
Entah sudah berapa lama aku hanya duduk di tepi tempat tidur setelah mandi dan berganti pakaian. Hendra dan Ara sudah pergi beberapa jam yang lalu dan aku masih belum tahu harus melakukan apa sekarang ketika mereka tidak ada lagi bersamaku.
Apa yang Hendra maksudkan dengan segera ambil sebelum yang lain mendahului? Apa dia serius bahwa aku yang menentukan kami kembali bersama atau tidak? Bila dipikir-pikir, aku yang bersalah dalam retaknya pernikahan kami. Tetapi aku sudah berusaha, sudah memohon maaf, dia tetap saja pergi meninggalkan aku. Bila aku mencoba lagi, bukankah hasilnya akan sama saja?
Hal apa yang kurang yang aku lakukan sebelumnya yang membuat dia tetap pergi dariku? Aldo berengsek itu memang sudah tidak waras. Dia memanfaatkan keadaanku saat membawaku ke hotel. Ah, tidak, tidak. Sudah tidak ada gunanya mencari siapa yang salah. Aku butuh solusi.
Qiana dan Helmut menemui konselor pernikahan untuk memperbaiki hubungan mereka. Apa aku perlu mengajak Hendra untuk melakukan hal yang sama? Tetapi kami sudah tidak bersama lagi, apa perlu menemui konselor pernikahan?
“Sialan kamu, Hendra. Aku ingin sekali membencimu,” ucapku pelan.
Pintu kamar diketuk lalu dibuka. Aku menoleh ke arah pintu. Hanya anak-anak yang membuka pintu tanpa menunggu jawabanku dari dalam. Hadi menyembulkan kepalanya dengan kening berkerut. Aku tersenyum kepadanya. Dira juga menyusul di belakangnya. Mereka memasang ekspresi wajah yang sama. Tidak biasanya mereka tidak ceria.
“Anak-anak mama sudah bangun?” Aku mendekati mereka. Bukannya menyambutku, Hadi malah berjalan ke kamar mandi. Setelah melihat ke dalamnya sebentar, dia menuju ruang pakaian. “Kamu mencari apa, Nak?”
“Papa dan Ara mana, Ma?” tanyanya bingung.
“Papa dan Aya mana, Ma?” Dira ikut menanyakan hal yang sama.
Aku meraih tangan mereka berdua dan mengajak mereka duduk di tempat tidur. “Papa dan Ara sudah pulang tadi saat kalian masih tidur.”
“Pulang ke mana? Ini rumah Papa juga.” Hadi melihat ke sekeliling kami. “Apa Papa lebih suka tinggal di tempat yang tinggi? Kalau begitu, kita tinggal di sana saja, Ma.”
“Hadi, kita hanya berlibur bersama Papa. Kita tidak tinggal bersama, Nak. Kamu bersama Dira dan mama di rumah ini, sedangkan Papa bersama Ara di apartemen.” Aku berusaha untuk menjelaskan.
“Mengapa kita tidak tinggal bersama?” tanyanya bingung. “Ayo, kita kembali ke vila saja, Ma. Kita bisa tinggal bersama di sana.”
“Tidak bisa, Nak. Kamu harus kembali sekolah besok dan Papa harus bekerja. Sekolah kamu di sini. Kantor Papa juga di kota ini.”
__ADS_1
“Bagaimana supaya kita tinggal bersama?” tanyanya penuh harap.
“Mana Papa, Ma?” tanya Dira yang berusaha turun dari pangkuanku.
“Pada saat kita berlibur, kita akan tinggal bersama. Papa dan Ara akan bersama kita lagi bulan depan, pada hari ulang tahun Dira.” Aku masih berusaha untuk memberi penjelasan.
“Papa!” Dira kini berusaha untuk turun dari tempat tidur. Bagaimana menjelaskan hal ini kepada mereka agar mereka bisa mengerti? “Papa! Aya!” Dira berlari mendekati pintu setelah aku membantunya turun dari ranjang.
Yuyun membukakan pintu saat mendengar ketukan dari dalam. Dira segera berhambur keluar kamar. “Makan malam sudah siap, Nyonya.” Dia melaporkan lalu bergegas mengikuti Dira.
“Ayo, kita makan. Lalu kita telepon Papa, ya.” bujukku. Hadi masih cemberut. Tetapi dia tidak menolak ketika aku membantunya turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
“Papa! Papa!” pekik Dira yang memukul-mukul daun pintu depan dengan tangannya. Yuyun berusaha untuk menggendongnya, tetapi gadis kecil itu menghindar darinya.
“Dira, Papa tidak ada di luar.” Aku berjongkok dan mencoba untuk bicara dengannya. “Kita makan, lalu nanti telepon Papa, ya?”
Aku berhasil membujuk mereka untuk makan malam dengan penuh pemberontakan dari Dira. Sesuai dengan janji yang aku ucapkan, aku menghubungi Hendra dan syukurlah dia menjawab panggilan video dariku. Karena aku menggunakan tablet, wajahnya bisa terlihat lebih besar pada layar dibandingkan jika aku menggunakan ponsel.
“Papa! Papa!” Dira segera menangis melihat wajah ayahnya. Hadi juga begitu.
“Ada apa? Mengapa kalian menangis? Apa Mama telah melakukan sesuatu yang kalian tidak suka?” tanya Hendra panik. Aku cemberut mendengar kalimat itu. Sejak kapan aku akan tega melakukan hal yang membuat anak-anakku menangis begini?
“Papa ke mana? Mengapa Papa tidak ada di rumah?” isak Hadi. “Pulang, Pa. Jangan pergi lagi.”
“Hadi,” ucap Hendra pelan.
“Aku ngga mau dengar! Kalau Papa ngga pulang, aku minta Pak Liando antar aku ke sana.” Hadi menyeka kedua matanya dengan lengannya.
__ADS_1
“Papa pulang. Papa,” ucap Dira sedih.
“Apa kalian akan mendengarkan papa bicara atau kita tunggu sampai kalian berdua tidak menangis lagi?” tanya Hendra. Anak-anak tidak menjawab. Mereka hanya menangis memintanya pulang. “Baik. Papa tunggu sampai kalian tenang.”
Cukup lama menunggu sampai mereka kelelahan sendiri, aku memberi mereka masing-masing segelas air minum. Hatiku tidak kuat melihat mereka sesenggukan karena terlalu banyak menangis. Aku juga salah. Seharusnya Hendra tidak aku izinkan pergi sebelum pamit kepada anak-anak. Dia pergi begitu saja, wajar anak-anak protes begini.
“Kita tidak tinggal bersama sebelumnya, maka papa juga tidak akan tinggal di rumah yang sama dengan kalian sekarang. Kalian akan tetap tinggal bersama Mama, dan papa bersama Ara. Bulan depan kita akan berlibur bersama lagi, lalu pulang ke rumah masing-masing. Apa kalian mengerti? Kita akan bertemu lagi bulan depan. Papa tidak ke mana-mana,” ucap Hendra pelan.
“Mengapa kita tidak bisa tinggal bersama?” tanya Hadi.
“Aku adalah papa kalian, itu benar. Tetapi aku bukan suami dari mama kalian lagi. Laki-laki dan perempuan yang tidak menikah tidak bisa tinggal bersama, Nak.”
“Om Zach dan Tante Rasmi, papa dan mama Zeph tinggal bersama karena menikah?” tanya Hadi lagi. Hendra membenarkannya. “Mengapa papa dan mamaku tidak menikah? Papa dan Mama menikah saja supaya kita tinggal bersama.”
“Tidak semudah itu, Nak.” Hendra mendesah pelan. Dia terlihat mencari-cari sesuatu di layar. Dia pasti mencari aku. Aku tidak akan ikut campur dalam percakapan mereka. Biar saja dia sendiri yang menjawab pertanyaan anak-anak. Bukan aku yang menginginkan perpisahan kami.
“Aku akan bicara dengan Nenek. Waktu Om Zach dan Tante Rasmi pisah rumah, Nenek menolong mereka untuk bersatu lagi. Nenek selalu bicara dengan Mama, tetapi Nenek belum pernah bicara dengan Papa.” Hadi melihat ke arahku. “Ma, tolong hubungi Nenek.”
“Hadi, masalahnya bukan itu.” Hendra mulai terdengar putus asa.
“Ah, aku tahu! Kita bisa hubungi Nenek supaya bisa ikut bicara dengan kita, ‘kan, Ma? Seperti waktu video call dengan Om Zach dan Nenek atau seperti teman-teman Mama.” Hadi bertanya kepadaku.
“Ja-jangan,” ucap Hendra cepat. “Tolong, jangan hubungi Nenek.”
“Mengapa, Pa? Papa tidak mau bicara dengan Nenek?”
“Bicara dengan Nenek tidak akan membuatku tinggal bersamamu, Hadi,” ucap Hendra masih berusaha memberi pengertian. Putraku itu terdiam sejenak.
__ADS_1
“Papa tidak sayang Hadi. Papa juga tidak sayang Dira. Papa tidak sayang Mama. Papa bohong!” Hadi memberikan tabletku kembali kepadaku, lalu berlari keluar dari ruang keluarga.