
“Selamat ulang tahun!!” sorak kami semua saat pintu depan terbuka. Hadi dan Dira membulatkan mata dan mengangakan mulut mereka karena terkejut. Tidak lama kemudian sebuah senyuman menghias wajah putraku. Kami semua bernyanyi dan aku datang mendekatinya dengan kue tar di kedua tanganku. Aku berlutut di hadapannya. Mendengar lirik lagu, dia menurut dan meniup semua lilin yang menyala di atasnya.
Yuyun segera mengambil kue itu dari tanganku supaya aku bisa mencium dan memeluk Hadi untuk mengucapkan selamat. Dira ikut memeluk kami berdua. Kami tertawa bersama. Hadi bergabung bersama teman-temannya menonton pertunjukan sulap yang dilakukan oleh orang yang aku undang. Dira tidak mau lepas dariku.
“Ada Charlotte, kamu mau bermain bersamanya?” tanyaku sambil membawanya ke sisi di mana gadis kecil itu berada. Dia segera meminta turun dari pelukanku. Aku membiarkan dia duduk bersama temannya, sedangkan aku bergabung bersama teman-temanku. Yuyun segera berada di dekat mereka, mengawasi kedua anakku.
“Aku masih tidak habis pikir bagaimana kamu bisa mengandung Dira saat kamu dan Hendra sudah resmi bercerai,” Qiana menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu tidak pernah menceritakan apa yang terjadi, Zahara. Bukankah Hendra tidak pernah muncul lagi sejak dia pergi dari rumah ini?” tanya Lindsey ingin tahu.
“Apa aku masih harus memberitahu kalian bagaimana seorang pria dan wanita dewasa bisa memiliki anak bersama?” tanyaku setengah menggoda mereka.
Qiana dan Lindsey segera memeluk dan menggelitik pinggangku. Kami tertawa bersama. Darla yang baru datang dari arah belakang rumah menatap kami dengan bingung. Begitu dia mengetahui apa yang membuat kami saling menggoda, mereka bertiga kompak mendesakku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka percaya bahwa Dira adalah anak Hendra sudah cukup bagiku. Apa yang terjadi pada malam itu sehingga aku mengandung anak kedua kami akan aku simpan sendiri. Meskipun terkejut, aku menjalani proses kehamilanku dengan penuh rasa bahagia. Ketidakhadiran Hendra di sisiku tidak mengurangi kebahagiaanku bisa memiliki anak lagi darinya.
Tiba waktunya makan malam, para suami datang bergabung bersama kami. Helmut, Gio, dan Edu kadang-kadang berkumpul bersama untuk minum kopi. Hendra juga ikut. Jadi, untuk tahu kabar terbaru tentangnya, aku sengaja berdiri di dekat mereka. Bila aku beruntung, mereka akan menyebut satu atau dua hal mengenai dia.
Namun melihat teman Helmut juga datang, aku mengurung niatku. Aku menatap penuh protes ke arah Qiana. Dia hanya meringis menunjukkan barisan giginya yang rapi. Pria itu adalah satu satu dari antara para pria yang berusaha untuk mendekatiku. Dia pikir dia akan berhasil memenangkan hatiku jika dia terus mencoba. Padahal aku sudah berkata tidak.
“Bukan aku yang mengundangnya ke sini. Kamu seharusnya memarahi Helmut,” ucap Qiana yang keberatan dengan protesku.
__ADS_1
“Aku tidak mungkin membicarakan ini dengan suamimu, ‘kan? Harusnya kamu yang memberi pengertian kepadanya,” balasku tidak mau kalah.
“Mereka sudah bicara, Zahara. Kalau Dicky masih berani datang itu artinya dia tidak peduli dengan ucapan suamiku.” Dia mengangkat kedua bahunya.
“Laki-laki mana yang mau melewatkan kesempatan bisa memiliki janda memikat seperti kamu?” Lindsey tertawa kecil.
“Hentikan omong kosong itu, Lindsey. Ingat usiamu.” Aku memutar bola mataku mendengar kalimat konyol itu. Mereka malah tertawa.
“Dari Vivaldo sampai Dicky, wow, Zahara. Aku tidak bisa membayangkan kesulitan yang kamu alami setiap kali berurusan dengan pria yang tidak mengerti kata tidak.” Lindsey menggeleng pelan.
“Memangnya kamu mau berada di posisinya, Lind?” tanya Darla. “Punya suami atau tidak, selalu saja ada pria yang mengganggu. Lihat apa yang terjadi pada pernikahannya.”
“Zahara yang salah. Seharusnya dia berlutut saja memohon Hendra untuk kembali. Mantannya itu masih sendiri sampai detik ini. Aku tidak mendengar gosip dia sedang dekat dengan perempuan mana pun. Bukankah itu artinya masih ada harapan untuk sahabat kita kembali bersamanya?” kata Lindsey yang masih saja membahas hal yang sama.
“Berhenti menyebut dia sebagai mantanku. Walaupun kami sudah bercerai secara hukum, kami masih suami istri secara agama,” kataku tidak suka dengan gurauan mereka.
“Ooo. Jadi itu sebabnya kamu diam-diam masih tidur bersamanya? Apa jangan-jangan sekarang kamu sedang mengandung anak kalian yang ketiga?” kata Qiana. Mereka serentak melihat ke arah perutku. Aku tertegun sejenak.
“Aku dan dia tidak diam-diam tidur bersama!” pekikku tidak percaya mereka akan berpikir seperti itu. “Dan aku tidak akan terpancing untuk menceritakan apa yang terjadi hingga aku mengandung Dira.”
Mereka segera protes. Aku berjalan menuju dapur, mereka mengekoriku. Mereka memberondongku dengan pertanyaan tetapi aku hanya mengabaikannya saja.
__ADS_1
“Hai, Kak!” Terdengar sapaan dari arah pintu dapur. Kami semua menoleh. Rasmi berdiri di ambang pintu dengan wajah ceria. Dia pasti baru datang bersama orang tuaku, Zach, dan Zeph, putra mereka. “Ada cerita menarik apa sampai kalian bergosip berempat di dapur?”
“Aku tidak akan menjawab apa pun,” kataku dengan tegas. Dia segera mengerti maksud kalimatku dan ikut mengekoriku kembali ke ruang depan.
“Oh, ayolah, Kak. Ceritakan kepadaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Rasmi penasaran.
“Kita sudah lama bersahabat dan selalu menceritakan segalanya. Masa kamu menutupi satu hal ini dari kami semua. Ini tidak adil, Zahara. Kami berhak untuk tahu.” Qiana ikut mendesak.
“Orang tua teman-teman Hadi akan datang menjemput anak mereka. Tolong aku membagi semua bingkisan ini.” Aku membawa beberapa kantong berisi makanan ringan dan peralatan menulis untuk dibagikan oleh Hadi. Teman-temanku dan Rasmi ikut membantuku sambil menggerutu.
Zach datang, maka aku ingin berbincang sebentar dengannya. Hendra masih menggunakan jasanya sebagai penasihat hukum di perusahaannya. Mereka bertemu setiap hari, jadi pasti adikku tahu banyak apa yang dilakukannya akhir-akhir ini.
“Hai, Zach. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.
“Kakak tidak perlu berbasa-basi jika ingin menanyakan keadaan kak Hendra.” Dia tertawa kecil. Aku hanya cemberut mendengarnya. “Apa Kakak tidak mengundangnya ke acara ini?”
“Aku memberitahunya karena itu dia memberiku dana untuk mengadakan pesta ini. Lagi pula dia selalu ingat dengan semua tanggal penting. Jadi, dia tahu hari ini putranya berulang tahun,” kataku.
“Sepulang kerja tadi, aku melihat Tante Naava membawa seorang wanita dan mengajak Kak Hendra untuk ikut bersama mereka.” Aku merasakan dadaku perih mendengar itu. Apakah Mama masih mencoba mendekatkan Hendra dengan perempuan lagi? “Ada apa dengannya? Aku pikir dia bahagia memiliki seorang penerus. Lalu mengapa dia tidak pernah datang menemui anaknya?”
Tidak ada yang tahu bahwa aku dan Hendra mempunyai kesepakatan mengenai anak-anak, kecuali ketiga sahabatku. Mereka bisa dipercaya dan sampai saat ini tidak ada satu hal pun mengenai aku yang mereka ceritakan kepada orang lain, termasuk keluargaku.
__ADS_1
Aku sudah sengaja berpenampilan sebaik mungkin sore ini karena aku pikir kami akhirnya akan bertemu lagi. Dahulu dia pernah bilang bahwa dia akan datang saat Hadi berusia lima tahun. Lalu mengapa dia tidak datang? Apa dia lupa dengan janjinya sendiri? Atau jangan-jangan, hubungannya dengan perempuan itu sudah serius?