Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 63 - Silakan Sakiti Aku


__ADS_3

Dua minggu tanpa dirinya, aku menyibukkan diri bersama kedua ibuku. Kami melakukan senam bersama dan memasak makanan khusus untukku. Yuyun sudah lebih dahulu mengubah menu makanan di rumah sejak awal kehamilanku karena permintaan suamiku. Jadi, selera makanku sama sekali tidak terganggu dengan perubahan tersebut.


Lindsey mengirimi kami bahan pakaian juga untuk suami kami agar kami pakai bersama pada hari pernikahan putranya. Kedua ibuku menemaniku ke penjahit langganan ibu mertuaku dan memilih desain yang pas untukku. Yang tentu saja harus sopan, longgar, namun tetap elegan. Hendra tidak akan suka bila gaunku tersebut dijahit pas mengikuti lekuk tubuhku.


“Aku sangat bersyukur suamiku tidak seperti itu. Aku boleh memakai baju apa saja yang aku suka. Jika ayahmu bersikap seperti Hendra, aku tidak akan tahan hidup bersamanya,” ucap ibu mertua. Aku dan Mama tertawa mendengarnya.


“Suamiku malah sebaliknya. Dia ingin aku berpakaian yang menarik. Bukan pakaian yang terlalu sopan seperti yang biasa aku kenakan.” Mama tertawa kecil.


“Kalau begitu, aku telah melakukan hal yang benar. Sesekali pakailah baju yang aku belikan untukmu, Anya. Yousef pasti akan jatuh cinta lagi kepadamu,” kata ibu mertuaku setengah menggoda Mama.


“Baju-baju itu terlalu bagus, Naava. Aku merasa sayang kalau sampai merusaknya,” ucap Mama merasa tidak enak.


“Itu semua berharga mahal ada alasannya, Anya. Kamu pakai, cuci, setrika berapa kali pun, bahannya akan tahan lama. Kamu lihat saja semua pakaianku dan Zahara. Ini baju lama kami. Pakai baju-baju itu. Jangan hanya kamu simpan sebagai koleksi,” ucap ibu mertuaku. “Tidak perlu berterima kasih kepadaku ketika Yousef tidak bisa memalingkan pandangannya darimu saat mengenakannya.”


“Sudah setua kami, tidak mungkin lagi kami bersikap seperti dua remaja yang sedang jatuh cinta.” Mama yang tersipu menepuk pelan lengan ibu mertuaku.


“Justru saat anak-anak kita sudah besar dan tidak membutuhkan kita lagi, ini saatnya bagi kita untuk mengarahkan fokus pada pasangan kita,” ucap ibu mertuaku setengah berbisik. Aku tertawa.


“Maaf, sudah membuat Ibu menunggu.” Seorang wanita mendekatiku. “Ini tanda terimanya, Bu. Cukup tunjukkan kertas ini saat Ibu mengambil pakaian nanti.”

__ADS_1


“Baik, terima kasih.” Aku menerima kertas tersebut dan menyimpannya di dalam tasku.


“Nah, ayo, kita makan siang. Aku sudah lapar.” Ibu Mertua menggandeng tanganku dan Mama.


Hendra akhirnya pulang dan sikapnya masih sama. Aku menyambutnya dengan wajah bahagia, tetapi dia hanya menjawab sapaanku seadanya. Aku mengikutinya menuju kamarnya dan dia masih menutup pintu tepat di hadapanku, tidak mengizinkan aku masuk.


Aku sangat merindukannya. Meskipun hanya bisa mendengar langkah kakinya di kamar, aku berdiri sesaat melepas rinduku sebelum masuk ke kamarku. Seandainya saja aku cukup berani menantang dan mengajaknya bicara, perang dingin ini bisa kami akhiri dengan cepat. Tetapi aku takut. Aku takut mendengar suara amarahnya. Bila sebelumnya aku berani mengonfrontasinya, sekarang tidak. Aku mencintainya. Karena itu setiap kata yang dia ucapkan dalam amarah terasa sangat menyakitkan.


Pada pagi harinya, aku sengaja bangun lebih cepat. Aku menunggu sampai dia keluar dari kamarnya, lalu turun ke ruang makan. Dengan begitu, dia tidak akan pergi ke kantor tanpa bertemu denganku terlebih dahulu. Kami sarapan bersama dalam diam.


“Bagaimana urusanmu dengan pemilik hotel itu? Apakah urusan jual belinya berjalan lancar?” tanyaku memecahkan keheningan di antara kami.


“Iya. Hotel itu sudah menjadi milikku,” jawabnya singkat.


“Mereka tetap bekerja seperti biasa,” jawabnya.


“Aku yakin hotel itu akan menerima banyak tamu setelah kamu yang memegangnya. Sebentar lagi hari kemerdekaan. Apakah kamu akan mengadakan event atau diskon khusus?” tanyaku lagi. Dia meletakkan garpunya di atas piring, lalu melihat ke arahku.


“Ada apa ini? Mengapa kamu mendadak ingin tahu semua tentang pekerjaanku? Biasanya kamu hanya diam saja dan tidak peduli apakah aku ada di sini bersamamu atau tidak,” katanya dengan tajam. Benar, ‘kan? Kata-katanya kini terdengar menyakitkan.

__ADS_1


“Biasanya kamu bercerita sendiri tanpa aku tanya. Karena kamu hanya diam saja sejak semalam, maka aku ingin tahu bagaimana perkembangan pekerjaanmu.”


“Mengapa kamu ingin tahu? Kamu mau memastikan bahwa aku bekerja selama dua minggu di luar kota dan tidak selingkuh dengan wanita lain?” tanyanya lagi. Aku menatapnya tidak percaya.


“Aku justru lebih suka mendengar kamu tidur dengan perempuan lain di luar sana walaupun itu menyakitiku. Setidaknya aku akan merasa lebih baik setelah merasakan sendiri sakitnya dikhianati. Yang kamu lakukan kepadaku dengan bersikap begini jauh lebih menyakitkan daripada kamu tidur berulang kali dengan wanita lain,” kataku dengan suara bergetar.


“Kamu merasa sakit? Mengapa? Kamu mencintai mantanmu dan ingin kembali kepadanya, harusnya kamu senang jika aku selingkuh. Jadi, kamu punya alasan untuk mengakhiri pernikahan kita.” Dia menatapku begitu dingin tanpa emosi. “Aku tidak akan memberimu alasan untuk bisa pergi dariku. Jangan harap aku akan selingkuh atau melakukan kekerasan kepadamu. Kamu akan selamanya berada di rumah ini bersamaku.”


“Aku pasti akan mendapatkan maaf darimu, Hendra. Kamu bisa marah dan menyakitiku dengan kata-katamu sepuasmu. Kamu juga bisa pergi menjauh dariku kapan saja kamu mau. Tapi aku pasti akan mendapatkan maaf darimu.”


Dia tidak bicara lagi, melainkan berdiri dan berjalan keluar dari ruang makan. Aku mengikutinya dan mengantarnya sampai mobilnya keluar dari pekarangan rumah kami. Aku tahu rasanya sekarang. Kegundahannya ketika aku tidak juga memberikan maaf kepadanya setelah dia melakukan kesalahan.


Mulutnya memang berkata bahwa dia tidak akan menceraikan aku. Dia berulang kali mengingatkan bahwa aku tidak akan bisa pergi. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Selama dia tidak mau menyentuhku, selama itu juga aku belum bisa merasa tenang.


Surel balasan dari setiap penerbit sudah aku terima dan aku bingung harus berdiskusi dengan siapa. Sebelumnya, aku bertanya kepada Hendra. Apakah jika aku menanyakan pendapatnya, dia akan mau membantuku mempertimbangkan tawaran penerbit mana untuk mencetak bukuku?


Aku akhirnya memutuskan untuk bertanya kepadanya. Kami sudah tidak bisa bicara lagi seperti biasa, maka aku mengirim surel kepadanya dan melampirkan jawaban dari setiap penerbit. Bila dia tidak membalas sampai beberapa hari ke depan, aku akan bertanya kepada Zach. Dia pasti bisa membantu menentukan tawaran penerbit mana yang lebih menguntungkan aku.


Kedua ibuku datang tepat waktu dan kami berangkat bersama untuk mengikuti senam kehamilan. Dua minggu lagi maka aku tidak perlu datang ke tempat ini. Aku didaftarkan hanya untuk kelas satu bulan saja. Setelah ini, aku bisa melakukan gerakan senam itu sendiri di rumah. Mereka juga akan menemaniku. Kehadiran mereka membuatku tidak merasa sendiri dengan kehamilanku.

__ADS_1


Mama dan ibu mertuaku pulang setelah kami makan kudapan sore bersama. Aku menunggu makan malam dengan melanjutkan tulisan pada blogku. Begitu inspirasi ceritaku terhenti dan aku tidak bisa memaksakan kepalaku untuk berpikir lagi, aku memeriksa surel. Dan aku terkejut melihat ada pesan baru di kotak masuk dari Hendra.


Hendra membalas surel dariku! Dia bahkan menyampaikan pendapatnya mengenai penerbit yang memberi tawaran yang lebih baik dari penerbit lainnya. Aku tahu bahwa ini bukan berarti hubungan kami sudah baik-baik saja. Tetapi aku menangis terharu membaca surel itu. Aku masih punya harapan. Kami masih punya harapan untuk memperbaiki hubungan kami.


__ADS_2