
“Jangan khawatir mengenai laporan ke Disnaker. Aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa yakin bahwa kemenangan berada di pihakku.” Hendra mematikan semua lampu yang ada di kamar kami, lalu berbaring di sisiku.
“Aku tetap saja khawatir. Kasus ini bukan hanya diketahui oleh orang terdekat kita tetapi juga semua orang yang mengikuti acara berita tadi di negeri ini.” Aku merasakan tangan Hendra di pundakku, lalu dia menurunkan tali gaun tidurku. “Apa yang kamu lakukan?”
“Bercinta dengan istriku.” Aku menahan tangannya itu.
“Kita sedang bicara, Hendra,” kataku dengan nada serius. Mantan sekretarisnya itu terlihat sangat bersungguh-sungguh dengan niatnya untuk mendapatkan posisinya kembali. Aku mengkhawatirkan suamiku, dia malah terlihat santai saja.
“Kita bisa melakukannya sambil bicara.” Bagaimana kami bisa bicara bila dia mencium bibirku? “Ah, iya. Aku teringat sesuatu yang sangat penting.” Aku menggeram pelan karena dia berhenti saat aku sedang menikmati ciumannya. “Mengapa kamu mengizinkan dia memanggilmu Za?”
“Siapa yang memanggil aku Za?” tanyaku bingung. Kepalaku sedang tidak bisa diajak berpikir.
“Laki-laki tidak tahu diri itu,” jawabnya. Aku tidak ingat bahwa Dicky memanggilku Za. “Baguslah kalau kamu tidak mendengarnya. Aku akan mengurus dia nanti. Menjadi suamimu memang tidak mudah. Aku punya banyak saingan di luar sana.”
Pada Senin pagi itu, kami mengantar Dira ke rumah orang tuaku setelah mengantar kepergian Hadi dengan Liando ke sekolahnya. Putri kami tidak keberatan bermain bersama sepupunya yang selalu dititipkan di rumah Papa dan Mama setiap kali Zach dan Rasmi bekerja di kantor. Jadi, kami bisa pergi dengan tenang ke Bogor.
Pak Oscar sudah menunggu di tempat yang dijanjikan dan dia duduk di sisi Kafin. Kami tidak banyak bicara selama dalam perjalanan. Hendra sibuk dengan ponsel dan tabletnya, sedangkan aku hanya melihat keadaan di luar jendela mobil.
“Aku sedang berpikir, apa sebaiknya kita mengadakan acara resepsi seadanya sebagai peringatan kembalinya kita sebagai suami istri?” ucapku pelan. Aku merasakan tangan Hendra menyentuh tanganku, membuatku menoleh ke arahnya.
“Ada apa, sayang? Kamu tidak yakin bahwa aku serius dengan hubungan kita sehingga perlu lebih banyak orang yang tahu?” tanya Hendra pelan. Aku menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
“Ibu jangan khawatir. Akta perkawinan Ibu dan Bapak akan diproses oleh rekan saya. Karena Ibu dan Bapak masih menikah secara agama, tidak perlu lagi diadakan acara khusus untuk meresmikannya,” ucap Pak Oscar menjelaskan.
“Terima kasih banyak, Pak.” Aku tersenyum kepadanya. Aku kembali melihat ke arah suamiku. “Apa yang Dicky katakan kemarin membuatku berpikir. Orang-orang akan menganggap kita masih bercerai bila kita tidak mengadakan perayaan kecil-kecilan.”
“Biarkan saja orang-orang mengatakan apa yang ingin mereka katakan mengenai kita. Ulang tahun pernikahan kita sekitar dua bulan lagi. Kita rayakan pada waktu itu saja. Untukmu, aku akan membuat acara yang besar. Lebih dari yang sudah Qiana persiapkan untuk perayaan perkawinan perak mereka.” Hendra membawa tanganku mendekati wajahnya, lalu mencium punggung tanganku.
“Apa kita akan menggunakan jasa Event Organizer juga?” tanyaku penuh harap.
“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan kamu mengerjakan semuanya sendiri. Kamu boleh merencanakan resepsi seperti apa pun yang kamu mau. Jangan khawatirkan biayanya.”
Pikiranku segera melayang jauh. Aku tidak punya impian yang muluk-muluk mengenai pernikahan. Keluarga dan sahabat kami menghadirinya saja sudah cukup. Tetapi aku punya misi tertentu pada acara kali ini. Aku akan membuat acara yang indah dan tidak terlupakan.
Pada bulan April nanti musim hujan sudah berlalu, jadi mengadakan acara di luar ruangan adalah hal yang tepat. Kami bisa mengadakannya di pekarangan rumah kami saja. Aku sudah membayangkan dekorasi apa yang ada pada kebun kami. Bukan hanya aku dan Hendra, anak-anak juga pasti akan menyukainya. Lalu kami harus mengundang semua rekan bisnis suamiku, sekalian wartawan juga.
“Oh!” Aku melihat ke sekeliling kami. Hendra keluar mobil lebih dahulu, lalu aku bergeser dan menerima uluran tangannya. Saatnya untuk fokus.
Aku tidak banyak memberikan kontribusi selama kami berada di dalam sebuah ruangan. Pak Oscar yang lebih banyak bicara mewakili Hendra. Suamiku hanya bicara ketika pengacaranya memberi anggukan kepala. Beberapa pria yang aku tahu telah menolong kami melepaskan Dira dari sekapan para penculik itu juga datang memberikan pernyataan.
Mereka yang melihat wajah pelaku yang dianggap buron, saling memberikan pendapatnya saat seorang petugas polisi menggambarnya sesuai keterangan tersebut. Saat foto itu selesai, Hendra puas dengan hasilnya. Gambar itu mirip dengan wajah orang tersebut.
“Terima kasih banyak kalian semua mau datang membantuku memberi keterangan hari ini,” ucap Hendra kepada para pria yang sudah menolong kami tersebut. “Kalian pasti lapar. Mari, makan siang bersama kami.” Mereka tidak menolak. Hendra mempersilakan mereka sebagai tuan rumah untuk memilih restoran yang menyediakan makanan yang enak.
__ADS_1
“Jadi, kalian yakin bahwa semua pelaku penculikan itu adalah orang-orang sini?” tanya Hendra saat kami menunggu makanan pesanan kami diantar.
“Yakin, Pak. Mereka adalah preman di lingkungan ini. Kami sering melihat mereka beraksi. Hanya satu pria yang buron itu yang tidak berasal dari sini,” jawab salah satu dari mereka yang sepertinya adalah orang yang ditunjuk sebagai juru bicara mereka.”
“Berarti dia yang berhubungan langsung dengan orang yang menyuruh mereka untuk menculik putriku. Aku akan perluas pencariannya. Aku tidak yakin dia berada di sekitar daerah ini,” ucap Hendra sambil berpikir.
“Pak Irwan sudah mengerahkan orangnya untuk ikut mencari pria tersebut, Pak. Kami curiga bahwa dia sedang bersembunyi sampai kasus ini reda. Tapi kita pasti akan menemukannya. Bapak tenang saja. Pak Irwan tidak tinggal diam dan akan membantu sampai masalah ini selesai.”
“Baik. Terima kasih.” Hendra terlihat tenang mendengarnya. Aku juga ikut merasa lega.
Masih ada hal yang perlu dia kerjakan bersama Pak Oscar, aku menyuruhnya untuk pergi setelah mengantar aku ke rumah orang tuaku. Ada Liando yang akan mengantarku dan anak-anak pulang ke rumah. Hadi dan Dira melambaikan tangan mereka ikut mengantar kepergian papa mereka.
Aku memberikan beberapa kilo talas pesanan Mama, kemudian pamit pulang. Aku masih perlu melanjutkan tulisanku, anak-anak juga perlu mandi sebelum papa mereka pulang. Dalam perjalanan pulang, anak-anak berebutan menceritakan apa saja yang mereka lakukan bersama sepupu mereka.
Hendra menelepon dan mengatakan bahwa dia pulang malam, maka kami makan tanpa dia. Sebelum anak-anak tidur, dia menyempatkan untuk melakukan panggilan video dan mengucapkan selamat tidur. Sampai aku tidur pun, dia belum pulang juga. Tetapi aku tidak menunggunya.
Setelah olahraga pagi yang melelahkan, membantu suamiku mengenakan dasinya, kami bergegas sarapan bersama anak-anak. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu terburu-buru. Aku, Dira, dan Ara hanya bertiga saja di ruanganku ketika Hadi sudah berangkat ke sekolah.
Ponselku bergetar saat aku sedang asyik menemani Dira bermain dengan boneka binatangnya. Aku mengerutkan kening melihat nama pada layar. Aku menarik napas panjang, lalu menjawabnya. “Halo, Tante,” sapaku dengan sopan.
“Aku ingin bertemu denganmu besok. Kamu bisa sisipkan aku pada jadwalmu?” tanya Mama.
__ADS_1
“Tentu saja, Tante. Sekitar pukul dua siang?” tanyaku. Dia menyetujuinya, lalu menyebut nama tempat di mana kami akan bertemu. Tanpa mengatakan apa pun lagi, hubungan telepon diakhiri.
Jantungku berdebar dengan cepat. Dari sikap dan cara Mama bicara di telepon, perasaanku menjadi tidak enak. Apa yang ingin Mama bicarakan denganku sehingga ingin menemuiku tanpa kehadiran Hendra? Apakah ini ada hubungannya dengan perempuan yang Mama dekatkan kepadanya?