
Gista meneleponku pagi itu dan memberitahu adanya rapat pemegang saham darurat. Karena sebagian besar dari mereka punya perusahaan juga, rapat tersebut diadakan pada pukul delapan pagi. Jadi usai rapat, mereka bisa melakukan pekerjaan rutin mereka seperti biasa.
Dengan ulah media yang tiada henti memberitakan masa lalu Za dan ketidakbecusanku menjaga istriku sendiri, tidak mengherankan rapat ini diadakan. Aku dan sekretarisku memasuki ruangan yang sudah hampir dipenuhi oleh orang-orang penting dalam perusahaan ini.
Asisten Papa memimpin jalannya rapat begitu semua orang telah hadir. Puncak acara ulang tahun perusahaan akan dilaksanakan kurang dari tiga minggu lagi, wajar saja mereka panik dengan ulah media. Jika tidak segera kami kendalikan, nilai saham bisa jatuh dan hanya menunggu waktu saja bagi perusahaan kami untuk bangkrut.
“Penunjukkan Mahendra sebagai direktur utama pada puncak acara nanti perlu dipertimbangkan ulang. Skandal yang saat ini beredar di masyarakat tidak bisa dianggap enteng. Reputasi buruknya akan merusak reputasi perusahaan ini juga. Kita bukan apa-apa tanpa pembeli setia di gerai kita. Bila mereka beralih membeli produk-produk kesukaan mereka dari tempat lain, lama-lama perusahaan kita akan gulung tikar.” Seorang pemegang saham yang cukup besar memberi suara.
“Aku setuju. Hari ini kita perlu mendaftar setiap kandidat yang lebih pantas menjadi direktur utama berikutnya. Lagi pula Mahendra jauh lebih muda dari kita semua, mengapa kita tidak memilih yang lebih berpengalaman dan berkompeten?” tambah yang lain.
Beberapa yang cukup vokal memberikan pendapatnya yang mayoritas tidak menginginkan aku ditunjuk sebagai direktur utama. Hanya ada satu orang yang masih ingin memberiku kesempatan untuk membuktikan diri. Prestasiku selama menjabat sebagai wakil direktur utama tidaklah buruk.
“Jangan pernah melupakan bahwa dia dan Xavier, temannya dari London, telah berperan besar atas berdirinya satu-satunya pabrik garmen kita dengan produk milik kita sendiri yang sekarang telah merambah penjualan global.” Tante Arum, satu lagi pemegang saham yang cukup besar, memberi pembelaannya kepadaku. Kami tidak dekat, tetapi dia selalu menganggapku seperti putranya sendiri.
“Tidak ada kesuksesan yang diraih atas usaha sendiri, Bu. Pabrik dan produk itu sukses karena usaha semua orang. Mahendra bukan satu-satunya faktor dari keberhasilan tersebut,” bantah yang lain.
“Kamu sedang ongkang-ongkang kaki di kantormu ketika dia terbang ke London berulang kali untuk memastikan proyek tersebut berhasil, memastikan Xavier memberikan dana untuk membangun, memproduksi, memasarkan, dan menjual produk baru kita, sampai istrinya jatuh ke pelukan orang lain, dan kamu berharap dapat pujian juga atas usahanya tersebut?” kata Tante Arum dengan tajam.
Keheningan yang memekakkan telinga pun terjadi. Sampai tarikan napas sehalus apa pun yang ada di dalam ruangan terdengar di telinga. Mereka yang tadinya berbisik-bisik terhadap satu sama lain, menyiapkan balasan berikutnya ikut terdiam.
__ADS_1
“Pak Mahendra, apa ada yang ingin Bapak sampaikan?” tanya asisten Papa. Aku melirik Gista dan menganggukkan kepalaku kepadanya. Aku menyalakan mikrofon yang ada di depanku.
“Dokumen yang diberikan kepada Anda sekalian pada saat ini adalah dokumen yang sangat rahasia. Aku harap Bapak dan Ibu akan meninggalkannya di atas meja seusai rapat nanti agar bisa diambil kembali oleh sekretarisku.” Aku menatap satu-persatu wajah mereka yang membaca isi hasil tes DNA kedua anakku.
“Fitnah yang disebarkan oleh media sangat masif. Hanya dengan bukti satu video saja dan kesaksian satu orang pria, mereka berani menghancurkan reputasiku, keluarga besarku, bahkan ikut menyeret nama perusahaan ini. Aku tidak akan tinggal diam.
“Beri aku waktu tiga puluh hari. Aku akan membuktikan bahwa orang yang sengaja menyebarkan urusan pribadiku dengan istriku sama sekali tidak punya maksud baik. Aku juga akan membuktikan bahwa istriku tidak berselingkuh karena dia menginginkannya. Dia dijebak oleh pria yang dia pikir masih peduli kepadanya.
“Sebagai pemimpin berikutnya, aku tidak akan membiarkan nama perusahaan ini diinjak-injak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kakekku telah bersusah payah membesarkan perusahaan ini dari toko pakaian kecil. Jadi, aku mohon tetaplah dukung kami, Bapak dan Ibu sekalian tidak akan menyesali keputusan Anda memilih saya sebagai dirut baru.
“Bila dalam tenggat waktu yang diberikan aku tidak berhasil membuktikan hal yang aku janjikan, aku memercayakan nasib perusahaan ini di tangan pemegang saham tertinggi.” Aku menoleh ke arah Papa. Dia mengangguk pelan. “Nasibku berada di tangan Anda sekarang.”
Asisten Papa membaca hasil voting. Aku menelan ludah dengan berat. “Dua puluh satu persen peserta rapat menyatakan tidak setuju,” sorakan segera terdengar di ruangan tersebut, “sedangkan tujuh puluh sembilan persen lainnya setuju. Selamat, Pak Mahendra Perkasa.” Aku mendesah lega.
Setelah rapat dinyatakan selesai, mereka yang mendukungku datang mendekat dan menjabat tanganku. Aku menerimanya dengan penuh kelegaan. Masih ada orang yang mau mendukungku dan aku mengingat wajah mereka satu-persatu. Mereka yang tidak mendukungku segera keluar dari ruangan, terlihat kecewa. Wajah mereka pun segera aku hapal.
“Hai, Wanita Tua.” Aku menerima pelukan dan ciuman di pipi dari Tante Arum. Dia menatap wajahku baik-baik. “Terima kasih atas pidato Tante yang menyentuh.”
“Anak tidak tahu diri. Mengapa kamu tidak datang kepadaku sebelum masalahnya menjadi sebesar ini? Apa mereka terlibat dalam penyebaran skandalmu di media?” Dia melihat ke arah pintu di mana orang-orang tadi keluar begitu saja.
__ADS_1
“Aku tidak tahu pasti. Dan masalah ini masih bisa aku atasi, Tante tidak perlu khawatir.”
“Kamu bergerak terlalu lambat. Kalau aku jadi kamu, aku sudah membungkam semua media kurang dari dua puluh empat jam begitu video pertama tayang di internet. Kamu malah membiarkan mereka merajalela selama satu minggu ini.”
“Menyerang musuh ketika mereka merasa sudah berada di atas angin itu jauh lebih memuaskan daripada menyerang balik dengan teledor, Tante. Lagi pula aku tidak punya tim sehebat yang Tante miliki.” Aku mengangkat kedua bahuku.
“Ya, sudah. Terserah kamu saja. Jangan lupa kabari aku kalau kamu butuh bantuan.” Dia menepuk bahuku. Aku mengangguk. “Adhy.” Dia mendekati Papa, aku menoleh ke arah Gista. Dia mengangkat tangan kanannya dan memberiku dua jari. Hm. Ada dua hasil tes yang tidak dikembalikan.
Begitu semua orang keluar dari ruangan, Papa meminta asistennya dan sekretarisku untuk keluar dan menjaga pintu agar tidak ada orang yang mendengar percakapan kami. Papa tidak duduk, maka aku juga tetap berdiri. Sepertinya percakapan kami tidak akan berlangsung lama.
“Aku dan ibumu tidak terlibat dalam penyebaran skandal itu. Kamu adalah putra kami satu-satunya, kami tidak akan pernah merusak reputasimu.” Papa menatapku dengan serius.
“Iya, Pa. Tidak pernah sedikit pun terbersit dalam kepalaku bahwa Papa ataupun Mama terlibat. Aku tahu beberapa tersangka yang punya alasan kuat untuk melakukan ini. Tujuan mereka bukan hanya menghancurkan aku, tetapi merusak pernikahan kami,” kataku berterus terang.
“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Papa pelan.
“Tidak. Aku tidak mau menjadi penyebab pertengkaran Papa dengan Mama. Aku tahu Mama akan protes keras bila Mama sampai tahu bahwa Papa menolongku menyelesaikan masalah ini. Aku akan berusaha agar semua masalah ini selesai sebelum puncak acara, Pa.” Aku berjanji.
“Baik.” Papa menatapku sesaat sebelum melanjutkan, “Aku sudah katakan kepadamu, jangan kembali kepadanya secepat ini. Waktunya belum tepat.”
__ADS_1
“Tidak akan pernah ada waktu yang tepat, Pa. Lagi pula aku tidak bisa menahan diri untuk menjauh darinya lebih lama lagi.”