Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 141 - Direndahkan di Depan Umum


__ADS_3

“Jangan menuduh sembarangan. Aku tidak melakukannya.” Dia berpura-pura marah, lalu menoleh ke arah istrinya. “Wanita ini sudah gila.”


“Hanya ada Ibu dan Bapak yang ada di lorong ini. Kedua anak saya berada pada posisi di depan saya, tidak mungkin mereka yang melakukannya. Lagi pula yang memegang saya adalah tangan orang dewasa, bukan anak-anak. Saya berdiri di sisi ini, Bapak yang berjalan di sisi yang dekat dengan saya, maka Bapak yang melakukannya, tidak mungkin Ibu.” Aku menantangnya untuk membantahku lagi.


“Aku tidak memegang kamu. Apa kamu sudah gila menuduh tanpa bukti?” kata pria itu masih berani memasang wajah tidak bersalah. Orang-orang mulai berdatangan karena penasaran.


“Tunggu, Pak. Aku tahu perempuan ini.” Wanita itu menatap wajahku baik-baik. “Kamu Zahara, ‘kan? Perempuan yang tidur di hotel dengan seorang laki-laki?” Dia melihat ke arah anak-anakku. “Dan ini anak-anak harammu dengan laki-laki lain yang bukan suamimu?”


“Apa hubungannya dengan perbuatan laki-laki ini?” tanyaku tidak mengerti. Aku tidak mengizinkan tuduhan jahat itu menyakitiku.


“Suamiku tidak akan bersikap kurang ajar kepada wanita mana pun. Kamu sengaja menuduhnya untuk mencari perhatian. Iya, ‘kan?” Wanita itu menatapku dari kaki hingga kepala. “Jadi, begini caramu supaya laki-laki mau tidur denganmu? Dan kamu membawa anak-anakmu saat beraksi?”


Aku menatapnya tidak percaya. Kalau pun aku mau tidur dengan laki-laki, aku masih punya selera. Untuk apa aku membiarkan laki-laki tua dan jelek itu menyentuhku? Andai dia punya uang banyak, aku maklum mereka bersikap sombong begini. Dilihat dari pakaian, sepatu, dan jam tangannya, dia bukanlah pria kaya raya. Wanita ini sudah keterlaluan.


“Kamu tertarik dengan suamiku, lalu menegur dengan pura-pura telah dilecehkan. Kamu berharap kami bertengkar lalu dia mendatangimu saat kamu sedang sendiri, iya, ‘kan?” tuduh wanita itu lagi. “Dasar perempuan murahan. Tidak semua laki-laki tertarik dengan wajah cantikmu.”


“Iya, ini Zahara istri Mahendra. Yang tidak bisa puas dengan satu laki-laki saja,” kata perempuan yang lain. Aku melihat pria yang telah memegangku itu tersenyum puas.


“Memang apa salahnya kalau pegang badan kamu?” Seorang wanita memegang lenganku. Aku segera menepisnya. Dia malah tertawa senang.


“Iya. Kamu mau melaporkan kami kepada polisi?” Wanita lain mengusapkan tangannya dari leher ke punggungku. Aku tidak percaya ini. Aku membela hakku dan mereka malah melecehkanku beramai-ramai? Apa kesalahanku kepada mereka sehingga memperlakukan aku serendah ini?


Aku memegang erat pegangan troli. Lalu memutarnya sehingga mereka segera menjauh. Aku tidak peduli saat mendengar ada yang mengaduh kesakitan. Badanku bergetar dengan hebat menahan amarah. Beraninya mereka memegang tubuhku.


“Kalian semua jangan menangis meminta ampun saat rekaman CCTV itu mengantarkan kalian ke kantor polisi. Aku akan ingat wajah kalian semua saat memberi kesaksian nanti.” Aku melihat ke arah laki-laki yang masih tersenyum itu. “Terutama kamu. Kita lihat siapa yang akan tersenyum nanti.”


“Mama! Mama!” Dira tertawa bahagia. Dia berpikir aku sedang bermain-main saat memutar troli tersebut. Aku mencium keningnya, lalu berjalan menjauhi lorong itu. Aku menatap setiap wajah yang aku lewati, yang tersenyum merendahkanku.


Mereka mengantarku dengan tawa dan sorakan mengejek di belakangku. Barulah saat amarahku mereda, aku merasakan Hadi memegang erat rok dress yang aku kenakan. Aku memperlambat jalanku. Dia telah mengikutiku dengan langkah cepat dari tadi.

__ADS_1


“Kamu tidak apa-apa, sayang?” tanyaku sambil melihat ke sekujur tubuhnya.


“Tidak apa-apa, Ma. Mengapa mereka jahat kepada Mama? Kita harus beritahu Papa, Ma. Biar Papa dan Pak Oscar menyuruh mereka semua meminta maaf kepada Mama.” Dia pasti teringat dengan kejadian di sekolah tadi.


“Iya. Nanti kita adukan kepada Papa.”


Kami kembali ke apartemen setelah membayar semua belanjaan di kasir. Aku membantu anak-anak membersihkan diri dan berganti pakaian, kemudian kami makan siang bersama sambil melakukan panggilan video dengan Hendra.


Aku berusaha memonopoli pembicaraan atau mengarahkan topik agar putraku tidak menyebut-nyebut tentang kejadian di supermarket tadi. Aku ingin membahasnya berdua saja dengannya secara langsung tidak lewat panggilan video. Lagi pula dia masih bekerja. Aku tidak mau menjadi alasan dari menurunnya performa kerjanya.


“Hadi, kamu menonton bersama Dira dan Ara, Papa perlu bicara berdua dengan Mama,” ucap Hendra membuatku bingung. Apa dia mengetahui sesuatu?


“Oke, Pa.” Hadi menggandeng tangan adiknya setelah aku menurunkannya dari kursinya. Aku membantu mereka untuk duduk dan memilihkan saluran yang menayangkan acara khusus anak.


“Sesuatu telah terjadi. Katakan, ada apa?” tanya Hendra saat aku sudah berada di meja makan lagi. Jarak yang aman agar anak-anak tidak mendengar percakapan kami.


“Kita bicarakan saat kamu sudah pulang, ya?” pintaku pelan.


“Tidak. Aku baik-baik saja,” kataku menenangkannya.


“Baiklah. Jangan pergi ke taman atau ke mana pun. Tinggallah di apartemen. Ini terakhir kalinya aku mengizinkan kamu pergi tanpa Liando,” ucapnya dengan serius. Aku mengangguk patuh.


Perempuan gila. Wanita murahan. Kata-kata itu kembali terngiang di telingaku. Lenganku, punggung, bahkan bokongku tidak untuk mereka sentuh sesuka mereka. Kalau pun benar aku perempuan murah, bukan berarti mereka punya hak atas tubuhku. Jahat sekali. Mereka tidak mengenal aku, tidak tahu kepribadianku, dan mereka merasa berhak menghakimiku.


Seandainya saja aku punya sepuluh persen, ah, tidak, lima persen saja dari keberanian Hendra, aku akan menemui manajer supermarket itu dan melakukan yang suamiku lakukan. Meminta rekaman CCTV dan menunjukkan kepada wanita sombong itu mengenai perbuatan suaminya. Aku memang sedang ramai diberitakan di media, tetapi bukan berarti dia bisa memanfaatkan situasi.


“Papa pulang!! Papa Pulang!!” sorak anak-anak saat pintu apartemen terbuka. Mereka segera memeluknya, bahkan Ara tidak mau kalah dengan menyalak menyambut kedatangan tuannya.


Hendra mendekatiku dengan mata penuh selidik. Aku menelan ludah dengan berat. Aku tidak mau berhadapan dengan Hendra yang sedang marah. Dia memang tidak akan menyakitiku dan aku bisa dengan mudah meruntuhkan hatinya, tetapi pesonaku tidak selalu berhasil.

__ADS_1


Dia menunggu sampai anak-anak tidur untuk bicara denganku. Aku keluar dari kamar Dira dengan langkah ragu. Terdengar suara berdehem. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Hendra duduk di sofa dan dia menepuk permukaan sofa di sisinya.


“Ng, aku ke kamar mandi sebentar.” Aku mencari-cari alasan.


“Duduk.” Dia menggunakan nada suara yang tidak boleh dibantah khasnya. Aku menelan ludah dengan berat. Setelah duduk di sisinya, Hendra hanya menatapku. Aku menoleh ke arahnya sesaat, lalu melihat ke layar televisi. “Sayang.” Mendengar suara lembutnya, aku menoleh.


Hendra duduk mendekat, lalu melingkarkan tangannya di tubuhku. Dia membawaku ke pelukannya. Aku memejamkan mata menikmati sentuhannya. Aku membiarkan sentuhannya itu menggantikan pelecehan yang aku terima tadi. Aku bukan wanita murahan dan rendahan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan yang sebaliknya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Hendra menahan suaranya. “Apa mereka menyakitimu? Ada yang terluka?” Dia mencium rambutku. Aku tidak yakin aku bisa bicara, maka aku hanya menggeleng.


Tentu saja dia sudah mengetahui apa yang terjadi. Mudah saja baginya untuk mencari tahu setiap hal asal ada kamera pemantau. Aku memeluk erat tubuhnya. Apa lagi yang akan terjadi ke depan? Jika orang-orang mengenaliku, apakah untuk sementara aku sebaiknya tinggal di rumah saja?


“Maafkan aku. Kamu harus mengalami semua ini karena kamu menikah denganku.” Hendra menjauhkan wajahnya agar bisa menatapku.


“Ini terjadi karena kesalahanku, Hendra. Aku hanya menerima hukuman yang pantas aku dapatkan. Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan selamanya.”


“Bila kamu bukan istri seorang Mahendra, tidak akan ada yang peduli dengan masa lalumu. Jika kamu menikah dengan laki-laki biasa, kamu tidak akan punya musuh yang menggali kesalahanmu hanya untuk menjatuhkan kamu. Publik juga tidak akan peduli dengan hidupmu.”


“Bila aku bukan istrimu, aku tidak mau menikah.” Aku melepaskan pelukanku dan menjauh darinya. Dia tidak membiarkan aku pergi sambil tertawa.


“Ada yang pura-pura lupa tidak mau menikah denganku dan menolak lamaranku berkali-kali. Kapan, sayang? Hampir dua belas tahun yang lalu,” godanya.


“Lalu ada yang membuang lima tahun dengan sia-sia dengan hidup terpisah. Untuk alasan apa, sayang? Karena kamu pikir kita tidak saling mencintai,” balasku tidak mau kalah. Kali ini dia tidak tertawa, dia mencium bibirku dan masih berusaha mengejar lima tahun yang hilang karena kami tidak bisa bercinta. Benar-benar suami yang aneh.


Will menepati ucapannya dengan datang ke apartemen kami pada pagi itu untuk menjemput Hadi. Putraku dan temannya itu sangat senang saat mereka berjalan bersama menuju elevator. Hendra berterima kasih kepada Will dan memintanya untuk menjaga putra kami.


Tidak lama kemudian, Yuyun datang bersama Liando. Aku menatap suamiku dengan heran. Dira tidak protes saat wanita itu mengajaknya untuk bermain di depan televisi bersama Ara. Tanpa mengatakan akan membawaku ke mana, Hendra mengajakku untuk ikut dengannya.


Pak Oscar berada di dalam mobil. Dia dan Kafin menyapaku saat aku masuk. Aku membalas sapaan mereka sambil menatap suamiku dengan bingung. Bila pengacaranya ikut bersama kami, maka kami akan berurusan dengan masalah hukum. Tetapi masalah apa?

__ADS_1


Beberapa lama dalam perjalanan, Kafin akhirnya membelokkan mobil memasuki areal parkir sebuah bangunan. Aku semakin bingung membaca nama tempat yang kami tuju. Apa yang akan kami lakukan di kantor polisi?


__ADS_2