
“Aku tidak akan menyebut hal tadi sebagai perdebatan. Akan lebih tepat bila disebut, kamu sedang marah tanpa sebab kepadaku.” Dia mengambil piring kosong di depan Hadi dan membawa kedua piring ke dapur. Hadi berdiri dan bermain bersama anak anjing itu.
“Aku marah tanpa sebab kepadamu?” protesku. Dira sudah selesai makan, jadi aku membersihkan tangan dan mulutnya, lalu membawa piringnya dan piringku ke wastafel. Hendra membawa baki untuk mengangkat semua gelas kotor ke wastafel. Sama sekali tidak mau menjawabku.
“Mama!” panggil Dira sambil mengangkat kedua tangannya minta digendong. Aku menurutinya, lalu mengambil sebuah handuk bersih untuk merapikan meja.
“Biarkan saja. Nanti ada pengurus rumah yang akan merapikan semuanya. Mandilah.” Hendra mendekati Hadi. “Ayo, Nak. Saatnya untuk bersiap-siap.”
“Aya.” Dira minta diturunkan agar bisa bermain dengan anak anjing yang mengikuti Hendra ke kamar Hadi. “Aya, Ma. Aya.”
“Kita mandi sebentar, ya, sayang. Nanti bisa main lagi dengan anak anjing itu.” Aku tidak akan sudi memanggilnya dengan namaku.
Hendra membantuku menjaga Dira setelah kami selesai mandi. Syukurlah putri kami tidak takut lagi berdua saja bersama papanya. Aku segera memasukkan pakaiannya ke dalam koper yang berisi pakaianku. Liando membawa piyama yang cukup untukku, jadi semuanya aman.
Dua orang petugas keamanan datang membantu kami membawa kedua koper dan tempat tidur milik anak anjing itu. Aku menatap Hendra dengan bingung. Kami berlibur dengan anak anjing itu juga? Aku pikir kami hanya akan pergi berempat.
Kejutannya bukan hanya itu. Mobil yang menunggu di depan kami saat keluar dari pintu utama gedung apartemen bukanlah Audi miliknya. Selain apartemen, dia juga membeli mobil baru? Apa usaha keluarganya sedang untung besar sehingga dia mengeluarkan uang sebanyak ini?
“Ada apa?” tanya Hendra membuyarkan lamunanku. “Masuklah. Kamu duduk di depan, biar anak-anak duduk di jok tengah.”
“Tapi Dira,” kataku melihatnya mendudukkan putri kami di tempat duduk khusus untuk bayi yang sudah diletakkannya di jok tengah. Oh. Dia kemudian mengangkat anak anjing itu, memasukkan ke mobil, dan melepas rantai yang dihubungkan ke kalung di lehernya.
__ADS_1
“Ayo, Hadi.” Hendra mengulurkan tangannya, putraku melepaskan tanganku dan menggandeng tangan papanya. “Kamu duduk di belakang papa.”
Mereka berjalan memutari mobil. Aku memerhatikan Dira kelihatan nyaman duduk di tempatnya dan sudah mengenakan sabuk pengaman. Aku membuka pintu depan dan duduk di sisi sopir. Hendra masuk setelah aku duduk dengan nyaman dan mengenakan sabuk pengaman.
“Kamu baru membeli mobil ini?” tanyaku ingin tahu.
“Iya. Aku akan membawa kalian berlibur, maka mobil ini akan lebih nyaman daripada sedanku. A ….” Dia menoleh ke belakang, tetapi menghentikan kalimatnya itu. Aku memicingkan mataku. Dia melihat ke arahku sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ara, duduk yang rapi atau kamu akan ditinggal. Jangan sakiti putriku. Hadi, tolong, jaga adikmu dan Ara.”
“Baik, Pa. Papa tenang saja.” Aku melihat Hadi sedang memeluk anak anjing yang kelihatan senang sambil mencium wajahnya. Hadi tertawa bahagia.
Hendra melihat ke arahku, aku masih memicingkan mataku kepadanya. “Ara, yang benar saja.” Anjing itu memberiku sebuah salakan. Pria di sisiku itu malah tertawa kecil.
Kami hanya berhenti satu kali karena Hadi ingin buang air. Kesempatan itu Hendra gunakan untuk meregangkan badannya setelah duduk terlalu lama. Saat tiba di tujuan, aku harus katakan bahwa kami akan sangat menikmati liburan kami. Aku baru tahu bahwa keluarga kami memiliki sebuah vila di Puncak. Ah, maksudku, keluarga Hendra.
“Bukan. Vila ini milikku, bukan milik Papa dan Mama,” katanya meralat. “Sebulan sekali aku datang ke sini untuk berlibur. Jadi, aku akan membawa anak-anak ke sini sebulan sekali. Bila mereka bosan, kami bisa pergi ke tempat lain.” Kami. Dia tidak mengikutsertakan aku pada rencananya itu.
“Ma, aku lapar.” Hadi menyentuh tanganku untuk menarik perhatianku.
“Koki pasti sudah menyiapkan makan siang untuk kita. Ayo, kita masuk.” Hendra yang menggendong Dira yang masih bingung karena baru bangun berjalan di depan kami. Aku menggandeng tangan Hadi yang membawa anak anjing dalam pelukannya.
Aroma masakan yang lezat segera memasuki penciumanku. Kami sampai di dapur tetapi tidak ada siapa pun di ruangan itu. Hendra membantu Dira mencuci tangannya, kemudian mendudukkan putri kami itu di tempat khusus bayi. Aku dan Hadi juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
“Ke mana koki yang kamu sebut itu?” tanyaku bingung. Aku menyendokkan nasi beserta lauk dan sayur ke atas piring plastik, lalu memberikannya kepada Dira. Hendra membantu memilihkan makanan untuk Hadi.
“Sudah kembali ke rumah mereka di belakang. Mereka hanya akan ada di sini untuk memasak dan membersihkan rumah. Selebihnya, mereka akan berada di rumah mereka sendiri. Jadi, kamu tidak perlu khawatirkan apa pun. Cukup perhatikan Hadi dan Dira.”
Setelah makan siang, anak-anak tertidur di sofa. Bahkan anak anjing itu ikut tidur pada pangkuan Hendra. Aku menolong mengangkat Dira dan membawanya ke kamarnya. Hendra benar-benar menghargai keputusanku untuk tidak menempatkan anak-anak pada kamar yang sama.
Aku tidak menemukan Hendra saat kembali ke ruang menonton tadi. Anak anjing itu sudah tidur pulas di tempat tidur lucunya. Hm. Walaupun aku tidak suka dia menggunakan namaku, aku harus berterima kasih kepadanya. Dia sudah berjasa mendekatkan anak-anak kepada papa mereka.
Koper dan tasku sudah tidak ada lagi di tempat di mana Hendra meletakkannya. Apa dia sudah memasukkan semuanya ke kamar? Di mana dia? Ada satu pintu lagi yang belum aku ketahui ada apa di baliknya. Mungkin itu kamar utama.
Aku membuka pintu di dekatku dan melihat Hendra sedang berdiri membelakangiku. Dia hanya mengenakan celana pendek dan sedang berusaha mengenakan kausnya. “Maafkan aku.” Aku segera mundur dan menutup pintunya kembali. Dia tertawa kecil.
“Masuklah, Za. Aku masih berpakaian. Mengapa kamu bersikap seperti tidak pernah melihat tubuhku tanpa pakaian sebelumnya?” katanya yang kemudian memakai celana panjang.
“Kita sudah bukan suami istri lagi, siapa tahu kamu lupa.” Aku mengingatkannya.
“Bagaimana aku bisa melupakannya? Kamu tidak lagi tidur dalam pelukanku.” Dia melewatiku untuk keluar dari kamar.
“Mengapa kamu bicara seperti itu?” tanyaku. Dia yang sudah berada di luar kamar menghentikan langkahnya. “Mengapa kamu bicara seolah-olah aku yang berinisiatif atas perceraian kita? Apa kamu lupa bahwa kamulah yang memberikan surat perceraian tersebut?”
“Aku tidak ingin membahas ini. Kita sudah cukup saling menyakiti. Tidak lagi, Za.”
__ADS_1