Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 173 - Di Antara Dua Wanita


__ADS_3

~Hendra~


Kebahagiaan istriku adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya. Tidak juga dengan orang tuaku sendiri. Aku tidak peduli siapa yang Mama pilih untuk menemaninya selama menjalani pengobatan, juga tidak peduli siapa yang dipilihnya untuk menjadi menantunya. Tetapi aku tidak akan membiarkan dia merusak acara yang sudah lama istriku persiapkan.


Momentum besar ini adalah penentu dari berhentinya setiap rumor yang beredar. Aku tidak mau lagi mendengar orang menyebut kami masih bercerai, hubungan kami tidak sah, atau dia adalah simpananku. Gila. Za tetap dan akan selalu menjadi istriku. Aku bahkan sudah memegang akta perkawinan kami yang sah secara hukum.


Aku meminta Gista mengurus setiap hal yang ada hubungannya dengan Mama. Dia melaporkan hasilnya kepadaku sebelum pulang kerja. Wanita sok hebat itu tidak menepati janjinya. Dia tidak segera membawa Mama menemui dokter keesokan harinya setelah pertemuan kami.


Dia baru membawa Mama sehari setelahnya. Entah apa yang begitu penting yang membuat dia tidak bisa menemani Mama secepat mungkin. Papa juga menjengkelkan. Bila perempuan itu tidak punya waktu, mengapa bukan Papa yang mendampingi Mama?


Darahku mendidih saat perempuan itu tidak membawa Mama ke dokter kami atau dokter yang kedua, tetapi dokter lain. Mau berapa lama lagi dia menunda pengobatan kanker yang diderita oleh ibuku. Mama buta atau bagaimana? Lalu Papa, mengapa dia hanya diam saja? Apa hanya aku yang berpikir bahwa kanker adalah penyakit yang berbahaya?


“Menurut dokter, mereka datang untuk menanyakan pilihan pengobatan apa yang terbaik yang bisa diambil oleh Ibu Naava. Jawabannya adalah mastektomi. Mereka meminta waktu untuk berpikir. Tidak ada janji kapan konsultasi selanjutnya, Pak.” Gista melaporkan hasil percakapannya dengan dokter tersebut. Aku mempersilakan dia untuk pulang.


Begitu aku hanya seorang diri di dalam ruang kerjaku, aku menghubungi Irwan. Pikiranku tidak tenang selama laki-laki jahat itu masih berkeliaran bebas di luar sana. Aku tidak tahu apa yang membuat polisi kesulitan menemukan dia. Apa dia masih dibantu oleh orang yang punya pengaruh sehingga tidak bisa ditemukan jejaknya?


Ah, bisa jadi! Mustahil orang kecil seperti dia bisa terlibat korupsi sebesar itu bila atasannya tidak terlibat juga. Bagaimana dia bisa tahu kapan para penyidik itu akan menangkap dia kalau bukan karena ada orang dalam yang terlibat? Sial. Aku tidak akan bisa tenang setiap kali dia bisa saja membuat rencana lagi untuk mempersulit hidup istriku.


“Nihil, Hendra.” Itu adalah kalimat pertama yang Irwan ucapkan saat menjawab panggilanku.


“Ada orang yang sengaja menghapus jejaknya.” Sudah tidak salah lagi. Ada orang kuat yang berada di belakangnya yang melindunginya karena ingin melindungi dirinya sendiri.


“Benar. Kami tidak bisa menemukan rekaman CCTV saat dia keluar dari ruang kerja atau gedung kantornya. Itu mustahil bila bukan karena orang dalam yang sengaja melakukannya. Aku yakin bahwa dia adalah saksi kunci dari kasus korupsi yang sedang menjeratnya,” katanya dengan serius. Aku juga memikirkan hal yang sama.

__ADS_1


“Apa tidak ada cara lain untuk menemukan dia?” tanyaku penuh harap.


“Aku perlu tahu siapa saja orang besar yang berada di balik kasus itu. Karena aku sudah memeriksa kepala bagian dan kepala kantornya, nihil. Ponselnya tidak menyimpan informasi apa pun yang ada hubungannya dengan kasus tersebut. Aku curiga bahwa dia menggunakan ponsel dengan nomor sekali pakai untuk berkomunikasi.”


“Tentu saja. Penjahat akan semakin pintar setiap kali teknologi semakin maju. Mereka semakin sulit untuk dideteksi.” Aku berdecak pelan.


“Aku akan mengutus orang untuk mengikuti istrimu. Siapa tahu dia masih punya rencana untuk mendatanginya. Aku akan mengabari kamu bila ada perkembangan selanjutnya.”


“Baik. Terima kasih, Irwan.” Setelah saling mengucapkan salam, aku mengakhiri hubungan telepon.


Dua hari berikutnya, Mama pergi menemui dokter yang kedua, yang didatanginya bersama istriku. Aku tidak tahu mengapa dia tidak datang kepada dokter keluarga kami saja. Tetapi jika dia lebih nyaman berdiskusi dan ditangani oleh dokter tersebut, aku mengalah.


“Ibu Naava setuju untuk melakukan operasi dan sudah menjadwalkan operasinya, Pak.” Gista menyebut tanggal Senin berikutnya. “Ibu Naava meminum obat penenang agar bisa tidur, jadi dokter memintanya untuk berhenti mengonsumsinya. Dan untuk menghindari efek samping dari obat tersebut, operasi baru bisa dilakukan satu minggu setelah berhenti minum obat.”


Aku selalu datang ke toko dan memilih sendiri kado untuk Za setiap kali hari ulang tahunnya semakin dekat. Aku tidak pandai dalam menentukan hadiah yang variatif. Karena itu perhiasan adalah pilihan yang paling aman. Belum ada wanita yang menolak diberi benda mahal. Apalagi berlian.


Pemilik toko sudah mengenal aku dengan baik. Dia segera menunjukkan kalung, gelang, dan anting yang merupakan keluaran terbaru desainer mereka tanpa aku minta. Tahun lalu aku membeli kalung, maka kali ini aku memilih anting-anting.


“Hendra?” sapa seseorang saat aku berjalan keluar dari toko tersebut. Aku tidak pernah lagi terkejut dengan pertemuan secara tidak sengaja dengan perempuan mana pun yang mendadak mengenal aku. Tetapi aku sangat berharap tidak bertemu dengan wanita yang satu ini. “Kamu membeli sesuatu untuk Tante Naava?” Dia melihat ke arah tas berlabel toko perhiasan yang aku bawa.


“Aku harus pergi.” Aku melanjutkan langkahku.


“Ibumu sedih karena kamu tidak peduli kepadanya. Kamu lebih memilih bersama wanita yang dia benci daripada mendengarkan keinginannya.” Mendengar itu, aku menghentikan langkahku. Aku mendengar langkah kakinya mendekat. “Apa kamu tidak tahu bahwa seorang yang sakit akan lebih cepat pulih bila dia merasa bahagia?”

__ADS_1


“Kamu hanya mengenal ibuku selama beberapa minggu terakhir. Kamu tahu apa tentang dia dan apa yang bisa membuatnya bahagia?” tantangku.


“Tante ingin kamu meninggalkan wanita murahan itu dan menikah dengan wanita yang lebih baik darinya. Aku. Bukankah itu sudah jelas?”


“Kamu lupa bahwa seorang ibu hanya akan bahagia bila dia melihat anaknya bahagia. Aku tidak akan bahagia bersamamu. Ibuku tidak akan butuh waktu lama untuk menyadari hal itu andai saja kita mencoba untuk bersama. Silakan lanjutkan permainan rumah-rumahan kalian. Aku mau tahu sampai kapan kamu bertahan.” Aku mendengus pelan.


“Ibuku hanya butuh waktu untuk bisa menerima menantunya kembali. Ketika saat itu tiba, semoga kamu tidak terlalu terluka. Jangan protes kepadaku nanti. Karena aku sudah memperingatkan kamu mengenai hal ini berulang kali.” Aku membalikkan badan dan mengabaikan panggilannya.


Kejutan yang aku siapkan pada pagi itu berjalan dengan baik. Za bahagia dengan sarapan tidak sehatnya dan menyukai kadonya. Enam kotak perhiasan. Wanita mana yang tidak akan memberikan segalanya kepada pria yang telah memberinya hadiah semahal itu? Walau mulutnya berkata tidak, saat aku sarankan untuk menjualnya, dia langsung keberatan. Dasar perempuan.


Siang hari itu, aku tersenyum menerima telepon dari Mama yang mengajak aku makan bersamanya dan Papa. Aku menerimanya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Aku dari tadi berpikir bagaimana cara menghubungi mereka, Mama memberi solusi pada saat yang tepat.


Restoran yang mereka pilih tidak jauh dari lokasi kantorku, jadi sebentar saja aku sudah sampai dan tidak perlu bergelut dengan kemacetan. Saat aku menyebut nama Mama, pelayan yang menyambut aku di pintu mengantar aku ke sebuah ruangan.


Aku tidak terkejut menemukan perempuan itu juga ada di sana, duduk bersama mereka. Aku melihat ke arah Papa yang menganggukkan kepalanya, memintaku dalam senyap agar tidak membuat drama. Selama mereka ada dalam ruangan, aku tidak peduli. Asalkan aku tidak makan berdua saja dengan wanita yang tidak mengerti kata tidak.


“Aku sudah memesan makanan untuk kita, semoga kamu tidak keberatan makan makanan hasil laut,” ucap Mama dengan riang seraya melihat ke arah aku dan Nora secara bergantian. Aku terpaksa duduk di sampingnya karena kursi yang ada dalam ruangan ini hanya empat.


“Aku tidak keberatan, Ma. Bagaimana dengan hasil pemeriksaan Mama?” tanyaku ingin tahu.


“Dokter bilang, kondisi Tante sangat baik. Operasi adalah langkah yang tepat dan semoga kankernya tidak akan kembali lagi. Karena operasinya akan dilaksanakan besok, Tante mengundang kita semua makan sebelum memulai puasanya,” kata Nora menjawab pertanyaanku. Aku mengerti mengapa dia yang menjawab, bukan Mama. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku ketika wanita itu bicara.


“Tidak perlu berbohong kepadaku, Ma. Aku tahu bahwa jadwal operasinya Senin depan.” Mama membulatkan matanya. “Apa Mama sebenci itu kepadaku sehingga tidak bisa ikut bahagia bersama aku dan istri yang aku pilih?”

__ADS_1


__ADS_2