bangku yang tersedia atau membawa alas duduk masing-masing dan menikmati makanan yang mereka bawa. Mataku kemudian melihat dua sosok yang familier. Mereka sedang berbincang dengan mesra di bawah pohon dengan alas duduk di atas rumput. Ada keranjang piknik yang sepertinya berisi makan siang mereka.


“Tante! Ma!” seru Colin dan Hadi serentak. Mereka berlari mendekati aku dengan wajah bahagia. Aku segera membalikkan badan, menutupi pasangan yang aku lihat tadi.


“I-iya. Ada apa?” tanyaku. Mereka menunjuk ke arah yang sama. Aku menoleh dan melihat barisan penjual makanan tidak jauh dari tempat kami berdiri.


“Ada apa?” tanya Hendra yang mendekati kami. Ara ikut berdiri di sisinya.


“Belikan es krim, Pa, Om!” ucap kedua anak itu serentak. Hendra melihat ke arah yang mereka tunjuk.

__ADS_1


“Boleh. Ayo.” Hendra menggandeng tangan mereka berdua. “Kamu dan Dira tunggu di sini saja.” Aku mengangguk. Wajahku memucat melihat Colin menoleh ke arah di mana pasangan itu berada.


“Ha? Bukankah itu Papa?” tanyanya bingung. Aduh, gawat.


__ADS_2